Batu Pabeasan Arjasari Bandung Selatan - Panorama Wow Abiz …

ARJASARI 5destinasiaNews – Daerah tujuan wisata (DTW) Batu Pabeasan atau Gunung Pabeasan, katanya dahulu sohor dengan nama “karuhun” Pasir (bukit – bhs Sunda) Pabeasan. Tepatnya ini ada di Desa Arjasari Kecamatan Arjasari Kabupaten Bandung. Wow nya apa yang terbilang abiz itu?

“Dalam setahun ini, setiap hari orang datang naik ke puncak Batu Pabeasan. Hari libur dan hari besar lebih banyak lagi. Biasa, mereka itu anak-anak muda dari mana-mana,” tutur Pipin (5/9/2017) selaku pengurus Bumdes (Badan Usaha Milik Desa). Walhasil Pipin pun di obyek wisata yang “wow abiz” sejak 2016, didaulat warga sebagai Ketua Kompepar. Ayo tebak adik-adik , apa itu Kompepar?

ARJASARI 1ARJASARI 2Sekedar info, tuturan Pipin tadi terlontar kala Batu Pabeasan yang mendadak moncer di dunia kepariwisataan di era millennium kami kunjungi, diamini Dede, kakaknya Pipin yang berusia lebih dari separuh baya. “Yang penting rame dulu lah. Sekarang sebagian jalannya sudah dibeton. Ini memudahkan pengunjung. Syukur, bisa menguntungkan warga dari segi ekonomi.”

Menariknya, Pipin mengatakan itu sambil menunjukkan aneka barang jualan kerajinan miniatur dinosaurus, sepeda motor, dan kuda imajiner. Semua, terbuat dari kayu limbah pabrik gitar di desa tetangga. “Ini karya warga di sini. Lumayan, selain kuliner dan produk pertanian, bisa terjual ke pengunjung. Mau kami tingkatkan lagi jenis dan produknya.”

ARJASARI 3Pandangan sepintas kelengkapan infrastruktur DTW ini masih terbilang minim. “Tetapi lumayan juga, sudah ada area parkir kendaraan roda 4 dan 2. Warung pun ada. Ini seperti tahun 2015-an, ketika DTW Tebing Keraton (Taman Hutan Raya Djuanda) baru dikenal orang,” kata Shahadat Akbar salah satu crew di rombongan kami.

Pandangan sekilas dari Akbar diiyakan oleh Pipin dan Dede. “Yang jadi bahan pemikiran kami, ingin juga ada pagar di seputar Batu Pabeasan. Maklum daerah itu rawan, kan anak muda suka aktif di sana,” jelas Dede yang katanya demi kenyamanan pengunjung juga.   

Wow Abiz itu

Secara random pada hari Selasa kala kunjungan obyek wisata ini, kebetulan masih musim kemarau. Dua pengunjung masing-masing Yessi (18) dan Kenny (18), dara asal Bale Endah ini, katanya merasa penasaran berkunjung ke Batu Pabeasan. “Panoramanya wow abiz, pokoknya di atas bisa melihat keliling Bandung Raya. Jadi betul, kata teman seperti di instagram indah banget. Mau ke sini lagi ah.”

ARJASARI 7Terbukti kala rombongan kami naik ke Batu Pabeasan, yang dari area parkir hanya sekitar 350 meter jauhnya. Kala tiba di tujuan yang tingginya  sekitar 700-an meter di atas permukaan laut (MDPL), nyata benar indahnya. Panorama sejauh mata memandang dari Batu Pabeasan yang bentuknya unik “muncugug”, indah kabina-bina alias indah sekali. “Tak salah orang membandingkan, ini lebih indah dari Tebing Keraton. Nyaris 80% sekeliling wilayah Bandung Raya dapat dinikmati!” seru Akbar yang hari itu begitu terpesona.

ARJASARI 9Crew selain Akbar yakni Isur Suryana, tak habis-habisnya menyorot ke sekeliling panorama dengan video untuk liputan TV. “Itu Gunung Malabar, Bale Endah, Gunung Sela, Pasir Salam, Pasir Luhur. Luar biasa indahnya, apalagi kalau sun set dan sun rise, ini pasti sangat bagus. Semua serba natural.”

