Gerakan Hejo Rintis Koperasi Jasa – Berdayakan Ekonomi Rakyat

 IMG 20171223 WA0106
destinasiaNews-  Babak baru untuk mengembangkan ekonomi kerakyatan bagi ratusan ribu anggota dan simpatisan Gerakkan Hejo yang berbasis di 27 kota dan kabupaten di Jawa Barat, rupanya mulai bergulir. Sabtu, 23 Desember 2017 di Kawasan Eko Wisata dan Budaya Alam Santosa, Pasir Impun Kabupaten Bandung, digelar diskusi terbatas rintisan mendirikan koperasi. Hadir selaku  tuan rumah  di antaranya Ketua Umum Gerakan Hejo (GH), Eka Santosa; Sekjen GH, Agus Warsito; Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga GH, Yan Rizal Usman; Moh. Husen, Ketua Bidang Akuakultur GH, serta puluhan pengurus DPD GH dari Kabupaten Tasikmalaya,  Kab/Kota Garut, Kab. Cianjur, Kab. Sukabumi, Kab. Bandung,  Kota Cimahi, dan daerah lainnya.
 
Dari pihak pembina koperasi, hadir hari itu Roni Indrawan, Kepala Bidang Penyuluhan, Kemenkop & UKM; Muhamad Arifin SH. M.Kn, Notaris; Ribkah DJ mewakili Lembaga Pelatihan Kerja; Sansan Hasanudin, INKOP JOKN; dan Agung Fajar, Sekjen Asosiasi Manjer Koperasi Indonesia (AMKI). Para pembina koperasi yang khusus didatangkan dari Jakarta, hari itu menjelaskan prinsip dasar koperasi di Indonesia, serta tantangannya kini maupun mendatang.
 
“Sudah hampir dua tahun ini GH berdiri di beberapa daerah di Jabar.Tiga pilar program kerja GH dalam bidang ekologi, edukasi, dan ekonomi, simultan kita garap. Khusus untuk bidang ekonomi, kita kembangkan sarananya melalui koperasi. Bentuknya koperasi jasa. Ini, amanat undang-undang,” kata Eka yang hari itu merasa dicerahkan dengan konsep dasar perkoperasian di ‘zaman now’.
 
Sementara Roni, Sansan, serta Ribkah dalam paparannya, melihat potensi ratusan ribu anggota GH yang berkiprah di bidang lingkungan, pertanian, serta aneka ekonomi kerakyatan, melihat semua ini sebagai peluang baik. “Kekuatan koperasi itu setara dengan Perseroan Terbatas (PT) dan badan usaha lainnya yang berbadan hukum. Koperasi itu basisnya demokrasi dan gotong royong. Kegiatannya, sangat berbasis kerakyatan. Dengan catatan, dikelola secara professional,”ujar Roni yang pengakuannya selama 25 tahun membina koperasi di seluruh Indonesia –“Melihat potensi Gerakan Hejo saya kagum, sudah lama amati kiprahnya. Banyak hal yang bisa dijadikan basis kegiatan koperasi di gerakan ini. Yakin, dalam waktu dekat koperasi GH bisa berdiri dengan baik.”
 
Aplikasi Kiperasi  
 
Bagi Sansan yang bergiat sebagai konsultan koperasi dengan penerapan aplikasi berbasis android, potensi keekonomian GH:”Selain ratusan ribu anggotan dan simpatisannya, kegiatan ekonomi di pedesaan melalui pertanian dan UKM, ini potensi kuat membesarkan kooperasi zaman now di GH.”
 
Sayangnya hari itu Ketua Bidang UKM GH, Mohamad Gunawan yang akrab disapa Igun, berhalangan hdir karena kesehatannya terganggu. Secara terpisah Igun kala dikontak, menyatakan dukungan atas rencana mendirikan koperasi di GH:”Saya  sudah sering dikontak oleh anggota GH di daerah. Secara prinsip, malah mereka secara infrasturuktur pun sudah siap. Tinggal klik saja…”
 
Bagi Eka sendiri kehadiran tamunya hari itu dari Jakarta menganggapnya sebagai angin segar bagi anggota GH. “Wujud ekonomi kerakyatan yang kita tuju, kemandirian dalam hal pemenuhan kebutuhan dasar kita, bisa diraih melalui koperasi . Perihal nama, jenis maupun bentuknya, kita bahas saat ini juga.” (HS/SA/dtn)       
 
Add a comment

Selamat Jalan Prof. Dr. Dede Mariana - Bakti & Karyamu, Kami Teladani

IMG 20171223 074050
destinasiaNews -  Kabar duka kembali datang dari Universitas Padjadjaran. Jumat sore sekitar pukul 18.45 WIB (22/12/217), salah satu putra terbaiknya, Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unpad Prof. Dr. Dede Mariana, drs., M.S., meninggal dunia pada usia 54 tahun di RS. Hasan Sadikin Bandung. 
 
