Jetrada BPNB Jabar 2017, Mengenal Lampung dari Koleksi Museum (Bagian 3-habis)

Jetrada 2017 3 DSC 0706Destinasianews – Kajian tentang tradisi dan mengenal budaya masyarakat Lampung tak hanya berhenti di Lamban Dalom Rumah Adat Kebandaran Marga Balak Lampung Pesisir, Bandar Lampung. Siang hari, Jumat (5/5/2017), seluruh peserta Jejak Tradisi Daerah Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat (Jetrada BPNB Jabar) 2017 berkunjung ke Museum Negeri Provinsi Lampung “Ruwa Jurai”.

 

Para peserta dibagi dalam dua kelompok besar saat melakukan kajian di dalam museum yang terletak di Jalan HZA Pagar Alam 64 Bandar Lampung ini. Mengenal Lampung lewat koleksi museum dipandu langsung pemandu museum setempat. Ruwa Jurai sedikitnya memiliki 4.747 buah koleksi yang terbagi dalam koleksi geologika, biologika, etnografika, arkeologika, historika, numismatika, filologika, keramologika, seni rupa, dan teknologika.

 

Kelompok 1 berkesempatan lebih awal menjelajah ruang pamer di lantai 1 yang menyajikan dan mengenalkan sejarah alam dan lingkungan Lampung, kronologi sejarah kebudayaan Lampung, dan profil masyarakat Lampung. Sementara kelompok 2 mengawali penggalian data di lantai 2 yang menyajikan daur hidup masyarakat Lampung yang beradatkan Pepadun dan masyarakat Lampung yang beradatkan Saibatin dengan berbagai hasil budaya etnisnya.

 

Para peserta mendengar dan menyimak paparan pemandu perihal makna, simbol hingga hasil budaya yang telah menjadi koleksi museum. Pun mencatat data dan fakta penting yang tersaji di setiap benda koleksi. Sebut saja naskah kuno, senjata tradisional dan daur hidup masyarakat Lampung  hingga sejarah alamnya.

 

Qolbi Alfiansyah, peserta siswa SMAN 27 Kota Bandung mengaku cukup kagum dengan benda koleksi yang dipamerkan. Dia tak menyangka betapa kaya dan beranekaragamnya kebudayaan Lampung.

 

“Saya lihat banyak benda koleksi yang khas dan unik dari kebudayaan masyarakat Lampung. Benda budaya masyarakat adat Saibatin juga ternyata banyak, jadi dapat menambah data kajian kelompok kami untuk penulisan laporan,” katanya. Namun tak hanya Qolbi dan kelompoknya yang beroleh data lewat koleksi museum, tetapi juga peserta dan kelompok lain yang melakukan fokus telaah berbeda.

 

Jetrada 2017 3 DSC 0754Hal senada juga diungkapkan Bayu dari SMA Al Hadi Bandung. Menurut dia, berkunjung ke museum tersebut memberi pengetahuan yang luar biasa. Sebabnya, kata dia, belajar langsung sembari melihat objek budaya adalah pengalaman langka dalam suatu rangkaian kegiatan.

 

Lebih dari satu jam peserta melakukan kajian di dalam museum. Menjelang sore, mereka melanjutkan kegiatan kreativitas yakni mewarnai ragam hias bidang lukis berbahan kayu yang mencerminkan budaya masyarakat Lampung.

