Meriahnya Perayaan Hari Ibu di Lapas Perempuan Bandung, Potong Rambut & Tata Rias Gratis dari Para Profesional

lapas perempuan 1DestinasiaNews – Perayaan Hari Ibu yang jatuh setiap 10 Desember. Khusus pada tahun 2018, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas II A Kota Bandung menggelar acara khusus. Senin pagi itu (10/12/2018) tepatnya di Aula Lapas Kelas II A Kota Bandung di Jl. Pacuan Kuda No. 20 Sukamiskin, Arcamanik, Ibu-ibu Pegiat Sosial melakukan aksi sosial potong rambut dan tata rias gratis. Pesertanya, siapa lagi kalau bukan warga binaan, yang selama ini seakan ‘haus’ menyerap aneka ilmu dan keterampilan, khususnya yang berguna saat ini, maupun kelak bila telah menghirup udara bebas.

 

“Yang hadir hari ini bila kita sehari-hari pun tinggal di luar (Lapas), belum tentu bisa memanfaatkan jasanya.   Penyebabnya, itu tuh tarifnya luar biasa bagi kita-kita. Nah, hari ini mereka hadir di antara kita. Gratis potong rambut, dan bisa belajar merias pula. Terima kasih atas prakarsa ini ,” sambut Kalapas Perempuan Kelas II A Kota Bandung, Rafni Trikoriaty Irianta. Tak pelak, secuplik sambutan ini, menebar kegembiraan khusus bagi puluhan binaan.

 

“Sebaliknya, bagi ibu-ibu pemerakarsa kegiatan ini, kami pun punya hal yang istimewa. Nanti kami perlihatkan karya lukisan dari warga binaan. Siapa tahu tertarik untuk mengoleksinya,” tambah Rafni.

 

lapas perempuan 2Pada pihak lain Koordinator dari Ibu-ibu Pegiat Sosial di Lapas pada saat itu, Ratoe Satrawiria Widia, didampingi rekannya, Camelia Maya kepada kepada destinasianews menyatakan rasa lega. Menurutnya, upaya mengajak beberapa rekan penata rambut dan rias yang sudah punya nama di Bandung, agar bersedia meluangkan waktu, berbagi rasa dengan warga binaan, tidaklah mudah. Penyebabnya, karena kesibukan pekerjaan sehari-hari. Menetukan jadwal pun untuk hari ini hadir di Lapas, meruakan persoalan tersendiri.

 

”Berunntung, hal yang krusial itu, sudah berlalu. Buktinya, hari ini kita bisa Berunntung, hal yang krusial itu, sudah berlalu. Buktinya, hari ini kita bisa berkumpul disini,” papar Ratoe yang sejak pagi hingga sore tampak cekatan mengatur jalannya acara.

 

Siapa Saja?  

 

Pantauan redaksi, memang ada nama-nama kondang dari penata rambut dan penata rias. Mereka di Aula Lapas Perempuan, tampak sabar menerima berbagai permintaan dari warga binaan yang ingin memanfaatkan keterampilannya yang terbilang piawai di bidangnya.

 

lapas perempuan 3Nama-nama penata rambut top itu, diantaranya: 1. Hetty Kosasih ( Hetty Hair) 2. Deddy Sukma (Deddy Sukma Salon) 3. Ricko (La Quita Salon) 4. Riyadi (Black Salon) 5. Ayie Lie (Ayie Lie Salon) 6. Uchen (Lex Barber Shop ) 7. Tri Ricko (La Quita Salon) 8. Ami (Ami Salon ) 9. Asty Mariani (Hettie CitraYuda) 10. Leoni (Headquarter Salon) 11. Susan Moniaga (Alexa dFabian) 12. Tommy (Tommy Salon ), dan 13. Purwanto (Hettie Citrayuda Salon).

 

Sementara untuk penata rias atau Make Up Artist, di antaranya ada: 1. Joke Nirmalawati (Hetty Hair) 2. Alexandra Laurine (AxL Beauty), dan 3. Dorkas dan Nur (Hettie Citrayuda).

 

Deddy Sukma salah satu penata rambut ternama di Kota Bandung, yang menurutnya dua tahun lalu pernah melakukan program sejenis di Lapas ini, menyatakan suka citanya:

 

“Semoga saja kegiatan ini terus berlanjut. Ternyata disini, kita bisa saling bersilaturahim dan sangat bermanfaat bagi kita semua.”

