BPNB Jabar Gelar Jejak Tradisi Daerah Ciamis

jetrada 2018 1Destinasianews – Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Jawa Barat menggelar kegiatan “Jejak Tradisi Daerah 2018” ke wilayah Kabupaten Ciamis. Kegiatan berlangsung selama tiga hari dari tanggal 26 – 28 April 2018.

 

Jetrada 2018 tersebut diikuti sebanyak 150 peserta yang terdiri dari siswa tingkat SMA/SMK-sederajat dan para guru pembimbing. Mereka mewakili sekolah-sekolah yang berada di empat wilayah kerja BPNB Jabar, meliputi Jawa Barat, Jakarta, Banten, dan Lampung.

 

jetrada 2018 2Rombongan pun dilepas secara resmi Kepala BPNB Jabar, Jumhari di Kantor BPNB Jabar, Jalan Cinambo No. 136, Ujungberung, Bandung. Setelah melepas rombongan, Jumhari tak ikut serta dalam perjalanan Jetrada kali ini karena harus menghadiri lokakarya di Kota Bandung.

 

Dalam sambutannya, Jumhari hanya berpesan dan berharap kepada para peserta Jetrada untuk mengikuti semua kegiatan secara tertib. “Saya juga berharap agar kegiatan berjalan dengan lancar tanpa ada halangan dan semua peserta berada dalam keadaan yang sehat semua sampai kegiatan beres,” ujarnya.

 

Sementara itu, Ketua Panitia Jetrada Ciamis, Irvan Setiawan menyebutkan, kegiatan kali ini akan berkunjung ke empat lokasi, yakni daerah Sukamantri yang memiliki tradisi seni Bebegig dan kesenian Gembyung, Kampung Angklung, Situs Karang Kamulyan dan sentra kuliner khas Galendo.

 

“Dari tiga objek budaya tersebut, kami utamakan seni tradisi Bebegig untuk diperkenalkan kepada para siswa karena seni ini sekarang sedang didaftarkan sebagai warisan budaya tak benda Nasional yang dimiliki Ciamis dan Jawa Barat,” terang Irvan di sela-sela keberangkatan rombongan.

 

jetrada 2018 3

Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih tiga jam, peserta pun tiba di Kantor Kecamatan Sukamantri. Di sana mereka disambut dan diarak Bebegig serta alunan kesenian Gembyung menuju ke balai desa. Dari situ peserta dibagi menjadi beberapa kelompok untuk melakukan observasi dan penelitian seni Bebegig dan Gembyung dari mulai sejarah, pembuatan, dan penampilan kesenian tersebut.

 

Malam harinya, bertempat di Hotel Tiara, Ciamis, peserta mengikuti seminar panel mengenai pengenalan BPNB Jabar, potensi daerah dan budaya Ciamis. Dengan pemateri diantaranya Agus Setiabudi S.Ip Kasubag TU BPNB Jawa Barat, Kabid Kebudayaan Disbudpora Kab. Ciamis, Dede Hermawan, serta Miming Mujamil selaku Kasi kebudayaan Disbudpora Kab Ciamis.

 

Selanjutnya pada hari kedua diisi dengan kegiatan mengunjungi sentra kuliner khas Ciamis yaitu Galendo di Jl. Kapten Harsono Sudiro No. 60, Dusun Cilame, Desa Cigembor, Kab. Ciamis. Para peserta diajak melihat secara langsung pembuatan galendo yang berbahan dasar kelapa tersebut.

 

jetrada 2018 4Kemudian perjalanan dilanjutkan ke Kampung Angklung di Desa Panyingkiran, Kab. Ciamis. Di sana peserta belajar membuat dan memainkan angklung. Setelah kembali ke hotel, peserta pun menyiapkan aksi pentas seni berkelompok pada malam harinya.

