“Awi Jimat” dari Ci Irateun Bahan Bambu Runcing Pemuda Pejuang Bandung Utara

awi jimat

DestinasiaNews - Di penghujung 2021 ini seolah bermunculan kisah tentang bambu dari kawasan Lédeng, Kecamatan Cidadap, Kota Bandung. Ada kisah berbagai jenis pohon bambu ditanam di seputar hutan Babakan Lédeng. Sedikitnya kini sudah ada 52 jenis bambu yang ditanam di kawasan tersebut baik oleh perorangan, komunitas maupun oleh pejabat pemerintah. Penanamannya pun tidak sekadar seremonial, tapi dilanjut perawatannya oleh komunitas setempat yang menamakan dirinya Komunitas CAI (Cinta Alam Indonesia).

Keberadaan pohon bambu, kawung dan pepohonan lainnya di kawasan hutan yang masih wilayah Kota Bandung ini sejak berabad lalu memang sudah ada dan dan akar-akarnya turut memelihara kelestarian puluhan séké (mata air) yang hingga kini masih bermanfaat bagi warga Kota Bandung meski semakin berkurang debitnya. Tidak itu saja, keberadaan hutan bambu itu juga berfungsi sebagai “pabrik” oksigen bagi manusia.

Karena itu pula ada sekumpulan warga Lédeng yang peduli kelestarian hutan alami di Kota Bandung yang tinggal secangkéwok ini turun tangan memeliharanya, terutama menjaga kesinambungan fungsi Gedong Tjai Tjibadak 1921 yang hingga kini jadi ikon hutan Babakan Lédeng. Akhir Desember ini bangunan dan kawasan heritage tersebut genap berusia serartus tahun.

nanasuryana3

Jelang peringatan seabad Gedong Tjai ada juga kisah yang dituturkan Nana Suryana. “Si Isur,” nama akrabnya semasih sebagai barisan pemuda pejuang Bandung Utara itu kini berusia 99 tahun dan masih aktif sebagai anggota Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Kota Bandung. Menurutnya, ketika terjadi pertempuran sengit melawan tentara sekutu di kawasan Tjigoléndang (Jl. Setiabudi kini) Desember 1945, Nana ikut bertempur bersama pimpinanan pemuda pejuang bernama Sukarya dari Batalyon Bandung Utarayang bermarkas di Vila Isola. Dalam pertempuran tersebut gugur 4 pejuang yang namanya kini diabadikan sebagai nama jalan yaitu Kapten Hamid, Sersan Bajuri, Sersan Surip dan Sersan Sodik.

“Yang gugur mah selain dari empat orang itu masih ada lagi sampai puluhan jumlahnya!” kata Nana sambil merenung. “Mereka itu para pemuda berani mati, pendekar yang rela berjuang bukan berjéwang,” selorohnya seperti mengingatkan pemuda masa kini ketika dijumpai di kantor LVRI Kota Bandung awal Desember lalu. “Saat itu kami hanya bermodal semangat Bung Karno, bedog dan bambu runcing,” lanjut Nana.

Ini dia, bambu runcing! Menurut Nana, bahan bambu yang bagus untuk dibuat bambu runcing saat itu diambil dari rumpun bambu di daerah yang dulu dikenalnya dengan sebutan Ci Irateun, tidak begitu jauh dari Vila Isola. Dari deretan rumpun bambu di kawasan itu ada satu rumpun yang bambunya kecil, diameternya sekepalan, tipis tapi liat. Di bagian luarnya terdapat semacam bulu-bulu halus. “Seperti mengandung jaram (kuman). Entah jenis bambu apa, tapi suka disebut awi jimat,” katanya.

Batang bambu yang dipilih adalah batang yang tumbuh di bagian tengah rumpun, lalu dipotong sesuai dengan ukuran tubuh. Ujung bambu dibuat runcing dan tajam, di kedua sisi lancipnya dibuat bergerigi. “Jadi kalau menancap ke tubuh manusia, ketika dicabut akan menarik apa saja yang ada di dalam perut atau dada lawan. Memang tidak langsung mematikan, tapi ketika korbannya lengah karena kesakitan, sabet ku bedog,” tutur Si Isur. Menyerangnya pun selalu jarak dekat. Biasanya tentara sekutu ketika melompat dari truk atau carrier memang sedang dalam kondisi belum siap tembak. “Kita sembuyi dulu sebisa-bisa, begitu mereka turun kita sergap dengan menghunus bambu runcing dan golok. Cleb, bet!” ujar dia, dingin. Dengan cara seperti itulah kebanyakan pemuda pejuang bisa merampas senjata musuh. “Di pertempuran Tjigoléndang itu pun banyak tentara sekutu yang tewas, tapi tidak terdapat luka karena peluru,” Nana mengenang. “Nya kitu téa,” lanjutnya.

