Didin, Penyelamat Penyu Pantai Pangandaran – Butuh Kolam Baru

DTN PENYU 1 CopyDestinasiaNews– Eka Santosa, Ketua Gerakan Hejo dan rombongan usai menerima penganugrahan sebagai “Panglima Pemekaran” Kabupaten Pangandaran (25/10/2016), menyempatkan diri berkunjung ke Konservasi Anak Penyu Tukik - Kelompok Pelestari Biota Laut (KPBL) Batu Hiu. Lokasi yang kini menjadi destinasi wisata ekologi di Pantai Pangandaran Jawa Barat rintisan Didin Syaefudin (60), patutlah kita kunjungi. “Ke Pangandaran tak berkunjung ke sini, sangatlah disayangkan”, kata Ozenk, salah satu anggota rombongan dari Gerakan Hejo. “Banyak hal dapat kita petik dari rintisan keluarga  Kang Didin. Upayanya sudah diapreriasi banyak pihak, terutama dari mancanegara”.         

Yang unik sekaligus menggenaskan, Didin kepada Eka hari itu sempat menangis tersedu-sedu menceritakan masih minimnya bantuan dari pemerintah setempat, utamanya. “Semua hanya janji-janji. Inginnya, ada tambahan kolam di belakang rumah ini. Tapi itu perlu ada dana. Saya kan beginilah, pas-pasan adanya …”.

Kepada Eka, Ia kemukakan kini masyarakat dan nelayan di sekitar Pantai Pangandaran sudah punya kesadaran, di luar perkiraannya:”Selama 24 jam ada saja warga yang melaporkan penemuan telur penyu ke saya. Dulu mah 25 tahun lalu, mana ada yang seperti ini. Sedaya upaya, bila mereka tak bisa antar ke sini, saya jemput malam itu juga. Ini amanah dari warga. Berat tanggung-jawab ini, bagi saya. Saya dan keluarga rela dan ridho demi penyu.”

DTN PENYU 2 CopyMendengar keluhan ini, Eka dan Gerakan Hejo akan berupaya mencari pemecahannya. “Inilah hebatnya Kang Didin, sementara kita sering lupa pada pentingnya penyelamatan ekosistem. Dirinya, sudah lama berjuang sendiri. Anehnya, perhatian dari dalam negeri justru minim. Sebaliknya, pakar penyu dari luar negeri sering merujuknya.”

Lima dari Tujuh

Diketahui binatang penyu yang imut-imut ini bak kura-kura laut, di semua samudra di dunia saat ini hanya ada tujuh jenis yang masih bertahan. Mau tahu siapa mereka yang tujuh itu? Ini dia penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu kemp’s ridley (Lepidochelys kempi), penyu lekang (Lepidochelys olivacea), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), penyu pipih (Natator depressus), dan penyu tempayan (Caretta caretta). 

Uniknya, di Kabupaten Pangandaran ini merupakan habitat bagi 5 dari 7 spesies penyu yang ada di buana.  Menurut para ahli, tak tertutup kemungkinan jumlah penyu yang ada di Pangandaran ini akan punah dalam waktu dekat. “Beruntung, kesadaran warga di sini sudah mulai membaik. Tak lagi Ia jadi bahan buruan”, kata Didin sambil mengusap lelehan sisa air matanya.

“Suka sedih, kalau hasil tangkapan tak sengaja dari nelayan tak bisa saya selamatkan. Penyebabnya, ada keterbatasan kolam untuk memulihkan penyu-penyu itu. Bagi saya penyu ini seperti anak sendiri,” tambahnya.  

Boneka Penyu

DTN PENYU 3 CopyLebih jauh tentang apa dan siapa Didin “Sang Penyelamat Penyu” yang setiap hari membiayainya dari kantong sendiri - memberi pakan ikan puluhan kg, serta mengobati penyu yang terluka, maupun sakit karena tersamar memakan plasti yang disangkanya ubur-ubur. Sebaiknya, kunjungilah tempat penangkarannya di Batu Hiu Kabupaten Pangandara.