“Makanya, suka banyak yang kemping. Katanya ngejar sinar pagi dan sore. Kata banyak orang, di sini paling bagus dan luas pandangannya,” jelas Dede yang dengan sabar mengantar kami. Selain Batu Pabeasan sebagai tempat bepijak di ketinggian, menurut Dede ada puluhan obyek wisata religius dan legenda di sekitarnya. “Ada Batu Korsi, Baskom Labuan,Cai Karamat Cipicung, dan yang aneh-aneh di Pasir Salam.”

ARJASARI 8Bila dicermati, amatlah menarik tuturan Dede sebagai “gate keeper” di Batu Pabeasan, apalagi ketika berkisah tentang “khasiat” Batu Korsi:”Barang siapa yang punya niat naik pangkat, cepat dapat jodoh, berkarir bagus di pekerjaan, cobalah datang ke lokasi ini. Insya Alloh …”

 Maksudnya, apakah rata-rata niatan itu terkabul, tanya Akbar yang biasa tertarik mengulas hal-hal unik di sebuah DTW:”Apa Pak Dede pernah punya niatan, dan duduk di Batu Korsi, lalu niatnya terkabul?”

 Yang ditanya sejenak tertegun, namun Dede tak kalah sigap bersilat lidah. “Ya, ini buktinya saya jadi penunjuk jalan di Batu Pabeasan, ini berkat duduk di Batu Korsi,” jawabnya sambil tersenyum yang diakhiri sedikit tergelak.

 Uniknya lagi, Dede kala didesak siapa saja yang pernah ia antar ke Batu Korsi dan berhasil mewujudkan niatnya? Dede seakan mengunci, rupanya ia sadar ada kode etik akan hal ini:”Ah, soal ini tidak akan saya jawab,” begitu jawabnya sambil berusaha tersenyum penuh arti - tak terpancing.

 “Yang ke Batu Korsi biasanya malam hari, tidak siang-siang seperti sekarang. Moal beja-beja ah …,” ujarnya kembali mengunci ihwal Batu Korsi yang penuh misteri – “Pokoknya, rusiah …”

 Desa Wisata

Menjelang akhir kunjungan ke DTW yang wow abiz, sorenya kami kunjungi Kantor Desa Arjasari. Sayang Kepala Desa Arjasari, Rosiman yang akrab disapa Wa Eros, hari itu tak ada di tempat. “Sedang ada kegiatan lain”, kata Sekertaris Desa, Dadang Iyas yang kala itu didampingi Ketua LMP (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat), Iyan Sugianto.

ARJASARI 4Perbincangan tentang DTW Batu Pabeasan didiskusikan secara ringkas dalam suasana penuh keakraban. “Ya, kami terima masukan soal ticketing, dan asuransi bagi pengunjung, termasuk cash flow untuk pngembangan ke depan. Kami tanggapi serius, nanti dengan Pak Kades akan dibahas”, papar Dadang yang serba terbuka.

Selanjutnya dari diskusi ini, diperoleh info bahwa di Arjasari terdapat juga potensi lain di bidang kepariwisataan dan budaya.”Kami punya sanggar silat Balebat, Ini sudah jadi aikon Kabupaten Bandung. Juga seni ujungan yang unik buat para jawara. Ini pun sedang kami kembangkan,” urai Dadang.

Lainnya menurut Iyan, seni barongsay di Arjasari ini sangat unik. Ada barongsay China dan barongsay tradisi dari Arjasari, ini pun sudah jadi aikon di Kabupaten Bandung.”

Nah, wahai pembaca budiman, serba sekilas tentang wow abiz dari DTW Desa Arjasari semoga menambah referensi. Jelajah seputar Bandung Selatan, ternyata ada yang lain. Boleh dikata ini sebagai counter dari daerah banjir Cieunteung yang kerap tergenang tatkala musim hujan tiba.

“Warga luar Bandung khususnya Jakarta bila Cieunteung banjir, muncul di mass media, dianggapnya Bandung Selatan semua banjir. Ternyata, tidak kan? Sekarang, lanjutkan ke Arjasari” tutup Akbar yang diamini Isur Suryana. Perbincangan terakhir ini muncul, ketika kami melewati daerah Banjaran sore itu menuju Bandung. (HS/SA/IS/dtn)

Add a comment

Pemandian Cipanas Nagrak, Lembang Nan Virgin!

cipanasnagrak1cipanasnagrak2Destinasianews – Destiners, apa yang baru di sekitaran daerah Lembang? Ada pemandian air panas alami disana. Tepatnya berada di perbatasan Kampung Kancah, Desa Cihideung, Kecamatan Parongpong dengan RW 18 Sukajaya, Kecamatan Lembang. Tempat ini dikenal dengan pemandian Cipanas Nagrak.

