Taman Maluku, Taman Kenyamanan Termal

Paste a VALID AdSense code in Ads Elite Plugin options before activating it.

taman maluku bw

 Catatan napak tilas Adi Raksanagara.

DestinasiaNews - Taman Maluku, taman yang dikitari Jalan Saparua, Ambon dan Jalan Aceh di Kota Bandung ini sejak dulu memang menyejukkan. Selain banyak pohon rindang, ada juga kolam dan parit menambah keasriannya. Ada juga jejak sejarah kolonial dengan adanya patung pastor. Tapi, kenyamanan termal yang bisa didapat dari taman itu terkontaminasi oleh konotasi buruk, terutama di kalangan warga kota ini yang mengenal taman itu sampai tahun 90-an.

Apa boleh buat Taman Maluku kala itu di malam hari pernah dipakai tempat mangkal para “waria,” setelah tempat mangkal terdahulunya di Kebon Raja (sekarang Taman Dewi Sartika/Balai Kota) diobrak-abrik.

Taman Maluku di dekade pertama tahun 2000 mulai terlihat “cantik.” Trauma waria di lokasi itu sedikit demi sedikit sirna karena diramaikan “sentra kuliner” yang banyak dikunjungi wisatawan dan juga warga lokal . Dan, para waria itu entah kemana.

Sebagian besar wrga Bandung pun hingga kini masih ada yang “alergi” apabila mendengar nama taman itu. Saya pernah berkantor di komplek Taman Maluku itu, tepatnya di komplek lapangan tennis Pelti, citra waria itu masih juga langgeng. Busyet dah!

taman maluku4

Padahal, bangsa Belanda pernah menjuluki taman ini sebagai “Taman Surga” dan di taman itu pula dibangun patung Henricus Christiaan Verbraak, seorang pastor berkebangsaan Belanda yang konon dia sendiri belum pernah menjalankan kepastorannya di Bandung. Namun bangsa Belanda memilih lokasi Taman Maluku untuk mengabadikan jasa-jasa kepastorannya di beberapa daerah di Indonesia. Keberadaan patung Verbraak di Taman Maluku merupakan upaya para tentara Belanda yang memang kediaman resmi komandan militernya (kini Markas Kodam 3 Siliwangi), terletak di seberang patung tersebut. Patung itu digarap seniman Belanda G.J.W. Rueb.

Saya sendiri masih terlekat kenangan atas keberadaan taman itu. Selain selalu saja merasakan sensasi horror di sekitar taman itu, ada juga kenangan manis di masa anak-anak. Awal kenangan itu ketika di tahun awal 1960an saya dikenalkan kepada sebuah buku berjudul “Ekspedisi Kontiki.” Koleksi buku ayah saya memang sukup banyak satu di antaranya adalah buku ini. Waktu itu saya sendiri belum begitu bisa membaca, hanya mengamati gambar-gambarnya saja yang ada di buku itu.

Paste a VALID AdSense code in Ads Elite Plugin options before activating it.

Belakangan saya tahu bahwa buku itu mengisahkan petualangan Thor Heyerdahl, seorang antropolog berkebangsaan Norwegia yang ingin membuktikan teorinya sendiri bahwa bangsa Polynesia berasal dari benua Amerika; bukan dari Asia Tenggara yang disebut-sebut para antropolog lainnya. Heyerdahl bersama 5 anggota timnya menempuh jarak sekira 7.000 kilometer di Samudera Pasifik dari Peru ke Tahiti selama 3 bulan lebih di tahun 1947.

Yang membuat tertarik dari buku Kontiki itu adalah keberanian Heyerdahl yang menggunakan perahu (rakit) kuno untuk menjelajahi samudara itu. Bentuk perahunya serupa rakit dengan “saung” berdinding gedek. Rakitnya itu sendiri terbuat dari batangan pohon kayu yang diikat rapat. Hal itu yang saya kagumi. Rupanya salah seorang kakak saya juga tertarik, sampai-sampai dia membuat tiruan rakit Kontiki ini dari bambu dan layarnya dari kain seadanya. Jadilah mainan asyik ketika itu karena belum teralami jaman gawai. Tentu saja saya senang waktu itu.

Lebih menyenangkan lagi aya diajak untuk melayarkan perahu mainan itu di kolam yang ada di Taman Maluku. Taman Maluku dari rumah saya memang tidak begitu jauh. Jalan kaki pun tidak akan sampai memakan waktu 30 menit, apalagi waktu itu belum begitu banyak kendaraan yang lalu lalang di sepanjang perjalanan.

