Syaidina Arif – Susah merawat daripada mendapatkan !

Paste a VALID AdSense code in Ads Elite Plugin options before activating it.

sa1

 

destinasianews“Alhamdulillah, saya dikelilingi oleh orang-orang yang positif. Ada juga yang negatif, tapi saya yakin bisa merubahnya. Asal dengan niat dan tujuan yang jelas.”

 

Sepenggal kalimat itulah yang memulai perbincangan hangat kami di sela turunnya hujan yang mengguyur kawasan Sukajadi Bandung (24/01) kemarin. Adalah Syaidina Arif, pria kelahiran tahun 95 ini, yang sedang asik mengisahkan jalan hidupnya sambil memilah biji kopi pesanan untuk konsumennya.

 

 

Ya, memang, di masa pandemi Covid-19 yang belum usai ini, pendapatan di bidang usaha masih labil. Pun Arif dan tim berupaya memutar otak untuk menyiasatinya, apalagi usahanya ini masih terbilang hitungan bulan. Tapi bukan berarti Bang Arif ini tidak berhitung pula ketika memulai usahanya di kala pandemi. Semua sudah direncanakan matang-matang, jika ada kesalahan itu dari hal teknis.

 

 

Coffee ?

sa3Ya, kenapa tidak berusaha di bidang perkopian pada masa pandemi ini? Tentu ini bukan hal yang latah, tutur Bang Arif. Ini hasratnya. Ini impiannya. Ini cita-citanya. Meski memang Bang Arif tahu ada pesaing di bidang usaha yang sama, Ia optimis usahanya akan berjalan pada grafik kurva normal.

 

Tentu saja Ia bukan orang sembarang yang asal membuka usaha kopinya. Dahulu Ia sempat bekerja di perusahaan Ayahnya yang menjual hasil bumi seperti cengkeh, kopi, maupun rempah-rempah khas tanah Minang. Dari situ Ia mulai belajar membedakan mana hasil bumi yang berkualitas untuk diproses, sambil ia memupuk cita-citanya.

 

Darah kental usahanya ini diwarisi dari kedua orangtuanya yang juga pengusaha. Maka tak heran, Ia nekat untuk fokus pada usahanya. Dimana sebelumnya Ia bekerja di sebuah lembaga pemerintahan. Tapi namanya juga Bang Arif, karena jiwa sosialnya yang tinggi, Ia pun dipercaya sebagai Konselor bagi komunitas dengan adiktif.

 

Kopi itu bagaimana cara kita merasakannya tidak asal main seruput, tutur Bang Arif. Makanya, jika bertandang ke kedai kopi miliknya, kita akan diedukasi secara asik oleh Bang Arif dan tim. Dengan gayanya yang khas, Ia bisa membiusmu ke masa lalu sambil menyeruput kopi. Nah lho? Penasaran? Semakin penasaran dengan jenis kopinya?

Paste a VALID AdSense code in Ads Elite Plugin options before activating it.

 

Susah itu harus!

sa2Dimana ada orang yang mau bersusah-susah dahulu?

“Saya ini sampah! Sekarang saya hijrah.” ujar Bang Arif dengan tegarnya.

 

Tapi, Ia sampah yang bisa didaur ulang. Menjadikan hidupnya sangat bernilai seperti sekarang. Ia tidak malu mengakui bagaimana Ia dahulu. Berkenalan dengan narkoba, membuat hidupnya hancur, mengantarkannya ke dunia hitam. Gara-gara itu, Ia merasakan berbagai hal buruk dalam hidupnya dahulu. Entah itu hotel prodeo, tubuh yang pesakitan, tidak diakui oleh keluarganya, sampai ditinggalkan keluarganya.

 

Tahun 2018 adalah titik balik hidupnya. Dimana Ia putus asa, dan tertekan oleh keadaan sekitar. “Saya rasa semua orang pernah ngalamin hal terburuk dalam hidupnya. Makanya, saya minggat kesini (Bandung).” Tuturnya.

 

Pelariannya ke Bandung, membuahkan hasil. Dalam ‘pelariannya’, Bang Arif tentu berkenalan dengan siapa saja sebagai orang rantau. “Saya cuma punya modal nekat, dan ingin memperbaiki hidup. Membuat hidup saya berguna, setidaknya untuk saya sendiri.” Ujarnya.

 

Dalam kesempatan berkenalan dengan siapa saja itu, maka lahirlah ide untuk memulai usaha yang diidamkannya. Menjadikan Ia lebih baik, dan lebih positif. Tidak terlepas pula dukungan dari kedua orangtua serta adik-adiknya. “Setiap saya sujud, seperti ada flashback. Selalu ingat apa yang saya perbuat kepada mereka (orangtua) dahulu. Yang makin sedih, saya masih dirangkul, hingga dibantu berusaha.” Imbuhnya.

 

“Saya ini orang yang mudah mendapatkan sesuatu, apa saja yang saya mau. Contoh dulu ketika saya kacau, apapun bisa saya dapat dengan mudah, apapun itu. Contoh sekarang, ketika memulai usaha ini, saya dirikan dengan mudah. Berkat adanya dukungan dari siapapun. Bayangkan, dua bulan ini (kedai kopi) jadi. Tetapi sesuatu yang mudah itu sangat sulit untuk merawatnya. Katakanlah ini awal kesuksesan saya, tinggal bagaimana saya merawat kesuksesan ini.” Tambahnya.

(SF/dtn)

 

Baca juga :

http://destinasianews.com/index.php/kuliner-wisata-kuliner/2159-kuy-ngopi-di-palguna-coffee

Paste a VALID AdSense code in Ads Elite Plugin options before activating it.


emgz2

Artikel lain...

Kwarnas Gerakan Pramuka Bantu Korban Longsor Cimanggung

Kwarnas Gerakan Pramuka Bantu Korban Longsor Cimanggung

DestinasiaNews - SUMEDANG - Kwartir Nasional Gerakan Pramuka menyerahkan bantuan kepada korban bencana longsor di Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat....

From Scout to Society, Giat Pramuka di Masa Pandemi

From Scout to Society, Giat Pramuka di Masa Pandemi

DestinasiaNews - Pramuka yang kerap berkegiatan di luar ruang dewasa ini juga tak luput dari pengaruh situasi pandemi virus covid...

Arogan, Kepala Laboratorium Covid FK UGJ Dipolisikan

Arogan, Kepala Laboratorium Covid FK UGJ Dipolisikan

DestinasiaNews - Oknum dosen yang juga Kepala Laboratorium Covid-19 Fakultas Kedokteran (FK) UGJ Cirebon dilaporkan ke pihak kepolisian. Hal itu terjadi...

“Ténjo,” Urban Farming di Ponpes Al I'anah Rancaherang

“Ténjo,” Urban Farming di Ponpes Al I'anah Rancaherang

DestinasiaNews - Belakangan ini para pelaku tani di Indonesia seperti  kehilangan naluri bercocok tanam karena berbagai alas an, terutama  kurangnya...

Curug Tenjong, Air Terjun Perawan yang Belum Terjamah

Curug Tenjong, Air Terjun Perawan yang Belum Terjamah

DestinasiaNews – “Sorosooott…. Gurawil!” Seperti yang dikisahkan reporter Indriyo Morgen berikut ini. Belum pernah sedeg-degan itu terperosok dari jalan setapak kecil...

Pengunjung

06486020
Hari ini
Kemarin
331
4342