Lapak Buku Bekas ‘Destik’ – Siap Tingkatkan Minat Baca (2)

destik1

destinasiaNews – Secara administratif letak lapak buku bekas ‘ Destik, menurut Andri selaku Koordinator pelapak buku bekas di sini, masuk ke wilayah Kelurahan Balonggede, Kecamatan Regol, Kota Bandung.

“Pak Lurah cukup berperan membina kami. Kami pun terus menjaga K3 (Kebersihan, Ketertiban, dan Keindahan)) di wilayah ini. Inginnya, trotoar juga diperbaiki tuntas, agar jauh lebih menarik lagi. Pecinta buku, sebaiknya lebih nyaman dating ke sini,” kata Andri yang diamini rekannya Redi – “Intinya, kami siap meningkatkan minat baca warga. Terbukti, selama ini pun kami sudah lama memasok buku untuk perpustakaan di beberapa sekolah.”

Malaweung, Minat Baca

Akhirnya, perbincangan ‘malaweung’ dengan Andri dan rekannya Redi pemilik kios buku Brother ‘R’ Book di kawasan Destik, yang sesekali diselingi beberapa pengunjung menanyakan buku-buku lama, ujung=ujungnya bermuara ke hal – bagaimana meningkatkan minat baca di kalangan generasi muda di era zaman serba digital?

“Ada baiknya, di sekolah kini digalakkan pendidikan literasi lebih intensif. Saya apresiasi ada beberapa sekolah yang mewajibkan murid baru menyumbangkan buku ke perpustakaan sekolahnya,” urai Andri denganyan wajah penuh asa.

Lanjutannya, soal membina kebiasaan membaca buku, sebaiknya meniru di negara maju Jepang atau Korea, misalnya. Sepengetahuannya, di sana pelajaran literasi mewajibkan siswa membaca beberapa karya novel terkenal hingga tuntas.

“Usahakan, siswa nglotok mempresentasikan bacaannya dalam berbagai bentuk seperti puisi, drama, musik, dan lainnya,” jelas Andri dengan gesture penuh semangat –“Tapi di sini, sepertinya kurikulum kita terlalu padat. Atau ada alasan lain yang saya tak tahu. Pendidikan literasi dilakukan sambil lalu. Hasilnya, beginilah daya baca siswa kita melorot tajam disandingkan dengan negara-negara di ASEAN sekali pun .”

Apa Kata Iwan dan Adi Raksanagara?

Secara terpisah penulis mengungkapkan hasil jelajah malaweung ke kawasan ‘Destik’. Menurut Iwan Gunaesa, salah seorang jurnalis yang mengamati masalah pendidikan, dan pernah berkeliling di seputar kawasan menara Eifel di Kota Paris, Perancis:

“Tangan-tangan pemerintah membina para street vendor termasuk para penjual buku di sana tampak jelas. Hasilnya mereka tertata rapi. Malah menjadi obyek turis tersendiri. Saya kira di Bandung juga bisa, demi meningkatkan gairah industri perbukuan kita,” urai Iwan.

Lainnya Adi Raksanagara, jurnalis senior di Bandung sekaligus sebagai pengamat sosial yang hapal betul soal seluk-beluk bisnis buku bekas. Dalam pengamatannya, ada beberapa spot seperti ‘Destik’ yang dapat dikembangkan.

Spot penjualan buku bekas lain di Kota Bandung seperti di Palasari pindahan dari Cikapundung, sisanya di PLN – Cikapundung Barat, Cihapit, dan lainnya sangat perlu dirangkul. Rangkulan ini menurutnya, bisa melalui bantuan permodalan, diklat pendek atau praktis soal literasi buku, dan semacamnya.

“Saya percaya mereka ini akan kooperatif. Mereka ini bolehlah dianggap sebagai bagian dari kelompok intelektual di negara kita. Amatlah mudah mengajaknya bekerjasama. Misal, menyalurkan misi atau visi pemerintah, menyebarluaskan aneka program, dan banyak lainnya,” kata Adi dengan kalem sembari menambahkan – “Soal bagaimana meningkatkan minat baca warga, jangan tanyalah? Mereka ini sejak lama, nyaris tanpa gembar-gembor telah menjaga rantai peradaban intelektual kita. Setidaknya, melalui buku bekas yang amat bernilai itu, mereka telah membaca isinya ….”