Berkunjung ke “rumah penyu” Kang Didin, tak dipunguut bayaran. Bila berminat dan merasa sayang kepada penyu-penyu yang diselamatkan untuk ditebar tukiknya ke samudera lepas, bolehlah pengunjung membeli boneka penyu yang “unyu-unyu”. “Harga boneka ini, ya semampunya saja. Ini pun boneka dari orang Bandung penyayang penyu”, tutup Kang Didin yang punya rencana menurunkan kecintaan pada hewan ini kepada siapa saja. “Harapannya, anak saya bisa meneruskan pekerjaan saya ini”. 

“Dimanakah alamat tepat, Pak Didin Penyu?,” ajukanlah pertanyaan ini kepada warga pantai Pangandaran. Niscaya, semua dengan senang hati akan menunjukkannya. Selamat ber-penyu-ria. Jangan lupa pulangnya, bawalah serta oleh-oleh boneka penyu dari Kang Didin.  (HS/SA/dtn).

Add a comment

Pertama di Bandung, Wisata Hammocks “Buaian” di Tahura Djuanda : Asoy, Serasa di Belantara Amazon

DTN HAMMOCK 1 Copy

DestinasiaNews –Gejolak wisata Bandung, memang never ending ! “Ada saja sensation yang bisa jadikan sesuatu yang baru di destination Bandung.Today we enjoy the hammocks which hang on between two trees. Ini kali pertama feeling like we are in Amazon jungle.Amazing…”, papar Abdullah Aziz bin Umar (32), wisatawan asal Melaka, Malaysia di obyek wisata Taman Hutan Raya (Tahura) Djuanda di Bandung Utara.

Lainnya, sore itu (15/10/2016) di samping rombongan Abdullah Aziz yang tampak antusias mencoba menclok di hammocks, buaian ala belantara Amazon di Brazil Amerika Latin, di depan Warung Pinus Tahura Djuanda - bergiliran pada menjajal menclok sekitar 15 menitan lamanya. “Sekali naik nyobain,cuman 20 ribu rupiah. Aman koq, kan pakai tali pengaman. Lagian dibimbing anak-anak muda yang terampil”, kata Erwina (28), pengunjung Tahura asal Tangerang yang diiringi rekan-rekannya. “Buat foto selfi, bagus nih. Langsung up load. Rame nih komennya. Mereka mau pada ke sini minggu depan, malah …”.

PecintaLingkungan

DTN HAMMOCK 2 Copy

Ditelisik, siapa penggagas wisata hammock di Tahura ini yang berada di antara empat kedai fenomenal Warung Pinus, Armor Kopi, Balcony, dan Velaz ? Ternyata, kelompok kawula muda yang berangkat ingin menularkan wisata petualangan ala penduduk indigenous Brazil yang secara adati hidup di belantara Amazon sana. Mereka itu terdiri atas Zae, Ferry Hamsyah, Bambang, Uus, Dio, Jacko, Jack, Kalang, Alex, Aji, Ijal, Komo, Ilyas, Ajay, Idoy,dan Fanny tegas mengataan – Aku wanita pecinta hammocks, juga pecinta lingkungan ! 

Mereka ini sejatinya para penggagas wisata model baru yang telah memproklamirkan dirinya sebagai pecinta lingkungan abiz ! Muasalnya, dari berbagai perguruan tinggi seperti LPKIA, STSI, Universitas Widyatama, lalu merekrut pemuda setempat - Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung. “Kami utamakan pemberdayaan muda-mudi daerah ini. Kami sendiri yang tergabung di Mapala setiap perguruan tinggi, jreng-jreng menggagaslah wisata model ini. Setelah 3 bulan animonya terus meningkat. Utamanya pada hari libur”, urai Zae yang tampak capetang menjelasan apa dan mengapa hammocks ini ada di Tahura Djuanda. 