 

Rangkaian kegiatan hari kedua ditutup malam hari setelah masing-masing kelompok peserta siswa unjuk pentas kreativitas dan penulisan laporan kelompok. Seluruh agenda Jetrada BPNB Jabar 2017 berakhir Sabtu (6/5/2017) siang dengan agenda presentasi dan diskusi kelompok siswa. Kegiatan ditutup secara resmi oleh Kepala BPNB Jabar Jumhari SS. (IA/dtn)* 

Add a comment

Jetrada BPNB Jabar 2017, Menelaah Tradisi dan Ekspresi Budaya Masyarakat Lampung (Bagian 2)

Jetrada 2017 2 DSC 0529Destinasianews – Sejumlah perempuan muda tengah menari di depan Lamban Dalom Rumah Adat Kebandaran Marga Balak Lampung Pesisir, Bandar Lampung, Jumat (5/5/2017). Di pagi yang cerah itu mereka menampilkan Tari Siger Pengunten untuk menyambut rombongan Jejak Tradisi Daerah Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat (Jetrada BPNB Jabar) 2017 yang berkunjung ke Masyarakat Negeri Olok Gading, Kecamatan Teluk Betung Barat.

 

Apa yang dilakukan di sana? Ya, tentu saja hendak Mengenal Tradisi dan Ekspresi Budaya Masyarakat Lampung dari banyak aspek.

 

Mewakili tokoh atau sepuh adat, rombongan diterima secara adat oleh Saibatin Penyimbang Adat Negeri Olok Gading H Zainudin Hasan bergelar Karya Bangsa Ratu dan Johan Purpa Syahputa bergelar Pangeran Jaya Negara. Acara penyambutan dan ramah tamah digelar di Lamban Dalom. Tak lama memang acara itu berlangsung. Namun penyambutan dan penerimaan dari tuan rumah begitu hangat dan penuh kekeluargaan.

 

Selanjutnya, para peserta melakukan kajian atau meneliti sesuai dengan fokus telaah kelompok masing-masing. Peserta siswa nampak demikian antusias menggali informasi seperti melakukan wawancara dan tanya jawab. Dalam proses itu, masing-masing kelompok dipandu narasumber masyarakat adat setempat. Salah satunya Diandra Natakembahang—adoq batin budaya marga, yang memaparkan perihal arsitektur Lamban Dalom.

 

Menurut dia, rumah adat Lampung atau lamban secara umum berbentuk panggung dengan bagian ruangan tertentu yang punya sebutan dan fungsi masing-masing. Diandra memaparkan, tipikal rumah adat lampung pada dasarnya diklasifikasikan berdasarkan hierarki seseorang di dalam adat, yaitu kediaman dari kepala adat Saibatin dan Penyimbang atau kediaman warga dan masyarakat adat lainnya.

 

Lamban Dalom yang dikunjungi rombongan peserta adalah bangunan tradisional yang dibuat Ibrahim Gelar Pemuka ketika dia mendirikan Kampung Negeri. Bangunan terbuat dari kayu dengan siger besar di atasnya. Dalam proses penggalian data di lapangan, nampak peserta di setiap kelompok aktif dan antusias.

 

Seperti halnya Feriyanto, Siswa SMAN 1 Kasui, Lampung. Meski dia penduduk Lampung, tetapi berkunjung ke Lamban Dalom Rumah Adat Kebandaran Marga Balak Lampung Pesisir, Bandar Lampung, baru kali pertama saat Jetrada ini.

 

Jetrada 2017 2 DSC 0582Dia pun memberi kesan. “Dapat kesempatan ikut Jetrada tentu senang ya. Banyak hal yang kami tahu seperti sejarah rumah adat Lamban Dalom dan mengenal arstekturnya. Selain itu saya dapat bertemu banyak teman dari berbagai daerah,” kata Feriyanto, anggota kelompok 7 yang khusus mengkaji Sistem Teknologi Tradisional dengan fokus telaah pada arsitektur Lamban Dalom.

 

Selain kajian Sistem Teknologi Tradisional, ada pula kelompok yang mengkaji perihal Sistem Kemasyarakatan atau Organisasi Sosial dengan fokus telah sistem kepemimpinan, Religi dan Sistem Kepercayaan dengan fokus telaah upacara penobatan penyimbang adat, Kesenian dengan fokus telaah Tari Bedana, dan Sistem Pengetahuan dengan fokus telaah pengobatan tradisional.

