Lawatan Sejarah BPNB Jawa Barat Menengok Kemasyhuran Mantan Presiden RI dan Patriotisme Tentara PETA (Bagian 2)

DSC 0402

Destinasianews.com – Enam patung presiden Republik Indonesia yang telah menyelesaikan masa baktinya menyambut para peserta Lawatan Sejarah Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Jawa Barat, Rabu (22/3/2017) pagi. Di hari kedua agenda lawatan, kunjungan diawali ke Museum Kepresidenan Republik Indonesia Balai Kirti. Museum yang diresmikan pada 18 Oktober 2014 ini berada di Kompleks Istana Kepresidenan Bogor, Jalan Ir H Juanda Nomor 1, Kota Bogor.

 

Sebagaimana namanya, Balai Kirti yang berasal dari bahasa Sanskerta mengandung makna “ruang menyimpan kemasyhuran”. Dalam bahasa Inggris selaras dengan kata “hall of fame”. Tentu saja, pendirian museum ini punya tujuan menjadi rujukan sejarah mengenai kisah kemasyhuran para pemimpin bangsa Indonesia. Pun sebagai inspirasi bagi generasi sekarang dan mendatang dalam membangun bangsa.

 

Balai Kirti yang dibangun di atas lahan sekira 3.212 meter persegi dengan luas bangunan sekitar 5.865 meter persegi ini menyajikan karya dan prestasi enam presiden Republik Indonesia—Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurahman Wahid, Megawati dan Susilo Bambang Yudhoyono.

 

Meski ada tiga lantai museum yang dapat dikunjungi, para peserta Lawatan Sejarah BPNB hanya melakukan lawatan wajib ke Galeri Kebangsaan dan Galeri Kepresidenan yang terletak di lantai 1 dan 2. Selain ke enam patung tadi, di Galeri Kebangsaan para peserta beroleh wawasan kesejarahan lainnya yang disampaikan langsung pemandu museum. Ada sejarah patung Garuda Pancasila, teks Proklamasi, teks Pancasila, Pembukaan UUD 1945, teks Indonesia Raya hingga Sumpah Pemuda.

 

 

Mereka begitu antusias menyimak paparan yang disampaikan secara lugas dan mudah dipahami. Sesekali, sang pemandu berinteraksi dengan mengajak berpikir para peserta tentang wawasan kebangsaan. Seperti siapa saja perumus teks Pancasila hingga makna simbolis yang terdapat dalam lambang negara Burung Garuda.

 

Beranjak ke lantai 2 yang diberi nama Galeri Kepresidenan, para siswa penyuka sejarah ini pun dibuat kagum. Mereka dapat secara langsung melihat berbagai koleksi dan informasi penting para pemimpin bangsa. Sebut saja antara lain foto-foto, buku karya presiden, pakaian, penghargaan hingga quote masyhur dari keenam presiden. Namun, berada di ruangan eksklusif ini siapa pun tidak diperkenankan memotret atau mendokumentasikan koleksi pameran.

 

Kebanyakan para peserta siswa yang rata-rata berusia 16-17 tahun memang lahir, tumbuh dan berkembang pada masa kepemimpinan Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono, dan tentu saja Presiden RI saat ini Joko Widodo. Kendati begitu, mereka demikian kagum mengapresiasi prestasi kemasyhuran keenam presiden yang masing-masing ditata di ruangan berbeda dengan tata pamer yang apik. Dokumentasi foto Presiden Soekarno memang agak berbeda dengan kebanyakan foto presiden lainnya lantaran tercetak dengan warna hitam-putih.

 

Sejarah adalah cerminan hari ini dan masa mendatang. “Saya dan kami para pelajar, sebagai pemuda generasi penerus wajib mengetahui dan memahami sejarah bangsa ini. Kalau bukan oleh kita yang menghargai jasa para pemimpin bangsa, siapa lagi?” kata Ridwan, peserta pelajar dari SMAN 1 Kabupaten Purwakarta, menggebu.