 

Bagi Irna (bukan nama sebenarnya), kegiatan seperti ini, sangatlah dinanti. “Bagi kami yang berada di dalam, persoalan waktu itu terasa lambat sekali. Kehadiran Kang Deddy Sukma dan rekan-rekannya, sangat membesarkan kami. Tadi itu puluhan rekan kami ditata rambutnya. Ini kemeriahan yang luar biasa. Ternyata, masih ada yang peduli dengan keadaan kami. Hari ini, seperti gimana gitu...”, tuturnya dengan wajah bungah sambil menambahkan – “Bulan depan akan ada lagi acara seperti ini? Semoga saja ada kelanjutannya.” (HS/SF)

Add a comment

Bertemu Koruptor di Pusaran ‘Kanker Stadium 4” – (Parodi, Huahaha ...)

beritagar

OPINI

Oleh : Harri Safiari

destinasiaNews – Absurditas pribadi, sejahat-jahatnya seorang koruptor layaklah ditemui apalagi selama ia masih dipenjara. Ini pegangan iseng bersifat privat, lho? Entah angin apa yang menerpa penulis. Beberapa kali tempo ada saja kesempatan, bertatap muka dengan para koruptor di penjara.  

Pada pihak lain, entah kebetulan atau sebaliknya, negeri kita sempat geger oleh ujaran calon presiden Prabowo – Di Indonesia kini marak korupsi, tingkatnya bak ‘kanker stadium 4”. Tepatnya terucap saat digelar The World in  2019 Gala Dinner di Hotel Grand Hyatt, Singapura (27/11/2018).

Mujurnya, penulis di tengah isu nasional perihal tuding-menuding besar kecilnya tingkat korupsi nasioanl, diajak seorang teman yang  kebetulan kerabatnya mantan pejabat pusat “terkena kanker”. Faktanya, ia harus ngendon beberapa tahun di salah satu penjara (terpandang) di negeri ini – khusus buat para koruptor kelas ikan paus (bukan lagi kakap!).  

Saatnya, penulis akan menapak ke kompleks penjara dengan segala prosedur yang khas, menyimpan KTP, HP, ditanya apa dan mengapa berhasrat membesuk pesakitan, sekujur tubuh digeledah, lalu difoto (colour) untuk kartu masuk. Mendadak, teringat kondisi korupsi di negeri tercinta ini.

Merunut ujaran Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Agus Rahardjo, tidak sepakat kondisi korupsi di Indonesia diibaratkan kanker stadium 4. Lanjutnya, Agus mengutip data Transparancy International –“Kondisi korupsi indonesia saat ini lebih baik dibandingkan zaman akhir Orde Baru.” Lho?!

Perihal polemik terakhir di atas, menurut rakyat kebanyakan, ini menimbulkan kelucuan tersendiri. Buktinya, Ajat Sudrajat (43) penambal ban di bilangan Cicadas Kota Bandung, kerap mengeluh ketika melihat banyaknya kasus OTT (Operasi Tangkap Tangan), lainnya banyak yang lolos dari OTK (Operasi Tangkap Kaki? – melarikan diri):

”Sekarang ada ratusan pejabat negara jumlahnya mendekati lima ratusan. Semua tingkatan mulai menteri, gubernur, bupati, walikota hingga camat, lurah, kepala desa, anggota DPR dan DPRD, pengusaha, hakim, jaksa, dan panitera, ada semua. Siapa yang hebat, ini KPK atau Tim Saber Pungli, atau karena nasib sial para koruptor?”

Faktanya, Ajat mengajukan kredit ke bank pemerintah demi memperlancar usahanya, bertahun-tahun tak pernah ada jawaban pasti. “Sementara uang triliunan rupiah dikorupsi sejumlah orang,” keluhnya tanpa ada solusi.

