Kampung Wisata Burung Blekok – Progres Pengembangannya, Mentok! (5 - Habis)

Diam-diam Kota Bandung, punya secuil lahan yang sejak 1970-an dihinggapi ribuan burung kuntul sawah atau blekok juga kuntul kerbau. Lokasinya terpencil di selatan kota, dekat area Km 147 jalan tol Purbaleunyi, hanya beberapa ratus meter dari Stadion Bandung Lautan Api yang megah itu. Anehnya, atraksi alami yang sangat menarik ini, nasibnya serba tak jelas …

Blekok lagio ADestinasianews – Kala dilansir kembali pada era Februari 2015 ikhwal ‘Kampung Wisata Burung Blekok’ di Rancabayawak, Cisaranten Kidul, Gedebage, Kota Bandung, melalui media pemberitaan ini, setelah yang pertama pada tahun 2012 dalam versi cetak, reaksi pembaca diluar dugaan. “Kami banyak terima email dan reaksi lainnya melalui medsos. Dari luar negeri pun ada. Mereka kaget. Koq di Bandung masih ada yang seperti ini? Ratusan burung liar yang dipercaya punya daya mistik oleh penduduk sekitar, kalau diolah benar, manfaatnya banyak”, kata Shahadat Akbar dan Iwan Gunaesa yang sehari-hari memantau reaksi pemberitaan di meja redaksi.

blekoklagiBYang belum kesampaian dari serial tulisan ini, opini dari representasi pemerintah setempat, mana? Beruntung pada awal Maret 2015 (5/3/2015) kami sempat bertemu dengan Lurah Cisaranten Kidul, Henny Mustikasari, SSTP.

Hampir senada dengan yang kerap diungkapkan Ridwan Kamil, Walikota Bandung akhir-akhir ini dengan konsep teknopolis – Pengembangan Gedebage bebas banjir dan ‘kota mandiri berwawasan super modern’ di Bandung Timur: ”Nah, sebentar lagi akan dibangun jalan tembus tol dari Km 149 hingga ke Jl. Soekarno Hatta. Harusnya, sebelum PON XlX 2016. Pun gorong-gorong raksasa dibangun, pelebaran lagi sungai Cinambo, terakhir dibangun danau raksasa yang ada mesjid terapung disana. Danau ini untuk blekok itu…”, kata Henny dengan roman sumringah.

Lebih lanjut menurut Henny pula, dalam pembangunan danau itu, keselamatan habitat burung blekok (ardeola speciosa), dan Kuntul Kerbau (bubulkus ibis) yang Ia hapal betul jumlah dan sifatnya, karena didasarkan hasil sensus para pakar burung burung wet land di tingkat ASEAN dan regional Indonesia era 2013-an:”Berharap bisa menyelamatkan keberadaan burung-burung itu. Populasinya akan bertambah. Sejak dulu disini memang area persinggahan burung migran dari Selandia Baru hingga Taiwan, malah. Dulu semua rumah disini punya perahu, agak mengering sejak 2004, usai pelurusan sungai Cinambo”.

Menurut Henny pula dalam hal pengembangan kepariwisataan kota Bandung.“Secara turistik kunjungan wisata ke Bandung, sebaiknya tak hanya wisata belanja saja, ini bisa menjadi magnet baru”, begitu tambahnya yang diakui kemajuannya relatif ‘mentok’ sejak diramaikan perhatiannya pada tahun 2012-an.

Jalan di Tempat

blekoklagi4

Henny yang sebelumnya pernah berkiprah sebagai lurah di Padasuka Kota Bandung, ketika ditanya mengapa daerah binaannya, bak jalan di tempat? Menjawab pertanyaan ini, agak lama Ia menyasarnya, sambil menarik nafas agak dalam:”Banyak faktor yang perlu dikaji ulang. Swear, saya ini nothing too loose untuk si burung blekok. Segala daya sudah diupayakan. Namun, apa daya?”.

