Komunitas Jelajah Gunung Bandung: Wow, Ada 700 Gunung di Bandung Raya !

DTN JGB 1 CopydestinasiaNews – “Kami percaya, sedikitnya ada 700-an gunung di seputar Bandung Raya. Tertinggi Gunung kendeng 2.617 mdpl, terpendek Gunung Cikundul 258 mdpl. Sejak ekpedisi awal tahun 2016 ada 660 gunung. Selesai ekpedisi di akhir 2017, percayalah gunung yang 700-an itu pasti didapat”, itu kata Kang Eka, Guru SMAN 17 Bandung- Koordinator Ekspedisi Ensiklopedi Gunung Bandung (EGB). Penyelengara Ekspedisi EGB sendiri adalah Komunitas JGB (Jelajah Gunung Bandung) yang berdiri sejak 2010.

Sekitar 35 orang anggota Komunitas JGB pada Sabtu malam, 21 Januari 2017 beserta pengamat dan peminat kegiatan luar ruang lainnya, berkumpul di Alam Santosa, Pasir Impun Kabupaten Bandung. “Kami serasa di rumah sendiri di Alam Santosa yang hawa dan suasananya sejuk”, sambut Muhamad Seftia, Ketua Komunitas JGB dihadapan Eka Santosa, Ketua Umum DPP Gerakan Hejo selaku tuan rumah dalam kegiatan diskusi soal nasib gunung di Bandung Raya. “Tak terkira yang dilakukan komunitas JGB, perlu saya angkat jempol. Merekalah pecinta alam yang sebenarnya. Ini bisa sinergis dengan visi & misi Gerakan Hejo juga dengan para Olot di BOMA (Baresan Olot Masyarakat Adat) Jabar”, papar Eka yang sengaja ikut berdiskusi hingga larut malam.

“Rasanya pertemuan antar kami dengan Kang Eka Santosa untuk masa mendatang perlu dilakukan secara lebih intensif. Hasil diskusi malam ini sudah mengerucut pada pentingnya selain pendataan juga penyelamatan lingkungannya”, kata Unu Miharja yang ahli di bidang metoda dan teknik pengumpulan data pada kegiatan EGB.

DTN JGB 3 CopySementara itu menurut aktivis Pepep D W dari Komunitas JGB yang secara panjang lebar berkisah, mampu menyetop kegiatan rutin para pehobi motor trail di Ciharu dengan konsep Save Ciharus sebagai kawasan Cagar Alam (Kamojang):”Kehadiran di Alam Santosa merupakan hal yang tepat. Selama ini lokasi dan pengelola seperti ini lah yang kami cari. Sedikitnya bisa memuluskan upaya pelestarian 5 Cagar Alam di Bandung Raya”. Tak lain 5 Cagar Alam di sekitar Bandung Raya yang kondisinya perlu dicermati keberadaannya, terdiri atas Gunung Tilu (Gambung); Gunung Papandaya, di sekitar Pangalengan); Kamojang di sekitar Majalaya; Gunung Simpang di Ciwidey; dan Gunung Burangrang di perbatasan dengan Kab. Subang dan Purwakarta. “Sudahlah kita ini sebagai pecinta alam  dan lingkungan, jangan datangi kawasan itu, terkecuali bila mau meriset itu pun dengan izin khusus dari instansi terkait. Lupakan saja mendatangi Cagar Alam, karena itu sama saja dengan mencedrainya”, tambah Pepep berkali-kali dihadapan anggota komunitasnya dalam diskusi yang berlangsung seru, terutama ketika ada yang bertanya –“Mengapa kita tak boleh berkunjung ke kawasan Cagar Alam?”

DTN JGB 4 CopyMenariknya dalam diskusi yang berlangsung denga acara Camping di Alam Santosa, malam hinggi dini hari itu ada sajian music tradisional Sunda dan akustik modern. Muncul nama-nama pemain kecapi Kang Theo dan Neng Tyara dari ISBI (Institut Seni dan Budaya Indonesia). Tatkala dilantunkan tembang tentang gunung-gunung di pulau Jawa, banyak penonton yang terhanyut oleh “uga” dan kenyataan nasib gunung saat ini.

