Lagi, Pemilik Grand Asia Afrika Residence ‘Keukeuh’ Menolak Pailit - Ini Pertimbangannya …

GAAR New1

destinasiaNews – Kabar teranyar dari kesepakatan di antara konsumen Grand Asia Afrika Residence(GAAR) Bandung yang tergabung dalam wadah Paguyuban Konsumen (PK) GAAR (4/8/2018) di Cafe Dakken Jalan Martadinata (Riau) Kota Bandung, masih ‘keukeuh’ menolak putusan pailit.

 

“Pembacaan putusan yang akan  digelar Senin (6/8/2018), masih menimbulkan kekhawatiran kami. Padahal, kenyataannya sebagian besar kreditor (termasuk, Bank Bukopin) menyatakan dukungan untuk perdamaian. Namun, palu hakim tentu tak bisa ditebak?!”, ujar Yan Permana dihadapan awak media saat membuka acara pertemuan PK-GAAR.

 

Kekhawatiran Yan ini terjadi sekaitan gugatan pailit atas GAAR yang kini tengah bergulir di PN Niaga Jakarta Pusat. Hadir dalam pertemuan ini di antaranya Nugroho Tjondrojono, Dirut PTKagum Lokasi Emas (KLE) selaku Developer GAAR; Agung Subagiono, Pengacara PK-GAAR; dan anggota PK-GAAR seperti Susi K, Yanti, Herlina, Johana, dan Hadian GS.

 

Menurut Yan, yang juga sebagai Ketua Umum Perwiranusa DPW Jawa Barat, dirinya telah memohon kepada Presiden Joko Widodo, DPR RI, Gubernur Jabar, Walikota Bandung, serta pihak terkait lainnya.

 

“Mohon ikutlah terlibat dalam upaya menghentikan proses pailt yang kini tengah dihadapi developer GAAR (KLE). Tolaklah pailit itu, berharap mata batin serta hati nurani Pak hakim atas tuntutan pembeli GAAR yang sudah mencapai 1756 unit dari 2.200 unit yang ditawarkan, dikabulkan.”

 

Akar Permasalahan …

 

GAAR Meeting Konsumen B

Agung Subagiono dalam kesempatan ini kembali mengurai duduk perkara ini. Semula, dua orang pemilik GAAR yaitu Donny Prattiwa dan Ariyanti Primawati, merasa kecewa. Keduanya, complain ke pihak developer KLE, karena unit milik mereka belum diserahterimakan sebagaimana yang yang dijanjikan.  “Nah itu sebenarnya akar permasalahannya”, kata Agung.

 

Seturut Agung, selanjutnya Donny Prattiwa dan Ariyanti Primawati dihubungi Zaenudin, SH (11/2017). “Nama yang terakhir ini mengaku sebagai pengacara bagi keduanya.  Katanya bersedia membantu Donny Prattiwa dan Ariyanti Primawati dapat segera menempati unit yang sudah dibelinya,” papar Agung sembari menambahkan - “Layaknya klien dan pengacara, merekapun sepakat membuat surat kuasa hukum”.

Hal seperti ini, menurut Agung tidak logis, “Biasanya yang mencari lawyer itu klien, tetapi ini sebaliknya, koq lawyer yang mencari klien.  Makanya, saya menduga sejak awal, ini ada unsur rekayasa hukum”, tegas Agung.

Lebih jauh Agung mengungkapkan, setelah Zaenudin, SH ditunjuk sebagai kuasa hukum, lalu melakukan serangkaian tindakan hukum berupa somasi ke KLE.

 

“Jawaban pihak KLE, menawarkan kepada Donny Prattiwa dan Ariyanti Primawati untuk pindah unit yang telah siap huni, namun surat jawaban atau tanggapan dari KLE tidak disampaikan ke kliennya,” terang Agung.

 

Masih seturut Agung, justru Zaenudin, SH, melayangkan kembali surat somasi ke dua ke KLE, kemudian dijawab KLE dengan nomor surat : 056/II/18/JCI-MMF/TS, tanggal 14 Februari 2018. Isinya antara lain, menawarkan kepada Donny Prattiwa dan Ariyanti Primawati untuk pindah unit yang telah siap huni, dan atau pembatalan unit disertai refund.


Babak berikutnya, kata Agung ada yang aneh - surat tanggapan kedua atau jawaban kedua KLE tersebut tidak pernah disampaikan kepada kliennya dan sejak ditandatanganinya surat kuasa hukum antara pengacara Zaenudin, SH dan kliennya. “Mereka tidak pernah berkomunikasi,” jelas Agung.

 

Perlu diketahui, para pemilik GAAR Bandung, baru mengetahui perkara ini setelah masuk di Pengadilan Niaga pada bulan Mei 2018.  Agung dan rekan sontak harus mencari tahu dan mengumpulkan para penghuni GAAR, termasuk para pihak yang terkait perkara ini. Ini dilakukan agar diperoleh informasi yang jelas.