 

Kemudian, ada juga kelompok yang meneliti Religi dan Sistem Kepercayaan dengan fokus telaah upacara kehamilan, kelahiran, khitan, perkawinan dan kematian. Kajian lainnya adalah kesenian dengan fokus telaah Tari Siger Penguten.

 

Kajian dan telaah budaya di Rumah Adat Kebandaran Marga Balak Lampung Pesisir berakhir hingga siang hari. Di akhir kegiatan sejumlah peserta bahkan berkesempatan turut menampilkan Tari Bedana—tarian adat Lampung yang menjadi fokus telaah salah satu kelompok peserta siswa. Kajian selanjutnya dilakukan di Museum Negeri Provinsi Lampung “Ruwa Jurai”. (IA/dtn)*

Add a comment

Jetrada BPNB Jabar 2017, Fokus Telaah Kegiatan di Negeri Olok Gading Bandar Lampung (Bagian 1)

Jetrada 2017 1 DSC 0660Destinasianews – BalaiPelestarian Nilai Budaya Jawa Barat (BPNB Jabar) kembali mengadakan kegiatan rutin Jejak Tradisi Daerah (Jetrada). Tahun ini kegiatan diadakan di Bandar Lampung, 4-6 Mei 2017 lalu dengan tema “Mengenal Tradisi dan Ekspresi Budaya Masyarakat Lampung.”Fokus telaah kegiatan digelar di Negeri Olok Gading.

 

Jetrada BPNB Jabar 2017 diikuti sebanyak 150 peserta dari kalangan generasi muda yakni siswa Sekolah Menengah Atas atau sederajat yang berada di wilayah kerja BPNB Jabar yaitu Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, dan Lampung. Mereka yang juga turut dalam kegiatan tersebut adalah guru pendamping, pembimbing, dinas terkait dan pers.

 

Dalam sambutannya, Kepala BPNB Jabar Jumhari SS mengatakan, Jetrada 2017 diadakan untuk memperkenalkan salah satu kekayaan budaya bangsa Indonesia kepada generasi muda khususnya siswa SMA dan sederajat. “Tahun ini yang diperkenalkan khususnya budaya masyarakat Lampung yang ada di Kota Bandar Lampung. Harapannya kegiatan Jetrada ini juga dapat menumbuhkan pemahaman generasi muda tentang keanekaragaman budaya bangsa Indonesia yang punya kekhasan dan keunikan tersendiri,” papar Jumhari, Kamis (4/5/2017).

 

Dia menambahkan, dari 11 BPNB yang ada di Indonesia (Aceh hingga Papua), BPNB Jabar menekankan pengkajian pada budaya akulturasi. Secara nasional, yakni Jetranas yang rencananya akan digelar Agustus mendatang di Pontianak, perwakilan atau peserta terbaik Jetrada BPNB Jabar 2017 akan turut diikutsertakan.

 

Lebih jauh Jumhari mengatakan, kegiatan Jetrada BPNB Jabar 2017 adalah sebuah proses kegiatan belajar terutama bagi siswa perihal tradisi dan budaya secara langsung di lapangan. Kajian dan pengenalan hal tersebut tak lagi hanya dilakukan di dalam kelas.   

 

Kegiatan hari pertama diisi dengan pemaparan tentang profil dan objek budaya Lampung yang disampaikan Hari Jayadiningrat dari Disdikbud Provinsi Lampung. Materi lainnya adalah penyuluhan narkoba yang disampaikan Kabid P2M BNN Provinsi Lampung Ahmad Alamsyah, serta profil BPNB Jabar yang dipaparkan langsung Kepala BPNB Jabar Jumhari SS.

 

Jetrada 2017 1 DSC 0653Pelaksanaan kegiatan pada hari kedua, ada dua objek yang dikunjungi yaitu Masyarakat Negeri Olok Gading dan Museum Negeri Provinsi Lampung. Di Negeri Olok Gading, peserta dibagi dalam tujuh kelompok untuk menggali materi yang akan diteliti didampingi pembimbing. Setiap kelompok meneliti satu dari tujuh tema kajian yang telah disiapkan.

