Pemandian Cipanas Nagrak, Lembang Nan Virgin!

cipanasnagrak1cipanasnagrak2Destinasianews – Destiners, apa yang baru di sekitaran daerah Lembang? Ada pemandian air panas alami disana. Tepatnya berada di perbatasan Kampung Kancah, Desa Cihideung, Kecamatan Parongpong dengan RW 18 Sukajaya, Kecamatan Lembang. Tempat ini dikenal dengan pemandian Cipanas Nagrak.

 

Masyarakat setempat meyakini, aliran air panas yang mengandung belerang ini berasal dari Gunung Tangkuban Perahu. Air ini mengalir dari aliran sungai kecil yang melintas di areal sengkedan tanah, dimana alirannya membentuk cekungan kolam pada perbatasan desa tersebut. Airnya mengandung banyak belerang dengan panas berkisar antara 30° sampai 40° C pada sore hari. Pada pagi hari, seiring perubahan suhu, air di Cipanas Nagarak ini dapat mencapai samai 50° C.

 

Objek wisata ini dikelola oleh Karang Taruna setempat. Menurut salah seorang pengelola, Dedi Priyadi yang akrab disapa Didit, pengelolaan tempat pemandian ini baru dibuka selama tujuh bulan. Itupun setelah berembug dengan pemilik lahan dan Muspida setempat setelah melihat potensi alam yang memiliki nilai jual.

 

Didit bersama rekan, selama ini berjibaku menyediakan apa yang dibutuhkan oleh para pengunjung. Sambil berjalan, pihak pengelola berupaya untukmemperbaiki kekurangan disana-sini. Meskipun tak jarang ada juga keluhan disampaikan oleh pengunjung. Namun demikian Didit berupaya untuk memberikan yang terbaik, termasuk memikirkan langkah ke depan pengelolaan yang rencananya akan diformilkan melalui koperasi.

 

Berbanggalah jika banyak kekurangan disini Destiners. Bukan berarti juga ala kadarnya. Sampai sekarang, objek wisata ini dibiarkan bentuknya sealami mungkin alias virgin! Sehingga keindahan tempatnya bukan sesusatu yang artifisial, namun memang asri dengan sendirinya. Tak percaya, bertandanglah kesini.

 

Jauh sebelum tempat ini dikelola oleh Karang Taruna, masyarakat setempat meyakini bahwa aliran airnya dipercaya dapat menyembuhkan penyakit kulit. Dulu, para pengunjung adalah mereka yang ingin sembuh dari beragam penyakit kulit. Saat ini umumnya para pengunjung sengaja mengahbiskan waktu untuk relaksasi setelah penat dengan aktifitas harian yang melelahkan atau sekedar update hal kekinian di daerahnya. (SF/dtn)

Add a comment

Warung Kopi Alas di Alam Santosa – Ada Varietas Katimor Hasil Tanam Sendiri

KOPI ALAS 1destinasiaNews – Berdiri sejak pertengahan Februari 2017, ini warung kopi spesial. Namanya Kopi Alas, katanya singkatan dari Alam Santosa – spesialnya, bahan baku dan tukang seduhnya yang digawangi Reza Ferhat M F, Riski Prasetya, dan Zaenal Mustafa adalah person maniak produk kopi Nusantara. “Kopi kita itu mendominasi dunia, utamanya dalam varietasnya. Sayang, semua tergerus oleh belantara pencitraan yang melupakan peran petani lokal, dan nama Indonesia sebagai tempat persemaiannya”, kata Reza disela-sela ia bawah Rp. 20 ribuan per cangkir – “ini pesanan para tamu yang akhir-akhir ini datang silih berganti.”

Sementara beberapa tamu yang secara random ditanya – rasa dan nuansa menikmati aneka kopi di Alam Santosa ini, sensasinya seperti apa? “Duh, saya hampir setiap minggu sore datang dari Jl. Taman Sari dekat kebun binatang Bandung. Baru kali ini ada yang khusus bertanya soal ini”, jawab pasangan Fahrizal (32), dan Ismi (29) – “Yang jelas enak kopinya, enak suasananya. Jarak ke sini di Pasir Impun sekitar 3 km sebelah utara LP Sukamiskin, tak jadi masalah. Minum kopi di sini, seperti ritus mingguan saja….”