Alhasil, berkat adanya ‘Destik’ walaupun hanya setitik di Kota Bandung, dipenyebaran dokumentasi peradaban pengembangan intelektual manusia, sedikitnya ada yang melestarikannya. Andaikan spot yang seperti ‘Destik’ ini tergerus hilang? Entahlah, apa yang akan terjadi? Jangan-jangan warga kota di masa depan bak sumbu pendek. Cepat meledak, tersebab amatlah dangkal memahami aneka fenomena yang terjadi di sekitarnya. Arkian, bila senang membaca buku maybe more wise atawa bijak bestari. Sugan tah …kitu.

Idealnya, sederas apa pun terpaan zaman serba digital, tokh dasarnya tetap saja ada di kemampuan membaca. Benar adanya, membaca itu tiang peradaban manusia – sampai kapan pun! Makanya, malaweung dong sesekali mah ke ‘Destik’ ?! (Harri Safiari/dtn – Tamat).

Add a comment

Lapak Buku Bekas ‘Destik’ – Era Digital Datang, Surutlah Minat Baca ! (1)

destik3

destinasiaNews – Pertengahan September 2018 kala itu masih di musim kemarau. Kebetulan penulis sedang mengurus sebuah keperluan di pusat Kota Bandung. Sebelumnya, tak terbersit sedikit pun ingin mengupas nasib penjual buku bekas. Tepatnya, pelapak buku bekas di area ‘Destik’. Kala itu udara terasa panas, sejenak mampirlah menyiuh menghindar dari terpaan terik sinar matahari.

Apa, mengapa, dan dimana ‘Destik’ itu? Mahfumnya warga Bandung, sohor sangat suka menyingkat nama. Alhasil, ‘Destik’ itu singkatan dari nama Jalan Dewi Sartika! Letaknya, berada di antara terminal Kebon Kalapa dan Alun-alun Bandung. Ini termasuk area pusat kota atawa down town, yang sejak dulu mejadi pusat perbelanjaan dan hiburan bagi jutaan warga Bandung dan sekitarnya.

Iseng saja ini mah atau sedikit malaweung sebelum ke hal inti – membaca buku itu termasuk hiburan atau bukan ya ? Jangan-jangan di zaman now yang serba canggih dengan digitalisasi alias era 4.0 (four point O), termasuk siksaan ya ? Hiks hiks hiks …

Masih soal singkatan dalam konteks malaweung, ini mengingatkan pada kemiripan nama Jalan Otista. Tak lain, itu singkatan dari Oto Iskandardinata. Lainnya, masih di Kota Bandung ada SMPN 18 ‘Dallas’. Tak lain, ini singkatan dari SMPN 18 yang ‘diselengorkan’ dari nomor seri dalapan belas (delapan belas!). Jelas kan SMPN 18 ini, adanya di Jalan Terusan Kiaracondong, bukan di kota Dallas di negeri Paman Sam !

Eh, kembali atuh membahas ‘Destik’ sebagai kupasan utama?! Ya, nasib sekitar 30-an pelapak buku bekas yang rata-rata generasi ke-3 sejak era 1970-an, ternyata kini merana.

“Sejak 2015, duh minat baca drastis turun. Peran buku sekarang digusur zaman digital. Orang-orang pakai smartphone, katanya semua info ada di dalamnya. Buku kini jarang dilirik orang. Buku mah paling-paling hanya dilirik orang tua, sebagian pelajar dan mahasiswa. Yang terakhir ini juga seperti terpaksa,” papar Andri Safari (35) dengan wajah nelangsa sembari memperlihatkan jajaran buku dan majalah bekas jualannya yang jarang peminat.

destik2

“Anak-anak usia 19 sampai 21 tahun terkadang datang, hanya cari komik jepang. Lainnya, tak mereka lirik. Komik Indonesia, habis diserbu para kolektor,” lanjut Andri yang tinggal di sebuah gang di sekitar ‘Destik’.

