Lapak Buku Bekas ‘Destik’ – Siap Tingkatkan Minat Baca (2)

destik1

destinasiaNews – Secara administratif letak lapak buku bekas ‘ Destik, menurut Andri selaku Koordinator pelapak buku bekas di sini, masuk ke wilayah Kelurahan Balonggede, Kecamatan Regol, Kota Bandung.

“Pak Lurah cukup berperan membina kami. Kami pun terus menjaga K3 (Kebersihan, Ketertiban, dan Keindahan)) di wilayah ini. Inginnya, trotoar juga diperbaiki tuntas, agar jauh lebih menarik lagi. Pecinta buku, sebaiknya lebih nyaman dating ke sini,” kata Andri yang diamini rekannya Redi – “Intinya, kami siap meningkatkan minat baca warga. Terbukti, selama ini pun kami sudah lama memasok buku untuk perpustakaan di beberapa sekolah.”

Malaweung, Minat Baca

Akhirnya, perbincangan ‘malaweung’ dengan Andri dan rekannya Redi pemilik kios buku Brother ‘R’ Book di kawasan Destik, yang sesekali diselingi beberapa pengunjung menanyakan buku-buku lama, ujung=ujungnya bermuara ke hal – bagaimana meningkatkan minat baca di kalangan generasi muda di era zaman serba digital?

“Ada baiknya, di sekolah kini digalakkan pendidikan literasi lebih intensif. Saya apresiasi ada beberapa sekolah yang mewajibkan murid baru menyumbangkan buku ke perpustakaan sekolahnya,” urai Andri denganyan wajah penuh asa.

Lanjutannya, soal membina kebiasaan membaca buku, sebaiknya meniru di negara maju Jepang atau Korea, misalnya. Sepengetahuannya, di sana pelajaran literasi mewajibkan siswa membaca beberapa karya novel terkenal hingga tuntas.

“Usahakan, siswa nglotok mempresentasikan bacaannya dalam berbagai bentuk seperti puisi, drama, musik, dan lainnya,” jelas Andri dengan gesture penuh semangat –“Tapi di sini, sepertinya kurikulum kita terlalu padat. Atau ada alasan lain yang saya tak tahu. Pendidikan literasi dilakukan sambil lalu. Hasilnya, beginilah daya baca siswa kita melorot tajam disandingkan dengan negara-negara di ASEAN sekali pun .”

Apa Kata Iwan dan Adi Raksanagara?

Secara terpisah penulis mengungkapkan hasil jelajah malaweung ke kawasan ‘Destik’. Menurut Iwan Gunaesa, salah seorang jurnalis yang mengamati masalah pendidikan, dan pernah berkeliling di seputar kawasan menara Eifel di Kota Paris, Perancis:

“Tangan-tangan pemerintah membina para street vendor termasuk para penjual buku di sana tampak jelas. Hasilnya mereka tertata rapi. Malah menjadi obyek turis tersendiri. Saya kira di Bandung juga bisa, demi meningkatkan gairah industri perbukuan kita,” urai Iwan.

Lainnya Adi Raksanagara, jurnalis senior di Bandung sekaligus sebagai pengamat sosial yang hapal betul soal seluk-beluk bisnis buku bekas. Dalam pengamatannya, ada beberapa spot seperti ‘Destik’ yang dapat dikembangkan.

Spot penjualan buku bekas lain di Kota Bandung seperti di Palasari pindahan dari Cikapundung, sisanya di PLN – Cikapundung Barat, Cihapit, dan lainnya sangat perlu dirangkul. Rangkulan ini menurutnya, bisa melalui bantuan permodalan, diklat pendek atau praktis soal literasi buku, dan semacamnya.

“Saya percaya mereka ini akan kooperatif. Mereka ini bolehlah dianggap sebagai bagian dari kelompok intelektual di negara kita. Amatlah mudah mengajaknya bekerjasama. Misal, menyalurkan misi atau visi pemerintah, menyebarluaskan aneka program, dan banyak lainnya,” kata Adi dengan kalem sembari menambahkan – “Soal bagaimana meningkatkan minat baca warga, jangan tanyalah? Mereka ini sejak lama, nyaris tanpa gembar-gembor telah menjaga rantai peradaban intelektual kita. Setidaknya, melalui buku bekas yang amat bernilai itu, mereka telah membaca isinya ….”

Alhasil, berkat adanya ‘Destik’ walaupun hanya setitik di Kota Bandung, dipenyebaran dokumentasi peradaban pengembangan intelektual manusia, sedikitnya ada yang melestarikannya. Andaikan spot yang seperti ‘Destik’ ini tergerus hilang? Entahlah, apa yang akan terjadi? Jangan-jangan warga kota di masa depan bak sumbu pendek. Cepat meledak, tersebab amatlah dangkal memahami aneka fenomena yang terjadi di sekitarnya. Arkian, bila senang membaca buku maybe more wise atawa bijak bestari. Sugan tah …kitu.

Idealnya, sederas apa pun terpaan zaman serba digital, tokh dasarnya tetap saja ada di kemampuan membaca. Benar adanya, membaca itu tiang peradaban manusia – sampai kapan pun! Makanya, malaweung dong sesekali mah ke ‘Destik’ ?! (Harri Safiari/dtn – Tamat).


emgz2

Artikel lain...

Wow, Rektor Unpad & Produsen Aquatec Petik Hasil Maksimal Panen Budidaya Kerapu di Pangandaran

Wow,  Rektor Unpad & Produsen Aquatec Petik Hasil Maksimal Panen Budidaya Kerapu di Pangandaran

destinasiaNews - Boleh dibilang kegiatan produktif ini nyaris tak banyak orang tahu, padahal ini merupakan 'giant step for Indonesian's development'....

Jadi Juri Unjuk Kabisa Wanoja Jajaka Budaya Jabar, Eka Santosa - Kembangkan Budaya Kita

Jadi Juri Unjuk Kabisa Wanoja Jajaka Budaya Jabar, Eka Santosa - Kembangkan Budaya Kita

destinasiaNews - Boleh dikata ini penampilan tokoh Jabar Eka Santosa yang sedikit tak 'lazim' akhir-akhir ini? Gerangannya kali ini penuh dengan...

Gerai GORO DAYUNG di Bandung Munculkan Antusiasme Peserta Munas ISMI ke-2

Gerai GORO DAYUNG di Bandung Munculkan Antusiasme Peserta Munas ISMI ke-2

destinasiaNews - Sejumlah peserta Musyawarah Nasional (Munas), Ikatan Saudagar Muslim se-Indonesia (ISMI) ke-2 di Hotel Grand Asrilia Bandung, pada Sabtu,...

LAKSI Dukung Kapolri - Tegakkan Hukum Bagi Pelaku Hoax

LAKSI Dukung Kapolri - Tegakkan Hukum Bagi Pelaku  Hoax

destinasiaNews - Terkait pemeriksaan terhadap Ketua Dewan Kehormatan PAN, M Amien Rais. Dalam hal ini sebagai saksi, pada kasus dugaan...

Pengunjung

02654262
Hari ini
Kemarin
1350
4849