Direktur Dan 136 karyawan PT Trigunawan Korve Bersama Satgas Citarum Sektor 21 - 13

IMG 20181023 WA0059
destinasiaNews - Giat Korve yang dilakukan Direktur, Andrew beserta jajaran staf karyawan PT Trigunawan yang berjumlah kurang lebih 136 orang turun ke dua aliran sungai sekitar pabrik, yakni Sungai Cimahi dan Sungai Cibaligo, Selasa (23/10/2018), dalam rangka menjalani sanksi sosial akibat diketahui telah membuang limbah dalam kondisi kotor dan saluran  pembuangan limbahnya dilokalisir oleh Satgas Citarum Sektor 21 Subsektor 21-13 pada tanggal 15 Oktober 2018 lalu.
 
Danramil 0922/Cimahi selaku Dansubsektor 21-13 Mayor Inf Mamin Masturi pada saat memimpin apel sebelum kegiatan, menjelaskan tentang program Citarum Harum dan dampak dari membuang sampah dan limbah industri bagi masyarakat. 
 
"Akibat dari sampah dan limbah yang dibuang sembarangan ke aliran sungai adalah gangguan kesehatan dan ekosistem di DAS Citarum," kata Mayor Mamin.
 
"Ini tanggung jawab kita semua," tegasnya, seusai apel, para karyawan, staf manajemen dan direktur PT Trigunawan bersama dengan 20 personel Satgas Citarum Subsektor 21-13 menuju ke lokasi kerja bakti.
IMG 20181023 WA0060
Pada kesempatan wawancaranya dengan wartawan, Dansektor 21 Satgas Citarum Kolonel Inf Yusep Sudrajat yang diwakili Dansubsektor 21-13 Mayor Inf Mamin Masturi mengungkapkan Maksud dan tujuan kerja bakti ini, pertama adalah kebersihan di lingkungan PT Trigunawan, masih banyak sampah.
Kemudian yang kedua adalah sanksi sosial. Trigunawan sudah dua kali kita lakukan pengecoran, ini merupakan sanksi sosial yang mudah-mudahan dampaknya baik dari mulai unsur pimpinan kemudian ke bawahnya sehingga merasa ada kepedulian dan tergugah bahwa sampah-sampah akan berdampak pada ekosistem, juga tanggung jawab tentang pengelolaan limbah tentunya.
 
Terkait kegiatan ini, Andrew selaku Direktur PT Trigunawan mengungkapkan bahwa sanksi sosial ini menjadi pembelajaran bagi pihaknya. Berikutnya akan lebih memperhatikan lagi terkait masalah-masalah dan kendala di IPAL.[HS]
 
Add a comment

Melirik IPAL dan CSR PT. Gajah Angkasa Perkasa

20181019 091235

destinasiaNews - Semakin berkembangnya program Citarum Harum, meski masih dalam harapan, semakin banyak pula pihak yang berpartisipasi dan mendukung dengan berbagai cara, kapasitas dan juga kemampuannya. Satu di antaranya adalah PT. Gajah Angkasa Perkasa (PT. GAP) yang berlokasi di Jl. Jendral Sudirman, Kota Bandung.

Perusahaan yang memproduksi tekstil ini jauh sebelum diluncurkannya Program Citarum Harum sudah memiliki komitmen terhadap lingkungan, terutama dalam ketersediaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di pabriknya. “Kami juga memiliki progran CSR di bidang lingkungan,” kata Johanes Indra, yang menjadi representatif PT. GAP ketika dijumpai di lokasi pabriknya. “Yang sedang kami laksanakan adalah membantu masyarakat sekitar dengan membangun TPS (Tempat Penampungan Sampah Sementara). Ada di dua titik lokasi yang sedang dan akan kami bantu pembangunannya,” lanjut Indra.

Menurut Johanes Indra, program CSR (Corporate Social Responsibility) yang dilaksanakan PT. GAB ini atas interaksi pihak pabrik dan masyarakat sekitar. TPS yang sedang dibangun itu pun diperuntukkan bagi masyarakat di Kelurahan Cijerah, Kecamatan Bandung Kulon, terletak di samping Pos Linmas RW 01. Tidak hanya membangun TPS, pabrik yang punya produk unggulan sarung Bintang Gajah Legenda ini juga membuka akses kemudahan bagi truk angkutan sampah yang melewati kompleks pabriknya menuju TPS tersebut.