 

Masih memegang buku catatan dan alat tulis, imbuh dia, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Toh, dulu para pemuda pun turut andil mengupayakan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang merdeka.

 

Di sinilah Perwira PETA Digembleng

DSC 0467Menjelang siang, langit Kota Bogor sempat mendung bahkan turun hujan ringan. Rintik mengiringi peserta lawatan sejarah saat hendak menuju Monumen dan Museum Pembela Tanah Air (PETA). Di bilangan Jalan Jenderal Sudirman, di gedung bekas markas Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL), tersaji banyak informasi sejarah cikal bakal lahirnya Tentara Nasional Indonesia.

 

Peserta dibagi dalam dua kelompok besar dengan bimbingan seorang pemandu saat menjelajah ruang museum. “Berada di Museum PETA, hati dan pikiran kita seakan terbawa mengenang jasa perjuangan masa silam para pejuang patriot tanah air.Mereka berani mempertaruhkan jiwa dan raganya untuk cita-cita kemerdekaan Indonesia,” kata Ridwan yang baru pertama kali ikut lawatan sejarah seperti ini. Selama ini, lanjut dia, sejarah tentang tentara PETA hanya dipelajari dalam buku teks, tetapi dalam kunjungan ini bisa melihat secara langsung apa saja yang digunakan para perwira dan kisahnya.

 

 

Pada masa pendudukan Jepang sekira tahun 1943, gedung bekas markas KNIL itu digunakan sebagai pusat pelatihan pasukan yang dikenal sebagai Pembela Tanah Air. Saat itu tentara pribumi yang dilatih masih di bawah pengawasan Dai Nippon. Namun, alih-alih dibentuk untuk membantu Jepang melawan sekutu, PETA kemudian berubah menjadi pasukan yang disiapkan untuk menggapai Indonesia merdeka.

 

Di museum  yang diresmikan 18 Desember 1995 tersebut seluruh peserta diajak melihat berbagai koleksi bersejarah. Ada koleksi berupa patung, pakaian, perlengkapan perang, meriam, replika tandu Panglima Besar Jenderal Soedirman, senapan dan berbagai senjata lainnya. Sebagian peristiwa sejarah diceritakan dalam bentuk diorama, relif hingga monumen.

 

 

Di muka museum, berdiri patung Panglima Besar Jenderal Soedirman dan Panglima TKR Shodancho Supriyadi dengan gestur yang heroik. Tangan kanan mengepal ke atas, sementara tangan kiri menggenggam sebilah samurai. Supriyadi berperan memimpin pemberontakan tentara PETA terhadap pendudukan Jepang di Blitar pada Februari 1945.

 

Pembentukan Karakter

Ini bukan sekadar lawatan sejarah. Ada makna yang terkandung, salah satunya pembentukan karakter bangsa. Direktur Sejarah Ditjenbud Kemdikbud Triana Wulandari memaparkan dalam sebuah pertemuan dengan seluruh peserta, Rabu (22/3/2017) malam. “Dalam makna sejarah ada peristiwa panjang yang mengandung nilai-nilai keteladanan, karakter, jatidiri yang bisa diambil pelajaran untuk kehidupan, pembentukan karakter hingga fungsi kognitif,” paparnya.

 

Menurut dia, sejarah memiliki peran yang kuat dalam membentuk karakter. Pun sejarah memberi inspirasi, spirit dan motivasi terutama untuk generasi muda. (IA/DTN)*

Add a comment

Family Gathering Sekolah Islam Mutiara Hati di Alam Santosa: Seru Tak Terkira …

DTN MUTIARA HATI 1 CopydestinasiaNews – Sekitar 370 orang sedari pagi hingga siang pada Sabtu, 25 Maret 2017 berkumpul di Kawasan Ekowisata dan Budaya Alam Santosa di Pasir Impun Kabupaten Bandung. Tema pertemuannya yang dihadiri 150 siswa TK & SD Sekolah Islam Mutiara Hati (SIMH) berikut orang tuanya, bertema family gathering. “Kami berkumpul menyatukan  suasana full serba gembira. Bersyukur bisa bertemu, di luar jam sekolah yang serba terbatas”, papar salah satu dari 30 guru disela-sela memandu perjalanan ke hutan buatan di Alam Santosa yang luasnya sekitar 4,5 ha.