Dedaran Henny selanjutnya, Ia tekankan perlu keterpaduan untuk terjun langsung ke lapangan bersama mitra kerjanya. Selama ini di tingkat lapangan, diakuinya unsur LPM (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat), Kompepar (Kelompok Penggerak Parawisata), dan tokoh masyarakat setempat dari berbagai latar belakang dan pihak, terasa belum solid. “Sangat sukar dipahami pihak luar, namun demikianlah adanya. Bila kompak warga setempat, ditambah SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah – red) bisa menghilangkan ego sektoral, niscaya berhasil”, demikian ujarnya dengan sedikit lugas.

Uniknya, ketika destinasianews.com mencoba mendatangi Kantor Dinas Kebudayaan dan Kota Bandung (6/3/2015), pihak yang mengetahui secara mendalam tentang pengembangan “Kampung Wisata Burung Blekok”, Ating Sudjana, Kasi Pengembangan Obyek Wisata, sedang tidak berada ditempat. Melalui ponsel, ketika ditanyakan progres pembinaan dari kantornya selama ini melalui SMS Ia uraikan , “katanya”: Langkah pertama sosialisai buat masyarakat sekitar, langkah kedua pendampingan/pemberdayaan, dan yang ketiga promosi/launching/festival.

Saat dicoba untuk dielaborasi lebih jauh tentang jawaban Ating di atas, ponselnya tidak lama tak menyahut,. Sekali menyahut, hanya Ia dedarkan: “Baru juga sosialisasi sejak 2014, dan akan diluncurkan menjelang ulang tahun kota Bandung (25 September 2015 – re.)”. Pantaslah, kenyataan di lapangan selama beberapa hari destinasianew.com berkunjung kesana, belum ada jejaknya secuil pun.

Saran & Kritik  

blekoklagi2Sebagai penutup, ada baiknya kami paparkan opini dari beberapa pembaca destinasianews.com yang telah bertahun-tahun menjadi diaspora Indonesia di Australia, dan Amerika Serikat. Pendapat mereka, sungguh bijak bila kita perhatikan. “Bila ini terjadi di negeri yang kami tinggali saat ini, pasti jadi perdebatan sengit di parlemen dan banyak forum. Biasanya, solusinya berjangka panjang dan ada win win solution yang elegan bagi para pihak”, papar Jeffry, yang sudah 10 tahun lebih bermukim di Australia.

Menurut Jefri yang kini tinggal di Australia, di belakang rumahnya di salah satu pohon, ada burung cukup besar sedang bersarang. “Petugas dari kantor dinas pertamanan atau peternakan, malah rutin memeriksa sarang ini. Hanya untuk beberapa pasang burung, mereka rela bolak-balik memastikan keselamatannya”.

“Pergi pagi dan pulang sore, sebagian siang atau sore mencari makan di seputar kawasan. Jumlahnya, ratusan. Ini potensi wisata dahsyat, pendidikan lingkungan hidup, juga jadi sarana hiburan positip bagi warga. Kenapa, sepertinya disia-siakan ya? Jangan gitu dong. Di negeri yang saya tinggali, walau tinggal di kota kecil , ada burung bersarang, pasti dilindungi warga dan pemerintah. Naluri saja, semua tanpa perintah akan memeliharanya”, seru Handy, diaspora Indonesia yang kini tinggal di Negara Bagian Iowa, Negeri Paman Sam.

Opini lainnya dari Wardiman (43), tour guide yang sehari-harinya banyak bertugas di pulau Dewata, Bali, dan kini dalam 5 tahun terakhir tinggal di Muara Rajeun Bandung, mengetahui adanya koloni burung blekok di Rancabayawak Gedebage Bandung, sempat tersentak.”Kalau di Bali ada yang seperti ini, sudahlah …”. Yang dimaksud Wardiman “sudahlah” itu, menurutnya dapat dijadikan semacam destinasi wisata yang aduhai. blekoklagi3

Wardiman, kala ditelisik, apa yang dimaksud “aduhai” itu? Barulah, Ia mau menjelaskan cukup rinci strategi menata dan mengisi program di daerah ini. “Kalau warga dan pemerintah setempat membutuhkan saya, siaplah membantunya”, begitu ujarnya dengan ramah.