 

Di hari terakhir, rombongan berkunjung ke Situs Budaya Karang Kamulyan (Ciung Wanara). Di lokasi seluas 25 Ha tersebut, peserta berkelilingi untuk mengenal dan observasi langsung situs-situs peninggalan budaya dari Kerajaan Galuh pada zaman Ciung Wanara. Di sana terdapat sembilan situs, diantaranya Pangcalikan, Tempat Sabung Ayam, Sanghyang Bedil, Cikahuripan, Lambang Peribadatan, Panyandaan, Pamangkonan, Makam Adipati Panaekan, dan Patimuan.*** (IWN)

Add a comment

Masyarakat Dorong Pemerintah Agar KH Ahmad Sanusi Segera dianugerahi Sebagai Pahlawan Nasional

IMG 20180407 WA0028
destinasiaNews - Seribuan massa berkumpul di Lapangan Merdeka Sukabumi pada Sabtu Pagi, 7 April 2018 . Massa yang datang dari berbagai elemen masyarakat ini membubuhkan tandatangan pada kain berukuran 15 meter sebagai bentuk dorongan pada pemerintah agar KH Ahmad Sanusi segera dianugerahi sebagai pahlawan nasional. 
 
Tidak hanya masyarakat, sejumlah tokoh kota Sukabumi, unsur petinggi kepolisian, unsur pemerintah dan ulama juga nampak hadir digelaran yang didahului dengan pertunjukkan pencak silat dari perguruan silat pesantren Al Fath Sukabumi. Aksi ini juga . Nampak juga perwakilan dari Yayasan Wiranatakusumah, Moely Wiranatakusumah dilokasi aksi ini. 
 
"Kami datang kesini untuk memberikan dukungan tertulis agar KH Ahmad Sanusi ini segera dianugerahi gelar kepahlawanan nasional. Kemerdekaan bangsa ini juga tidak terlepas dari perjuangan para ulama seperti beliau, "kata Moely.
 
Sementara itu, K.H Fajar Laksana, inisiator aksi ini menyebut, masyarakat dan ulama Sukabumi telah melalui proses panjang untuk memperjuangkan ulama besar K.H Ahmad Sanusi sebagai pahlawan nasional.
 
"Ini bukan secara tiba - tiba. Kami masyarakat dan ulama Sukabumi telah melalui proses yang sangat panjang. Sudah waktunya lah K.H Ahmad Sanusi dianugerahi gelar kepahlawanan nasional. Semua kajian dari sejarawan juga sudah membuktikan bahwa K.H Ahmad Sanusi tidak sedikit melakukan sumbangsih pada bangsa ini, " kata Fajar.
 
Ahmad Sanusi atau dikenal dengan sebutan Kiai Haji Ahmad Sanusi atau Ajengan Genteng (lahir 18 September 1889 di Desa Cantayan, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi – meninggal tahun 1950 di Sukabumi pada umur 61 tahun) adalah tokoh Sarekat Islam dan pendiri Al-Ittahadul Islamiyah (AII), sebuah organisasi di bidang pendidikan dan ekonomi.  Pada awal Pemerintahan Jepang, AII dibubarkan dan secara diam-diam ia mendirikan Persatuan Umat Islam Indonesia (PUII).  Ia juga pendiri Pondok Pesantren Syamsul Ulum, Sukabumi. Selain itu, Kiai Sanusi juga pernah menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada tahun 1945.
 
Kiai Sanusi adalah putera dari Ajengan Haji Abdurrahim bin Yasin, pengasuh Pesantren Cantayan di Sukabumi. Sebagai putera seorang ajengan (kiai), ia telah belajar ilmu-ilmu keislaman sejak ia masih kanak-kanak, selain ia juga banyak belajar dari para Santri Senior|senior di pesantren ayahnya.
 
Menginjak usia dewasa, Kiai Sanusi mulai mengaji di beberapa pesantren di Jawa Barat. Pada usia 20 tahun, ia menikah dengan Siti Juwariyah binti Haji Afandi yang berasal dari Kebon Pedes, Baros, Sukabumi. Setelah menikah, ia dikirim ayahnya ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji sekaligus memperdalam ilmu-ilmu keislaman. Ia belajar di Mekah selama tujuh tahun. Disana Kiai Sanusi mendapat gelar imam besar Masjidil Haram. ia berguru kepada ulama-ulama terkenal, khususnya dari kalangan al-Jawi (Melayu).
 
Pada tahun 1915, sepulang belajar dari Mekah, Kiai Sanusi kembali ke Indonesia untuk membantu ayahnya mengajar di Pesantren Cantayan. Setelah tiga tahun membantu ayahnya, ia mulai merintis pembangunan pondok pesantrennya sendiri yang terletak di Kampung Genteng, sebelah utara desa Cantayan, sehingga ia kemudian dikenal dengan sebutan Ajengan Genteng. Pesantrennya tersebut ia beri nama Pondok Pesantren Syamsul Ulum.
 