KOPI ALAS 3Nah, itu tadi soal rasa menurut konsumen Kopi Alas yang beralamat di Jl, Pasir Impun Atas No 5A, Pasir Impun Kab. Bandung Barat. Sedangkan perihal yang spesial itu menurut trio penyeduh di Kopi Alas, yang kini menjadi area rendezvous para kawula muda penikmat kopi di kawasan Bandung Timur, membeberkan bahan bakunya, terdiri atas: Arabica Alam Santosa, Arabica Ciwidey, Arabica Java Preanger, Arabica Lembang, dan Java Robusta. “Masing-masing punya cita rasa khas dari tingkat keasaman, kepahitan, dan rasa gurih, tentunya,” jelas Riski yang sohor punya kepekaan tersendiri kala menyeduh dan menyajikan kopi.

“Yang luar Jawa Barat pun, seperti Arabica Temanggung Natural Process, Honey Process, Catuai Full Wash, dan Wild Luwak pun kami sediakan. Intinya, rasa Nusantara dan kopi rasa global yang post modern pun ada”, ujar Zaenal yang hafal rasa dan kelebihan dari setiap varietas kopi.

Nah, sekilas tentang Kopi Alas sudah dibahas. Rasanya, tak cukup kita berbasa-basi. Paling pas seperti apa kata Reza:”Datang dan cicipi sajian seduhan kopi kami. Niscaya, banyak banyak hal berbeda dapat dirasakan, salah satunya hasil kopi tanam sendiri, yang serba alami. Semua ada di lingkup suasana kampong bernuansa adat Sunda”. (HS/SA)

Add a comment

TK Salman Al Farisi Mengenal Ikan di Alam Santosa – Om Ikan Om ...

TK SALMAN 1 CopydestinasiaNews – Mau tahu apa reaksi dan komentar para bocah TK Salman Al Farisi, kala mereka belajar mengenal ikan di Alam Santosa Pasir Impun Kabupaten Bandung?

“Ikan itu lucu ya, licin sama empuk. Aku sayang ikan, tapi suka makan ikan,” kata seorang bocah dengan kondisi basah kuyup. Lainnya:”Oh, ini oblok”, begitu ujarnya polos ketika para kakak pembimbing dari Alam Santosa menjelaskan wadah ikan tradisional yang dulu era 1970-an masih banyak kita lihat di tatar Sunda.

TK SALMAN 2 CopyTK SALMAN 3 Copy“Om ikan Om,” seru puluhan bocah lainnya dengan wajah ceria. Ini mengingatkan pada frasa yang sempat menggejala ke seantero jagat dari Indonesia pada akhir era 2016-an – “Om Tolelot Om”.  

Ketika diperkenalkan jenis peralatan ikan tradisional lainnya seperti  heurap, kecrik, bubu, korang, cireung, siriib, sair,ayakan, koja, sair lambit, sebagian besar bocah yang lucu memancarkanroman antusias. “Korang ini untuk apa?”, tanya seorang bocah. Tatkala dijelaskan fungsinya sebagai wadah ikan oleh kakak pembimbing, seketika bocah ini tampak tenang.

Salah satu puncaknya, 140 bocah TK Salman Al Farisi yang dituntun 18 guru dibawah pimpinan ibu guru Kepala TK Heti Ponco, brus ... mereka secara bergiliran menangkap ikan di kolam yang tersedia. Wuih, ramainya tak bisa digambarkan. Kolam ikan seketika berkecipak, sementara ikan yang licin ramai-ramai ditangkap tangan-tangan mungil ... dan guru pembimbingnya bisa selfian sejenak ...   

TK SALMAN 4 Copy“Kegiatan ini pastilah berkesan bagi murid kami. Ini lanjutan dari bahasan materi tentang ikan di kelas”, jelas salah seorang guru pembimbing. “Semoga program yang sangat disukai anak-anak ini berlanjut di masa depan. Mereka tampak asyik”, tambahnya.

Pendidikan Lingkungan Hidup

Disela-sela peliputan ini, secara tak sengaja bertemu dengan pemilik yang punya nama lengkap Kawasan Eko Wisata dan Budaya Alam Santosa yang luasnya sekitar 4,5 ha di kawasan Bandung Timur, di kaki Gunung Manglayang, Eka Santosa yang akrab disapa Kang Eka selaku bocah-bocah TK:”Bersyukur, kini sudah mulai banyak dari berbagai sekolah belajar tentang lingkungan hidup. Tempat ini didedikasikan agar Jabar dan Nusantara lebih peduli hijau”, ujarnya sambil dirinya menata ‘proyek baru’ saung jangkung di bagian ujung selatan Alam Santosa.     