“Sebagian malah ada gunung dimiliki oleh perorangan. Materialnya, ditambang untuk galian C, malah untuk urugan tanah buat perumahan atau jalan tol. Nanti daerah ini di Ensklopedi Gunung Bandung, kalau buku ini terbit pada tahunn 2018-an, bagaimana nasibnya ya? Anak cucu kita, pasti tinggal cerita, soal gunung di Bandung ya?”, tanya seorang peserta dalam diskusi ini.

DTN JGB 2 CopyAlhasil, diskusi yang meninggalkan rasa optimisme sekitar 700 gunung di seputar Bandung Raya bisa terpetakan melalui rencana penerbitan buku EGB, sepeninggalnya masih menyisakan banyak tanya. Bayangkan, proyek EGB ini dikerjakan dengan melibatkan puluhan pendaki dan penjelajah gunung, para pakar di berbagai universitas, ribuan jam kerja para relawan, studi historis dan laboratories di dalam dan luar negeri khususnya ke Negeri Belanda, semua bersifat non ptofit ! “Alhamdulillah, hingga saat ini beluam ada sponsor dari mana pun. Bila ada, tentu sangat terbuka. Manfaatnya, buku EGB ini akan beguna bagi anak dan cucu kita. Siapa bilang bangsa kita, malas mencatat. Ini buktinya kami akan mencatatnya, tak hanya gubung di Bandung saja …”, jelas Eka selaku ‘pupuhu’ pembuatan buku EGB, yang spontan saja diamini rekan-rekannya dengan gesture penuh kepastian – di seputar Bandung ada 700-an gunung ! (HS/SA/dtn) 

Add a comment

Gerakan Hejo DPD Kab. Garut - Hijaukan & Kembangkan Desa “Wisata” Sukamurni

GH GARUT 3 CopyDestinasiaNews – Wow, ada temuan baru! Boleh dikata, demikianlah kira-kira alkisahnya. Tersebab begitu keras upaya Ketua DPD Gerakan Hejo Kabupaten Garut,Ratno Sastromiharjo yang kerap disapa Wa Ratno:”Menghijaukan wilayah Garut itu obsesi kami. Ini selaras dengan keinginan sesepuh kami Mang Ihin (Solihin GP) dan Mang Eka Santosa. Keduanya, punya niatan besar menghijaukan Jawa Barat!” – itulah pangkal, kenapa memulai menanam 4.000 pohon keras di Desa Sukamurni Kecamatan Cilawu Kabupatn Garut.

Kerja bareng penghijauan itu digarap dengan pola Rakgantang (Gerakan gandrung tatangkalan) ala Mang Ihin kala menjabat Gubernur Jabar era 1970 – 1974, sekarang oleh Wa Ratno saparakanca dilakukan lagi pada pergantian tahun 2016 ke 2017:”Tak semata menghijaukan. Kalau bisa menjadikan desa ini jadi Desa Wisata unggulan. Hebatnya, ada 4 curug (air terjun) di sini. Dipoles sedikit, pasti jadilah …,” timpalnya dengan penuh semangat.

GH GARUT 2 CopyKala ditelisik, mengapa Ia dan saparakanca-nya di Gerakan Hejo Kab. Garut begitu bersemangat menghijaukan lagi area ini? “Hanya pemberdayaan masyarakat berbasis budaya dan sadar lingkungan yang punya prospek. Lainnya, agak diragukan?!”begitu kilahnya dengan nada penuh optimis, dalam wawancara jarak jauh Bandung – Garut (6/1/2017).    

Guyub & Air Terjun

Faktanya, di Desa Sukamurni ini ada empat curug, dengan ketinggian antara 10 hingga 20 meter. Airnya tampak jernih, nuansa panoramanya variatif.”Yakin, semua punya nilai jual, khususnya buat wisatawan pecinta lingkungan atau wisata alam dan minat khusus”, papar Wa Ratno yang juga dikenal sebagai pegiat lingkungan yang punyakamonesan tersembunyi selaku “komposer” lagu-lagu balada alam.

Lebih lanjut menurut “komposer” dan pelantun lagu balada alam ini, Desa Sukamurni yang berlokasi di kaki Gunung Cikuray, katanya punya potensi unggulan untuk kegiatan hikingcamping,  dan bersepeda gunung (mountain bike).

“Belum lagi keramah-tamahan warga setempat sangatlah khas, mereka guyub. Sifat gotong royong, masih kental. Ini akan terus dipelihara dan dikembangkan”, paparnya sambil menunjukkan beberapa foto “obyek wisata baru” yang memang tampak aduhai, termasuk dokumentasi gotong-royong warga setempat – membuat akses ke desa ini.  

