Kampung Panenjoan Desa Cidikit Kec. Bayah, Lebak – Banten #2 Helipad, Jemuran Cengkeh dan Magic

Cidikit warga

Destinasianews - Kembali ke Kampung Panenjoan yang menjadi home base pembagian sembako itu untuk Desa Cidikit dan sekitarnya di Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak – Banten, setengah atau 10 km dari jarak ini, kondisi jalannya terbilang buruk – sempit, berkelok-kelok tajam pula. Wanti-wantinya sang pengemudi harus mahir bermanuver-ria di kelas off road! Selain itu, janganlah berharap bisa tiba di Kampung Panenjoan yang fenomenal dengan selamat.

“Ongkos ojeg dari Bayah sekitar Rp. 25 ribu. Malam hari beda lagi, bisa Rp. 50 ribu lebih”, ujar Umar (27), warga lokal sambil mengingatkan buruknya kondisi jalan ke Panenjoan. “Dari dulu harus ajrug-ajrugan. Siapkan saja genggaman erat ke Mang ojeng. Don’t worry-lah, yang tewas jarang koq, paling lecet-lecet”, susulnya dengan rona wajah tak bermaksud menakut-nakuti pengunjung baru seperti kami. Lalu maksudnya, apah atuh Umar? Ih.. bikin tatutajah?!

Kampung Wow …

panenjoan21Temuan lain yang mencolok di Kampung Panenjoan Desa Cidikit, ini dia. Pemukimannya terkonsentrasi di lahan seluas 1,5 ha. Letaknya, di tengah kerimbunan hutan dan daerah pertanian. Disini berdiri 106 rumah yang 80%-nya bergaya “modern”- konstruksi beton permanen. Mau tahu fasilitas standar di dalam rumah, disini?

Layaknya di kota besar! Total 106 rumah ini, wow posisinya berdesak-desakkan. Tentu, penghuninya masih bersaudara. Sehari-hari mereka tampak akrab – guyub, tak seperti di kota besar yang semakin individualis. Suasana “rukun nan damai” dambaan orang kota, ada disini!

Berniat merasakan “nikmatnya hidup guyub” ala pedesaan, hadirlah di Panenjoan. Berbicara soal hospitality warga Panenjoan yang hutan di sekelilingnya masih asri, jangan tanya soal keramah-tamahannya. Manakala kita berjalan-jalan melewati rumahnya di pagi hari yang kaum wanitanya sangat rajin mengosok kaca di jendela atau pintu rumahnya,”Mampir dulu atuh kesini”, katanya tulus kepada sesiapa pendatang yang terbengong-bengong betapa modern-nya fasilitas rumah di kampung ini. Belum diinvestigasi memang, adakah di beberapa kamar mandinya disini yang sudah punya bath tube plus hot water? Boleh diselidiki tuh …?!

World Bank & IMF

Soal perabotan rumah tangga itu, mesin cuci elektrik, kulkas, kompor gas, antenna parabola TV dan stereo set, rata-rata berasal dari merek ternama. Katanya, itu kelengkapan wajib disini. Kondisi ini tumbuh sejak listrik masuk ke Desa Cidikit tahun 1998. Jangan tanya soal bangunan mesjidnya, berada di tengah kampung. Konstruksinya dan model bangunannya, cukup aduhai.

Seiring status Desa Cidikit yang sejak 2013 tak berpredikat desa IDT (tertinggal) lagi. Dalam benak, sempat terbersit: Jangan-jangan sebentar lagi bisa masuk pada kategori desa mapan alias establish village. Predikat ini dahulu biasa ditempelkan oleh Wold Bank atau International Monetary Fund (IMF). Asal tahu saja, model pembangunan kita kala jaman Orde Baru, sempat dikendalikan Bule dari Negeri US (Uwak Sam!). Sekedar mengingatkan dulu ada para birokrat kita yang tergabung pada “Mafia Berkeley”, masih ingatkah?