 

Dalam Jetrada 2017 ini, imbuh Jumhari, salah satu hal yang ingin dicapai adalah peserta dapat  mengetahui dan memahami budaya masyarakat Lampung sebagai bagian dari masyarakat Indonesia yang majemuk.

 

Eka Mulyana, guru pembimbing dari MAN 1 Tasikmalaya menilai, kegiatan Jetrada memberi dampak positif yang luar biasa kepada peserta didik yang turut serta. “Para siswa begitu antusias mengikuti rangkaian agenda Jetrada. Apa yang mereka peroleh dari pembelajaran ini tentu saja pengetahuan baru yang tidak didapat di sekolah. Siswa langsung datang ke objek yang ditelaah, ini sangat bagus,” katanya. (IA/dtn)*

Add a comment

Lawatan Sejarah BPNB Jawa Barat Kehangatan di Tengah Sejuknya Perkebunan Teh Gunung Mas (Bagian 3-Habis)

DSC 0628

Destinasianews.com –Sejak Rabu (22/3/2017) malam, Kota Bogor diguyur hujan cukup lebat di saat para peserta Lawatan Sejarah BPNB Jawa Barat beristirahat melepas lelah di wisma PPPPTK Penjas dan BK Bogor Jawa Barat—tempat yang menjadi pusat kegiatan dalam ruangan selama acara berlangsung tiga hari. Pagi esoknya, perjalanan cukup melelahkan harus ditempuh, mengunjungi agro wisata Perkebunan Teh Gunung Mas di seputaran Puncak.

 

Hujan bahkan belum reda hingga pagi. Rintik air masih turun dari langit yang kelabu. Menjelang tengah hari rombongan peserta lawatan tiba di wilayah perkebunan yang didirikan pada masa Hindia Belanda tersebut. Disambut teh hangat, kehangatan suasana lawatan kian tercipta dan semangat tetap terjaga. Lawatan ke Perkebunan Gunung Mas ini merupakan agenda terakhir dan penutupan kegiatan dilangsungkan di sana.

 

Tentu saja, materi lawatan berkaitan dengan cerita, kisah dan sejarah yang melekat dengan perusahaan dan komoditas utama yang dihasilkan yaitu teh. Menurut paparan pihak Perkebunan Gunung Mas, perkebunan ini adalah hasil penggabungan dua perkebunan yaitu “Goenoeng Mas Prancoise Nederlandise de Culture etde Comerse” yang didirikan pada 1910 oleh sebuah Maskapai Perancis dan “NV Cultur My Tjikopo Zuid” yang didirikan pada 1912 oleh perusahaan asal Jerman. Sejak 14 Maret 1996, setelah beberapa kali berganti nama dan digabung, kedua perusahaan tersebut kini menjadi PT Perkebunan Nusantara VIII.

 

Kuliah singkat di aula Perkebunan Gunung Mas benar-benar terasa hangat. Terlebih udara kawasan perkebunan yang asri dan sejuk. Bukan hanya berasal dari sajian Teh Gunung Mas, tetapi juga materi yang disampaikan menarik untuk disimak sekaligus didiskusikan.

 

Dalam kuliah tersebut, dipaparkan hal ikhwal mengenai kiprah Perkebunan Teh Gunung Mas dari zaman Hindia Belanda hingga saat ini. Mulai dari area lahan perkebunan yang semakin berkurang, proses produksi atau pengolahan yang mencakup pemetikan, pelayuan, penggilingan, pengeringan, dan sortasi, kemudian pengemasan, penggunaan atau penerapan teknologi hingga pemasaran ke luar negeri.