 

Masyarakat setempat meyakini, aliran air panas yang mengandung belerang ini berasal dari Gunung Tangkuban Perahu. Air ini mengalir dari aliran sungai kecil yang melintas di areal sengkedan tanah, dimana alirannya membentuk cekungan kolam pada perbatasan desa tersebut. Airnya mengandung banyak belerang dengan panas berkisar antara 30° sampai 40° C pada sore hari. Pada pagi hari, seiring perubahan suhu, air di Cipanas Nagarak ini dapat mencapai samai 50° C.

 

Objek wisata ini dikelola oleh Karang Taruna setempat. Menurut salah seorang pengelola, Dedi Priyadi yang akrab disapa Didit, pengelolaan tempat pemandian ini baru dibuka selama tujuh bulan. Itupun setelah berembug dengan pemilik lahan dan Muspida setempat setelah melihat potensi alam yang memiliki nilai jual.

 

Didit bersama rekan, selama ini berjibaku menyediakan apa yang dibutuhkan oleh para pengunjung. Sambil berjalan, pihak pengelola berupaya untukmemperbaiki kekurangan disana-sini. Meskipun tak jarang ada juga keluhan disampaikan oleh pengunjung. Namun demikian Didit berupaya untuk memberikan yang terbaik, termasuk memikirkan langkah ke depan pengelolaan yang rencananya akan diformilkan melalui koperasi.

 

Berbanggalah jika banyak kekurangan disini Destiners. Bukan berarti juga ala kadarnya. Sampai sekarang, objek wisata ini dibiarkan bentuknya sealami mungkin alias virgin! Sehingga keindahan tempatnya bukan sesusatu yang artifisial, namun memang asri dengan sendirinya. Tak percaya, bertandanglah kesini.

 

Jauh sebelum tempat ini dikelola oleh Karang Taruna, masyarakat setempat meyakini bahwa aliran airnya dipercaya dapat menyembuhkan penyakit kulit. Dulu, para pengunjung adalah mereka yang ingin sembuh dari beragam penyakit kulit. Saat ini umumnya para pengunjung sengaja mengahbiskan waktu untuk relaksasi setelah penat dengan aktifitas harian yang melelahkan atau sekedar update hal kekinian di daerahnya. (SF/dtn)

Add a comment

Warung Kopi Alas di Alam Santosa – Ada Varietas Katimor Hasil Tanam Sendiri

KOPI ALAS 1destinasiaNews – Berdiri sejak pertengahan Februari 2017, ini warung kopi spesial. Namanya Kopi Alas, katanya singkatan dari Alam Santosa – spesialnya, bahan baku dan tukang seduhnya yang digawangi Reza Ferhat M F, Riski Prasetya, dan Zaenal Mustafa adalah person maniak produk kopi Nusantara. “Kopi kita itu mendominasi dunia, utamanya dalam varietasnya. Sayang, semua tergerus oleh belantara pencitraan yang melupakan peran petani lokal, dan nama Indonesia sebagai tempat persemaiannya”, kata Reza disela-sela ia bawah Rp. 20 ribuan per cangkir – “ini pesanan para tamu yang akhir-akhir ini datang silih berganti.”

Sementara beberapa tamu yang secara random ditanya – rasa dan nuansa menikmati aneka kopi di Alam Santosa ini, sensasinya seperti apa? “Duh, saya hampir setiap minggu sore datang dari Jl. Taman Sari dekat kebun binatang Bandung. Baru kali ini ada yang khusus bertanya soal ini”, jawab pasangan Fahrizal (32), dan Ismi (29) – “Yang jelas enak kopinya, enak suasananya. Jarak ke sini di Pasir Impun sekitar 3 km sebelah utara LP Sukamiskin, tak jadi masalah. Minum kopi di sini, seperti ritus mingguan saja….”