Bantuan Pemerintah?

Biasa, ada lontaran pertanyaan iseng, ini ciri khas jurnalis malaweung, suka tanya ini dan itu. Pernahkan, ada bantuan untuk pelapak buku bekas ‘Destik’ dari pemerintah? Maksudnya, demi turut mendongkrak minat baca warga. Bukankah kata pertama dalam salah satu kitab suci agama termaktub kata iqra, yang artinya bacalah? Lagian, maju mundurnya peradaban sebuah bangsa, salah satu indikatornya sejauh mana warga tersebut mencintai buku – buku itu window of the world, geuningan?

“Waduh, seumur-umur jualan buku bekas, memang pernah mau ada bantuan dari pemerintah waktu jaman Pak Jokowi awal jadi presiden. Malah sampai disuruh ngumpulin KTP segala. Nyatanya nol hingga hari ini,” jelas Andri yang katanya meneruskan kios kakaknya 5 tahun lalu dari ayahnya bernama Zeni, dan ayahnya pun meneruskan dari kakeknya Pak Engkus – “Keluarga besar kami bisnisnya memang di buku bekas. Ceritanya, hampir sama dengan rekan lain di ‘Destik’. Ini mah bisnis turunan, tetapi bukan pula dosa turunan …?!”

Masih menurut Andri yang berikhwal, tempatnya sedari dulu lebih sohor disebut ‘Destik’. Padahal secara fisik lokasi penjualnya lebih banyak di area yang mengarah ke Jalan Kautamaan Istri. Eh, soal bantuan dana berupa kredit ringan dari pemerintah yang hanya jadi wacana, begini ujar Andri:

”Andai dulu ada, maua dipakai memperbanyak stok buku. Mempercantik kios, pastilah. Kami kan, cinta Kota Bandung. Biar warga senang lagi baca buku, pengetahuannya bertambah luas dan mendalam. Tidak seperti sekarang, sedikit-sedikit suka marah-marah, mungkin karena bacaannya minim …” (Harri Safiari/dtn Bersambung)

Add a comment

Destinasi Wisel Ala Centrum Million Balls

CMB1

destinasiaNews - Setelah sukses meracik destinasi wisata selfie (wisel) Rabbit Town. Satu lagi, Kagum Group menyulap bangunan heritage kolam renang Centrum peninggalan kolonial Belanda tahun 1920-an, menjadi destinasi wisata dengan atmosfer wisel, bernama Centrum Million Balls. Terletak di jantung kota Bandung tepatnya Jalan Belitung Nomor 10.

Pada awalnya bangunan heritage Centrum yang saat itu dikenal dengan kolam renang Tirtamerta atau Pemandian Centrum, pernah beroperasi menjadi Restoran The Centrum (11/11/2011), digunakan sebagai venue untuk Meeting, Incentive, Convention, Exhibition (MICE), Dining and Wedding. Interiornya bernuansa kapal pesiar kelas strar cruise, namun demikian renovasinya tanpa mengubah bentuk asli bangunannya, masih dalam manajemen Kagum Group, lalu kemudian bertransformasi menjadi wahana destinasi wisel Centrum Million Balls dan resmi di buka untuk umum sejak Kamis, 26/7/2018.

Opening Ceremony diawali dengan pemotongan nasi tumpeng dan gunting pita yang dilakukan oleh pemilik wahana Centrum Million Balls, Resti Stephanie Husada, disaksikan manajemen Kagum Group dan para tamu undangan lalu kemudian di lanjutkan dengan showing ke beberapa spot wahana selfie yang berada di lantai dua Wahana Centrum Million Balls. Pada acara tersebut dihadiri, Presdir Kagum Group Henri Husada, Creative Director Kagum Fashion, Resti Stephanie Husada dan jajaran manajemen Kagum Group serta tamu undangan lainnya.