DTN HAMMOCK 4 Copy

 

Perihal cinta lingkungan itu, katanya wisata hammocks ini:”Tak boleh melukai pohon sedikit pun. Yang buang sampah sembarangan kami ingatkan. Yang ingin tahu tentang jenis dan riwayat vegetasi Tahura, atau jadi guide ke obyek wisata lainnya kami jalankan. Semua okay saja”, tutup Fanny yang tampak sigap dan ramah melayani duyunan para pemakai hammocks yang sensasional itu. 

Nah, sedikit kisah tentang wisata buaian yang membuai di Tahura Djuanda Bandung, semoga bisa memperkaya pilihan destinasi kala liburan mendatang. “Sok kapan atuh mau dibuai sama hammocks, kapan dong ke Bandungnyah?”, begitu kata Bambang dan Dio yang kental berdialek Sunda – Bandung, sambil diangguki rekan-rekannya. “Aman koq, mau dibuai di batang pohon yang  paling  tinggi juga, ayo uji nyali di Tahura. Asoy geura serasa di hutan Amazon…”.

Terpulang, atas temuan wisata hammocks ini, ada pembaca ada yang berani sampai ke dekat pucuk pohon pinus  berumur puluhan tahun,  yang menjulang  tinggi itu. Are U dare ? Hayoh …? (HS/SA/dtn)

DTN HAMMOCK 3 Copy

Add a comment


emgz2

Artikel lain...

Pangdam lll  Ajak F DAS Citarum & GH Sukseskan Citarum Harum: Bukan Mendukung, Siap Terdepan Malah, Kata Eka Santosa  

Pangdam lll  Ajak F DAS Citarum & GH Sukseskan Citarum Harum: Bukan Mendukung, Siap Terdepan Malah, Kata Eka Santosa   

destinasiaNews – Pangdam III Siliwangi, Mayjen TNI Doni Monardo yang secara fenomenal telah meluncurkan revitalisasi sungai Citarum di antaranya kala...

Tatang Suratis, Ketua DPD LPM Jabar: Pemberdayaan itu Tiang Membangun Desa  

Tatang Suratis, Ketua DPD LPM Jabar: Pemberdayaan itu Tiang Membangun Desa   

destinasiaNews – Aktivis pergerakan masyarakat Tatang Suratis, Ketua DPD (Dewan Perwakilan Daerah) LPM (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat) Provinsi Jawa Barat, ditemui...

F DAS Citarum & Gerakan Hejo ‘Dikucilkan’ Urus Citarum – “Tak Mengapa Kata Eka di Radio Elshinta  

F DAS Citarum & Gerakan Hejo ‘Dikucilkan’ Urus Citarum – “Tak Mengapa Kata Eka di Radio Elshinta   

destinasiaNews – Tak biasanya Eka Santosa, Ketua Umum DPP Gerakan Hejo dan Ketua Forum DAS (Daerah Aliran Sungai) Citarum kala...

F DAS Citarum Tak Lagi Dilibatkan Urus Sungai Terkotor Sedunia, Eka Santosa:”Ada yang Aneh …”

F DAS Citarum Tak Lagi Dilibatkan Urus Sungai Terkotor Sedunia, Eka Santosa:”Ada yang Aneh …”

destinasiaNews – “Lho koq tidak diundang Forum DAS (Daerah Aliran Sungai) Citarum. Besok Kang Eka datang saja ikut rapat di...

Eka Santosa Terima Cawagub Jabar Anton Charliyan - Bahas Kedalaman Adat & Masa Depan Jabar

Eka Santosa Terima Cawagub Jabar Anton Charliyan - Bahas Kedalaman Adat & Masa Depan Jabar

destinasiaNews -- Eka Santosa, Ketua Umum DPP Gerakan Hejo yang juga Ketua Forum DAS (Daerah Aliran Sungai) Citarum, serta Sekjen...

Pengunjung

01797255
Hari ini
Kemarin
273
1366