Namun, ketika Nana beraksi di pertempuran Tjigolédang, Nana muda kakinya terserempet peluru musuh. “Hanya keserempet, tapi kaki saya banyak mengeluarkan darah dan terlihat seperti ada tulang di punggung kaki kiri yang menonjol,” tutur dia. Beberapa temannya segera menolong dengan membawanya ke posisi aman. Setelah pertempuran reda Nana ditandu ke Cibodas melewati belantara hutan Babakan Lédeng.

Sila baca juga Battle of Tjigolédang.

nanasuryana2

“Yang dijadikan tandu saat itu adalah tarajé (tangga bambu, lagi-lagi bambu). Di jaman pendudukan Jepang setiap rumah di kawasan itu harus punya tarajé dan bakrik, semacam galah. Kedua alat itu sebagai pencegah merambatnya api ke rumah tetangga kalau terjadi kebakaran,” kata Nana. Di hutan itu juga masih ada binatang buas seperti macan bahkan harimau. “Binatang itu mendekat mungkin karena mencium darah bau dari para pejuang yang terluka saat itu. Bahkan yang gugur pun langsung dikuburkan di tempat. Mau bagaimana lagi?”

Sesampainya di Cibodas, Nana diobati secara herbal lalu kakinya yang cedera dikubur dalam tanah liat yang biasa suka dipakai keramas. “Selama tiga bulan kaki saya ditanam dan bisa sembuh. Menjelang persitiwa Bandung Lautan Api, saya sudah siap tempur lagi, sementara kawan-kawan seperjuangan ada yang menyangka saya sudah mati,” kenangnya. Si Isur pun melakoni beberapa pertempuran lagi dengan selamat karena sudah memiliki stengun dan kini tinggal bersama keluarganya di Suka Bungah, sekitar Jalan Pasirkaliki, Bandung.

Tentang keberadan rumpun “Awi Jumat” ituNana tak tahu lagi, apakah masih ada atau bagaimana nasibnya. Yang dia tahu, daerah itu sudah dibangun perumahan warga. “Kalau bambu runcingnya mungkin ada di Museum UPI,” pungkas Nana berharap. dtn/@adiraksa.

 

nanasuryana1

Foto bambu: ilustrasi @adiraksa


emgz2

Artikel lain...

FK-TANI Siap Dukung dan Kawal Produksi Nasional Jagung via Sumedang, Target Mandiri Tahun 2025

FK-TANI Siap Dukung dan Kawal Produksi Nasional Jagung via Sumedang,  Target Mandiri Tahun 2025

destinasiaNews – Kunjungan rombongan pengurus DPP (Dewan Pimpnan Pusat) FK-TANI (Forum Komunikasi Tani & Nelayan Indonesia) untuk kesekian-kalinya, pada Rabu,...

Ketua DPRD Jabar Taufik Hidayat Temui Ceu Popong: Kami Harus Berguru …

Ketua DPRD Jabar Taufik Hidayat Temui Ceu Popong: Kami Harus Berguru …

destinasiaNews – Ketua DPRD Jawa Barat Brigjen TNI (Purn) Taufik Hidayat, S.H.,M.H., pada 4 Januari 2022 berkunjung ke kediaman mantan...

Dankodiklatad beserta Ketua Persit KCK PG Kodiklatad hadiri Ganesha The Wedding, Intimate Wedding Showcase

Dankodiklatad beserta Ketua Persit KCK PG Kodiklatad hadiri Ganesha The Wedding, Intimate Wedding Showcase

destinasiaNews - Toha Kodiklatad atau yang dikenal dengan Gedung Kologdam merupakan bangunan bersejarah berlokasi strategis dan memiliki daya tarik tersendiri,...

Akhirnya, BRI Pusat Tanggapi Tuntutan Nasabah BRI Bandung Kopo

Akhirnya, BRI Pusat Tanggapi Tuntutan Nasabah BRI Bandung Kopo

destinasiaNews - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk., akhirnya menanggapi tuntutan Nasabah BRI Bandung Kopo bernama Revki  A. Maraktiva yang...

PAW Kepengurusan di DHC BPK 45 Kota Bandung

PAW Kepengurusan di DHC BPK 45 Kota Bandung

DestinasiaNews - Dalam upaya meningkatkan peran dan tupoksi Badan Pembudayaan Kejuangan 45 (BPK45) khususnya sosialisasi Jiwa Semangat Nasionalisme 45, Pengurus...

Pengunjung

08125692
Hari ini
Kemarin
531
5999