 

“Kami juga mencoba menghubungi Zaenudin, SH, namun hingga saat ini nomor telepon yang bersangkutan tidak bisa dihubungi dan keberadaannnya tidak diketahui,” papar Agung


Nyatakan Damai

 

Masih di kesempatan ini, hal senada disampaikan, Nugroho Tjondrojono, selaku Developer GAAR:  “Sebetulnya Donny Prattiwa dan Ariyanti Primawati menyatakan telah berdamai dengan PT KLE yaitu pembatalan unit serta menerima haknya kembali (refund), juga telah membuat dan melayangkan surat ke Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Tanggal 11 Mei 2018, terkait pencabutan perkara nomor : 36/PDT.Sus-PKPU/2018/PN.Niaga.Jkt.Jkt.Pst. yang disertai bukti-bukti pendukung.”

 

Nugroho dalam penjelasan lanjutannya, menyatakan perkara gugatan pailit itu telah diputus dalam PKPUS dan pada tanggal 1 Agustus 2018. Pun telah dilakukan voting yang menghasilkan : a. Kreditur separatis Bank Bukopin menyetujui proposal perdamaian yang diajukan oleh debitur PT KLE; b. Kreditur separatis Bank ICBC menolak perdamaian yang diajukan oleh debitur PT KLE ; c. Kreditur konkuren sebanyak 99% menyetujui proposal perdamaian yang diajukan oleh debitur PT KLE.

 

Mohon Tegakkan Keadilan

 

Kembali ke Agung, atas dasar agenda voting tersebut, maka pada tanggal 6 Agustus 2018, akan diputuskan oleh majelis hakim bahwa PT KLE akan dilakukan Homologasi atau bahkan dinyatakan pailit. Ditengah kegalauan atas nasib 1756 konsumen termasuk dirinya:  “Jika putusan pailit yang dijatuhkan hakim. Otomatis tanah dan bangunan GAAR akan jatuh ke tangan curator yang kemudian akan masuk dalam proses lelang.”

 

Tersisa, sejumlah tanya dari pihak konsumen yang tergabung pada Paguyuban Konsumen GAAR: “Nasib hak kepemilikan 1.756 konsumen yang telah membeli unit di GAAR, bagaimana?

 

Rupanya, pertanyaan ini dijawab sendiri oleh Agung: “Entahlah ?!” sambil menambahkan – “Yang pasti bercermin pada berbagai kasus yang pernah muncul.  Jika putusan sampai pada kata ‘pailit’, yang paling banyak menelan pil pahit adalah para pembeli unit. Dan itu bukan lagi rahasia umum.”

 

Pada akhir penuturannya, para pemilik unit di GAAR masih ‘keukeuh’ memohon dukungan menolak pailit, ke para pihak terkait untuk turut memikirkan nasibnya - tidak menentu, tanpa kepastian hukum.

 

“Esensi hukum adalah keadilan. Tugas penegak hukum adalah menegakkan keadilan. Oleh karena itu, Berikanlah keadilan yang sesungguhnya,” harapnya mewakili rekan senasib di PK – GAAR. (HS/HRS/dtn)

 

Baca Juga : http://destinasianews.com/index.php/framing-destinasia/1660-para-pemilik-grand-asia-afrika-residence-tolak-pailit

 


emgz2

Artikel lain...

Puluhan Artis Bandung Save Lombok – From Bandung With Love

Puluhan Artis Bandung Save Lombok – From Bandung With Love

destinasiaNews -Elemen warga yang tergabung pada “Musisi Bandung”, berencana membikin dompet khusus terkait bencana gempa bumi yang melanda Lombok pada...

Forum Penyelamat Olahraga (FPOR) Jawa Barat Tegaskan KONI Jabar untuk Kembali pada Konstitusi

Forum Penyelamat Olahraga (FPOR) Jawa Barat Tegaskan KONI Jabar untuk Kembali pada Konstitusi

Destinasianews – Forum Penyelamat Olahraga (FPOR) Jawa Barat gelar konferensi pers di Kawasan Ekowisata Alam Santosa, Pasir Impun, Kabupaten Bandung,...

Lagi, Pemilik Grand Asia Afrika Residence ‘Keukeuh’ Menolak Pailit - Ini Pertimbangannya …

Lagi, Pemilik Grand Asia Afrika Residence ‘Keukeuh’ Menolak Pailit  - Ini Pertimbangannya …

destinasiaNews – Kabar teranyar dari kesepakatan di antara konsumen Grand Asia Afrika Residence(GAAR) Bandung yang tergabung dalam wadah Paguyuban Konsumen...

Semarak Clients Gathering Jakarta Bersama ibis Bandung Trans Studio

Semarak Clients Gathering Jakarta Bersama ibis Bandung Trans Studio

destinasiaNews– Dalam upaya memberikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada para kliennya, ibis Bandung Trans Studio, menggelar acara Clients Gathering...

Pengunjung

02335740
Hari ini
Kemarin
245
3196