20181019 094132

“Masyarakat di lokasi ini memang punya hambatan tersendiri,” kata Komandan Sektor 22, Kolonel Inf. Asep Rahman Taufik. “Selain berada di perbatasan antara Bandung Kulon dan Cimahi Selatan akses untuk pengangkutan sampah pun tidak ada. Jalannya terlalu sempit.” sambung Kolonel Asep, ketika berkunjung ke PT. GAB Jumat (19/10/18). Atas upaya pendekatan silaturahmi dan musyawarahnya dengan berbagai pihak, PT. GAB pun berkenan ikut serta membangun TPS dan membuka akses untuk operasionalnya, menagatsi permasalahan sampah domestik rumah tangga warga sekitar.

New Doc 2018 10 19 16.19.36 1Dalam kesempatan itu, Kolonel Asep juga meninjau dan mengapresiasi IPAL yang dimiliki PT. GAB “Air hasil keluarannya bagus, tidak bau,” kata dia. Pria yang akrab disapa Pak Asep ini juga berharap agar pabrik-pabrik yang lain bisa meneladani PT. GAB. “Baik dalam soal IPAL maupun permasalahan sampah di lingkungan sekitar dengan memanfaatka program CSR,” pungkasnya. *** (Dtn/ar).-

Add a comment

Satgas Citarum Subsektor 21-7 Cari Sumber Limbah Hitam Sungai Cisangkuy

IMG 20181019 111207
destinasiaNew - Para petugas Sektor 21 Satgas Citarum Subsektor 21-7 terus memburu dan menelusuri sumber polusi air yang menghitamkan Sungai Cisangkuy yang merupakan anak Sungai Citarum yang membentang mulai dari Pangalengan, Kabupaten Bandung pada hari, Kamis (18/10/2018).
 
Kegiatan ini diikuti oleh beberapa awak media dipimpin Serka Rohdiana, untuk menelusuri sumber-sumber yang diduga sebagai pencemar Sungai Cisangkuy, “Karena kalau dari Cipaku, Tarajusari ini hitam, pasti ke Cisangkuy juga hitam. Tolak ukur kita dari Jembatan Waas,” ujar Serka Rohdiana .
 
Aliran Sungai Cisangkuy maupun Sungai Citarum kerap terlihat hitam yang diduga kuat berasal dari zat kimia yang berasal dari pabrik di sekitar sungai tersebut.
 
Terkait dengan kondisi tersebut Untuk , Dansektor 21 Satgas Citarum Kolonel Inf Yusep Sudrajat memerintahkan prajuritnya menyelidiki penyebab sumber polusi air tersebut di Sungai Cisangkuy. Sementara sejak beberapa waktu lalu Dansektor 21 beberapa kali sidak ke pabrik-pabrik yang berpotensi membuang limbahnya ke cucu dan anak Sungai Citarum tersebut, baik yang melewati Sungai Cibabakan maupun Sungai Citalugtug.
 
Salahsatu yang kedapatan membuang limbah berwarna hitam pekat tersebut  adalah PT Adetex hingga pembuangan limbahnya dilokalisir oleh jajaran Satgas Citarum Sektor 21.
 
Penelusuran mulai dari Cipaku, Desa Tarajusari, Kecamatan Banjaran. Air sungai disitu (Citalugtug) dilihat dari jembatan Cipaku tampak normal. Salahseorang tokoh masyarakat setempat, Bambang Arifin (54), yang merupakan warga asli desa tersebut mengungkapkan bahwa  sungai itu diwaktu tertentu berwarna hitam. Terlebih jika yang disebutnya leuwi itu airnya mengalir cukup deras yang menimbulkan seperti pusaran di tikungan sungai. “Tempat-tempat yang dicurigai sebagai lokasi lubang siluman limbah beberapa kali sudah dilakukan pemeriksaan dan dibongkar oleh Satgas yang bersinergi dengan warga,” jelas Bambang.
 
Bambang juga mengungkapkan bahwa dulunya sungai ini menjadi tumpuan warga untuk menambah ekonomi keluarga terutama dengan menambang pasir. ” Namun usaha-usaha dari warga itu mulai berkurang bahkan terhenti sejak beroperasionalnya pabrik disekitar pemukimannya,” kata Bambang.
 