Almarhum Prof. Dede Mariana dikenal luas sebagai guru besar dari program studi Ilmu Pemerintahan FISIP Unpad. Ia memiliki kepakaran di bidang Politik Lokal. Kiprahnya sebagai akademisi dan budayawan Jawa Barat tidak diragukan. Almarhum juga aktif menulis di berbagai surat kabar.
 
Di kalangan para pewarta, almarhum dikenal sebagai nara sumber handal, yang relatif setiap saat mudah dihubungi. Opininya yang cukup komprehensif, mendalam dari sebuah fenomena masyarakat,  kerap dinanti oleh banyak kalangan. 
 
Terakhir, Prof. Dede Mariana dipercaya sebagai ketua tim Aliansi Strategis Unpad (ASUP) Jawa Barat. Ini merupakan salah satu program yang dilakukan Unpad, bertujuan  untuk meningkatkan pengembangan wilayah dari 27 Kota/Kabupaten se-Jawa Barat. 
 
Almarhum disemayamkan di rumah duka, Jalan Basuki No. 29, Kiara Condong, Bandung, dan direncanakan akan dimakamkan di pemakaman keluarga besok, Sabtu (23/12/2017). (HS/dtn)
Add a comment

Rochmin Dahuri di Temu Stakeholder Akuakultur Nasional MAI – Potensi dan Kenyataan di Lapangan, Jomplang

 IMG 20171219 WA0190
destinasiaNews - Prof. Dr. Rochmin Dahuri, MS, Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI), di area Industri Batujajar Kab.Bandung, bersama anggota MAI lainnya yang datang dari berbagai daerah, menggelar diskusi yang bertema ‘Evaluasi 2017 & Harapan 2018 Seputar Aktivitas MAI’ (19/7/2017).
 
Bertindak selaku moderator  dalam diskusi yang mengupas secara mendalam aneka persoalan mendasar di lingkungan akuakultur  Dr. Agung Sudaryono. Pagi harinya, diskusi ini dibuka oleh GM PT. Gani Arta Dwitunggal, Andi J Sunadim.
 
Hari itu Andi seakan memberi kesempatan para pakar mengkritisi, serta memberi masukan bagi kemajuan dunia akuakultur di Nusantara.”Sebagai negara maritim besar di dunia, sepantasnya dunia akuakultur memberi kontribusi significant bagi kesejahteraan negara. Silahkan di sini, kita berdiskusi berdasarkan kepakaran dan pengalaman selama ini. Negara, menurut saya, amat membutuhkan masukan kita.”
 
Sementara itu Rochmin Dahuri selaku key note speaker di ajang diskusini ini yang juga dihadiriProf.Dr. Ketut Sugama, Ir. Denny Indradjaja,M.Si (GPMT), Ir.Iwan Sutanto (SCI), Ir. Wajan Susja (ABILINDO), Dr. Azam B. Zaidy (CCI), Ir. Safari Azis (ARLI), Ir. Thomas Darmawan,  dan Dr. Bambang Widigdo, menyatakan dengan gamblang:”Indonesia itu memiliki segalanya dalam hal akuakultur, termasuk berpotensi sangat besar di kelautan. Sayang, hal ini belum digarap dengan baik.”
 
Dalam kesempatan lain, masih kata Rochmin yang Mantan Menteri Perikanan era Presiden Megawati, potensi kelautan kita, adalah potensi kedua terbesar selain pertanian. Hal ini pun belum terintegrasi dengan baik, malah jomplang, katanya.
 
Menyoal hal ini, Rochmin menyatakan secara terbuka:”Salah satu pemicunya, karena aturan yang dibuat oleh pemerintah tidak diterapkan secara tepat. Dalam praktiknya, masih banyak bolongnya. Ini kita sayangkan.”
 