 

Menyusuri Perkebunan

DSC 0606

Melengkapi  paparan di aula, seluruh peserta berkesempatan melakukan trekking sederhana atau menyusuri sebagian areal perkebunan. Meski sesekali turun rintik dari langit, tak menyurutkan semangat mereka berjalan kaki beriringan di jalan setapak di antara petak-petak kebun sembari menyerap ilmu dan pengetahuan. Terbagi dalam dua kelompok besar, perjalanan naik turun perkebunan didampingi pemandu sekaligus petugas Perkebunan Teh Gunung Mas.

 

Sekira 4 kilometer perjalanan ditempuh. Cukup melelahkan, memang. Akan tetapi, wawasan dan pengetahuan soal teh serta bagaimana proses pemetikan daun teh langsung di perkebunan adalah pengalaman yang jarang sekali didapat.

 

Para pemandu memaparkan sekaligus menunjukkan daun teh yang harus dipetik, yaitu daun muda atau pucuknya untuk menghasilkan teh yang baik. Dari hasil pengolahan, maka akan dihasilkan beragam teh yang sudah lazim dijumpai di pasaran. Sebut saja teh hitam atau merah, teh hijau, teh oolong dan teh putih.

 

Menjelang sore, menyusuri perkebunan berakhir sudah. Saatnya bagi seluruh peserta untuk membuat laporan kegiatan dan dipresentasikan secara kelompok untuk kemudian didiskusikan dan mengambil simpulan.

 

Sebelum acara ditutup secara resmi oleh Kepala BPNB Jawa Barat Jumhari SS, salah seorang guru dari Kota Sukabumi, Dudung menyampaikan, kegiatan edukatif Lawatan Sejarah BPNB Jabar tersebut memberi segudang manfaat terutama bagi para siswa dan guru sejarah yang ikut serta.

 

“Wawasan sejarah yang kami dapatkan selama kegiatan berlangsung di lapangan sungguh banyak. Harapannya, lawatan sejarah mendatang ada inovasi lagi dan di luar itu mudah-mudahan ada kegiatan terkait kesejarahan yang diselenggarakan BPNB Jabar seperti olimpiade sejarah dan sebagainya,” kata Dudung, disambut tepuk tangan meriah seluruh peserta. (IA/DTN)*

Add a comment

Lawatan Sejarah BPNB Jawa Barat Menengok Kemasyhuran Mantan Presiden RI dan Patriotisme Tentara PETA (Bagian 2)

DSC 0402

Destinasianews.com – Enam patung presiden Republik Indonesia yang telah menyelesaikan masa baktinya menyambut para peserta Lawatan Sejarah Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Jawa Barat, Rabu (22/3/2017) pagi. Di hari kedua agenda lawatan, kunjungan diawali ke Museum Kepresidenan Republik Indonesia Balai Kirti. Museum yang diresmikan pada 18 Oktober 2014 ini berada di Kompleks Istana Kepresidenan Bogor, Jalan Ir H Juanda Nomor 1, Kota Bogor.

 

Sebagaimana namanya, Balai Kirti yang berasal dari bahasa Sanskerta mengandung makna “ruang menyimpan kemasyhuran”. Dalam bahasa Inggris selaras dengan kata “hall of fame”. Tentu saja, pendirian museum ini punya tujuan menjadi rujukan sejarah mengenai kisah kemasyhuran para pemimpin bangsa Indonesia. Pun sebagai inspirasi bagi generasi sekarang dan mendatang dalam membangun bangsa.

 

Balai Kirti yang dibangun di atas lahan sekira 3.212 meter persegi dengan luas bangunan sekitar 5.865 meter persegi ini menyajikan karya dan prestasi enam presiden Republik Indonesia—Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurahman Wahid, Megawati dan Susilo Bambang Yudhoyono.