Menurut Bambang masyarakat melihat kadang ada warna merah dan warna lainnya dan mengungkapkan rasa terimakasihnya pada bapak-bapak TNI yang hadir membantu sungai masyarakat. “Kami mendukung sekali. Bukannya kami tidak percaya instansi yang lain, hanya saja laporan yang telah kami sampaikan selama ini tidak ada tindaklanjutnya,” ucapnya.
 
“Kami membantu TNI membongkar titik-titik yang dicurigai sebagai lubang siluman limbah. Sebagai putra daerah, saya tau persis lubang itu tidak ada, tetapi mudah-mudahan saya benar. Yang menghitamkan Sungai Cisangkuy itu berasal dari tumpukan zat kimia di dasar sungai. Hitam itu karena endapan atau reaksi kimia yang tercampur di air, bukan siluman,” urai Bambang Arifin mengungkapkan pendapatnya.
 
“Yang jelas kita siap membantu aparat yang serius menangani persoalan ini,” tegas Bambang.
 
Sementara Dansubsektor 21-7 Serka Rohdiana menjelaskan, pihaknya tidak akan berhenti mencari sumber-sumber pencemaran sungai.
 
Seusai memantau kondisi air sungai di jembatan Cipaku, dilanjutkan dengan memeriksa aliran sungai di Jembatan Waas. Tampak air sungai disini sekitar pukul 15.00 mulai berwarna hitam. Lalu tim mulai kembali menyusuri sungai mulai dari TPU Sirnaraga Cipaku hingga Jembatan Waas. Dari hasil penelusuran, selain dari endapan, aliran air warna gelap ini diduga muncul dari rembesan dalam tanah tepi sungai.
 
Kondisi air sungai yang hitam juga terlihat di Sungai Citarum. Tepatnya saat diambil gambar dari Jembatan Cikarees sekitar pukul 16.00 WIB. Hitamnya air tampak mengalir dari arah hulu.[sa]
Add a comment

IKA SPGN 1 Bandung Bantu Sosialisasikan Mitigasi Bencana ke Sekolah-sekolah

bencana9

DestinasiaNews - Sosialisasi Mitigasi Bencana sejak dini dipandang sangat perlu dilakukan di lingkungan sekolah, terutama Sekolah Dasar. Apa lagi akhir-akhir ini kita dihadapkan kepada berbagai informasi bencana alam di beberapa daerah di Indonesia.

Hal tersebut diungkapkan Evi Syaevini Shaleha sebagai Pelaksana Harian (Plh.) Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bandung. “Penyampaian pengetahuan tentang mitigasi bencana pelaksanaannya bisa memanfaatkan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah,” sambung Evi ketika meresmikan Workshop Mitigasi Bencana Gempa Bumi Bagi Pembina Esktrakulikuler Sekolah Dasar (SD) di Ballroom Hotel Oasis Jalan Lombok, Rabu (17/10/2018).

Workshop ini terselenggara atas kolaborasi Ikatan Keluarga Alumni Sekolah Pendidikan Guru Negeri 1 Bandung (IKA SPGN 1 Bandung) dengan Dinas Pendidikan Kota Bandung.

Dalam workshop yang dihadiri sedikitnya 200 Guru kelas VI dan Guru Pembina Kegiatan Ekstra di Kota Bandung. Kurikuler tersebut hadir nara sumber Benyamin Sapi’ie, PHD dari Program Studi Geologi Institut Teknologi Bandung (ITB) dan T. Bachtiar dari Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB) dan juga pegiat Geotrek. Pada intinya, kita harus mengantisipasi bencana, misalkan gempa bumi yang pada kenyataannya memang tidak bisa diprediksi akurat.