GH GARUT 4 CopyPotensi lainnya yang disibak Wa Ratno tentang konfigurasi Desa Sukamurni - Terbilang dekat dari Garut Kota, dan Tasikmalaya. “Dari Garut Kota, tak kurang setengah jam. Dari Tasikmalaya sekitar satu jam saja dengan roda empat atau dua. Dekat, kan?”.

Redaksi secara terpisah mengklarifikasi soal “temuan” ini ke Mang Eka Santosa di Alam Santosa Pasir Impun Kabupaten Bandung (7/1/2017):”Langkah Wa Ratno dan jajarannya di Kabupaten Garut dalam bingkai Gerakan Hejo, dimata kami selalu fenomenal. Ini patut jadi contoh untuk pegiat Gerakan Hejo di wilayah lain”.

“Saatnya kita tak usah banyak wacana dan bicara. Upaya menanam pohon, lakukan saja di merata tempat. Krisis lingkungan, jangan dijawab seminar dan lokakarya,” sebut Mang Eka Santosa yang sejak November 2015 lalu bersama Mang Ihin sontak membuat statemen mengejutkan bagi banyak pemimpin di Jabar.

Mau tahu, statemen apa yang bikin banyak pemimpin di Jabar gundah gulana dan bermuka merah?! Terbukti sepanjang tahun 2016 terjadi bencana (longsor, banjir, dan kekeringan – red.) silih berganti – korban jiwa dan harta amat banyak.

Tepatnya, setahun sebelumnya oleh Mang Ihin dan Mang Eka, diprediksi tahun 2016 seharusnya ditetapkan Jabar Darurat Lingkungan! Penyebabnya, aneka bencana besar itu terjadi karena banyak pemimpin di Jabar, amat abai terhadap pntingnya menjaga keseimbangan alam – “Malah kerap kongkalikong dengan para perusak lingkungan”, pungkas Mang Eka yang tak lupa mengapresiasi upaya Wa Ratno dansaparakanca di Kab. Garut. “Wa Ratno, memang wow …”. (HS/SA/dtn)

Add a comment

Serunya Petualangan Grup Planet Sains di Alam Santosa Kab. Bandung

DTN PALNET SAIN 1 CopyDestinasiaNews– Bertepatan dengan Tahun Baru 2017 pada 1 Januari, Kawasan Ekowisata dan Budaya Alam Santosa di Pasir Impun Kabupaten Bandung, kedatangan 25 bocah usia SD dan SMP berbagai kota di Nusantara. “Ada yang dari Banjarmasin Kalimantan, Tanggerang, Jakarta,  Bekasi, dan Bandung. Ini hari kedua, mereka mengisi liburan sekolahnya dengan kegiatan kreatif”, papar Ir. Hari U tomo, Direktur Utama Planet Sains.  

 

Hari memaparkan apa dan siapa sekilas pengisi program liburannya kali ini. Ia uraikan disela-sela membimbing asuhannya yang tampak antusias mengikuti aneka permainan arahan dari “tuan rumah” Mang Babas dan Mang Edi.

 

Paket permainan seharian penuh itu, di antaranya: kaulinan barudak lembur (galah, bedil jepret, sondah, boy-boyan, dll), membuat cocooan(kekerisan, sisimeutan, dll); mengenal arsitektur Sunda (imah Baduy, julang ngapak, dll); Pengenalan makanan & minuman tradisional (bajigur, kulub hui); ngagogo (menangkap ikan dengan tangan) “Senangnya membimbing anak-anak ini, mereka disiplin namun selalu banyak bertanya – penuh ingin tahu,” kata Mang Babas yang diamini rekannya Edi – “Mereka ini, cerewet dan lucu, banyak bertanya soal apa mengapa dari setiap paket permainan. Terpaksalah menjawabnya …”.

DTN PLANET SAIN 3 CopyBagi Dadan Ramdan, Manager Alam Santosa, kehadiran grup dari Planet Sains yang usianya sudah melakukan  hal sejenis dalam 10 tahun terakhir:”Ini jadi ukuran Alam Santosa kini sudah menjadi pilihan dari komunitas yang kerap berhubungan dengan pengenalan budaya dan pendidikan lingkungan hidup”.

