Kasus Penipuan Promosi Rumah Murah di Bandung, Korban Dirugikan Miliaran Rupiah

Sidang Syna1

 

destinasiaNews– Kasus penipuan penjualan rumah harga murah terjadi di Kota Bandung. Kali ini modus penipuannya berupa harga promosi untuk 20 unit rumah, dijual kisaran harga Rp 60 juta tipe luas rumah 54 meter persegi dengan luas tanah 70 meter persegi (54/70). Rumah murah tersebut rencananya akan dibangun di Jalan Sekesalam Kp Cigorowong, Ds Sindanglaya, Kecamatan  Cimenyan, Kabupaten Bandung di bawah naungan Syna Group.

 

Kini kasusnya pun sudah dalam proses persidangan di Pengadilan Negeri Bandung. Dalam gelaran sidang kasus pada Kamis, 20 Sepetember 2018, dihadirkan tiga terdakwa yaitu Iwan Cica Erlangga (33) sebagai Komisaris Syna Group, Wildan Amarul Husna (30) sebagai Direktur Utama PT Jaka Tingkir Abadi dan Irfan Kurniawan (28) sebagai Direktur PT Multi Hataya Partner.

 

Sidang mengagendakan pemeriksaan saksi Harisman dan Prima Aulia.  Keduanya sebagai korban yang telah membayarkan sejumlah uang pada tiga terdakwa untuk satu unit rumah. Dan saksi dari Syna Group dihadirkan Indah Meylani dan Ikke sebagai marketing.

 

Dalam persidangan, Harisman menceritakan kronologisnya, berawal saat istrinya ditawari temannya, ketika mengetahui promosi rumah murah tersebut.  Ada penjualan rumah murah dengan promosi 20 unit rumah pertama seharga Rp 60 juta tipe 54/70 meter persegi di Kp Cigorowong, Ds Sindanglaya, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung.

 

Istrinya Harisman-pun langsung tertarik dan tanpa pikir panjang, langsung membeli rumah itu dengan menyerahkan booking fee senilai Rp 5 juta di transfer ke rekening bank BCA pada 16 Maret 2017, penerima atas nama Indah Meylani selaku marketing Syna Group. Pada tanggal yang sama, ia juga menyerahkan uang Rp 52 juta untuk booking promo di transfer ke rekening Bank Mandiri, penerimanya atas nama PT Anairis Putri Cahaya.

 

Selanjutnya, pada tanggal 18 Maret 2017, istrinya Harisman bersama putra sulungnya membayar lunas sebesar Rp 3 juta di kantor PT Anairis Putri Cahaya Jalan A.H Nasution, Arcamanik Kota Bandung, diterima oleh Siti Nurhayati petugas di teller.

 

"Sehingga rumah dibayar lunas Rp 60 juta, seluruh transaksi pembayaran, itu dilakukan istri saya”, kata Harisman.  Dan saat itu juga langsung dilakukan Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB) dengan Notaris Ai Mimin, ucap dia menambahkan.

 

Kecurigaan pun mulai terasa setelah membayar lunas, rumah tersebut tak kunjung ia terima hingga kini.  Bahkan sertifikat pun ia tak pernah melihatnya.

"Saya sempat datangi lokasi proyek perumahan Syna Sindanglaya yang beralamat di Jalan Sekesalam Kp Cigorowong, Ds Sindanglaya, Kec Cimenyan, Kabupaten Bandung, namun ternyata satu unit rumahpun belum dibangun. Saya tanya ke warga sekitar, ternyata tanahnya juga belum dibayar, perizinan juga belum ada.

Setelah itu saya dan beberapa korban lainnya menguasakan kasus ini kepada Lembaga Bantuan Hukum (LKBH) Mahawarman, kemudian melaporkannya ke Polrestabes Bandung," terang Harisman.

Hal senada juga dilontarkan Prima Aulia. Pada April 2017, ia membeli rumah di lokasi yang sama dengan Harisman seharga Rp 210 juta dengan tipe 54/70 meter persegi dan jika dibayar lunas, cukup bayar Rp 175 juta.  Pembayaran dilakukan bertahap atau dicicil selama tiga bulan.

 

Pertama, pada 27 April 2017 Prima membayar booking fee sebesar Rp 5 juta di transfer ke rekening atas nama PT Anairis Putri Cahaya. “Saya kemudian membayar down payment sebesar Rp 30 juta ke penerima yang sama pada 13 Mei 2017.  Lalu kemudian pada 23 Mei 2017 membayar Rp 30 juta, pada 3 Juni 2017 membayar Rp 30 juta.  Terakhir pada 10 Juni 2017 membayar Rp 80 juta untuk pelunasan. Semua pembayaran ditransfer ke rekening PT Anairis Putri Cahaya," ujarnya.

 

Usai pelunasan, Prima dijanjikan bahwa rumah akan diserahterimakan setelah 9 bulan 1 minggu.  Pada 10 Juni itu pula, ia melakukan PPJB dengan Syna Group yang diwakili Iwan Cica Erlngga di Notaris Al Mimin.