Wanti-wanti lainnya, menyangkut rencana teknopolis ala Ridwan Kamil di kawasan Gedebage dalam beberapa tahun ke depan, Dadan Ramdan, Direktur Eksekutif Walhi Jabar:”Boleh saja kawasan ini dikembangkan, perlu diingat keberadaan koloni burung disana harus diperhatikan seksama. Jangan seperti yang sudah-sudah, aspek lingkungan hidup terkalahkan oleh keserakahan investor mega proyek. Ini akan kami ingatkan dan harus dikawal terus”.

Rasanya, cukup sekian dulu nih soal nasib burung blekok yang “mentok”. Rasanya, ingin juga jeda sejenak. Maksudnya, agar para pihak yang peduli - Membuat gerakan yang bersifat “sungsang tumbal” alias out of the box. Tujuannya, agar proses perwujudannya tak bertele-tele seperti gaya rata-rata birokrat kita atau kalangan masyarakat yang serba tanggung. Adakah? (HS/SA/dtn)

 

Baca juga:

Kampung Wisata Burung Blekok – Yang Peduli dan yang ‘Rungkad’ (4)

Kampung Wisata Burung Blekok – Inspirasi Tari & Niat Pengembangan (3)

Kampung Wisata Burung Blekok – Muasal Burung dan Kandungan Magis (2)

Kampung Wisata Burung Blekok – Perlu Kita Tengok ! (1)

Add a comment


emgz2

Artikel lain...

Pemimpin Dari Birokrat Untuk Bandung Barat Masih Ideal

Pemimpin Dari Birokrat Untuk Bandung Barat Masih Ideal

DestinasiaNews.com, Bandung Barat – Pertarungan politik merebut kursi Bandung Barat satu semakin menggeliat, Kali ini organisasi  DPC Taruna Merah Putih...

Manusia Pohon Aiptu Nunuh & Kapolsek Ibun Asep Dedi – Kembali, Tanam 2.500 Pohon

Manusia Pohon Aiptu Nunuh & Kapolsek Ibun Asep Dedi – Kembali, Tanam 2.500 Pohon

destinasiaNews – Menyongsong pengingatan hari pohon se dunia, kembali “Manusia Pohon” Aiptu Nunuh  dan kapolsek Ibun Iptu Asep Dedi menghijaukan...

Gerakan Hejo Garut & ‘Barudak’ XTC,  Plus Angin Metal Head, Tanam 1000 Pohon -  Biar, Air Terkendali …

Gerakan Hejo Garut & ‘Barudak’ XTC,  Plus Angin Metal Head, Tanam 1000 Pohon -  Biar, Air Terkendali …

destinasiaNews – Katakanlah ini ‘goup’ atau resminya DPD Gerakan Hejo Kabupaten Garut, seakan-akan ‘gak ada abiznya’ – Terus menghijaukan tatar...

Demiz Ditanya Wakilnya, Kala Berkunjung ke Partai Berkarya Jabar: Akan Diselesaikan Secara Adat

Demiz Ditanya Wakilnya, Kala Berkunjung ke Partai Berkarya Jabar: Akan Diselesaikan Secara Adat

destinasiaNews – Ujung dari acara kunjungan Dedy Mizwar Wakil Gubernur Jabar ke Kawasan Ekowisata dan Budaya Alam Santosa, Pasir Impun...

Obsatar Sinaga: Dedy Mizwar Kunjungi Partai Berkarya Jabar, Ada Apa?

Obsatar Sinaga: Dedy Mizwar Kunjungi Partai Berkarya Jabar, Ada Apa?

destinasiaNews – Eka Santosa, Ketua DPW Partai Berkarya Jawa Barat, terkait rencana kehadiran Wakil Gubernur Jawa Barat Dedy Mizwar ke...

Pengunjung

01692396
Hari ini
Kemarin
629
1496