Seperti biasa, inti dari pertemuan ini semua menikmati aneka kaulinan budak lembur (permainan tradisional). Kita tahu aneka permainan ini, hampir punah karena terdesak oleh serbuan modern games. Hebatnya, melalui permainan ini, antara orang tua dan para siswa serta guru, jadi berbaur.

DTN MUTIARA HATI 2 Copy“Saya terkesan dengan permainan serba karet gelang. Waktu kecil sering dimainkan, sekarang entah kemana tuh. Tadi main gasing dari biji-bijian. Itu asyik lho?”, papar pasangan orang tua siswa Ahmad – Fitri yang menjajal hampir semua permainan lain seperti menembak dengan karet gelang, lompat karet, main boy-boyan, berpetualang ke hutan, hingga menangkap ikan pun mereka jajal - “Tadi sempat basah-basahan menangkap ikan sekeluarga, itu asyik sekali”.

DTN MUTIARA HATI 3 CopyKata Kepala Sekolah

Menurut Eva Liana, Kepala Sekolah SIMH, seluruh siswa yang termasuk kategori berkebutuhan khusus pun, beserta orang tua dan guru pendamping tampak amat menikmati suasana sejuk disini:”Ini yang pertama di sini, kemungkinan akan rutin untuk masa datang. Untuk keseimbangan dunia belajar di kelas dan belajar di alam.”

DTN MUTIARA HATI 4 CopyLainnya, kata Dede Manuari, guru SIMH yang menangani urusan kesiswaan:”Tadi ketika bertualang ke hutan, para siswa walaupun ngos-ngosan semua tetap bersemangat. Apalagi waktu menangkap ikan, orang tua dan kakeknya pun ada yang turun. Serunya tak terkira. Susah dilupakan pengalaman ini”.

Alhasil perjumpaan orang tuan siswa dan guru beserta putra-putrinya di Alam Santosa kali ini, memunculkan nuansa baru:”Ternyata mereka sangat menikmati suasana pedesaan yang kini sudah mulai sirna, terutama di perkotaan. Beberapa orang tua, malah berniat berkunjung ulang ke sini”, tutur Dadan Supardan, GM Kawasan Ekowisata dan Budaya Alam Santosa.

Sementara Eka Santosa, pemilik Alam Santosa yang sehari-hari bergerak dalam kegiatan lingkungan dan budaya Gera an Hejo, melihat animo ini:”Bersyukur, masyarakat perkotaan kini sudah mulai menikmati suasana pedesaan yang saya bangun di sini sejak era 2000-an. Ini tak sekedar wahana rekreasi, melainkan ada nuansa edukasi dan pengenalan lingkungan hidup.(HS/SA/dtn).

Add a comment

Lawatan Sejarah BPNB Jawa Barat Menjelajah Kebun Raya Bogor yang Berusia 200 Tahun (Bagian 1)

DSC 0248

Destinasianews.com – Siang itu, Selasa (21/3/2017), puluhan siswa nampak bersemangat, serius tapi fun dan antusias menyimak cerita sekaligus sejarah di depan sebuah monumen di Kebun Raya Bogor. Berkumpul di bawah pepohonan rindang dengan berseragam sekolah, setiap siswa memegang alat tulis lengkap untuk mencatat informasi penting yang disampaikan pemandu.

 

Bangunan indah melingkar dengan delapan kolom itu memayungi tugu bernama Lady Raffles Monument atau Tugu Lady Raffles. Tugu didirikan Letnan Gubernur Inggris di Pulau Jawa Sir Thomas Stamford Raffles (1811-1816) untuk mengenang istrinya, Olivia Mariamne Raffles yang meninggal pada 1814 lantaran penyakit malaria.