CMB3

Kehadiran gadget berbasis android dan trend berpoto selfie di jaman now, inilah yang menjadikan dasar menangkap peluang bisnis wisel bagi sang kreator berparas cantik yang tak lain adalah putri kedua big boss Kagum Group, Resti Stephanie Husada yang akrab disapa Resti.

Menurut Resti, wahana wisel Centrum Million Balls ini merupakan yang kedua setelah beroprasinya Rabbit Town yang belokasi di Jalan Rancabentang 30 Ciumbuleuit Kota Bandung pada 23/2/2018 lalu. Memiliki 12 spot wisel, dirancang untuk keluarga dan dikhususkan bagi kaum muda milenia kekinian untuk ber-refreshing. Ikon utama Centrum Million Balls adalah kolam mandi bola super big pool, pertama dan terbesar di Indonesia. “Nah kalo Rabbit Town ikon utamanya adalah 88 tiang beton raksasa (love light)”, terang Resti saat ditemui destinasiaNews.com usai peresmian Centrum Million Balls.

Hal senada disampaikan Nabila Dwi Khoirunnisa, Marketing Komunikasi wahana Centrum Million Balls, sesuai dengan namanya The Big Pool Party Million Balls, kolam yang luasnya 560 meter persegi ini diisi satu juta bola plastik berwarna orange sebesar bola tenis, juga difasilitasi papan luncur berbahan plastik. Selain itu, tersedia kolam mandi bola bagi anak-anak berukuran 12 meter persegi namun bolanya lebih kecil dan warna warni, ujar Nabila sapaan akrab Nabila Dwi Khoirunnisa, saat ditemui para awak media disela-sela kesibukannya menerima tamu undangan.

CMB2

“Selain ber-selfie ria di kolam mandi bola, di wahana ini tersedia 10 spot unik lainnya untuk dijadikan latar ber-selfie ria antara lain : Secret Door, Avocado Shake, Boba Shop, Yellow Bubble Shower, Story of My Life, Butter Pocorn, French Fries, Disco Darling, Strawberry Cheese Cake dan Choko Sundae”, kata Nabila

Usai ber-selfie ria di beberapa spot, para pengunjung dapat menikmati makanan dan minuman (mamin) ala cafe de Piri dengan harga terjangkau mulai Rp.26 ribu serta wisata belanja fashion dan buah tangan atau merchadise ala Centrum Million Balls, ujar Nabila

Tiket masuk ke wahana ini dipatok Rp. 80 ribu per orang untuk weekday dan Rp. 100 ribu per orang untuk weekend, buka setiap hari, Senin-Minggu, pukul 09:00 – 20:00 WIB. kata Nabila menambahkan

CMB

“Bagi para pengunjung tidak usah khawatir dengan barang bawaannya, untuk kenyamanan dan keamanannya, pihak manajemen Centrum Million Balls telah menyediakan ratusan locker dan kaos kaki (untuk masuk kolam mandi bola)bagi yang membutuhkannya dan tidak dipungut biaya lagi”, tegas Nabila.

“Tentu saja keberadaan wahana wisel ini, menjadi aset destinasi wisata bagi Jawa Barat khususnya Kota Bandung, dan harapannya semoga menjadi salah satu tujuan destinasi wisel favorite yang wajib dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara”, pungkasnya. (HRS/dtn)

Add a comment

Disbudpar Kota Bandung Berkolaborasi Dengan C59 Gelar Soft Launching Bandung Creative Belt

belt

destinasiaNews– Kota Bandung yang dinobatkan sebagai Kota Kreatif pada tahun 2015 lalu, oleh Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization- UNESCO), merupakan salah satu daerah tujuan wisata (DTW) di Indonesia khususnya Jawa Barat yang memiliki magnit tersendiri bagi wisatawan lokal maupun mancanegera, selain hawanya sejuk dan panorama yang indah, Kota Bandung memiliki beberapa spot destinasi wisata menarik antara lain, wisata tematik Gedung Merdeka, fashion, kuliner, seni budaya, heritage, hiburan, industri sepatu Cibaduyut dan lainnya.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung, dalam upaya mendongkrak dan mengembangkan destinasi pariwisata industri kreatif tematik, pihaknya berkolaborasi dengan PT Caladi Lima Sembilan (C 59) menggelar Soft Launching Bandung Creative Belt dan Produk Kreatif Cigadung, berlangsung di Aula Serbaguna C 59 Jalan Cigadung Raya Timur Bandung, Kamis, 28/6/2018.