 

Sejatinya menurut Eka Santosa, pemilik Alam Santosa yang juga sebagai Ketua Umum DPP Gerakan Hejo yang sepenuhnya berdedikasi menyebarluaskan pendidikan melalui pendekatan budaya dan lingkungan hidup:”Kehadian komunitas Planet Sains bisa memicu kami untuk melengkapi fasilitas dasar bagi kegiatan sejenis di masa mendatang”.

 

Mau Lagi Dong?

DTN PLANET SAIN 2 CopyMenarik disimak selama seharian itu, para peserta yang rata-rata punya gairah curiosity tinggi:”Duh, kenapa hanya sehari di Alam Santosa. Itu main senjata bambu (bedil jepret). Ini lebih asyik daripada main game…”, ujar Irsyad, peserta asal Banjarmasin Kalimantan. Lainnya, Amira Azzahra dan Baraka dari Tangerang, seharian itu tampak ketagihan bermain di Alam Santosa. “Tahun depan pokoknya liburan, harus ke sini lagi, seru sih”.

 

Menutup reportase ini, patut disimak pula apa kata para pembimbing dari Planet Sains yang secara detil telah mencoba dan mengamati fasilitas yang ada di Alam Santosa yang luasnya sekitar 4,5 ha:”Putra-putri asuhan kami, tadi bermain sambil mengenal kearifan lokal budaya Sunda dengan cara yang fun abiz. Intinya, semua senang dan serulah …,” pungkas Fitri, Habib, dan Erlin sembari mempertunjukkan tanda jempolnya. (HS/SA/dtn)

Add a comment

Didin, Penyelamat Penyu Pantai Pangandaran – Butuh Kolam Baru

DTN PENYU 1 CopyDestinasiaNews– Eka Santosa, Ketua Gerakan Hejo dan rombongan usai menerima penganugrahan sebagai “Panglima Pemekaran” Kabupaten Pangandaran (25/10/2016), menyempatkan diri berkunjung ke Konservasi Anak Penyu Tukik - Kelompok Pelestari Biota Laut (KPBL) Batu Hiu. Lokasi yang kini menjadi destinasi wisata ekologi di Pantai Pangandaran Jawa Barat rintisan Didin Syaefudin (60), patutlah kita kunjungi. “Ke Pangandaran tak berkunjung ke sini, sangatlah disayangkan”, kata Ozenk, salah satu anggota rombongan dari Gerakan Hejo. “Banyak hal dapat kita petik dari rintisan keluarga  Kang Didin. Upayanya sudah diapreriasi banyak pihak, terutama dari mancanegara”.         

Yang unik sekaligus menggenaskan, Didin kepada Eka hari itu sempat menangis tersedu-sedu menceritakan masih minimnya bantuan dari pemerintah setempat, utamanya. “Semua hanya janji-janji. Inginnya, ada tambahan kolam di belakang rumah ini. Tapi itu perlu ada dana. Saya kan beginilah, pas-pasan adanya …”.

Kepada Eka, Ia kemukakan kini masyarakat dan nelayan di sekitar Pantai Pangandaran sudah punya kesadaran, di luar perkiraannya:”Selama 24 jam ada saja warga yang melaporkan penemuan telur penyu ke saya. Dulu mah 25 tahun lalu, mana ada yang seperti ini. Sedaya upaya, bila mereka tak bisa antar ke sini, saya jemput malam itu juga. Ini amanah dari warga. Berat tanggung-jawab ini, bagi saya. Saya dan keluarga rela dan ridho demi penyu.”

DTN PENYU 2 CopyMendengar keluhan ini, Eka dan Gerakan Hejo akan berupaya mencari pemecahannya. “Inilah hebatnya Kang Didin, sementara kita sering lupa pada pentingnya penyelamatan ekosistem. Dirinya, sudah lama berjuang sendiri. Anehnya, perhatian dari dalam negeri justru minim. Sebaliknya, pakar penyu dari luar negeri sering merujuknya.”

Lima dari Tujuh

Diketahui binatang penyu yang imut-imut ini bak kura-kura laut, di semua samudra di dunia saat ini hanya ada tujuh jenis yang masih bertahan. Mau tahu siapa mereka yang tujuh itu? Ini dia penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu kemp’s ridley (Lepidochelys kempi), penyu lekang (Lepidochelys olivacea), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), penyu pipih (Natator depressus), dan penyu tempayan (Caretta caretta). 