 

Ya, itulah objek lawatan pertama para siswa dan guru dalam Lawatan Sejarah yang diselenggarakan Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Jawa Barat. Kegiatan berlangsung selama 3 hari, Selasa-Kamis (21-23/3/2017) diikuti sebanyak 150 peserta perwakilan pelajar SMU/ SMK dan guru sejarah yang datang dari empat provinsi yaitu Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten dan Lampung. Secara keseluruhan para peserta siswa dibagi dalam 5 kelompok.

 

Kepala BPNB Jawa Barat Jumhari SS mengatakan, kegiatan Lawatan Sejarah tersebut bertujuan untuk mengenalkan informasi sejarah yang baru kepada para siswa di luar text book atau buku pelajaran di sekolah.

 

“Lawatan atau kunjungan lapangan ini agar siswa dapat mengapresiasi sejarah dengan lebih intensif. Maksudnya lebih mengetahui, mengerti dan memahami tentang objek sejarah yang sebelumnya dipelajari di sekolah, kini memahaminya dalam konteks kenyataan di lapangan. Belajar sejarah tak harus selalu di sekolah,” papar Jumhari, di sela kegiatan.

 

Menurut dia, Lawatan Sejarah Daerah BPNB Jawa Barat ini rutin diselenggarakan setiap tahun. Peserta terbaik dan terpilih nanti akan diikutsertakan dalam kegiatan lawatan sejarah di tingkat nasional.

 

Jumhari berharap, kegiatan edukatif yang digelar untuk siswa SMU dan sederajat ini mampu memotivasi dan membangun karakter pemuda dalam hal ini pelajar untuk mencintai sejarah daerah, bangsa dan negaranya. “Memang butuh waktu yang agak lama untuk membangun karakter tersebut. Tapi paling tidak, kegiatan ini diharapkan mampu memotivasi para siswa untuk mencintai dan tidak melupakan sejarah daerah, bangsa dan negara,” katanya.

 

Lawatan pada hari pertama yang berlangsung di Kebun Raya Bogor dibagi dalam dua kelompok besar, dan para peserta beroleh banyak informasi penting. Tak hanya mengenal kisah Tugu Lady Raffles, tetapi juga Makam Belanda dan hal ikhwal mengenai area kebun raya botani yang dulu bernama Samida. Area ini, atas izin gubernur jenderal saat itu yakni GAGP Baron van der Capellen, diubah menjadi Lands Plantentuin te Buitenzorg oleh ahli botani Jerman CGK Reinwardt pada 18 Mei 1817.

 

Kebun Raya Bogor yang memiliki sekira 15 ribu jenis koleksi ini kini berusia hampir dua abad. Jenis tanaman yang punya nilai sejarah di sana antara lain pohon kenari dan leci yang sudah berusia ratusan tahun. Tak heran, buah atau biji kenari banyak dibuat untuk cenderamata yang khas oleh masyarakat setempat.

 

Sepanjang lawatan di kebun kebun raya yang memiliki luas mencapai 87 hektar ini, seluruh peserta berjalan beriringan mengikuti langkah pemandu. Rasa ingin tahu, anstusias dan rasa senangnya mereka akan informasi sejarah direpresentasikan dalam bentuk tanya jawab di setiap titik lokasi yang disambangi. Mereka mencatat informasi-informasi penting untuk kemudian disimpulkan dalam laporan kegiatan kelompok.

 

“Senang sekali ikut lawatan sejarah ini. Banyak informasi sejarah yang saya dapatkan di luar buku pelajaran di sekolah. Tentu kegiatan ini sangat bermanfaat bagi kami sebagai pelajar. Kami juga dapat bertemu dan berkenalan dengan teman-teman lain yang sama-sama suka sejarah,” kesan Naufal Rafa Sultan, Siswa Kelas XI SMAN 1 Kota Sukabumi.