Ketika belajar di Mekah, Kiai Sanusi telah mengenal ide-ide pembaharuan dari Syeikh Muhammad ‘Abduh, Syeikh Muhammad Rasyid Ridla, dan Jamaluddin al-Afghani, melalui buku-buku dan majalah aliran pembaharuan di Mesir, sehingga pengaruh tersebut menjadikannya ulama pembaharu ketika pulang ke Indonesia. Namun demikian, ia tetap tidak meninggalkan mahzabnya, ia tetap mengikuti mazhab Syafi’i sebagaimana yang dilakukan kedua gurunya, Syeikh Ahmad Khatib dan Syeikh Mukhtar at-Tarid. Bahkan dalam bidang ilmu fikih yang juga merupakan keahliannya, Kiai Sanusi terkenal sangat kritis terhadap dalam menentukan hukum Islam.
 
Dalam bidang ilmu al-Qur’an, Kiai Sanusi berpendapat bahwa terdapat empat kategori hukum dalam al-Qur’an, yaitu Berkaitan dengan keimanan dan kebebasan beragama dalam memilih dan menjalankan ketentuan-ketentuan agama, Berkaitan dengan rumah tangga dan pergaulannya seperti pernikahan dan perceraian, keturunan dan kewarisan, Berkaitan dengan prinsip kerjasama antarsesama umat manusia seperti jual-beli, sewa-menyewa, gadai dan lain-lain dan berkaitan dengan pemeliharaan kehidupan, yaitu berupa peraturan pidana dan perdata untuk menghukum di antara sesama manusia yang melakukan kesalahan.
 
Kanzur ar-Rahmah wa Luth fi Tafsir Surah al-Kahfi, Tajrij Qulub al-Mu’minin fi Tafsir Surah Yasin, Kasyf as-Sa’adah fi Tafsir Surah Waqi’ah, Hidayah Qulub as Shibyan fi Fadlail Surah Tabarak al-Mulk min al-Qur’an, Kasyf adz-Dzunnun fi Tafsir Layamassuhu ilaa al-Muthahharun adalah sejumlah karya Kyai ini dibidang tafsir. Dalam Bidang ilmu fikih, K.H Ahmad Sanusi juga dengan karyanya Tahdzir al-‘Awam fi Mufiariyat Cahaya Islam, Al-Mufhamat fi Daf’I al-Khayalat, At-Tanbih al-Mahir fi al-Mukhalith dan masih banyak lagi. Sedang dibidang tasawuf Kyai sohor ini juga dikenal dengan karyanya Mathla’ul al-Anwar fi Fadhilah al-Istighfar, Al-Tamsyiyah al-Islam fi Manaqib al-Aimmah, Fakh al-Albab fi Manaqib Quthub al-Aqthabdan. Tidak hanya tafsir, tasawuf dan fiqih, karya KH Ahmad Sanusi juga dikenal dengan bidang kalam Miftah al-Jannah fi Bayan ahl as-Sunnah wa al-Jama’ah, Tauhid al-Muslimin wa ‘Aqaid al-Mu’minin, Alu’lu an-Nadhid dan sederet karya kalam lain.[S/rls]
Add a comment

LASEDA 2018 BPNB JABAR: “Mari Mengenal Sejarah!”

Lasedaa 2018 Destinasianews – Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Jawa Barat kembali menggelar kegiatan tahunan “Lawatan Sejarah Daerah” (Laseda). Tahun ini dilaksanakan di Provinsi Banten pada tanggal 27-29 Maret 2018 dengan jumlah peserta sebanyak 150 orang yang terdiri dari siswa tingkat SMA/sederajat dan para guru pembimbing.

Peserta merupakan para perwakilan sekolah yang berada di empat wilayah kerja BPNB Jabar, meliputi Jawa Barat, Jakarta, Banten, dan Lampung. Selama tiga hari, para peserta diajak observasi langsung ke situs sejarah Kasultanan Banten Lama, antara lain Tasikardi, Benteng Speelwijk, Vihara Avalokitesvara, Keraton Kaibon, Keraton Surosowan, Masjid Agung Banten Lama, dan Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama.