Uniknya, di Kabupaten Pangandaran ini merupakan habitat bagi 5 dari 7 spesies penyu yang ada di buana.  Menurut para ahli, tak tertutup kemungkinan jumlah penyu yang ada di Pangandaran ini akan punah dalam waktu dekat. “Beruntung, kesadaran warga di sini sudah mulai membaik. Tak lagi Ia jadi bahan buruan”, kata Didin sambil mengusap lelehan sisa air matanya.

“Suka sedih, kalau hasil tangkapan tak sengaja dari nelayan tak bisa saya selamatkan. Penyebabnya, ada keterbatasan kolam untuk memulihkan penyu-penyu itu. Bagi saya penyu ini seperti anak sendiri,” tambahnya.  

Boneka Penyu

DTN PENYU 3 CopyLebih jauh tentang apa dan siapa Didin “Sang Penyelamat Penyu” yang setiap hari membiayainya dari kantong sendiri - memberi pakan ikan puluhan kg, serta mengobati penyu yang terluka, maupun sakit karena tersamar memakan plasti yang disangkanya ubur-ubur. Sebaiknya, kunjungilah tempat penangkarannya di Batu Hiu Kabupaten Pangandara.

Berkunjung ke “rumah penyu” Kang Didin, tak dipunguut bayaran. Bila berminat dan merasa sayang kepada penyu-penyu yang diselamatkan untuk ditebar tukiknya ke samudera lepas, bolehlah pengunjung membeli boneka penyu yang “unyu-unyu”. “Harga boneka ini, ya semampunya saja. Ini pun boneka dari orang Bandung penyayang penyu”, tutup Kang Didin yang punya rencana menurunkan kecintaan pada hewan ini kepada siapa saja. “Harapannya, anak saya bisa meneruskan pekerjaan saya ini”. 

“Dimanakah alamat tepat, Pak Didin Penyu?,” ajukanlah pertanyaan ini kepada warga pantai Pangandaran. Niscaya, semua dengan senang hati akan menunjukkannya. Selamat ber-penyu-ria. Jangan lupa pulangnya, bawalah serta oleh-oleh boneka penyu dari Kang Didin.  (HS/SA/dtn).

Add a comment

Pertama di Bandung, Wisata Hammocks “Buaian” di Tahura Djuanda : Asoy, Serasa di Belantara Amazon

DTN HAMMOCK 1 Copy

DestinasiaNews –Gejolak wisata Bandung, memang never ending ! “Ada saja sensation yang bisa jadikan sesuatu yang baru di destination Bandung.Today we enjoy the hammocks which hang on between two trees. Ini kali pertama feeling like we are in Amazon jungle.Amazing…”, papar Abdullah Aziz bin Umar (32), wisatawan asal Melaka, Malaysia di obyek wisata Taman Hutan Raya (Tahura) Djuanda di Bandung Utara.

Lainnya, sore itu (15/10/2016) di samping rombongan Abdullah Aziz yang tampak antusias mencoba menclok di hammocks, buaian ala belantara Amazon di Brazil Amerika Latin, di depan Warung Pinus Tahura Djuanda - bergiliran pada menjajal menclok sekitar 15 menitan lamanya. “Sekali naik nyobain,cuman 20 ribu rupiah. Aman koq, kan pakai tali pengaman. Lagian dibimbing anak-anak muda yang terampil”, kata Erwina (28), pengunjung Tahura asal Tangerang yang diiringi rekan-rekannya. “Buat foto selfi, bagus nih. Langsung up load. Rame nih komennya. Mereka mau pada ke sini minggu depan, malah …”.

PecintaLingkungan

DTN HAMMOCK 2 Copy

Ditelisik, siapa penggagas wisata hammock di Tahura ini yang berada di antara empat kedai fenomenal Warung Pinus, Armor Kopi, Balcony, dan Velaz ? Ternyata, kelompok kawula muda yang berangkat ingin menularkan wisata petualangan ala penduduk indigenous Brazil yang secara adati hidup di belantara Amazon sana. Mereka itu terdiri atas Zae, Ferry Hamsyah, Bambang, Uus, Dio, Jacko, Jack, Kalang, Alex, Aji, Ijal, Komo, Ilyas, Ajay, Idoy,dan Fanny tegas mengataan – Aku wanita pecinta hammocks, juga pecinta lingkungan ! 

