Veteran Idi Djuhana Pernah Bekerja di Dalam Gua Jepang Dago Pakar

pakar5

DestinasiaNews – Taman Hutan Raya, Tahura Ir. H. Djuanda di utara Kota Bandung dulunya dikenal dengan nama Kolam Pakar. Kini kawasan itu sudah dipercantik jadi destinasi Wisata Alam yang terdekat dengan Kota Bandung. Pengunjung pun semakin banyak dan tidak hanya untuk rekreasi tapi juga memanfaatkannya untuk berolahgraga (jogging, hiking), gathering hingga untuk kepentingan edukasi tentang lingkungan hidup atau kesejarahan mengingat di lokasi itu terdapat Gua Belanda dan Gua Jepang.

Seperti ketika pertengahan September lalu, sekelompok Alumni SMPN 2 Bandung ’73 memanfaatnya untuk reuni kecil sambil jalan sehat di alam bebas. Ketika mereka memasuki Gua Jepang, ada saja pertanyaan terlontar “Dulunya dipakai apa,ya?” Dan pertanyaan serupa sering pula terdengar sejak dulu namun belum mendapat jawaban akurat, selain jawaban dugaan seperti “Mungkin ini dulunya gudang mesiu.” Bahkan ada juga yang menambahinya dengan, “Gua ini bisa nyambung ke gudang mesiu di Bojongkonéng.”

Dari berbagai cerita warga sekitar yang berusia lanjut pun hanya tahu dari kisah pengalamannya ketika harus ikut romusha membuat gua tersebut. Tentang penggunaannya oleh tentara Jepang mereka hanya menduga-duga.

pakar3

Adalah Idi Djuhana, seorang anggota Legiun Veteran Republik Indonesia asal Bandung yang sempat dijumpai usai Apel Kesetiaan di markasnya di Jalan Aceh. Lelaki kelahiran tahun 1923 ini masih bugar untuk diajak berbincang pengalamannya. “Di jaman pendudukan Jepang saya pernah bekerja di dalam gua yang di Dago Pakar,” kata Idi. Ini dia!

Setamat Sekolah Rakyat di Cikutra Idi muda sudah bersyukur bisa bekerja sebagai jongos untuk majikan seorang Jepang yang dia sebut Konishi Taiso.

“Kerjanya hanya menyediakan air hangat untuk mandi dan menghidangkan makanan. Kalau ada sisa makanan, ya saya makan..” Idi mengenang.

Idi sering diajak majikannya ke sebuah bengkel besar yang sekarang berlokasi di Jalan Gudang Utara. “Awalnya hanya bantu bersih-bersih, sampai suatu hari saya ditawari bekerja di bengkel itu. Kerjanya menggunakan mesin bubut, membuat semacam ring. Katanya itu untuk suku cadang kendaraan orang Jepang,” tutur Idi.

Selagi bekerja di bengkel tersebut Idi juga mendengar kabar ada kerja romusha di Kolam Pakar. “Lagi membuat terowongan atau gua. Tapi tidak tahu untuk apa,” kata Idi lagi. Seingatnya, pada tahun 1943 Idi dan kawan-kawanya harus pindah tempat kerjanya di dalam gua... Setiap hari Idi menuju bengkelnya yang di Jalan Gudang Utara itu. Dari situ dia bersama pekerja lainnya diangkut dengan truk ke Dago Pakar. Sorenya diangkut kembali ke Gudang Utara.

Pahamlah Idi, gua tanah hasil romusa di sekitar Kolam Pakar itu memang dibuat untuk tempat kerjanya. “Ada banyak mesin-mesin perbengkelan di situ,” kata Idi. Entah berapa lama dia bekerja membuat komponen suku cadang kendaraan di situ. Sampai pada hari tanggal 15 Agustus 1945 Idi muda merasa ada yang aneh.

Sejak pagi Idi melihat banyak tentara Jepang di Pakar yang duduk-duduk tertunduk, bahkan beberapa di antaranya ada juga yang menangis. Idi tidak tahu ada peristiwa bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada tanggal 6 dan 9 Agustus. Dan penyebab banyaknya tentara Jepang yang menangis itu setelah Jepang menyatakan menyerah kepada sekutu sehari sebelumnya. Idi juga tidak tahu, 17 Agustus Indonesia memproklamirkan kemerdekaaannya. “Tahu-tahu di kota banyak orang yang berteriak-teriak ‘Merdeka’ sambil mengibarkan kain merah putih,” kenang Idi.

20190917 092023 1

Namun kekhawatiran Idi berlanjut lagi. Tiba-tiba saja banyak tentara asing datang ke Bandung, di antaranya ada tentara Belanda juga. Idi tak mau tanah airnya dijajah lagi. Dia langsung mendaftar menjadi anggota Badan Keamanan Rakyat (BKR), lalu bergabung jasi tentara di Batalyon I sampai menjadi purnawirawan dengan pangkat Sersan. Tapi ada pertanyaan baru yang belum terjawab, dikemanakan mesin-mesin perbengkelan yang dulu ada di gua Jepang itu? Idi hanya mengangkat bahu sambil menggelengkan kepala..... “Duka teuing tah....” kata Idi. (ar/dtn).-


emgz2

Artikel lain...

Dansektor 22 Satgas Citarum Harum Terapkan Pola Penthaheix, Genjot Hijaukan Lahan Kritis Kawasan Bandung utara

Dansektor 22 Satgas Citarum Harum Terapkan Pola Penthaheix, Genjot Hijaukan Lahan Kritis Kawasan Bandung utara

destinasiaNews  – Kelompok Tani Hutan (KTH) Giri Senang selaku tuan rumah dalam konteks tindak lanjut Gerakan Nasional (GN) Pemulihan DAS (Daerah...

Upaya Cegah Pikun, Komunitas Handycrafts Bandung Gelar Workshop Kemikomi

Upaya Cegah Pikun, Komunitas Handycrafts Bandung Gelar Workshop Kemikomi

destinasiaNews - Kota Bandung tercatat sebagai salah satu dalam jaringan kota kreatif UNESCO Creative Cities Network. Dikukuhkan oleh Organisasi Pendidikan,...

UPI Akui Fasilitasnya Digunakan ‘Sunda Empire’, dan Membantah Ada Keterlibatan

UPI Akui Fasilitasnya Digunakan ‘Sunda Empire’, dan Membantah Ada Keterlibatan

destinasiaNews– Heboh pemberitaan Keraton Agung Sejagat di Purworejo yang sempat memanggungkan pasangan ‘Raja’ Toto Santosa dan ‘Ratu’ Fanni Aminadia, yang...

‘Duet’ Dansektor 22 Citarum Harum & Kadishut Prov Jabar, Tanami Lahan Kritis di Cimenyan KBU

‘Duet’ Dansektor 22 Citarum Harum & Kadishut Prov Jabar, Tanami Lahan Kritis di Cimenyan KBU

destinasiaNews– Melanjut maraknya kegiatan reboisasi lahan kritis di KBU (Kawasan Bandung Utara), sedikitnya 2.900 bibit tanaman keras, pada hari Sabtu...

Oded M Danial Kunjungi Komunitas Bandung Hydromarket: Swasembada Sayur & Tekan Stunting

Oded M Danial Kunjungi Komunitas Bandung Hydromarket: Swasembada Sayur & Tekan Stunting

destinasiaNews – Walikota Bandung Oded M Danial dakam kunjungannya ke Komunitas Bandung Hydromarket (KBH) di Sekertariatnya Jl. Pirus Galuh 3,...

Pengunjung

04776644
Hari ini
Kemarin
3286
3794