Kembali ke komoditas hasil bumi warga Kampung Panenjoan mulai dari padi, cengkeh, manggis, petai, jengkol, durian, serta aneka kayu dari hutan produktif mereka yang cukup luas. Keberadannya, silih berganti sepanjang tahun menghidupinya. “Disini kalau musim cengkeh, keharumannya bisa merebak sepanjang waktu. Apalagi musim durian. Pas musim petai atau jengkol, ya begitulah…”, tutur Bu Entin (34), warga Panenjoan sembari memedar berkilo-kilo jemuran cengkeh di salah satu sudut gang. Titip pesan Bu Entin - Kalau musim petai atau jengkol jangan sms atau bbm kami ya? Kalau musim durian, bolehlah … dikontak-kontak

Hebatnya lagi, fasilitas sekolah di Kampung Panenjoan mulai dari TK hingga SD, SMP, dan Madrasah serta Aliyah sudah lama ada. Warga setempat yang berprofesi sebagai guru PNS, katanya ada 50 orang, diluar itu hanya ada 2 PNS non guru, masing-masing Sekertaris Camat dan Sekertaris Desa. Total, mayoritas sisanya sekitar 90% lebih berprofesi sebagai petani “mandiri”.

Petani tangguh ini mengolah hasil bumi sepanjang tahun sesuai musim. “Kami tak tahu harga beras, berapa sekarang ya? Kami, tidak pernah membeli beras”, itu jawaban warga setempat manakala memperbincagkan soal beras.

Soal beras yang sejak dulu mereka hasilkan, yang belum dikonsumsi, gabahnya disimpan di leuit alias lumbung atawa “traditional rice box”. Lagi, soal lumbung mereka kini sudah beratapkan seng. Pola yang sama di daerah kasepuhan disekitarnya yang masih taat melakoni nilai adat istiadat, biasanya beratapkan ijuk.

Oh, ya kalau soal “magic jar” di dapur warga disini sudah menjadi hal lumrah sejak lama. Rata-rata di dapur mereka rice cooker ini berukuran besar. Minimal ada dua buah per dapur. Yang bagusnya, rice cooker ini masih berdampingan dengan hawu (perapian), dulang (pengolah nasi matang), dan sebagainya. Itulah, contoh seuprit masa transisi sosial-ekonomi termasuk budaya di Panenjoan.

‘Helipad” Buyut Sakman  

panenjoan22Menurut Jupriadi, Kasi Ekbang dan Kesra Desa Cidikit:”Puluhan puluhan sarjana lulusan S-1 disini, rata-rata berlatar-belakang sarjana pendidikan dan agama. Semoga saja ke depan, ada ada sarjana pertanian, dan sarjana teknik”.

Masih menurut Jupriadi yang katanya keturunan ke 6 atau 7 dari tokoh setempat Buyut Sakman yang makamnya ada di Cidikit Hilir, ”Mengingat ini tanah keturunan (komunal- red). Makanya, rumah disini tak bisa diperjual-belikan atau disewa-kontrakkan. Siapa pun keturunannya, boleh tinggal”.

Nah, soal ‘helipad’ jemuran cengkeh yang khusus di Panenjoan dibangun di atas rumah yang rata-rata sudah berkonstruksi permanen, niscaya bagi pendatang anyar bisa bikin – terbengong-bengong. Pikiran liar bisa memfungsikan lain – Siapa tahu Anda bisa hadir ke Panenjoan yang jalannya masih amburadul itu, straight by helicopter ?! Langsung menclok dengan helicopter, tanpa ajrug-ajrugan di jalan, bisakah?

Kontruksi ‘helipad’ jemuran cengkeh yang terbuat dari bambu, sepenuhnya dipasang menutupi atap atau suhunan rumah. Bila merunut pada imajinasi jurnalistik malaweung (melantur), sedikitnya ada 5 helicopter saja yang mendarat disini. Apa gerangan terjadi?

Who knows, meureunnya, Guinness world of Record bisa dipecahkan, disini dengan gegap gempita!. Maaf, rekor MURI dari Jaya Suprana, mungkin terlewatkan?! Belum pernah ada helicopter mendarat di jemuran cengkeh di atas atap rumah,kan?