Bias Data
 
Sementara itu Prof.Dr.Ketut Sugama, dalam paparannya, masalah pendataan, masih menjadi dosa bagi para pegawai perikanan hingga saat ini. "Data yang disebarkan ke masyarakat seringkali tidak sesuai dengan kenyataanya. Ini sangat menyulitkan dalam pembuatan keputusan yang menyangkut nasib orang banyak. Data itu bias, adanya"
 
Terungkap dalam sesi tanya jawab yang terbilang seru, Moh Husein selaku Ketua Bidang Akuakultur dari Gerakan Hejo menjelaskan, kinerja pemerintah masih sangat jauh dari harapan. “Kami sangat prihatin dengan nasib budi daya ikan. Padahal bila ditekuni dengan menyisihkan biaya yang cukup untuk riset, dan pemenuhan kebutuhan dasar bagi pelaku di lapangan, niscaya kesejahteraan kita bisa mengejar negara berkembang lainnya.”
 
Keluhan itu    
 
Lainnya, Nandang Permana, Ketua HNSI Jawa Barat mengungkapkan keluhan. Kasusnya, akibat ulah pihak lain yang ujung-ujungnya harus ditanggung nelayan."Sampah yang dibuang pengunjung obyek wisata, serta dari kegiatan industri di wilayah pantai, sering dianggap ulah para nelayan. Ini tidak benar dan tidak adil,” ujarnya dengan berapi-api, sambil menambahkan:”Lain kali, bila digelar diskusi seperti ini, unsur dari lingkungan hidup, dan dinas pariwisata harus ada. Tujuannya, agar kesalahpahaman itu sirna.”  
 
Peserta diskusi lainnya, Iman yang mengaku sebagai  pengusaha jaring apung mengungkapkan sisi lain dunia akuakultur. Sarannya, di pertemuan ini tidak hanya mengupas soal teknis, pengembangan budidaya ikan dan dunia maritim Indonesia, yang di luar jangkauannya. "Kita harus juga memikirkan kemampuan ekonomi para pelakunya."
 
Argumen Iman:”Bagaimana teknis pengembangan budidaya akan berjalan baik? Bila, pelakunya tidak punya cukup dana. Ditambah, akses untuk memperoleh dana tambahan, sangat terbatas.”
 
Menurut Iman, dirinya dan ratusan pembudi-daya ikan lainnya, bukan tidak mau memakai produk dalam negeri yang memiliki banyak keunggulan:”Kuncinya, bukalah akses untuk penambahan dana. Kami tak mau diistimewakan, berilah kesempatan yang sama. Bukan yang lain-lain …” (HS/SA/dtn)
 
Add a comment

CEO CiGMark & Consultan, Angkat Bicara: Oded Unggul, Soal Aman Tidaknya, Entahlah ..

IMG 20171220 221612
destinasiaNews - Rona pesta demokrasi dan dinamika politik menjelang pilkada Kota Bandung kian marak. Bakal calon (balon)
walikota dan wakil walikota bermunculan. Pertarungan di babak awal,mereka mematut diri - inginnya dapat tiket dari partai politik. 
 
"Posisi awal ini memperebutkan dukungan partai
politik. Mereka berebut rekomendasi, padahal masih tak menentu. Di satu pihak, partai politik tengah menakar kandidat yang layak usung. Tentu, sambil mengatur strategi membangun koalisi," kata Panca Pratama, CEO CiGMark  & Consultan di Grand Serela Hotel. Jl. LLRE. Martadinata ( Riau) No 56. Bandung (20/12/2017).
 
Di tengah ketidakpastian rekomendasi itu, para kandidat dan parpol, masih berjuang demi memperoleh dukungan 20 persen dari jumlah kursi di DPRD. Di lain pihak, para kandidat masih harus menggalang dukungan pemilih. Ini sebagai modal demi memenangi pilkada. Andai kelak mereka beruntung. Mereka akan beroleh dukungan partai, lalu ditetapkan menjadi pasangan calon oleh Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD).
 
Soal ketidakpastian rekomendasi ini, pastilah menimbulkan rasa was was, bagi para balon. Tantangan lain, mereka harus berjibaku demi
menggapai elektabikitas tinggi. Katanya, ini sebagai salah satu syarat - mendapatkan rekomendasi partai.
 