Sementara itu Dadan Supardan, GM Alam Santosa menilai program pengenalan lingkungan dan tentang ikan khususnya:”Ini tahapan lanjutan dari program kaulinan budak yang rutin kami lakukan, pesertanya beberapa lembaga pendidikan”. (HS/SA/dtn) 

TK SALMAN 5 Copy    

Add a comment

Komunitas Jelajah Gunung Bandung: Wow, Ada 700 Gunung di Bandung Raya !

DTN JGB 1 CopydestinasiaNews – “Kami percaya, sedikitnya ada 700-an gunung di seputar Bandung Raya. Tertinggi Gunung kendeng 2.617 mdpl, terpendek Gunung Cikundul 258 mdpl. Sejak ekpedisi awal tahun 2016 ada 660 gunung. Selesai ekpedisi di akhir 2017, percayalah gunung yang 700-an itu pasti didapat”, itu kata Kang Eka, Guru SMAN 17 Bandung- Koordinator Ekspedisi Ensiklopedi Gunung Bandung (EGB). Penyelengara Ekspedisi EGB sendiri adalah Komunitas JGB (Jelajah Gunung Bandung) yang berdiri sejak 2010.

Sekitar 35 orang anggota Komunitas JGB pada Sabtu malam, 21 Januari 2017 beserta pengamat dan peminat kegiatan luar ruang lainnya, berkumpul di Alam Santosa, Pasir Impun Kabupaten Bandung. “Kami serasa di rumah sendiri di Alam Santosa yang hawa dan suasananya sejuk”, sambut Muhamad Seftia, Ketua Komunitas JGB dihadapan Eka Santosa, Ketua Umum DPP Gerakan Hejo selaku tuan rumah dalam kegiatan diskusi soal nasib gunung di Bandung Raya. “Tak terkira yang dilakukan komunitas JGB, perlu saya angkat jempol. Merekalah pecinta alam yang sebenarnya. Ini bisa sinergis dengan visi & misi Gerakan Hejo juga dengan para Olot di BOMA (Baresan Olot Masyarakat Adat) Jabar”, papar Eka yang sengaja ikut berdiskusi hingga larut malam.

“Rasanya pertemuan antar kami dengan Kang Eka Santosa untuk masa mendatang perlu dilakukan secara lebih intensif. Hasil diskusi malam ini sudah mengerucut pada pentingnya selain pendataan juga penyelamatan lingkungannya”, kata Unu Miharja yang ahli di bidang metoda dan teknik pengumpulan data pada kegiatan EGB.

DTN JGB 3 CopySementara itu menurut aktivis Pepep D W dari Komunitas JGB yang secara panjang lebar berkisah, mampu menyetop kegiatan rutin para pehobi motor trail di Ciharu dengan konsep Save Ciharus sebagai kawasan Cagar Alam (Kamojang):”Kehadiran di Alam Santosa merupakan hal yang tepat. Selama ini lokasi dan pengelola seperti ini lah yang kami cari. Sedikitnya bisa memuluskan upaya pelestarian 5 Cagar Alam di Bandung Raya”. Tak lain 5 Cagar Alam di sekitar Bandung Raya yang kondisinya perlu dicermati keberadaannya, terdiri atas Gunung Tilu (Gambung); Gunung Papandaya, di sekitar Pangalengan); Kamojang di sekitar Majalaya; Gunung Simpang di Ciwidey; dan Gunung Burangrang di perbatasan dengan Kab. Subang dan Purwakarta. “Sudahlah kita ini sebagai pecinta alam  dan lingkungan, jangan datangi kawasan itu, terkecuali bila mau meriset itu pun dengan izin khusus dari instansi terkait. Lupakan saja mendatangi Cagar Alam, karena itu sama saja dengan mencedrainya”, tambah Pepep berkali-kali dihadapan anggota komunitasnya dalam diskusi yang berlangsung seru, terutama ketika ada yang bertanya –“Mengapa kita tak boleh berkunjung ke kawasan Cagar Alam?”

DTN JGB 4 CopyMenariknya dalam diskusi yang berlangsung denga acara Camping di Alam Santosa, malam hinggi dini hari itu ada sajian music tradisional Sunda dan akustik modern. Muncul nama-nama pemain kecapi Kang Theo dan Neng Tyara dari ISBI (Institut Seni dan Budaya Indonesia). Tatkala dilantunkan tembang tentang gunung-gunung di pulau Jawa, banyak penonton yang terhanyut oleh “uga” dan kenyataan nasib gunung saat ini.