Laseda 2018 2Menurut Kepala BPNB Jabar, Jumhari, kegiatan ini bertujuan untuk mengajak para siswa mengenal informasi sejarah dengan berkunjung langsung ke lapangan sehingga dapat menumbuhkan minat siswa agar lebih mau mempelajari dan mencintai sejarah di Indonesia.

“Penguatan karakter siswa dalam mengenal sejarah bukan hanya didapat secara indoor saja, tapi perlu juga diperoleh dari kegiatan melihat langsung situs-situs sejarah,” tambah Jumhari dalam sambutan pelepasan peserta di Kantor BPNB Jabar, Jalan Cinambo No.136, Bandung, Jawa Barat, Selasa, (27/03/2018).

Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 5 jam dari Kota Bandung, peserta langsung berkunjung ke objek Tasikardi, Benteng Speelwijk dan Vihara Avalokitesvara. Malam harinya, digelar pembukaan secara resmi yang dipimpin langsung Direktur Sejarah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Triana Wulandari, bertempat di Hotel Flamengo, Serang, Banten.

Laseda 2018 4

Dalam sambutannya, Triana menyebutkan, “Melalui kegiatan ini, kami dari Direktorat Sejarah ingin mengajak para siswa sebagai generasi muda agar lebih melek sejarah. Dari kegiatan daerah ini nanti akan dipilih peserta terbaik dari yang baik mewakili BPNB masing-masing untuk mengikuti Lawatan Sejarah Nasional yang akan digelar di Aceh, April mendatang”.

“Tak hanya kegiatan Lawatan Sejarah saja, nanti ke depannya kementerian pun akan menggelar olimpiade sejarah untuk para siswa tingkat SMA/ sederajat. Kemudian kami juga menyediakan bantuan untuk para guru yang akan melakukan penelitian situs-stus sejarah, terutama sejarah lokal daerahnya,” tambah Triana.

Hari kedua, kegiatan diisi kunjungan lanjutan ke kompleks Kasultanan Banten Lama, yaitu situs peninggalan Keraton Kaibon, Keraton Surosowan, Masjid Agung Banten Lama, dan Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama. Kemudian digelar sesi diskusi dan pentas aksi seni dari para peserta pada malam harinya di aula Hotel Flamengo, Serang, Banten.

Di hari terakhir, Laseda 2018 ditutup dengan kegiatan mengenal dan belajar membatik di Griya Batik Banten pimpinan Uke Kurniawan di Cipocok Jaya, Kota Serang, Banten.

Laseda 2018 5

Dari seluruh rangkaian kegiatan, terlihat para peserta sangat antusias dalam mengikuti semua sesi bahkan mereka sampai ketagihan mengikuti kegiatan Laseda kembali. Seperti yang diungkapkan Akbar, siswa SMAN 20 Bandung, “Saya senang mengikuti kegiatan ini, mudah-mudahan terpilih untuk kegiatan Lawatan Sejarah Nasional di Aceh nanti”.

Acara selama tiga hari tersebut pun berlangsung sukses dan panitia berharap kegiatan ini dapat menambah wawasan kesadaran sejarah serta meningkatkan kecintaan terhadap bangsa dan negara.*** (Teks&Foto: Iwan)

Add a comment

Mahluk Gaib di Sastra Sunda alaMr.Guan Coffee and Books – Jurig Zaman Now, Nasibnya?

 IMG 20171125 230727
destinasiaNews-  Ihwal keberadaan kepercayaan orang Sunda akan mahluk gaib alias siluman, tak bisa dibantah dengan mudah. Ambil contoh, hikayat Sangkuriang yang ngotot ingin menikahi ibunya sendiri, Dayang Sumbi. Memenuhi permohonan Dayang Sumbi, Sangkuriang membendung sungai Citarum, lalu membuat perahu dan melayarinya. Hebatnya, Sangkuriang dipercaya upayanya ini, dibantu pasukan siluman taklukannya.    
 IMG 20171125 231448
Sejumput paparan di atas, di antaranya dikemukakan sastrawan Sunda Atep Kurnia pada Sabtu, 25 November 2017 di Mr. Guan Coffee and Books di Jl. Tampomas No. 22, Gatot Subroto, Bandung. Kenapa membahas siluman orang Sunda di sebuah café ? Bukankah, kini zaman now, sudah serba digital, apakah para siluman masih ada? Bukankah, paling juga hanya ada sisanya dalam game?
 