Tantangan lain, demi meraih elektabilitas tinggi haruslah punya modal sosial yang tinggi. Meraih posisi itu, perlu sosialisasi ala 'jungkir balik'. Ini di antaranya melalui tatap muka langsung dengan masyarakat. Lainnya, perlu perkuatan publikasi melalui ragam alat peraga, menembus jaringan dan jenis media. Semua itu butuh biaya tinggi. Belum
lagi biaya tak terduga, mengurus rekomendasi. Taruhannya, ongkos
politik membengkak.Inilah faktor paling signifikan,  penyebab banyak kepala daerah terjerembab dalam jeratan kasus korupsi. Hipotesanya, andai ongkos politik dapat ditekan, harapannya akan berbading lurus dengan menurunnya kasus korupsi kepala daerah. Minimal, kasus korupsi kepala daerah dapat ditekan.
 
Kandidat, Seberapa Kuat?
 
Masih di tengah serunya perebutan tiket pencalonan, bagaimana peta kekuatan dukungan para kandidat di kalangan pemilih? Demi memetakan tingkat dukungan kandidat, CiGMark Research & Consulting telah melakukan survei opini publik yang dilakukan pada 1 - 12 Desember 2017. Ini untuk mengukur preferensi pemilih terhadap suksesi kepemimpinan di Kota Bandung 2018 dan selanjutnya.
 
Deretan nama kandidat yang diuji dalam survei CIGMark Research & Consulting, nama wakil walikota Bandung Oded M Danial memiliki dukungan paling kuat. Dari simulasi 12 nama yang diuji tingkat elektabilitas Oded paling tinggi. Ia berada di urutan 1 dengan elektabilitas 27,3 persen. Disusul mantan wakil walikota Bandung Ayi Vivananda 8, 1 persen, M Farhan 8,0, Nurul Arifin 5,5, Yossi Irianto, 5, 1, Gatot Tjahyono 4,9, Fiki Satari 2,3, Dandan Riza Wardana 2,2, Iwa Gartiwa 2,1, Arfiana 1,3, Aries Supriatna 1,3, Yana Mulyana 0,9 dan pemilih yang merahasiakan, seta yang belum memutuskan sebesar 31 persen. 
 
Jika di uji dalam simulasi 6 nama,  berikut posisi elektabilitas Oded M Danial 29.1%, M Farhan 13.2 %, Nurul Arifin 9.2%, Dandan Riza Wardana 4.2%, Aries Supriatna 3.1%, Yana Mulyana 1.6%, rahasia/tidak tahu/tidak jawab masih tinggi yaitu 39.60%. 
 
Selain itu, dalam simulasi 6 nama dengan memasukkan formasi yang berbeda, posisi Oded tetap masih di atas, meskipun ada kecenderungan menurun dengan elektabilitas 28.2%, disusul Ayi Vivananda 11.4, Nurul Arifin 8.2, Gatot Tjahyono 6.9, Yossi Irianto 6.5. Sisanya, pemilih yang menjawab rahasia/tidak tahu/tidak jawab, masih cukup besar yakni 35.4%. 
 
Kesimpulan yang dapat ditarik dari peta kekuatan
dukungan balon walikota Bandung sementara ini Oded paling kuat. sementara di bawahnya terjadi persaingan ketat antara Ayi, Farhan, Nurul Arifin dan Gatot. Menyusul persaingan berikutnya, yakni Dandan Riza Wardana, Fiki Satari, dan Iwa Gartiwa.
 
Sementara itu elektabilitas untuk calon wakil walikota juga mengalami persaingan ketat jika dilihat dari posisii elektabilitas calon wakil walikota berikut ini; M Farhan 10.2, Yossi 9.2, Gatot 7.3, Viki Satari 4.6, Dandan Riza Wardana 3.2, Yana Mulyana 2.7, Arfiana Rafnialdi 2.1, Chaerul Yakin (Ruly) 2.0, Iwa Gartiwa 1.4, Aries Supriatna 1.3, Deny Zaelani 0.9, Haru Suhandaru 0.2 dan Tidak Tahu/tidak jawab 54.9 persen. 
 
Nah lagi, dari posisi elektabilitas calon walikota ini, disimpulkan bahwa pertarungan posisi wakil masih dalam kondisi “pasar bebas”. Maknanya, semua kandidat masih punya peluang yang sama. Penyebabnya,  selisih angka elektabilitas mereka tidak terpaut
jauh.  Pun, jumlah swing votersnya masih sangat besar.
 
