Kampung Panenjoan, Cidikit Kec. Bayah, Lebak – Banten #1 Katempuhan Buntut Amdal

 

cidikit 1panenjoan11Destinasianews – Tersebab mengantar sebuah program sosial dari LSM CADAS (Ciri Aspirasi Dari Abdi Sanagara) dari kota Bandung, yang berkolaborasi dengan PT LHMM (Lebak Harapan Makmur Minning). Tugasnya, menyalurkan ribuan paket sembako di Kecamatan Bayah Kabupaten Lebak, Banten (10 – 13/7/2015). Sebelumnya, dua lembaga ini telah melakukan hal yang sama di Bandung dan Jabar.

Alih-alih awalnya menjadikan Kampung Panenjoan di Desa Cidikit Kecamatan Bayah sebagai salah satu pusat komando penyalurannya - di Kantor Kepala Desa. Alhasil, mengungkap fakta menarik lain. Tepatnya di Panenjoan, warganya sedang mengalami transformasi sosial-ekonomi yang dinamis!

Kampung mungil yang begitu terpencil, namun kepadatan penghuninya tak jauh beda dengan di pemukiman padat kota besar. Rahasianya, ternyata kepemilikan tanah hunian total hunian 1,5 ha, bersifat “komunal” - milik bersama. “Sakarep Isun-lah mau tinggal disini, tak betah silakan keluar”, seru salah satu penghuninya kepada kami dihadapan puluhan penghuni lainnya. Layaknya pula, seperti fenomena Baduy Dalam dan Baduy Luar. Bedanya, disini dalam konteks modernitas!

Pada 2015, Panenjoan dihuni sekitar 600-an jiwa. Kegairahan hidupnya luar biasa. Kampung yang beroleh listrik sejak 1998, akhirnya kala 2013 Desa Cidikit terbebas dari predikat desa IDT (Inpres Desa Tertinggal), otomatis Panenjoan tak tertinggal lagi.

Menariknya, telah lama pula Panenjoan Kondang di Lebak - Banten sebagai kampung “subur sarjana”. “Sedari awal kami memang amat peduli pada pentingnya pendidikan.”, kata warga disini yang bangga karena ada 64 lulusan S-1 dari kampung ini. “Tentu Cidikit pun terangkat namanya. Ini menggembirakan, memacu semangat belajar generasi muda disini”, terang Kepala Desa Cidikit, Mokhamad Alib.

Olahan Semen di Darmasari 

panenjoan12

Konsekuensinya, manakala program paket bantuan sembako untuk kaum layak bantu di Desa Cidikit, khusus di Panenjoan nyaris tak ada yang menerimanya. “Kami tak pernah beli beras. Semua ditanam sendiri. Berlebih hasilnya, tuh disimpan di leuit (lumbung padi)”, kata Mandira (56) warga setempat, sambil menunjuk deretan leuit yang beratapkan seng. Sepintas dari kejauhan, pemandangan ini bak kumpulan miniatur rumah gadang di Sumatera Barat.

Pesan moralnya, warga Panenjoan tahu diri, sama sekali tak bermaksud menerima bantuan sembako ini. Malah, bersama relawan LSM CADAS bersuka cita menjadi relawan. “Ridho pisan ikut kegiatan ini. Mulya betul tuh PT LHMM mau berbagi dengan sesamanya”, papar Wawan (16), yang tanpa pamrih menyukseskan program ini.

Fenomena unik lainnya, di Panenjoan yang sedang mengarah ke establishing village (desa mapan?), apabila melirik ke Desa Darmasari masih di Kecamatan Bayah tetangganya, terjadi yang sebaliknya. Boleh dikata, frasa “katempuhan buntut maung” (ketiban tanggung jawab padahal tak beprakarsa sama sekali – Bhs. Sunda) cocoklah dikenakan bagi warga Bayah dan Lebak secara keseluruhan.    