Menurut pantauan destinasiaNews.com, acara tersebut dihadiri oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) Kota Bandung Kenny Dewi Kaniasari, S.Sos., MA., Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Disbudpar Kota Bandung Tris Avianti, Owner C 59 Marius Widyarto (Wiwied), Camat Cibeunying Kaler, Drs. H. Maman Rohman, M.Si. dan para tamu undangan lainnya.

Kadisbudpar Kota Bandung, Kenny Dewi Kaniasari, S.Sos., MA., mengatakan, usai diresmikannya Bandara Internasional Kertajati, Kota Bandung ini harus ada disversifikasi untuk produk-produk pariwisatanya karena ini nantinya akan banyak lagi kompetitor.

belt4

Hal ini harus segera diantisipasi dan mempromosikan paket-paket wisata yang bisa dijual kepada wisatawan lokal maupun mancanegara untuk tetap datang ke Kota Bandung. Selain itu juga diperbanyak Paket Wisata Inbound yang dijual oleh Travel atau Biro Perjalanan Wisata, bukan sebaliknya menjual outbound untuk mengajak warga Bandung pergi ke luar negri, kata Kenny sapaan akrab Kenny Dewi Kaniasari.

Salah satu upaya Disbudpar Kota Bandung meningkatkan inbound tourism dengan melakukan diversifikasi, yaitu penyusunan pola-pola wisata yang nantinya menjadi referensi bagi para Tour Operator yang tergabung di ASITA(Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies), kata Kenny

Tour Operator tidak hanya menjual paket “mainstream”, seperti, Museum KAA, Museum Geologi, Cihampelas atau Gedung Sate saja, melainkan ada tempat menarik yang belum diketahui wisatawan lokal maupun mancanegara seperti Kawasan Cigadung yang memiliki industri kaos C 59, rumah produksi Batik Hasan, Batik Komar, Galery Rosyid, Dago Golf dan lainnya. Untuk itu melalui program Bandung Creative Belt ini, institusinya terus bereksplorasi dan bekerjasama dengan para pengusaha yang sudah ada di daerah Cigadung, ujar Kenny

belt2

“Sebetulnya banyak perusahaan yang sudah tumbuh di Cigadung ini, seperti C 59 yang berdiri sejak tahun 1980-an. Namun selama ini mungkin belum terasa perhatian dan dukungan dari pemerintah. Nah saatnya sekarang kita dukung dijadikan satu, melalui ‘belt’ ini, untuk dipromosikan dan dikemas menjadi suatu paket wisata yang baru”, Jelas Kenny

“Program Disbudpar Kota Bandung selanjutnya, akan menggali potensi wisata Kota Bandung yang berada di kecamatan-kecamatan selain Kecamatan Cibeunying Kaler dan creative belt ini akan di kembangkan di 29 Kecamatan Kota Bandung, sehingga 30 Kecamatan di Kota Bandung akan memiliki destinasi wisata yang beragam,” tegasnya

Hal senada disampaikan Tris Avianti, Kabid Ekonomi Kreatif Disbudpar Kota Bandung, Kelurahan Cigadung, Kecamatan Cibeunying Kaler merupakan prototype Bandung Creative Belt, yang nantinya akan dikembangkan di wilayah lainnya. “Alhamdulillah di Cigadung sudah kompak, yang utama ada komunikasi dan kolaborasi yang berkelanjutan. Meskipun masih ada pekerjaan rumah ke depan. Bagaimana terus menggali potensi wisata yang ada di Cigadung untuk dijadikan data base dan disambungkan menjadi paket-paket wisata. Insya Alloh dalam satu tahun ke depan bisa selesai di 30 kecamatan yang terbagi dalam 15 ‘belt’, akan terus dikembangkan,” kata Tris.