bencana12

“Kita harus bisa melakukan tindakan penyelamatan yang tepat apabila terjadi gempa bumi ketika kita sedang berada di rumah, di sekolah atau di tempat lainnya,” kata T. Bachtiar. Apa lagi Kota Bandung sendiri dihadapkan pada kemungkinan bencana gempa bumi atas keberadaan Patahan Lembang sepanjang lebih dari 20 kilometer, yang sewaktu-waktu bisa terjadi dan menimbulkan bencana gempa bumi dengan Magnitude yang tidak kecil.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung, Dr. H. Elih Sudiapermana, M. Pd, dalam sambutannya mengatakan, “Penyelenggaraan Acara Workshop Mitigasi Bencana Alam ini merupakan moment yang sangat tepat, mengingat beberapa kejadian bencana alam yang terjadi di beberapa wilayah, seperti di Lombok dan Palu.” Di samping itu, letak geografis Kota Bandung dikelilingi oleh patahan atau cekungan Bandung dengan risiko terjadinya gempa besar. “Maka tepat kiranya untuk mengantisipasi hal tersebut kita semua telah siap, dengan diadakannya Workshop dan Simulasi Mitigasi Bencana di sekolah-sekolah maupun lingkungan masyarakat sekitar Bandung dan Lembang.”

 

Dalam kesempatan itu Evi juga menjelaskan, workshop ini ini terselenggara sebagai implementasi atas Ikrar IKA SPGN 1 Bandung untuk tetap mengabdi, meskipun sekolahnya itu sendiri sudah ditiadakan. Evi Syaevini Shaleha dan T. Bachtiar juga para alumni SPGN 1 Bandung lulusan tahun 1976. Bersama para alumni lainya mulai angkatan 1960an sampai angkatan terakhir sekolah tersebut tahun 1991 tetap mengbadi di berbagai bidang yang utamanya di bidang pendidikan. “Kita kan selalu dianjurkan untuk belajar seumur hidup dan mengabdi sapanjang hayat,” pungkas Evi.

Ketua IKA SPGN 1 Bandung, Taufik Saefulloh, yang juga hadir mendampingi acara ini menyampaikan, kegiatan ini juga sesuai dengan slogan yang diusung organisasi ini yaitu “Bersinergi Untuk Negeri.” *** (dtn/ar. fata: humas bandung).-

Add a comment

Wow, Rektor Unpad & Produsen Aquatec Petik Hasil Maksimal Panen Budidaya Kerapu di Pangandaran

panen1destinasiaNews - Boleh dibilang kegiatan produktif ini nyaris tak banyak orang tahu, padahal ini merupakan 'giant step for Indonesian's development'. Hari Senin (15/10/2018), Rektor Unpad Prof. Dr. Med. Tri Hanggono Achmad, dr didampingi Dekan FPIK (Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan) Unpad Dr. sc.agr. Yudi Nurul Ihsan, dan pihak PT Gani Arta Dwitunggal, Andi J Sunadim sebagai produsen KJA (Keramba Jaring Apung) merek Aquatec, memanen ikan pada pilot project budidaya ikan kerapu di Pantai Pangandaran Timur, Jawa Barat.

Penjelasan Yudi Nurul Ihsan yang mantan anggota TOS (Tim Optimasi & Sinkronisasi) Gubernur Jabar Ridwan Kamil, pada Senin itu dipanen 5 kuintal ikan kerapu. Ini dihasilkan dari sekitar sisa panen 1.500 benih penebaran pertama kali, dimana yang bertahan sekitar 900 ekor (60%) dengan panen di 600 gram/ekornya.

panen2"Salah satu riset yg dikembangkan, penggunaan enzime papaya. Ini untuk mempecepat pertumbuhannya. Hasilnya hari ini kita buktikan, ternyata bagus," kata Yudi yang didampingi rekan seniornya sesama mantan anggota TOS "Husen Lauk" alias Ir. Mohamad Husen. "Husen Lauk" pun hadir hari itu dalam kapasitasnya sebagai pengurus MAI (Masyarakat Aquakultur Indonesia) Jawa Barat.

Dalam sambutanya, Rektor Unpad mengapresiasi capaian program ini. Harapannya, lakukanlah terus kerjasama seperti ini dengan berbagai pihak.

"Ke depan Unpad dan Aquatec harus saling bersinergi. Kehadiran Unpad sebagai perguruan tinggi terbaik di Jawa Barat, harus menjadi solusi bagi permasalahan dunia perikanan. Unpad harus hadir di tengah-tengah masyarakat, membantu pemerintah membamgun sektor perikanan secara nyata."