Setiba di kolam Taman Maluku ada juga beberapa anak dan pemuda yang tengah bermain perahu-perahuan. Semua gembira. Kami saling puji hasil hasta karya perahu-perahuan itu. Tidak saling ejek. Jadilah petemanan. Ada yang datang dari Cihaurgeulis, Sekeloa dan yang dari Cicadas pun ada. Saya sendiri dari Ciliwung. Kelihatannya juga semua perahu mainan saat itu buatan sendiri. Sederhana saja. Tapi kami merasa bebas bermain dan gembira di pinggir kolam itu. Kegembiraan tanpa lelah di taman itu bisa jadi timbul karena produksi oksigen di tempat itu memang tinggi. Suasana di tengah kenyamanan termal seperti ini yang bisa membangun otak kita bekerja positif dan kreatif.

Kenangan itu tetiba muncul ketika sahabat onthel saya mengirimkan foto-foto Taman Maluku yang dia kunjungi, masih menggunakan sepeda Raleigh kesayangannya, beberapa hari lalu. Sayang, dari foto kiriman Pak Harris Fratello ini kelihatannya pinggir kolam itu dipagari dengan kokoh. Maksudnya apa ya? Pagar itu dihilangkan boleh ga ya? Kalau perlu ada juga binatang yang senang di air seperti angsa atau bebek di situ.

Sedih juga, belakangan ini kita tidak bisa sebebas dulu bermain dan bergembira di taman ini. Kalau saja kegembiraan ini bisa dimunculkan kembali, tanpa perlu trauma dengan konotasi waria itu, tentunya kita bisa menikmati kenyamanan termal dari rindangnya pepohonan di taman ini. Unsur alami yang menyehatkan di taman itu pun cukup komplet, ada tanah, rumput pepohonan, satwa dan juga air. Oksigennya banyak.

taman maluku7

Sesekali silakan coba, berkunjung ke Taman Maluku untuk menikmati kesegaran bioklimatik di taman ini. Jika sedang santai, bisa ameluang waktu sambil melupakan gawai, bisa juga membaca buku dengan santai. Kalau saja masih ada di antara kita yang “alergi” di taman itu lantaran ingat bancinya, boleh jadi “kerusakan bukan pada pesawat televisi anda.” dtn.-

Paste a VALID AdSense code in Ads Elite Plugin options before activating it.


emgz2

Artikel lain...

Yayasan HCI Fokus pada Lingkungan Hidup & Ketahanan Pangan, Bangun Kampung Cibarani

Yayasan HCI Fokus pada Lingkungan Hidup & Ketahanan Pangan, Bangun Kampung Cibarani

destinasiaNews - Musyawarah yang di laksanakan di kampung Cibarani, kelurahan Hegarmanah, kecamatan Cidadap, kota Bandung oleh pengurus yayasan Harapan Cipta...

Syaidina Arif – Susah merawat daripada mendapatkan !

Syaidina Arif – Susah merawat daripada mendapatkan !

  destinasianews – “Alhamdulillah, saya dikelilingi oleh orang-orang yang positif. Ada juga yang negatif, tapi saya yakin bisa merubahnya. Asal...

Asprumnas Teken MoU Dengan Kopkar Jamar Bhakti VI Dalam Pembangunan dan Pengembangan Perumahan

Asprumnas Teken MoU Dengan Kopkar Jamar Bhakti VI Dalam Pembangunan dan Pengembangan Perumahan

destinasiaNews – Asosiasi Pengembang dan Pemasar Perumahan Nasional (Asprumnas) jalin kerjasama dengan Koperasi Karyawan Jasa Marga (Kopkar Jamar) Bhakti VI...

Indigo Suka Dengar "Takbir" di Jalan Lengkong

Indigo Suka Dengar "Takbir" di Jalan Lengkong

DestinasiaNews Peristiwa ini teringat seketika, saat ada bincangan dengan seorang “indigo” beberapa waktu lalu. Dia bilang, setiap melewati Jalan Lengkong suka...

Kurangi Sampah Visual

Kurangi Sampah Visual

DestinasiaNews - Perangkat Smartphone, (telepon selular/ponsel) di Indonesia sudah bukan lagi piranti yang mahal atau mewah, tapi sudah menjadi kebutuhan...

Pengunjung

06304042
Hari ini
Kemarin
1905
2842