Yang berpredikat “Katempuhan buntut maung” itu, penggarapannya sangatBelt Converyor Semen Merah Putih DSC09139 intensif sejak tahun 2013-an di Desa Darmasari. Disini dibangun pabrik semen kelas raksasa. Peletak batu pertamanya Hatta Rajasa, 2013 (10/9) kala itu Ia sebagai Menko bidang Perekonomian era Presiden SBY. Credo pembangunannya yang digaungkan PT Cemindo Gemilang selaku pemiliknya – sebagai dukungan penuh perwujudan MP3EI (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia).

Anehnya, tatkala Presiden Jokowi berkuasa sejak 2014, gaung program MP3EI ini tak kunjung mengempis, ditengah aneka unjuk rasa dari para penentangnya - penduduk lokal pecinta lingkungan hidup. Gencarnya, unjuk rasa akhir-akhir ini, hasilnya hasilnya dipertanyakan.

“Semoga AMDAL-nya yang diduga bodong, bisa dibuktikan secara telak. Siapa bisa dan berani ?!”, seru Atep dan Pipin serta beberapa pegiat pro lingkungan lain yang kami temui di Bayah. Sepengetahuan mereka pemilik pabrik Semen Merah Putih ini amatlah sakti. Siapa Dia, dan siapa di belakangnya?

Ironinya, sementara warga Panenjoan di Desa Cidikit relatif sukses meningkatkan taraf hidupnya – berbasis pemberdayaan alam sekitar tanpa perlu merusak lingkungan. Sebaliknya. “Bukan anti pembangunan. Kalau merekayasa lingkungan besar-besaran, pikirkan juga dampaknya”, jelas Maman (45), salah seorang guru SMP di Bayah Timur yang prihatin kondisi di lingkungannya dewasa ini. (HS/DT/dtn) 

Baca juga :Kampung Panenjoan Desa Cidikit Kec. Bayah, Lebak – Banten #2 Helipad, Jemuran Cengkeh dan Magic


emgz2

Artikel lain...

Asprumnas Transpormasi Menjadi Perwiranusa, Tetap Konsisten Dukung Sejuta Rumah Untuk Indonesia

Asprumnas Transpormasi Menjadi Perwiranusa, Tetap Konsisten Dukung Sejuta Rumah Untuk Indonesia

destinasiaNews - Asosiasi Pengembang dan Pemasar Rumah Nasional (ASPRUMNAS) sebagai wadah profesi para pengembang Rumah Rakyat di Indonesia tetap konsisten...

Jurnalis Citarum Harum – Dorong Percepatan Sungai Citarum Bersih Abadi

Jurnalis Citarum Harum – Dorong Percepatan Sungai Citarum Bersih Abadi

destinasiaNews -  “Saya hanya mau sungai Citarum hari ini dan seterusnya bersih abadi. Tak sudi program Citarum Harum gagal seperti...

Maman Cawabup KBB nomor 1 Bersama Indonesia Timur Bersatu

Maman Cawabup KBB nomor 1 Bersama Indonesia Timur Bersatu

destinasiaNews - Kabupaten Bandung Barat (KBB) pada 2018 ini, dihuni sekitar 1,6 juta jiwa. Faktanya, kini di KBB  dihuni oleh...

PJB & Gerakan Hejo – Sinergi, Tebar Cinta Lingkungan

PJB & Gerakan Hejo – Sinergi, Tebar Cinta Lingkungan

destinasiaNews – Sehari itu (16/2/2018) kegiatan Eka Santosa, Ketua Umum DPP Gerakan Hejo sejak pagi hingga malam seakan tiada jeda....

Maman Menjadi Bapak Asuh Penyanyi Jalanan

Maman Menjadi Bapak Asuh Penyanyi Jalanan

  destinasiaNews - Musisi dan penyanyi Jalanan yang tergabung dalam Kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ), yang biasa mangkal di simpang atau...

Pengunjung

01839121
Hari ini
Kemarin
912
1361