DSC 0282

Dalam satu spot, di tepi kolam, para peserta mendapati sejarah agung tentang Istana Kepresidenan Bogor. Bukan hanya kisah yang mereka simak tetapi juga dapat langsung melihat Buitenzorg megah yang dibangun Gubernur Jenderal Gustaaf Baron van Imhoff pada 1745. Seluruh peserta menjelajah alam Kebun Raya Bogor hingga menjelang petang.

 

Mengenal Objek-objek Sejarah Kota Bogor

Semakin lengkap, seusai melawat Kebun Raya Bogor, para peserta juga beroleh informasi mengenai sejarah kota yang tengah mereka kunjungi. Selain sebagai destinasi pariwisata, Kota Bogor punya tinggalan budaya dan sejarah yang mengagumkan. Salah satunya Kebun Raya Bogor tadi.

 

Dalam sebuah pertemuan yang dimulai pukul 20.00 WIB, materi disampaikan langsung Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bogor H Shahlan Rasyidi MM. Para peserta tetap antusias mengikuti pemaparan tentang objek-objek wisata andalan di kota hujan tersebut. Satu bahasan menarik yang menyeruak adalah soal Bogor sebagai Kota Pusaka dan situs cagar budaya yang berada di sana.

 

“Dari sekitar 1.500 bangunan cagar budaya di Kota Bogor, sekarang dari data ulang hanya 487 saja. Itu mencakup bangunan rumah, tempat ibadah hingga artefak. Banyak yang sudah beralih fungsi,” kata Shahlan.

 

Sikap kritis para peserta dari kalangan siswa pun tercermin dari banyaknya pertanyaan terhadap latar belakang berkurangnya situs heritage yang mencapai lebih dari 1.000 itu. Agenda pertemuan hari pertama diisi pula dengan materi tentang BPNB Jawa Barat yang dipaparkan langsung Jumhari SS. Rangkaian acara ditutup dengan penyuluhan tentang narkotika dan obat-obatan terlarang yang disampaikan Kasatserse Narkoba Polres Bogor AKP Andri Alam Wijaya. (IA/DTN)*

Add a comment

Eka Santosa & Paguyuban Pusaka Kujang Sakti – Gelar Gempungan Akbar

DTN KUJANG SAKTI 1destinasiaNews – Tokoh Jabar Eka Santosa, Ketua Umum Gerakan Hejo yang multi facet dalam aneka kegiatan budaya dan lingkungan hidup, ditengah kesibukannya, berniat menggelar sebuah perhelatan besar di kawasan Eko Wisata dan Budaya Alam Santosa, Pasir Impun Kabupaten Bandung. Sabtu sore, 4 Maret 2017 Ia disambangi Sopian Rahmat (46) yang dikenal sebagai pecinta senjata tradisional suku Sunda yang lazim kita sebut kujang.\

”Lebih dari 4 tahun di Jabar tidak ada perhelatan besar mengupas tuntas senjata tradisional kujang. Tadi berdiskusi intensif dengan tim Kang Eka (sapaan akrab Eka Santosa). Rencananya, akhir Maret 2017 akan ada gempungan besar di Alam Santosa”, papar Sopian Rahmat yang akrab dikenal rekan-rekannya sebagai Kang Pian. “Selama ini para pecinta kujang di Jabar masih berorientasi ke Paguyuban Senapati yang ada di Jatim dan Jateng. Kenapa tak kita alihkan di Jabar saja?”

Terungkap dalam pertemuan ini menurut Moh. Mukhlas Arya Mangkurat (50) asal Cirebon yang mengantar Kang Pian menemui Eka Santosa, niatan penyelenggaraan ini, dianggap sesuatu yang penting:”Sebagai ajang silaturahmi, saling tukar informasi, saling mengkaji baik secara kesejarahan, filosofis, akademis, maupun memunculkan nilai ekonomi”.