 

Meski ada tiga lantai museum yang dapat dikunjungi, para peserta Lawatan Sejarah BPNB hanya melakukan lawatan wajib ke Galeri Kebangsaan dan Galeri Kepresidenan yang terletak di lantai 1 dan 2. Selain ke enam patung tadi, di Galeri Kebangsaan para peserta beroleh wawasan kesejarahan lainnya yang disampaikan langsung pemandu museum. Ada sejarah patung Garuda Pancasila, teks Proklamasi, teks Pancasila, Pembukaan UUD 1945, teks Indonesia Raya hingga Sumpah Pemuda.

 

 

Mereka begitu antusias menyimak paparan yang disampaikan secara lugas dan mudah dipahami. Sesekali, sang pemandu berinteraksi dengan mengajak berpikir para peserta tentang wawasan kebangsaan. Seperti siapa saja perumus teks Pancasila hingga makna simbolis yang terdapat dalam lambang negara Burung Garuda.

 

Beranjak ke lantai 2 yang diberi nama Galeri Kepresidenan, para siswa penyuka sejarah ini pun dibuat kagum. Mereka dapat secara langsung melihat berbagai koleksi dan informasi penting para pemimpin bangsa. Sebut saja antara lain foto-foto, buku karya presiden, pakaian, penghargaan hingga quote masyhur dari keenam presiden. Namun, berada di ruangan eksklusif ini siapa pun tidak diperkenankan memotret atau mendokumentasikan koleksi pameran.

 

Kebanyakan para peserta siswa yang rata-rata berusia 16-17 tahun memang lahir, tumbuh dan berkembang pada masa kepemimpinan Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono, dan tentu saja Presiden RI saat ini Joko Widodo. Kendati begitu, mereka demikian kagum mengapresiasi prestasi kemasyhuran keenam presiden yang masing-masing ditata di ruangan berbeda dengan tata pamer yang apik. Dokumentasi foto Presiden Soekarno memang agak berbeda dengan kebanyakan foto presiden lainnya lantaran tercetak dengan warna hitam-putih.

 

Sejarah adalah cerminan hari ini dan masa mendatang. “Saya dan kami para pelajar, sebagai pemuda generasi penerus wajib mengetahui dan memahami sejarah bangsa ini. Kalau bukan oleh kita yang menghargai jasa para pemimpin bangsa, siapa lagi?” kata Ridwan, peserta pelajar dari SMAN 1 Kabupaten Purwakarta, menggebu.

 

Masih memegang buku catatan dan alat tulis, imbuh dia, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Toh, dulu para pemuda pun turut andil mengupayakan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang merdeka.

 

Di sinilah Perwira PETA Digembleng

DSC 0467Menjelang siang, langit Kota Bogor sempat mendung bahkan turun hujan ringan. Rintik mengiringi peserta lawatan sejarah saat hendak menuju Monumen dan Museum Pembela Tanah Air (PETA). Di bilangan Jalan Jenderal Sudirman, di gedung bekas markas Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL), tersaji banyak informasi sejarah cikal bakal lahirnya Tentara Nasional Indonesia.

 

Peserta dibagi dalam dua kelompok besar dengan bimbingan seorang pemandu saat menjelajah ruang museum. “Berada di Museum PETA, hati dan pikiran kita seakan terbawa mengenang jasa perjuangan masa silam para pejuang patriot tanah air.Mereka berani mempertaruhkan jiwa dan raganya untuk cita-cita kemerdekaan Indonesia,” kata Ridwan yang baru pertama kali ikut lawatan sejarah seperti ini. Selama ini, lanjut dia, sejarah tentang tentara PETA hanya dipelajari dalam buku teks, tetapi dalam kunjungan ini bisa melihat secara langsung apa saja yang digunakan para perwira dan kisahnya.

 

 

Pada masa pendudukan Jepang sekira tahun 1943, gedung bekas markas KNIL itu digunakan sebagai pusat pelatihan pasukan yang dikenal sebagai Pembela Tanah Air. Saat itu tentara pribumi yang dilatih masih di bawah pengawasan Dai Nippon. Namun, alih-alih dibentuk untuk membantu Jepang melawan sekutu, PETA kemudian berubah menjadi pasukan yang disiapkan untuk menggapai Indonesia merdeka.