belt3

“Kami optimis dengan kolaborasi ini, hal itu tidak terlepas dari dukungan dan kerjasama dengan para akademisi, pebisnis, pelaku, komunitas, pemerintah serta media. “Peran media sangat membantu untuk mewartakan, mempublikasikan, mempromosikan wisata industri kreatif dijadikan destinasi pawisata yang bisa mendatangkan wisatawan lokal dan mancanegara,” tegas Tris menambahkan

Owner C 59, Marius Widyarto yang akrab disapa Wiwied, mengapresiasi dan menyambut baik atas kolaborasi ini yaitu Soft Launching Bandung Creative Belt. Menurutnya Disbudpar Kota Bandung memiliki itikad baik, jelas Wiwied.

“Kami akan selalu mendukung mensukseskan kegiatan Bandung Creative Belt ini,” pungkasnya. (HRS/dtn)

Add a comment

Petualangan anak Rumah Bermain Jejak Kecil di Indo Wisata Permata

IWP JEJAK KECIL 1destinasianews - Rumah bermain jejak kecil yang beralamat di Jl Bukit Dago Utara I No. 13 kini berpetualang bersama anak anak yang lucu di Tempat Wisata Edukatif Indo Wisata Permata (IWP) untuk bermain sambil mengenal pembuatan berlian.

hadir dalam acara ini, Manajer Public Relations Indo Wisata Permata (IWP) Dian Permatasari, dan Koordinator Lapangan Rumah Bermain Jejak Kecil Mila Yulianti.

ini terungkap saat acara Field Trip ke Indo Wisata Permata bertajuk Twinkle in the Diamond, Selasa, (18/4/2017), di Indo Wisata Permata (IWP) di Citra Green Dago Blok N 1-10 Bandung.

“inti kegiatan di Indo Wisata Permata (IWP) yaitu, anak-anak dari Rumah Bermain Jejak Kecil akan mencari semacam berlian di tiga station,” kata Manajer Public Relations Indo Wisata Permata (IWP) Dian Permatasari, “Kemudian anak-anak akan menukarkan berlian tersebut ke gambar tokoh Paman Sam yang ada di karton dengan sebuah apel yang terbuat dari Playdough,” ungkapnya.

IWP JEJAK KECIL 5“Alat peraga bermain yang dipakai anak-anak sangat aman, karena menggunakan kertas, lem, gunting plastik,pisau plastik, talenan, keranjang, dan tanah,” kata Dian.

“Nantinya setelah bermain menempel kertas, anak-anak akan bermain menggali tanah di dalam keranjang untuk mencari semacam berlian yang terbuat dari Waterbeads,” pungkas Dian.

Sebagai Koordinator Lapangan Rumah Bermain Jejak Kecil Mila Yulianti mengatakan, Rumah Bermain Jejak Kecil berlokasi di jalan Bukit Dago Utara I No.13, “Kami merupakan kelompok bermain, jadi setiap harinya anak dan orang tua yang datang ke tempat kami berbeda-beda,” ungkap Mila.

Lebih lanjut Mila mengatakan, kegiatan di Rumah Bermain Jejak Kecil setiap minggu berbeda-beda, “Setiap bulannya berbeda tema juga,” kata Mila.

Mengenai kunjungan Rumah Bermain Jejak Kecil ke Indo Wisata Permata (IWP), Mila mengatakan, pihaknya membawa 25 anak beserta orang tuanya, “Seminggu ini selama empat hari yaitu, Selasa, Rabu, Sabtu, dan Minggu, kita akan membawa anak-anak ke IWP,” kata Mila.

IWP JEJAK KECIL 2“Tanggapan orang tua sejauh ini sangat senang anaknya bermain di IWP, karena anak-anak mereka bisa bermain sambil belajar serta bersosialisasi,” kata Mila.