Ekonomi Kreatif

DTN KUJANG SAKTI 2Bagi Eka Santosa yang juga selaku Sekjen (Duta Sawala) BOMA (Baresan Olot Masyarakat Adat) Jabar, pemahamannya tentang senjata tradisional kujang diakuinya seperti orang awam umumnya.”Saya mengenal kujang sebatas senjata khas asal etnis Sunda. Dalam berbagai kesempatan selalu dijadikan pemberian khusus bagi tokoh di negeri ini” , ujarnya dengan nada low profile yang baru-baru ini telah memberikan kujang ke Kapolda Jabar Anton Charliyan. “Waktu itu saya berikan ke  Abah Anton  (sapaan akrab Anton Charliyan) agar tak surut Ia memberantas fenomena intoleransi di Jawa Barat”.

Kepada redaksi alasan Eka Santosa mengapa Ia men-support kegiatan ini, salah satunya karena kujang sendiri kental dengan unsur ekonomi kreatif. “Setahu saya pengrajin kujang di Ciwidey Bandung Selatan cukup banyak, dan mereka ini perlu kita dorong, diantaranya melalui ajang ini”

Secara terpisah Bonie Nugraha, Analis Kebudayaan Disbudpar Kota Bandung, tatkala dihubungi dan mengetahui rencana ini, menyatakan dorongannya.”Alangkah bagus ini dilaksanakan di Alam Santosa. Kajian kujang dari segi kesejarahan, filosofis, juga ekonomi kreatif, memang perlu diguar kembali melalui gempungan ini”, ujarnya sambil menunjukkan potensi panday kujang di Cilengkrang Kota Bandung yang digawangi Abah Ucu Jarkasu – “Tentu pantas diketengahkan juga, nantinya”. (HS/SA/dtn)

Add a comment

Wisata Sejarah Raja Thailand di Curug Dago – Riwayatmu Kini?

DTN PRASASTI 3 CopyDestinasianNews – Kebangetan rasanya orang Bandung bila belum berkunjung ke Curug Dago, jaraknya  hanya ratusan meter saja dari sebelah kiri Teminal  Dago bila kita datang dari selatan Bandung?! “Kami dari Rancaekek Kabupaten Bandung. Baru hari ini bisa ke sini. Tahunya dari internet. Lumayan indah…,”, kata Deden (23) yang ditemani Opan (24), dan Udi (21).  Ketiganya, tampak riang berswa foto – “Langsung di up load ah, biar tahu temen-temen”.

DTN PRASASTI 2 CopyTiga wisatawan lokal ini kami temui  (3/1/2017) di obyek utama Curug Dago . Obyek ini merupakan wisata sejarah, beupa prasasti batu Kerajaan Thailand yang berasal dari abad ke 18. Prasasti ini menukil nama Raja Chulalongkom II(Rama V) dari Thailand. Diketahui Raja Rama V inimengunjungi Curug Dago sekitar tahun 1896. Alkisah lanjutannya, kembali Ia berkunjung kedua  kalinta pada tahun 1901. Pada kunjungan kedua ini, Ia menulis lagi di batu prasasti – Sambil mencantumkan  paraf dan tahun Rattanakosin, Era 120 (Bangkok). “Prasasti ini kami pelihara, pun ada kuncennya segala. Sekarang sudah generasi ke dua. Ini simbol persahabatan antar dua negara,” kata Dwi Haryana, salah satu petugas di Curug Dago yang dipekejakan oleh Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat.

 

Riwayatmu Kini?   

 

Sayang sejuta sayang, kebeadaan dua prasasti ini termasuk suasana sekitar yang luasnya sekitar 3 ha, juga sebagai bagian utuh dari Taman Hutan Raya Djuanda, dengan tiket masuk Rp. 12.000 per orang, butuh penyegaran. “Memang beginilah keadaannya, hari-hari biasa maksimal 10 orang datang. Paling hari libur, lebih dari 10 orang datang”, jelas Dwi dengan nada tiga per empat nelangsa.