KOPI ALAS 3Nah, itu tadi soal rasa menurut konsumen Kopi Alas yang beralamat di Jl, Pasir Impun Atas No 5A, Pasir Impun Kab. Bandung Barat. Sedangkan perihal yang spesial itu menurut trio penyeduh di Kopi Alas, yang kini menjadi area rendezvous para kawula muda penikmat kopi di kawasan Bandung Timur, membeberkan bahan bakunya, terdiri atas: Arabica Alam Santosa, Arabica Ciwidey, Arabica Java Preanger, Arabica Lembang, dan Java Robusta. “Masing-masing punya cita rasa khas dari tingkat keasaman, kepahitan, dan rasa gurih, tentunya,” jelas Riski yang sohor punya kepekaan tersendiri kala menyeduh dan menyajikan kopi.

“Yang luar Jawa Barat pun, seperti Arabica Temanggung Natural Process, Honey Process, Catuai Full Wash, dan Wild Luwak pun kami sediakan. Intinya, rasa Nusantara dan kopi rasa global yang post modern pun ada”, ujar Zaenal yang hafal rasa dan kelebihan dari setiap varietas kopi.

Nah, sekilas tentang Kopi Alas sudah dibahas. Rasanya, tak cukup kita berbasa-basi. Paling pas seperti apa kata Reza:”Datang dan cicipi sajian seduhan kopi kami. Niscaya, banyak banyak hal berbeda dapat dirasakan, salah satunya hasil kopi tanam sendiri, yang serba alami. Semua ada di lingkup suasana kampong bernuansa adat Sunda”. (HS/SA)

Add a comment

TK Salman Al Farisi Mengenal Ikan di Alam Santosa – Om Ikan Om ...

TK SALMAN 1 CopydestinasiaNews – Mau tahu apa reaksi dan komentar para bocah TK Salman Al Farisi, kala mereka belajar mengenal ikan di Alam Santosa Pasir Impun Kabupaten Bandung?

“Ikan itu lucu ya, licin sama empuk. Aku sayang ikan, tapi suka makan ikan,” kata seorang bocah dengan kondisi basah kuyup. Lainnya:”Oh, ini oblok”, begitu ujarnya polos ketika para kakak pembimbing dari Alam Santosa menjelaskan wadah ikan tradisional yang dulu era 1970-an masih banyak kita lihat di tatar Sunda.

TK SALMAN 2 CopyTK SALMAN 3 Copy“Om ikan Om,” seru puluhan bocah lainnya dengan wajah ceria. Ini mengingatkan pada frasa yang sempat menggejala ke seantero jagat dari Indonesia pada akhir era 2016-an – “Om Tolelot Om”.  

Ketika diperkenalkan jenis peralatan ikan tradisional lainnya seperti  heurap, kecrik, bubu, korang, cireung, siriib, sair,ayakan, koja, sair lambit, sebagian besar bocah yang lucu memancarkanroman antusias. “Korang ini untuk apa?”, tanya seorang bocah. Tatkala dijelaskan fungsinya sebagai wadah ikan oleh kakak pembimbing, seketika bocah ini tampak tenang.

Salah satu puncaknya, 140 bocah TK Salman Al Farisi yang dituntun 18 guru dibawah pimpinan ibu guru Kepala TK Heti Ponco, brus ... mereka secara bergiliran menangkap ikan di kolam yang tersedia. Wuih, ramainya tak bisa digambarkan. Kolam ikan seketika berkecipak, sementara ikan yang licin ramai-ramai ditangkap tangan-tangan mungil ... dan guru pembimbingnya bisa selfian sejenak ...   

TK SALMAN 4 Copy“Kegiatan ini pastilah berkesan bagi murid kami. Ini lanjutan dari bahasan materi tentang ikan di kelas”, jelas salah seorang guru pembimbing. “Semoga program yang sangat disukai anak-anak ini berlanjut di masa depan. Mereka tampak asyik”, tambahnya.

Pendidikan Lingkungan Hidup

Disela-sela peliputan ini, secara tak sengaja bertemu dengan pemilik yang punya nama lengkap Kawasan Eko Wisata dan Budaya Alam Santosa yang luasnya sekitar 4,5 ha di kawasan Bandung Timur, di kaki Gunung Manglayang, Eka Santosa yang akrab disapa Kang Eka selaku bocah-bocah TK:”Bersyukur, kini sudah mulai banyak dari berbagai sekolah belajar tentang lingkungan hidup. Tempat ini didedikasikan agar Jabar dan Nusantara lebih peduli hijau”, ujarnya sambil dirinya menata ‘proyek baru’ saung jangkung di bagian ujung selatan Alam Santosa.     