“Kami memilih IWP karena Rumah Bermain Jejak Kecil tahu IWP merupakan salah satu tempat wisata edukatif yang ada di kota Bandung,” tegas Mila.

Mengenai permainan yang dimainkan di IWP, Mila mengatakan, ada empat permainan yang dimainkan, “Diantaranya permainan eksplorasi, dan mengenal warna primer seperti biru, merah dan kuning,” ujar Mila.

“Selain itu ada permainan menggali tanah yang di dalamnya ada bebatuan warna-warni mirip Diamond,” kata Mila, “Ada juga permainan menggunting dan menempelkan kertas ke gambar Diamond, yang hasil karyanya bisa dibawa pulang oleh anak-anak,” ungkap Mila.

“Target yang kita inginkan dari kegiatan ini adalah, anak- anak usia 2 hingga 4 tahun mampu mengenal warna, dan yang penting mengenalkan pembuatan diamond kepada anak sambil bermain,” pungkas Mila.

Tentang Indo Wisata Permata

IWP JEJAK KECIL 4Konsep IWP adalah edukasi, dan diperuntukan untuk semua kalangan, target pengunjung IWP mulai dari anak kecil sampai dewasa, dan menengah bawah hingga menengah ke atas. Harga berlian di IWP bervariasi dan sesuai standarisasi dari Amerika, karena berlian di IWP menggunakan sertifikat dari Gemological Institute of America (GIA).

Harga berlian di IWP terjangkau, karena IWP menyediakan juga berlian seharga satu jutaan dengan kualitas yang tetap terjaga. Selain mendapatkan pengetahuan mengenai berlian, pengunjung dapat makan dan minum di Skylight Cafe Resto & Lounge yang berlokasi di IWP. (SA/Dtn)

IWP JEJAK KECIL 3

Add a comment


emgz2

Artikel lain...

Bandung Music Council KasihTabik ke Orkestra Bandung Philharmonic – Gelar Repertoir ‘Legenda

Bandung Music Council KasihTabik ke Orkestra Bandung Philharmonic – Gelar Repertoir ‘Legenda

destinasiaNews  – Terkait rencana gebyar gelaran musik klasik musim ke-4 dari Bandung Philharmonic pada Minggu, 23 September 2018, Erlan Effendy Ketua...

Lapak Buku Bekas ‘Destik’ – Siap Tingkatkan Minat Baca (2)

Lapak Buku Bekas ‘Destik’ – Siap Tingkatkan Minat Baca  (2)

destinasiaNews – Secara administratif letak lapak buku bekas ‘ Destik, menurut Andri selaku Koordinator pelapak buku bekas di sini, masuk...

Lapak Buku Bekas ‘Destik’ – Era Digital Datang, Surutlah Minat Baca ! (1)

Lapak Buku Bekas ‘Destik’ – Era Digital Datang, Surutlah Minat Baca ! (1)

destinasiaNews – Pertengahan September 2018 kala itu masih di musim kemarau. Kebetulan penulis sedang mengurus sebuah keperluan di pusat Kota...

Rayakan Ultah Kota Bandung ke 208 Tran Studio Gelar Konser Ari Lasso

Rayakan  Ultah Kota Bandung ke 208 Tran Studio Gelar Konser Ari Lasso

destinasiaNews - Kawasan Terpadu  TSB (Trans Studio Bandung) dalam menyambut ulang tahun Kota Bandung ke -208,  menawarkan aneka promo dan...

Ridwan Kamil & Uu Bubarkan TOS Jabar Juara, Erry Riyana Hardjapamekas - Libatkan Warga untuk Pengawasan

Ridwan Kamil & Uu Bubarkan TOS Jabar Juara, Erry Riyana Hardjapamekas - Libatkan Warga untuk Pengawasan

destinasiaNews - Tim Optimasi dan Sinkronisasi (TOS) Jabar Juara, yang dibentuk sejak 26 Juli 2018 sebagai akselerasi percepatan kerja Gubernur dan...

Pengunjung

02528514
Hari ini
Kemarin
4070
7781