DTN PRASASTI 1 CopyLain lagi menurut Cahyati, warga setempat yang menjaga warung satu-satunya di sekitar area permainan anak:”Sebelum tahun 2005, air curug (air terjun) di sini masih agak bersih. Setelah di Lembang dan Kampung Bengkok di atasnya ada peternakan sapi, pemotongan ayam, dan pabrik tahu, jadi ajah sungai Cikapundung ini kotor, dan banyak binatang lintah”.

 

Lebih jauh menurut Dwi sejak bebeapa tahun terakhir ini  nuansa mistis Curug Dago sudah jauh berkurang:”Dulu tahuan 2005-an, di sekitar Curug ini terasa sejuk. Percikan air seperti embun, ada di sekitarnya. Sekarang jatuhan air setinggi 12-an meter ini hanya jatuh begitu saja. Agak keruh lagi…”.  

 

Nah, pemirsa atawa pembaca reportase sekilas ini, apa pun adanya – Obyek wisata Curug Dago yang legendaris, sebaiknya ada pembenahan secara nyata. Di lokasi ini ada semacam prasasti persahababatn antar dua negara – Indonesia dan Thailand. “Peziarah asal Thailand suka datang ke sini. Mereka telpon dulu sama kuncen. Tadi itu kan ada ember di dalam bangunan prasasti, kalau mau ada tamu dari Thailand pasti dikeluarkan dulu”, pungkas Dwi yang menyayangkan pagar di tangga menuju bangunan prasasti yang beberapa waktu lalu terkena rebahan pohon, masih belum dibenahi – “Sudah usul untuk diperbaiki, tetapi maklumlah anggarannya masih belum turun, katanya”. (HS/SA/dtn)     

Add a comment


emgz2

Artikel lain...

Maman Cawabup KBB no 1, Bersilaturahmi Dengan Para Ustadz

Maman Cawabup KBB no 1, Bersilaturahmi Dengan Para Ustadz

destinasiaNews - Dalam mempererat silaturahmi dengan kalangan ustadz dan ulama, calon Wakil Bupati Kabupaten Bandung Barat (KBB) nomor 1 yang...

Ihwal Blekok Bandung (2): Kang Emil Belum Menengok

Ihwal Blekok Bandung (2): Kang Emil Belum Menengok

DestinasiaNews - Nah, perkiraan pertanyaan “iseng” lainnya masih ala Diego ke Ujang Safaat, Ketua RW setempat Ujang Safaat yang sehari-hari...

Ihwal Blekok Bandung (1): Kang Emil Belum Menengok

Ihwal Blekok Bandung (1): Kang Emil Belum Menengok

destinasiaNews – Terinsipirasi serial film travelling yang mendunia bertajuk Don’t Tell My Mother (Ulah bebeja ka Indung kuring). Film ini...

RTH Kota Bandung Intentensif Dibahas Eka Santosa & Oded di Pasir Impun - Benahi, Tata Ruang !

RTH Kota Bandung Intentensif Dibahas Eka Santosa & Oded di Pasir Impun - Benahi, Tata Ruang !

destinasiaNews -  Oded M Danial, Wakil Walikota Bandung disela-sela cuti sehubungan pencalonan Pilwalkot  pada Pilwalkot 2018 - 2023 yang berpasangan...

Maman Cawabup KBB no 1 Bertemu Jamaah Pengajian, Ini Keluhan jamaah Kepada Paslon EMAS

Maman Cawabup KBB no 1 Bertemu Jamaah Pengajian, Ini Keluhan jamaah Kepada Paslon EMAS

destinasiaNews - Sudah dua pekan berlalu Calon Wakil Bupati Kabupaten Bandung Barat (KBB) paket Paslon EMAS (Elin - Maman) blusukan,...

Pengunjung

01844869
Hari ini
Kemarin
137
1453