Sementara itu Dadan Supardan, GM Alam Santosa menilai program pengenalan lingkungan dan tentang ikan khususnya:”Ini tahapan lanjutan dari program kaulinan budak yang rutin kami lakukan, pesertanya beberapa lembaga pendidikan”. (HS/SA/dtn) 

TK SALMAN 5 Copy    

Add a comment

Komunitas Jelajah Gunung Bandung: Wow, Ada 700 Gunung di Bandung Raya !

DTN JGB 1 CopydestinasiaNews – “Kami percaya, sedikitnya ada 700-an gunung di seputar Bandung Raya. Tertinggi Gunung kendeng 2.617 mdpl, terpendek Gunung Cikundul 258 mdpl. Sejak ekpedisi awal tahun 2016 ada 660 gunung. Selesai ekpedisi di akhir 2017, percayalah gunung yang 700-an itu pasti didapat”, itu kata Kang Eka, Guru SMAN 17 Bandung- Koordinator Ekspedisi Ensiklopedi Gunung Bandung (EGB). Penyelengara Ekspedisi EGB sendiri adalah Komunitas JGB (Jelajah Gunung Bandung) yang berdiri sejak 2010.

Sekitar 35 orang anggota Komunitas JGB pada Sabtu malam, 21 Januari 2017 beserta pengamat dan peminat kegiatan luar ruang lainnya, berkumpul di Alam Santosa, Pasir Impun Kabupaten Bandung. “Kami serasa di rumah sendiri di Alam Santosa yang hawa dan suasananya sejuk”, sambut Muhamad Seftia, Ketua Komunitas JGB dihadapan Eka Santosa, Ketua Umum DPP Gerakan Hejo selaku tuan rumah dalam kegiatan diskusi soal nasib gunung di Bandung Raya. “Tak terkira yang dilakukan komunitas JGB, perlu saya angkat jempol. Merekalah pecinta alam yang sebenarnya. Ini bisa sinergis dengan visi & misi Gerakan Hejo juga dengan para Olot di BOMA (Baresan Olot Masyarakat Adat) Jabar”, papar Eka yang sengaja ikut berdiskusi hingga larut malam.

“Rasanya pertemuan antar kami dengan Kang Eka Santosa untuk masa mendatang perlu dilakukan secara lebih intensif. Hasil diskusi malam ini sudah mengerucut pada pentingnya selain pendataan juga penyelamatan lingkungannya”, kata Unu Miharja yang ahli di bidang metoda dan teknik pengumpulan data pada kegiatan EGB.

DTN JGB 3 CopySementara itu menurut aktivis Pepep D W dari Komunitas JGB yang secara panjang lebar berkisah, mampu menyetop kegiatan rutin para pehobi motor trail di Ciharu dengan konsep Save Ciharus sebagai kawasan Cagar Alam (Kamojang):”Kehadiran di Alam Santosa merupakan hal yang tepat. Selama ini lokasi dan pengelola seperti ini lah yang kami cari. Sedikitnya bisa memuluskan upaya pelestarian 5 Cagar Alam di Bandung Raya”. Tak lain 5 Cagar Alam di sekitar Bandung Raya yang kondisinya perlu dicermati keberadaannya, terdiri atas Gunung Tilu (Gambung); Gunung Papandaya, di sekitar Pangalengan); Kamojang di sekitar Majalaya; Gunung Simpang di Ciwidey; dan Gunung Burangrang di perbatasan dengan Kab. Subang dan Purwakarta. “Sudahlah kita ini sebagai pecinta alam  dan lingkungan, jangan datangi kawasan itu, terkecuali bila mau meriset itu pun dengan izin khusus dari instansi terkait. Lupakan saja mendatangi Cagar Alam, karena itu sama saja dengan mencedrainya”, tambah Pepep berkali-kali dihadapan anggota komunitasnya dalam diskusi yang berlangsung seru, terutama ketika ada yang bertanya –“Mengapa kita tak boleh berkunjung ke kawasan Cagar Alam?”