“Sebagian malah ada gunung dimiliki oleh perorangan. Materialnya, ditambang untuk galian C, malah untuk urugan tanah buat perumahan atau jalan tol. Nanti daerah ini di Ensklopedi Gunung Bandung, kalau buku ini terbit pada tahunn 2018-an, bagaimana nasibnya ya? Anak cucu kita, pasti tinggal cerita, soal gunung di Bandung ya?”, tanya seorang peserta dalam diskusi ini.

DTN JGB 2 CopyAlhasil, diskusi yang meninggalkan rasa optimisme sekitar 700 gunung di seputar Bandung Raya bisa terpetakan melalui rencana penerbitan buku EGB, sepeninggalnya masih menyisakan banyak tanya. Bayangkan, proyek EGB ini dikerjakan dengan melibatkan puluhan pendaki dan penjelajah gunung, para pakar di berbagai universitas, ribuan jam kerja para relawan, studi historis dan laboratories di dalam dan luar negeri khususnya ke Negeri Belanda, semua bersifat non ptofit ! “Alhamdulillah, hingga saat ini beluam ada sponsor dari mana pun. Bila ada, tentu sangat terbuka. Manfaatnya, buku EGB ini akan beguna bagi anak dan cucu kita. Siapa bilang bangsa kita, malas mencatat. Ini buktinya kami akan mencatatnya, tak hanya gubung di Bandung saja …”, jelas Eka selaku ‘pupuhu’ pembuatan buku EGB, yang spontan saja diamini rekan-rekannya dengan gesture penuh kepastian – di seputar Bandung ada 700-an gunung ! (HS/SA/dtn) 

Add a comment

Gerakan Hejo DPD Kab. Garut - Hijaukan & Kembangkan Desa “Wisata” Sukamurni

GH GARUT 3 CopyDestinasiaNews – Wow, ada temuan baru! Boleh dikata, demikianlah kira-kira alkisahnya. Tersebab begitu keras upaya Ketua DPD Gerakan Hejo Kabupaten Garut,Ratno Sastromiharjo yang kerap disapa Wa Ratno:”Menghijaukan wilayah Garut itu obsesi kami. Ini selaras dengan keinginan sesepuh kami Mang Ihin (Solihin GP) dan Mang Eka Santosa. Keduanya, punya niatan besar menghijaukan Jawa Barat!” – itulah pangkal, kenapa memulai menanam 4.000 pohon keras di Desa Sukamurni Kecamatan Cilawu Kabupatn Garut.

Kerja bareng penghijauan itu digarap dengan pola Rakgantang (Gerakan gandrung tatangkalan) ala Mang Ihin kala menjabat Gubernur Jabar era 1970 – 1974, sekarang oleh Wa Ratno saparakanca dilakukan lagi pada pergantian tahun 2016 ke 2017:”Tak semata menghijaukan. Kalau bisa menjadikan desa ini jadi Desa Wisata unggulan. Hebatnya, ada 4 curug (air terjun) di sini. Dipoles sedikit, pasti jadilah …,” timpalnya dengan penuh semangat.

GH GARUT 2 CopyKala ditelisik, mengapa Ia dan saparakanca-nya di Gerakan Hejo Kab. Garut begitu bersemangat menghijaukan lagi area ini? “Hanya pemberdayaan masyarakat berbasis budaya dan sadar lingkungan yang punya prospek. Lainnya, agak diragukan?!”begitu kilahnya dengan nada penuh optimis, dalam wawancara jarak jauh Bandung – Garut (6/1/2017).    

Guyub & Air Terjun

Faktanya, di Desa Sukamurni ini ada empat curug, dengan ketinggian antara 10 hingga 20 meter. Airnya tampak jernih, nuansa panoramanya variatif.”Yakin, semua punya nilai jual, khususnya buat wisatawan pecinta lingkungan atau wisata alam dan minat khusus”, papar Wa Ratno yang juga dikenal sebagai pegiat lingkungan yang punyakamonesan tersembunyi selaku “komposer” lagu-lagu balada alam.

Lebih lanjut menurut “komposer” dan pelantun lagu balada alam ini, Desa Sukamurni yang berlokasi di kaki Gunung Cikuray, katanya punya potensi unggulan untuk kegiatan hikingcamping,  dan bersepeda gunung (mountain bike).