Oded Unggul, namun Belum Aman
 
Meski elektabilitas Oded berada di paling puncak dan unggul, maknanya masih belum aman, alias entahlah kata banyak orang. Tiga faktor yang membuat posisi kader PKS yang menjabat sebagai wakil walikota Bandung saat ini belum aman; Pertama, jumlah swing voters masih cukup tinggi yaitu 77.3 persen. Sementara pemilih loyal (strong supporter) Oded baru 10.4 persen; Kedua, pertarungan politik masih sangat dinamis, ini memungkinkan potensi perpindahan pemilih masih cukup besar; Ketiga, masih ada kemungkinan
Oded gagal maju jika tidak mendapat dukungan dari partai lain. Dalam pertarungan politik terkadang bisa terjadi perubahan yang sangat cepat dan terjadi di luar prediksi. Selain itu dengan munculnya figur-figur seperti M Farhan dan Nurul Arifin yang memiliki latar belakang keartisan, berpotensi jadi ancaman bagi Oded. Begitu pun, dengan adanya figur Dandan Riza Wardana yang merupakan putra Ateng Wahyudi mantan walikota Bandung, ini pun cukup punya magnet politik. Pasalnya political endorsement cukup memiliki peluang, mempengaruhi pemilih – ingat,  kultur di negeri sejuta pulau ini, kultur paternalistic bisa menjadi faktor penentu. [HS/dtn]
 
Add a comment

Rokhmin Dahuri, Evaluasi & Songsong Kiprah MAI – Potensi dan Realitas, Jomplang

romhuri 1

DestinasiaNews - Prof. Dr. Rochmin Dahuri, MS, Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI), di area Industri Batujajar Kab.Bandung, bersama anggota MAI lainnya yang datang dari berbagai daerah, menggelar diskusi yang bertema ‘Evaluasi 2017 & Harapan 2018 Seputar Aktivitas MAI’ (19/7/2017).

Bertindak selaku moderator  dalam diskusi yang mengupas secara mendalam aneka persoalan mendasar di lingkungan akuakultur  Dr. Agung Sudaryono. Pagi harinya, diskusi ini dibuka oleh GM PT. Gani Arta Dwitunggal, Andi J Sunadim.

Hari itu Andi seakan memberi kesempatan para pakar mengkritisi, serta memberi masukan bagi kemajuan dunia akuakultur di Nusantara.”Sebagai negara maritim besar di dunia, sepantasnya dunia akuakultur memberi kontribusi significant bagi kesejahteraan negara. Silahkan di sini, kita berdiskusi berdasarkan kepakaran dan pengalaman selama ini. Negara, menurut saya, amat membutuhkan masukan kita.”

Sementara itu Rochmin Dahuri selaku key note speaker di ajang diskusini ini yang juga dihadiri Prof.Dr. Ketut Sugama, Ir. Denny Indradjaja,M.Si (GPMT), Ir.Iwan Sutanto (SCI), Ir. Wajan Susja (ABILINDO), Dr. Azam B. Zaidy (CCI), Ir. Safari Azis (ARLI), Ir. Thomas Darmawan,  dan Dr. Bambang Widigdo, menyatakan dengan gamblang:”Indonesia itu memiliki segalanya dalam hal akuakultur, termasuk berpotensi sangat besar di kelautan. Sayang, hal ini belum digarap dengan baik.”

Dalam kesempatan lain, masih kata Rochmin yang Mantan Menteri Perikanan era Presiden Megawati, potensi kelautan kita, adalah potensi kedua terbesar selain pertanian. Hal ini pun belum terintegrasi dengan baik, malah jomplang, katanya.

Menyoal hal ini, Rochmin menyatakan secara terbuka:”Salah satu pemicunya, karena aturan yang dibuat oleh pemerintah tidak diterapkan secara tepat. Dalam praktiknya, masih banyak bolongnya. Ini kita sayangkan.”