DTN JGB 4 CopyMenariknya dalam diskusi yang berlangsung denga acara Camping di Alam Santosa, malam hinggi dini hari itu ada sajian music tradisional Sunda dan akustik modern. Muncul nama-nama pemain kecapi Kang Theo dan Neng Tyara dari ISBI (Institut Seni dan Budaya Indonesia). Tatkala dilantunkan tembang tentang gunung-gunung di pulau Jawa, banyak penonton yang terhanyut oleh “uga” dan kenyataan nasib gunung saat ini.

“Sebagian malah ada gunung dimiliki oleh perorangan. Materialnya, ditambang untuk galian C, malah untuk urugan tanah buat perumahan atau jalan tol. Nanti daerah ini di Ensklopedi Gunung Bandung, kalau buku ini terbit pada tahunn 2018-an, bagaimana nasibnya ya? Anak cucu kita, pasti tinggal cerita, soal gunung di Bandung ya?”, tanya seorang peserta dalam diskusi ini.

DTN JGB 2 CopyAlhasil, diskusi yang meninggalkan rasa optimisme sekitar 700 gunung di seputar Bandung Raya bisa terpetakan melalui rencana penerbitan buku EGB, sepeninggalnya masih menyisakan banyak tanya. Bayangkan, proyek EGB ini dikerjakan dengan melibatkan puluhan pendaki dan penjelajah gunung, para pakar di berbagai universitas, ribuan jam kerja para relawan, studi historis dan laboratories di dalam dan luar negeri khususnya ke Negeri Belanda, semua bersifat non ptofit ! “Alhamdulillah, hingga saat ini beluam ada sponsor dari mana pun. Bila ada, tentu sangat terbuka. Manfaatnya, buku EGB ini akan beguna bagi anak dan cucu kita. Siapa bilang bangsa kita, malas mencatat. Ini buktinya kami akan mencatatnya, tak hanya gubung di Bandung saja …”, jelas Eka selaku ‘pupuhu’ pembuatan buku EGB, yang spontan saja diamini rekan-rekannya dengan gesture penuh kepastian – di seputar Bandung ada 700-an gunung ! (HS/SA/dtn) 

Add a comment


emgz2

Artikel lain...

Aktivis HAM Bandung di Taman Cikapayang, Pasang Aksi – “Dari Gulita Terbitlah Pelita …”

Aktivis HAM Bandung di Taman Cikapayang, Pasang Aksi – “Dari Gulita Terbitlah Pelita …”

destinasiaNews – Ibaratnya, jalan terang itu masih sebatas angan-angan. Padahal, reformasi di negeri ini telah muncul sejak 1998. Sempat kala...

Eka Santosa Beri Materi Kebangsaan ke Generasi Muda – Berguru, ke Rambo & Super Hero?!

Eka Santosa Beri Materi Kebangsaan ke Generasi Muda – Berguru, ke Rambo & Super Hero?!

destinasiaNews – Suasana Kawasan Ekowisata dan Budaya Alam Santosa, hutan buatan seluas 4,5 ha, yang kini melebat kembali sejak ditanami...

Kasus Pembebasan Lahan PLPR Palabuhanratu di PTUN Bandung, Hadirkan Saksi dari Tergugat

Kasus Pembebasan Lahan PLPR Palabuhanratu di PTUN Bandung, Hadirkan Saksi dari Tergugat

  destinasiaNews -  Lanjutan sidang “pembebasan lahan” PLPR Palabuhanratu Kabupaten Sukabumi di PTUN Bandung Jl. Diponegoro Bandung, nama resmi perkara...

Rahasia Kulit Cerah Bercahaya Dengan Wardah White Secret Pure Treatment Essence

Rahasia Kulit Cerah Bercahaya Dengan Wardah White Secret Pure Treatment Essence

DestinasiaNews – Hi Destiners, ada rahasia baru dari Wardah untuk kulitmu! Kali ini, Wardah meluncurkan inovasi terbarunya yaitu Wardah White...

Bandung Photo Studio Digital & Lab - Ifan Chandra "Sekali Berarti"

Bandung  Photo Studio Digital & Lab - Ifan Chandra "Sekali Berarti"

destinasiaNews - Wow, urusan foto diri yang keren berharga terjangkau, di Bandung rasanya hanya satu. Ini dia  bidang usahanya, namanya...

Pengunjung

01607852
Hari ini
Kemarin
405
1318