 

Tinggi, Harga Jual

panen3Pengamatan redaksi budidaya ikan kerapu dewasa ini menjadi trend di kalangan nelayan Pantai Selatan Jabar. Di pasaran pada awal tahun 2018 harga per kilo ikan kerapu Rp. 100 ribu atau lebih. Ini katanya dihasilkan setelah 5 - 6 bulan di budidayakan. Hingga hari ini permintaannya cukup tinggi.

Manfaat praktis budidaya ikan kerapu di lapangan, di antaranya dapat membantu tingkat ekonomi nelayan, mengatasi masa paceklik, juga sebagai solusi pengganti alat tangkap yang tidak ramah lingkungan.

Menurut "Husen Lauk" dan Yudi pengembangan budidaya ikan kerapu di Pantai Selatan Jabar merupakan tahapan kecil. Sedang dikembangkan solusi lain, berupa pengembangan 10 komoditas unggulan berbasis kewilayahan, dan bisnis budidaya ikan terpadu.

Rinciannya, yang dimaksud pengembangan 10 komoditas unggulan di Jabar itu, antara lain: 1. Udang & lobster 2. Kerapu 3. Kakap 4. Kerapu 5. Baronang 6. Kepiting & rajungan 7. Rumput laut 8. Nila, Gurame, Mas 9. Patin dan jambal daging putih, dan 10. Ikan hias.

"Ini baru langkah kecil dari Pantai Selatan Jabar, semoga bisa berkembang ke 9 komoditas budidaya ikan lainnya sesuai rencana," kata Yudi yang seusai panenan budidaya ikan kerapu ini, bersama rombongan akan meninjau salah satu pusat pengembangan budidaya ikan kancra di Tasikmalaya.

Diperoleh info, ikan kancra yang nyaris hilang di Tatar Pasundan, setelah melalui kajian mendalam akan dijadikan produk unggulan perikanan baru di Jabar. Rupanya, kelak akan menyusul wow baru dari budidaya ikan kancra di Jabar....(HS/MG/SF/dtn)

Add a comment


emgz2

Artikel lain...

Meriahnya Perayaan Hari Ibu di Lapas Perempuan Bandung, Potong Rambut & Tata Rias Gratis dari Para Profesional

Meriahnya Perayaan Hari Ibu di Lapas Perempuan Bandung, Potong Rambut & Tata Rias Gratis dari Para Profesional

DestinasiaNews – Perayaan Hari Ibu yang jatuh setiap 10 Desember. Khusus pada tahun 2018, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas II...

Bertemu Koruptor di Pusaran ‘Kanker Stadium 4” – (Parodi, Huahaha ...)

Bertemu Koruptor di Pusaran ‘Kanker Stadium 4” – (Parodi, Huahaha ...)

OPINI Oleh : Harri Safiari destinasiaNews – Absurditas pribadi, sejahat-jahatnya seorang koruptor layaklah ditemui apalagi selama ia masih dipenjara. Ini pegangan...

Rupa-rupa ‘Nyaleg’ di Pileg 2019, Rupanya Huahahaha

Rupa-rupa ‘Nyaleg’ di Pileg 2019, Rupanya Huahahaha

OPINI Oleh: Harri Safiari destinasiaNews – Lolos menjadi calon legislatif atawa caleg, alias ‘nyaleg’ untuk Pemilu 2019, bolehlah disebut sebagai...

Rayakan Malam Pergantian Tahun Ala The Greatest Showman di The Papandayan

Rayakan Malam Pergantian Tahun Ala The Greatest Showman di The Papandayan

 destinasiaNews - Menyambut pergantian tahun baru 2019, The Papandayan menghadirkan pesta malam pergantian tahun bertajuk The Greatest Showman inspired Circus...

Eka Santosa, Tempatkan JIM 2018 Pangandaran, Paduan Pengembangan Olahraga Prestasi dan Destinasi Wisata

Eka Santosa, Tempatkan JIM 2018 Pangandaran, Paduan Pengembangan Olahraga Prestasi dan Destinasi Wisata

Varian multi facet sosok tokoh Jabar Eka Santosa (59), mantan Ketua KONI Jabar (2002 – 2006) yang juga Ketua Forum...

Pengunjung

02867521
Hari ini
Kemarin
1586
2820