 

"Namun setelah sembilan bulan satu minggu yang dijanjikan sampai dengan saat ini rumah tidak saya terima.  Uang juga tidak dikembalikan," keluhnya.

 

Sementara itu, dalam berkas dakwaan dari jaksa Fitria Lestari, SH., terungkap ada 38 konsumen yang telah membeli tanah kaveling untuk rumah siap bangun yang berlokasi di Jalan Sekesalam Kp. Cigorowong Ds Sindanglaya, Kec Cimenyan, Kabupaten Bandung itu. Mereka umumnya telah membayar Rp 42 juta hingga Rp 60 juta.  Sehingga total uang yang sudah dibayarkan mencapai Rp 2 miliar lebih.

 

"Saat menawarkan kavling siap bangun tersebut, Syna Group menjanjikan rumah konsumen segera dibangun setelah pembayaran tahap pertama dan akan selesai setelah 9 bulan 1 minggu namun hingga saat ini, semua konsumen belum menerima rumah sebagaimana yang dijanjikan," papar Fitria

 

Ketiga terdakwa dijerat Pasal 378 juncto Pasal 55 ayat 1 juncto Pasal 65 ayat 1 KUH Pidana. Dalam uraiannya, disebutkan bahwa Iwan Cica Erlangga merupakan Komisaris Syna Group yang membawahi lima perusahaan yakni PT Anairis Putri Cahaya yang bergerak di bidang marketing dengan pimpinannya Kartini biasa disapa Ajeng, saat ini dia berstatus buronan.

 

Kemudian PT Multi Hataya Partner yang bergerak di bidang developer dengan pimpinannya Irfan Kurniawan. Irfan juga membawahi anak perusahaan yakni PT Lembur Karuhun, PT Pramuda Utama Andiri dan PT Jaka Tingkir dengan direkturnya Wildan Amarul Husna.  Lalu PT Garuda Teknik Otomatis, PT Hyura Central Buana dan PT Bandung Internasional Property.

 

Syna Group melalui PT Anairis Putri Cahaya awalnya mencari tanah kosong untuk dijadikan kavling siap bangun. Dalam menjalankan usahanya, terdakwa memberikan program promo reguler, reguler B, dan tahapan.

 

Program promo tersebut menawarkan harga Rp 60 juta untuk satu unit rumah dengan luas 70 meter persegi dan bangunan 54 meter persegi. Pembayaran dilakukan bertahap selama satu bulan sampai lunas.  Setelah lunas rumah akan dibangun.

 

Program reguler, menawarkan rumah seharga Rp 210 juta dengan luas tanah 70 meter persegi dan bangunan 50 meter persegi. Pembayaran bertahap selama tiga bulan. Kemudian program reguler B, menawarkan rumah Rp 520 juta dengan luas tanah 70 meter persegi serta bangunan 54 meter persegi.  Pembayaran bertahap selama delapan bulan.

 

Fitria juga menambahkan, untuk penghitungan konstruksi, gambar desain bangunan, dan estimasi harga ditentukan terdakwa Iwan dan Irfan.  Terdakwa juga mempromosikan rumahnya karena lokasi yang strategis, tanpa bunga, tanpa BI checking serta angsuran flat. (IG/dtn)


emgz2

Artikel lain...

Wow, Rektor Unpad & Produsen Aquatec Petik Hasil Maksimal Panen Budidaya Kerapu di Pangandaran

Wow,  Rektor Unpad & Produsen Aquatec Petik Hasil Maksimal Panen Budidaya Kerapu di Pangandaran

destinasiaNews - Boleh dibilang kegiatan produktif ini nyaris tak banyak orang tahu, padahal ini merupakan 'giant step for Indonesian's development'....

Jadi Juri Unjuk Kabisa Wanoja Jajaka Budaya Jabar, Eka Santosa - Kembangkan Budaya Kita

Jadi Juri Unjuk Kabisa Wanoja Jajaka Budaya Jabar, Eka Santosa - Kembangkan Budaya Kita

destinasiaNews - Boleh dikata ini penampilan tokoh Jabar Eka Santosa yang sedikit tak 'lazim' akhir-akhir ini? Gerangannya kali ini penuh dengan...

Gerai GORO DAYUNG di Bandung Munculkan Antusiasme Peserta Munas ISMI ke-2

Gerai GORO DAYUNG di Bandung Munculkan Antusiasme Peserta Munas ISMI ke-2

destinasiaNews - Sejumlah peserta Musyawarah Nasional (Munas), Ikatan Saudagar Muslim se-Indonesia (ISMI) ke-2 di Hotel Grand Asrilia Bandung, pada Sabtu,...

LAKSI Dukung Kapolri - Tegakkan Hukum Bagi Pelaku Hoax

LAKSI Dukung Kapolri - Tegakkan Hukum Bagi Pelaku  Hoax

destinasiaNews - Terkait pemeriksaan terhadap Ketua Dewan Kehormatan PAN, M Amien Rais. Dalam hal ini sebagai saksi, pada kasus dugaan...

Pengunjung

02654257
Hari ini
Kemarin
1345
4849