“Belum lagi keramah-tamahan warga setempat sangatlah khas, mereka guyub. Sifat gotong royong, masih kental. Ini akan terus dipelihara dan dikembangkan”, paparnya sambil menunjukkan beberapa foto “obyek wisata baru” yang memang tampak aduhai, termasuk dokumentasi gotong-royong warga setempat – membuat akses ke desa ini.  

GH GARUT 4 CopyPotensi lainnya yang disibak Wa Ratno tentang konfigurasi Desa Sukamurni - Terbilang dekat dari Garut Kota, dan Tasikmalaya. “Dari Garut Kota, tak kurang setengah jam. Dari Tasikmalaya sekitar satu jam saja dengan roda empat atau dua. Dekat, kan?”.

Redaksi secara terpisah mengklarifikasi soal “temuan” ini ke Mang Eka Santosa di Alam Santosa Pasir Impun Kabupaten Bandung (7/1/2017):”Langkah Wa Ratno dan jajarannya di Kabupaten Garut dalam bingkai Gerakan Hejo, dimata kami selalu fenomenal. Ini patut jadi contoh untuk pegiat Gerakan Hejo di wilayah lain”.

“Saatnya kita tak usah banyak wacana dan bicara. Upaya menanam pohon, lakukan saja di merata tempat. Krisis lingkungan, jangan dijawab seminar dan lokakarya,” sebut Mang Eka Santosa yang sejak November 2015 lalu bersama Mang Ihin sontak membuat statemen mengejutkan bagi banyak pemimpin di Jabar.

Mau tahu, statemen apa yang bikin banyak pemimpin di Jabar gundah gulana dan bermuka merah?! Terbukti sepanjang tahun 2016 terjadi bencana (longsor, banjir, dan kekeringan – red.) silih berganti – korban jiwa dan harta amat banyak.

Tepatnya, setahun sebelumnya oleh Mang Ihin dan Mang Eka, diprediksi tahun 2016 seharusnya ditetapkan Jabar Darurat Lingkungan! Penyebabnya, aneka bencana besar itu terjadi karena banyak pemimpin di Jabar, amat abai terhadap pntingnya menjaga keseimbangan alam – “Malah kerap kongkalikong dengan para perusak lingkungan”, pungkas Mang Eka yang tak lupa mengapresiasi upaya Wa Ratno dansaparakanca di Kab. Garut. “Wa Ratno, memang wow …”. (HS/SA/dtn)

Add a comment


emgz2

Artikel lain...

Kontroversi PLPR Palabuhanratu di PTUN Bandung – Pura-pura Tak Tahu …

Kontroversi PLPR Palabuhanratu di PTUN Bandung – Pura-pura Tak Tahu …

destinasiaNews – Ternyata, masih alot bagai keong, bisa dikatakan demikian soal ini.  Dari ruang sidang di PTUN Bandung (23/8/2017) Ketua Majelis...

Kaukus Muda Unisba untuk Kota Bandung Dukung Kang Deny Menuju Bandung Satu

Kaukus Muda Unisba untuk Kota Bandung Dukung Kang Deny Menuju Bandung Satu

destinasiaNews - Penataan ruang bagaimana membuat ruang terbatas menjadi ruang yang hidup dan menyejahterakan masyarakat itulah konsep dasar kang Deni...

Imunisasi Rubella, Selamatkan Generasi Bangsa

Imunisasi Rubella, Selamatkan Generasi Bangsa

DestinasiaNews - Anak-anak merupakan aset terbaik dalam keluarga maupun sebagai penerus bangsa. Sehingga, kondisi kesehatan anak-anak haruslah menjadi prioritas utama....

Pemandian Cipanas Nagrak, Lembang Nan Virgin!

Pemandian Cipanas Nagrak, Lembang Nan Virgin!

Destinasianews – Destiners, apa yang baru di sekitaran daerah Lembang? Ada pemandian air panas alami disana. Tepatnya berada di perbatasan...

Susi Pudjiastuti, Menteri KKP di Unpad – Histeria Massa & Mafia Tenggelamkan …

Susi Pudjiastuti, Menteri KKP di Unpad – Histeria Massa & Mafia Tenggelamkan …

  destinasiNews  -  Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, pada Jumat (18/8/2017) hadir di dua acara di Bandung. Paginya, ia...

Pengunjung

01564255
Hari ini
Kemarin
873
1328