Bias Data


Sementara itu Prof.Dr.Ketut Sugama, dalam paparannya, masalah pendataan, masih menjadi dosa bagi para pegawai perikanan hingga saat ini. "Data yang disebarkan ke masyarakat seringkali tidak sesuai dengan kenyataanya. Ini sangat menyulitkan dalam pembuatan keputusan yang menyangkut nasib orang banyak. Data itu bias, adanya"

Terungkap dalam sesi tanya jawab yang terbilang seru, Moh Husein selaku Ketua Bidang Akuakultur dari Gerakan Hejo menjelaskan, kinerja pemerintah masih sangat jauh dari harapan. “Kami sangat prihatin dengan nasib budi daya ikan. Padahal bila ditekuni dengan menyisihkan biaya yang cukup untuk riset, dan pemenuhan kebutuhan dasar bagi pelaku di lapangan, niscaya kesejahteraan kita bisa mengejar negara berkembang lainnya.”

romhuri 2Keluhan itu    

Lainnya, Nandang Permana, Ketua HNSI Jawa Barat mengungkapkan keluhan. Kasusnya, akibat ulah pihak lain yang ujung-ujungnya harus ditanggung nelayan."Sampah yang dibuang pengunjung obyek wisata, serta dari kegiatan industri di wilayah pantai, sering dianggap ulah para nelayan. Ini tidak benar dan tidak adil,” ujarnya dengan berapi-api, sambil menambahkan:”Lain kali, bila digelar diskusi seperti ini, unsur dari lingkungan hidup, dan dinas pariwisata harus ada. Tujuannya, agar kesalahpahaman itu sirna.”  

Peserta diskusi lainnya, Iman yang mengaku sebagai  pengusaha jaring apung mengungkapkan sisi lain dunia akuakultur. Sarannya, di pertemuan ini tidak hanya mengupas soal teknis, pengembangan budidaya ikan dan dunia maritim Indonesia, yang di luar jangkauannya. "Kita harus juga memikirkan kemampuan ekonomi para pelakunya."

Argumen Iman:”Bagaimana teknis pengembangan budidaya akan berjalan baik? Bila, pelakunya tidak punya cukup dana. Ditambah, akses untuk memperoleh dana tambahan, sangat terbatas.”

Menurut Iman, dirinya dan ratusan pembudi-daya ikan lainnya, bukan tidak mau memakai produk dalam negeri yang memiliki banyak keunggulan:”Kuncinya, bukalah akses untuk penambahan dana. Kami tak mau diistimewakan, berilah kesempatan yang sama. Bukan yang lain-lain …” (HS/SA/dtn)

Add a comment


emgz2

Artikel lain...

Priyo Budi Santoso & Yayat Sudrajat di Rakorwil DPW Partai Berkarya Jabar – Menangkan Pileg, Singkirkan Duri di Internal

Priyo Budi Santoso & Yayat Sudrajat di Rakorwil DPW Partai Berkarya Jabar – Menangkan Pileg, Singkirkan Duri di Internal

destinasiaNews – Priyo Budi Santoso Sekjen Partai Berkarya, yang didampingi Letjen TNI Purn Yayat Sudrajat Waketum Partai Berkarya, kala hadir...

Kader NasDem CIAMIS Temui Eka Santosa: Rindukan Zaman Pak Harto

Kader NasDem CIAMIS Temui Eka Santosa: Rindukan Zaman Pak Harto

destinasiaNews – “Bila pun tak ada Partai Berkarya, akan dicari partai seperti ini. Sudah lama rindukan zaman Pak Harto,” spontan...

Priyo Budi Santoso Sekjen Partai Berkarya & Letjen TNI Purn. Yayat Sudrajat Hadiri Rakorwil DPW Jabar – Tak Sabar … 

Priyo Budi Santoso Sekjen Partai Berkarya & Letjen TNI Purn. Yayat Sudrajat Hadiri Rakorwil DPW Jabar – Tak Sabar … 

 destinasiaNews - Priyo Budi Santoso, Sekjen Partai Berkaya, dan Letjen TNI Purn Yayat Sudrajat Waketum Partai Berkarya, dipastikan hadir pada...

Mari Nikmati, Suara Lembut Afgan - Manjakan Afganisme di Trans Studio Bandung

Mari Nikmati, Suara Lembut Afgan -  Manjakan Afganisme di Trans Studio Bandung

destinasiaNews - Wow deh, pastinya telinga kita sudah sangat familiar kala mendengar penyanyi muda berbakat dari Indonesia. Siapa lagi, kalau...

SBMPTN 2018 Akan Segera Digelar, Panlok 34 Bandung Siapkan 46.935 Kursi Peserta

SBMPTN 2018 Akan Segera Digelar, Panlok 34 Bandung Siapkan 46.935 Kursi Peserta

  destinasiaNews - Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2018 akan segera digelar, Panitia Lokal (Panlok) 34 Bandung menyediakan...

Pengunjung

01984913
Hari ini
Kemarin
1070
2423