“Tujuannya, semata demi menaikkan lagi pamor siluman Sunda dalam konteks sastra sebagai kekayaan bangsa. Kami fasilitasi, para sastrawan Sunda membincangkannya. Syukur-syukur, bisa menumbuhkan ekonomi kreatif, dalam konteks kekinian,” paparRocky Martakusumah manager Mr.Guan Coffee and Books, yang juga cucu dari sastrawan Ki Umbara (1914 – 2004) yang banyak menulis tentang cerpen siluman yang eksis di tatar Sunda.
 IMG 20171125 230926
Hadir dalam gempungan sastra Sunda selain Atep Kurnia, juga satrawan Sunda jaman kiwari H. Usep Romli H.M, budayawan Aat Suratin, juga nara sumber Iyan, salah satu putra dari Ki Umbara. “Gempungan ini sangat bermakna, kehadiran siluman dalam satra Sunda betapa kita memiliki kekayaan intelektual. Sayang, kini tergerus dengan munculnya zaman now. Namun, ini pun tantangan bagi generasi muda untuk berkreativitas.”
 
Muncul dalam wacana satra Sunda di Mr Guan Coffee Books dibahas aneka siluman dari jaman ke kejaman mulai dari Haji Hasan Mustapa (1895 – 1916), Moh. Ambri (1892 – 1936), Ki Umbara (1914 – 2005), hingga roman pop Sunda era 1960 dan 1970-an. “Ini tugas generasi muda untuk meneruskan proses kreatif demi penguatan jati diri kita, Nasibnya pada jaman now, saya yakin beprospek, asal digarap dengan baik,” kata Aat Suratin yang tampak serius nimbrung membicarakan aneka siluman Sunda.
 
Alhasil,persoalan aneka siluman di kalangan waga Sunda yang dibahas secara satrawi kali ini, memunculkan gairah dari kawula muda yang hadir dalam gempungan ini. “Kami tergerak untuk membuat karya siluman Sunda dalam bentuk digital di jaman ini. Maksudnya, ternyata sarat dengan kearifan lokal juga, seperti pamali yang dulu ada di antara kita. Pamali, jaman now ya harus kita cari.Maksudnya, biar kita hidup lebih maslahat” tutp Ferdi (23) mahasiswa salah satu PTN di Bandung. (HS)    
Add a comment

Jetrada BPNB Jabar 2017, Mengenal Lampung dari Koleksi Museum (Bagian 3-habis)

Jetrada 2017 3 DSC 0706Destinasianews – Kajian tentang tradisi dan mengenal budaya masyarakat Lampung tak hanya berhenti di Lamban Dalom Rumah Adat Kebandaran Marga Balak Lampung Pesisir, Bandar Lampung. Siang hari, Jumat (5/5/2017), seluruh peserta Jejak Tradisi Daerah Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat (Jetrada BPNB Jabar) 2017 berkunjung ke Museum Negeri Provinsi Lampung “Ruwa Jurai”.

 

Para peserta dibagi dalam dua kelompok besar saat melakukan kajian di dalam museum yang terletak di Jalan HZA Pagar Alam 64 Bandar Lampung ini. Mengenal Lampung lewat koleksi museum dipandu langsung pemandu museum setempat. Ruwa Jurai sedikitnya memiliki 4.747 buah koleksi yang terbagi dalam koleksi geologika, biologika, etnografika, arkeologika, historika, numismatika, filologika, keramologika, seni rupa, dan teknologika.

 

Kelompok 1 berkesempatan lebih awal menjelajah ruang pamer di lantai 1 yang menyajikan dan mengenalkan sejarah alam dan lingkungan Lampung, kronologi sejarah kebudayaan Lampung, dan profil masyarakat Lampung. Sementara kelompok 2 mengawali penggalian data di lantai 2 yang menyajikan daur hidup masyarakat Lampung yang beradatkan Pepadun dan masyarakat Lampung yang beradatkan Saibatin dengan berbagai hasil budaya etnisnya.