 

Di museum  yang diresmikan 18 Desember 1995 tersebut seluruh peserta diajak melihat berbagai koleksi bersejarah. Ada koleksi berupa patung, pakaian, perlengkapan perang, meriam, replika tandu Panglima Besar Jenderal Soedirman, senapan dan berbagai senjata lainnya. Sebagian peristiwa sejarah diceritakan dalam bentuk diorama, relif hingga monumen.

 

 

Di muka museum, berdiri patung Panglima Besar Jenderal Soedirman dan Panglima TKR Shodancho Supriyadi dengan gestur yang heroik. Tangan kanan mengepal ke atas, sementara tangan kiri menggenggam sebilah samurai. Supriyadi berperan memimpin pemberontakan tentara PETA terhadap pendudukan Jepang di Blitar pada Februari 1945.

 

Pembentukan Karakter

Ini bukan sekadar lawatan sejarah. Ada makna yang terkandung, salah satunya pembentukan karakter bangsa. Direktur Sejarah Ditjenbud Kemdikbud Triana Wulandari memaparkan dalam sebuah pertemuan dengan seluruh peserta, Rabu (22/3/2017) malam. “Dalam makna sejarah ada peristiwa panjang yang mengandung nilai-nilai keteladanan, karakter, jatidiri yang bisa diambil pelajaran untuk kehidupan, pembentukan karakter hingga fungsi kognitif,” paparnya.

 

Menurut dia, sejarah memiliki peran yang kuat dalam membentuk karakter. Pun sejarah memberi inspirasi, spirit dan motivasi terutama untuk generasi muda. (IA/DTN)*

Add a comment


emgz2

Artikel lain...

50 Pasang Penyanyi Jalanan Nikah Masal di KODIKLAT TNI AD

50 Pasang Penyanyi Jalanan Nikah Masal di KODIKLAT TNI AD

destinasiaNews, Acara pernikahan  masal sebanyak 50 pasangan pengantin yang tergabung dalam Kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ) Kota Bandung melakukan akad nikah...

M Ridwan & H Muhammad Harris,Pastikan Maju di Jalur Independen ke Pilbup Bogor 2018

M Ridwan & H Muhammad Harris,Pastikan Maju di Jalur Independen ke Pilbup Bogor 2018

  destinasiaNews - Tokoh Pemuda Bogor, M Ridwan kala diajukan pertanyaan mendasar -Sudah mantapkah Anda maju melalui jalur independen di...

Eka Santosa, Politisi Senior - Malu Kalau Pengurus Partai “Oon”

Eka Santosa, Politisi Senior - Malu Kalau Pengurus Partai “Oon”

    destinasiaNews- Senior Eka Santosa yang sejak Juni 2017 didaulat sebagai Ketua DPW Partai Berkarya Jabar, saat Halal Bil Halal &...

Di Menit Terakhir Yossy Irianto Coba Kesempatan Perahu Demokrat Untuk Maju Pilwalkot Bandung

Di Menit Terakhir Yossy Irianto Coba Kesempatan Perahu Demokrat Untuk Maju Pilwalkot Bandung

Destinasianews – Yossy Irianto Sekretaris Daerah Pemerintah Kota Bandung datang di menit terakhir untuk menyerahkan berkas pendaftaran penjaringan bakal calon...

Ruli Hidayat Daftar Jadi Walikota Bandung

Ruli Hidayat Daftar Jadi Walikota Bandung

Destinasianews.com – Ruli Hidayat, Cicit dari pahlawan nasional, H.O.S Tjokroaminoto resmi mengembalikan berkas persyaratan sebagai kandidat bakal calon Walikota Bandung...

Pengunjung

01520089
Hari ini
Kemarin
914
1626