Mereka ini sejatinya para penggagas wisata model baru yang telah memproklamirkan dirinya sebagai pecinta lingkungan abiz ! Muasalnya, dari berbagai perguruan tinggi seperti LPKIA, STSI, Universitas Widyatama, lalu merekrut pemuda setempat - Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung. “Kami utamakan pemberdayaan muda-mudi daerah ini. Kami sendiri yang tergabung di Mapala setiap perguruan tinggi, jreng-jreng menggagaslah wisata model ini. Setelah 3 bulan animonya terus meningkat. Utamanya pada hari libur”, urai Zae yang tampak capetang menjelasan apa dan mengapa hammocks ini ada di Tahura Djuanda. 

DTN HAMMOCK 4 Copy

 

Perihal cinta lingkungan itu, katanya wisata hammocks ini:”Tak boleh melukai pohon sedikit pun. Yang buang sampah sembarangan kami ingatkan. Yang ingin tahu tentang jenis dan riwayat vegetasi Tahura, atau jadi guide ke obyek wisata lainnya kami jalankan. Semua okay saja”, tutup Fanny yang tampak sigap dan ramah melayani duyunan para pemakai hammocks yang sensasional itu. 

Nah, sedikit kisah tentang wisata buaian yang membuai di Tahura Djuanda Bandung, semoga bisa memperkaya pilihan destinasi kala liburan mendatang. “Sok kapan atuh mau dibuai sama hammocks, kapan dong ke Bandungnyah?”, begitu kata Bambang dan Dio yang kental berdialek Sunda – Bandung, sambil diangguki rekan-rekannya. “Aman koq, mau dibuai di batang pohon yang  paling  tinggi juga, ayo uji nyali di Tahura. Asoy geura serasa di hutan Amazon…”.

Terpulang, atas temuan wisata hammocks ini, ada pembaca ada yang berani sampai ke dekat pucuk pohon pinus  berumur puluhan tahun,  yang menjulang  tinggi itu. Are U dare ? Hayoh …? (HS/SA/dtn)

DTN HAMMOCK 3 Copy

Add a comment


emgz2

Artikel lain...

Pemimpin Dari Birokrat Untuk Bandung Barat Masih Ideal

Pemimpin Dari Birokrat Untuk Bandung Barat Masih Ideal

DestinasiaNews.com, Bandung Barat – Pertarungan politik merebut kursi Bandung Barat satu semakin menggeliat, Kali ini organisasi  DPC Taruna Merah Putih...

Manusia Pohon Aiptu Nunuh & Kapolsek Ibun Asep Dedi – Kembali, Tanam 2.500 Pohon

Manusia Pohon Aiptu Nunuh & Kapolsek Ibun Asep Dedi – Kembali, Tanam 2.500 Pohon

destinasiaNews – Menyongsong pengingatan hari pohon se dunia, kembali “Manusia Pohon” Aiptu Nunuh  dan kapolsek Ibun Iptu Asep Dedi menghijaukan...

Gerakan Hejo Garut & ‘Barudak’ XTC,  Plus Angin Metal Head, Tanam 1000 Pohon -  Biar, Air Terkendali …

Gerakan Hejo Garut & ‘Barudak’ XTC,  Plus Angin Metal Head, Tanam 1000 Pohon -  Biar, Air Terkendali …

destinasiaNews – Katakanlah ini ‘goup’ atau resminya DPD Gerakan Hejo Kabupaten Garut, seakan-akan ‘gak ada abiznya’ – Terus menghijaukan tatar...

Demiz Ditanya Wakilnya, Kala Berkunjung ke Partai Berkarya Jabar: Akan Diselesaikan Secara Adat

Demiz Ditanya Wakilnya, Kala Berkunjung ke Partai Berkarya Jabar: Akan Diselesaikan Secara Adat

destinasiaNews – Ujung dari acara kunjungan Dedy Mizwar Wakil Gubernur Jabar ke Kawasan Ekowisata dan Budaya Alam Santosa, Pasir Impun...

Obsatar Sinaga: Dedy Mizwar Kunjungi Partai Berkarya Jabar, Ada Apa?

Obsatar Sinaga: Dedy Mizwar Kunjungi Partai Berkarya Jabar, Ada Apa?

destinasiaNews – Eka Santosa, Ketua DPW Partai Berkarya Jawa Barat, terkait rencana kehadiran Wakil Gubernur Jawa Barat Dedy Mizwar ke...

Pengunjung

01696189
Hari ini
Kemarin
560
1682