Perihal imajinasi malaweung ini, sekalian mohon maaf disini oleh kami kepada Buyut Sakman. Masalahnya, Panenjoan yang masih mengalami masa transisi dari kampung kasepuhan (indigenous) ke kampung modern, menurut gossip masih kental dengan unsur ‘magic-nya’.

“Ah, boleh-boleh saja, tak mengapa. Namanya -m a l a w e u n g- ya. Kalau mau pakai helikopter kesini, kapan atuh? Tapi datangnya, jangan pas musim petai atau jengkol ya?”, tutup Jupriadi seakan kompak beware-nya dengan Bu Entin kerabatnya.  

Alhasil, warga Kampung Panenjoan secara sosial-ekonomi, kini hidupnya relatif sejahtera. Kuncinya, mereka mampu mengolah hasil bumi dengan baik. Bedanya, dengan pabrik semen kelas “super gigantic” di desa tetangganya Darmasari dan Pamubulan masih di Kecamatan Bayah, sejak dibangun 2013 lalu kerap diprotes warga sekitar.

Pabrik semen ini, katanya akan menggerus hasil tambang warisan milik para sepuh warga setempat untuk satu abad ke depan.”Satu saja yang kami pertanyakan AMDAL-nya dari pabrik ini, dilakukan benar atau tidak? Mana transparansinya? Kami tak anti pembangunan …”, tutur Dodi Sukmana (34), warga Bayah Timur yang kesal dengan tingginya kerusakan lingkungan di Bayah akhir-akhir ini. Nah, lho?! Makanya, datanglah ke Panenjoan – pakai helikopter juga bisa koq?! (HS/DT/dtn).

Baca juga : Kampung Panenjoan, Cidikit Kec. Bayah, Lebak – Banten #1 Katempuhan Buntut Amdal


emgz2

Artikel lain...

Aktivis HAM Bandung di Taman Cikapayang, Pasang Aksi – “Dari Gulita Terbitlah Pelita …”

Aktivis HAM Bandung di Taman Cikapayang, Pasang Aksi – “Dari Gulita Terbitlah Pelita …”

destinasiaNews – Ibaratnya, jalan terang itu masih sebatas angan-angan. Padahal, reformasi di negeri ini telah muncul sejak 1998. Sempat kala...

Eka Santosa Beri Materi Kebangsaan ke Generasi Muda – Berguru, ke Rambo & Super Hero?!

Eka Santosa Beri Materi Kebangsaan ke Generasi Muda – Berguru, ke Rambo & Super Hero?!

destinasiaNews – Suasana Kawasan Ekowisata dan Budaya Alam Santosa, hutan buatan seluas 4,5 ha, yang kini melebat kembali sejak ditanami...

Kasus Pembebasan Lahan PLPR Palabuhanratu di PTUN Bandung, Hadirkan Saksi dari Tergugat

Kasus Pembebasan Lahan PLPR Palabuhanratu di PTUN Bandung, Hadirkan Saksi dari Tergugat

  destinasiaNews -  Lanjutan sidang “pembebasan lahan” PLPR Palabuhanratu Kabupaten Sukabumi di PTUN Bandung Jl. Diponegoro Bandung, nama resmi perkara...

Rahasia Kulit Cerah Bercahaya Dengan Wardah White Secret Pure Treatment Essence

Rahasia Kulit Cerah Bercahaya Dengan Wardah White Secret Pure Treatment Essence

DestinasiaNews – Hi Destiners, ada rahasia baru dari Wardah untuk kulitmu! Kali ini, Wardah meluncurkan inovasi terbarunya yaitu Wardah White...

Bandung Photo Studio Digital & Lab - Ifan Chandra "Sekali Berarti"

Bandung  Photo Studio Digital & Lab - Ifan Chandra "Sekali Berarti"

destinasiaNews - Wow, urusan foto diri yang keren berharga terjangkau, di Bandung rasanya hanya satu. Ini dia  bidang usahanya, namanya...

Pengunjung

01610533
Hari ini
Kemarin
277
1494