 

Para peserta mendengar dan menyimak paparan pemandu perihal makna, simbol hingga hasil budaya yang telah menjadi koleksi museum. Pun mencatat data dan fakta penting yang tersaji di setiap benda koleksi. Sebut saja naskah kuno, senjata tradisional dan daur hidup masyarakat Lampung  hingga sejarah alamnya.

 

Qolbi Alfiansyah, peserta siswa SMAN 27 Kota Bandung mengaku cukup kagum dengan benda koleksi yang dipamerkan. Dia tak menyangka betapa kaya dan beranekaragamnya kebudayaan Lampung.

 

“Saya lihat banyak benda koleksi yang khas dan unik dari kebudayaan masyarakat Lampung. Benda budaya masyarakat adat Saibatin juga ternyata banyak, jadi dapat menambah data kajian kelompok kami untuk penulisan laporan,” katanya. Namun tak hanya Qolbi dan kelompoknya yang beroleh data lewat koleksi museum, tetapi juga peserta dan kelompok lain yang melakukan fokus telaah berbeda.

 

Jetrada 2017 3 DSC 0754Hal senada juga diungkapkan Bayu dari SMA Al Hadi Bandung. Menurut dia, berkunjung ke museum tersebut memberi pengetahuan yang luar biasa. Sebabnya, kata dia, belajar langsung sembari melihat objek budaya adalah pengalaman langka dalam suatu rangkaian kegiatan.

 

Lebih dari satu jam peserta melakukan kajian di dalam museum. Menjelang sore, mereka melanjutkan kegiatan kreativitas yakni mewarnai ragam hias bidang lukis berbahan kayu yang mencerminkan budaya masyarakat Lampung.

 

Rangkaian kegiatan hari kedua ditutup malam hari setelah masing-masing kelompok peserta siswa unjuk pentas kreativitas dan penulisan laporan kelompok. Seluruh agenda Jetrada BPNB Jabar 2017 berakhir Sabtu (6/5/2017) siang dengan agenda presentasi dan diskusi kelompok siswa. Kegiatan ditutup secara resmi oleh Kepala BPNB Jabar Jumhari SS. (IA/dtn)* 

Add a comment


emgz2

Artikel lain...

Masyarakat Akuakultur Indonesia Helat International Confrence Aquaculture Indonesia 2018 di Yogyakarta

Masyarakat Akuakultur Indonesia Helat International Confrence  Aquaculture Indonesia 2018 di Yogyakarta

destinasiaNews – Untuk kesekian kalinya Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI), kembali menggelar Konferensi Internasional ‘ICAI 2018 - International Conference of Aquaculture...

Pemilih Pada Pilkada Jabar 2018 Cenderung Rasional

Pemilih Pada Pilkada Jabar 2018 Cenderung Rasional

destinasiaNews - Usai pesta demokrasi pemilihan Kepala Daerah Jawa Barat (Pilkada Jabar) 27/6/2018 lalu, Tim Peneliti dari Pusat Studi Politik...

Crown Group Pasarkan Hunian Vertikal ke Indonesia

Crown Group Pasarkan Hunian Vertikal ke Indonesia

destinasiaNews – Sebuah perusahaan terkemuka dari Australia, yang memiliki se-gudang pengalaman dan penghargaan yaitu Crown Group Holdings (Crown Group), merupakan...

TUNA LOVERS at EMPAT DARA 2

TUNA LOVERS at EMPAT DARA 2

destinasiaNews – Destiners, khususnya bagi yang tinggal di daerah Sukabumi – Jawa Barat, apalagi yang mengaku Tuna Lovers, sudahkah mencoba...

Bacaleg DPRD Provinsi & DPR RI Partai Berkarya,, Bebenah Diri Jelang Pileg 2019 – ‘Kuantitas Bacaleg Berlebih’

Bacaleg DPRD Provinsi & DPR RI Partai Berkarya,, Bebenah Diri Jelang Pileg 2019 – ‘Kuantitas Bacaleg Berlebih’

destinasiaNews – Berlokasi di Kawasn Ekowisata dan Budaya Alam Santosa tepatnya di Pasir Impun, Cimenyan Kabupaten Bandung, ngaring (berkumpul) sejumlah...

Pengunjung

02267839
Hari ini
Kemarin
3152
3544