Tata Negara ‘Ekslusif”

Singkat kisah, penulis telah masuk ke kompleks yang diidam-idamkan kala itu. Seperti biasa urusan “besuk-membesuk” para pesakitan berlangsung dengan aman dan lancar jaya di sebuah ruangan khusus. Intinya, seluruh pesakitan koruptor berkumpul dengan riang nan gembira. Silaturahim berlangsung antara pembesuk dan yang dibesuk. Nuansanya berbalut penuh adab. Hanya sesekali terdengar perihal pasal-pasal sesuai KUHP khususnya Tipikor. Ini menyangkut vonis yang dijatuhi para pesakitan itu. Lainnya, urusan happy and happy, diselingi cekakak-cekikik dan happy-happy enjoy the word.

Harapan, membayangkan para koruptor menyesali perbuatannya yang merugikan rakyat se Nusantara, janganlah berasa banyak. Buktinya, benar seperti kata isu yang merebak. Sel yang mereka tempati terbilang bagus. Busana dan kudapan serta asupan yang mereka nikmati, jauh di atas rata-rata orang di luar penjara. Khusus hunian sel, andai dibandingkan rutilahu (rumah tinggal layak huni) yang banyak tersebar di negara kita, kondisinya jauh lebih bagus. Hebatnya lagi, kondisi keamanan 24 jam terjaga. Jaminan kesehatan dan semacamnya, negara bertanggung-jawab sepenuhnya. Bedanya hanya sedikit, “katanya” bermain keluar penjara perlu ijin khusus! Huahaha ...

Parodi lainnya di penjara koruptor kelas “ikan paus”, rupanya saat itu ada pesakitan yang punya sense of humourkelas ikan paus pula. Pasalnya, di antara yang dibesuk ada mantan camat yang seminggu lagi bebas (merdeka?), setelah 7 tahun ngendon di penjara ini tersebab kasus korupsi.

“Rupanya, kondisi pemerintahan kita di dalam sini dari segi perangkat bernegara, seminggu lagi bakal ada kekosongan. Ini harus segera diantisipasi dengan serius,” papar salah satu pesakitan yang belakangan dikenal sebagai person yang memiliki sense of humour kelas ikan paus.

Mendadak, segenap pembesuk dan pesakitan di ruang besuk penjara ini, menoleh ke person yang cukup lantang berbicara soal ini. Belakangan disadari, para koruptor ini selama berada dipenjara, katanya masih melakukan tata laksana sebagaimana layaknya kita bernegara.

Gossipnya, para koruptor di penjara ini (dari lingkup Kemendagri?) sepeninggal hari itu, segera melakukan rapat “dinas”. Memilih camat baru, menggantikan yang akan mengakhiri “masa tugasnya” pada minggu depan!      

Alhasil, perihal polemik korupsi “stadium 4”, marilah kita tinggalkan, atau kita nikmati apa adanya. Yang jelas betapa serius kehidupan bernegara para koruptor di dalam penjara. Katanya, “tata negara” itu malah dirawat dengan sebaik-baiknya oleh mereka.

Maksudnya, untuk apa? Entahlah, sementara kita sibuk sendiri memberantas korupsi dengan berwacana...huahaha... (Harri Safiari, wartawan senior di Kota Bandung/dtn). Ilustrasi: beritagar

Add a comment

Rupa-rupa ‘Nyaleg’ di Pileg 2019, Rupanya Huahahaha

bendera pemilu

OPINI

Oleh: Harri Safiari

destinasiaNews – Lolos menjadi calon legislatif atawa caleg, alias ‘nyaleg’ untuk Pemilu 2019, bolehlah disebut sebagai warga terpilih. Bayangkan, ini lolos seleksi dari 250-an juta populasi di negara kita. Ada baiknya kita beri tabik tinggi-tinggi buat mereka.

Idealisasinya, pada tahapan ini mereka itu sudah lolos dari lubang jarum. Menjadi orang terpilih, haruslah berperan sebagai manusia pengemban amanah.

Merunut pengumuman KPU terdaftar 7.968 caleg dari 20 partai politik (termasuk partai lokal di Aceh) pada Pileg 2019. Ada 4.774 caleg laki-laki, dan 3.194 perempuan. Proporsi ini telah memenuhi 30% kuota perempuan. Semua ini akan bertanding di 80 daerah pemilihan pada Pemilu 2019. Catatannya, ada 3 partai politik yang tidak dapat berkompetisi di semua dapil - Gerindra, Hanura, dan PKPI, lainnya bisa bermain di semua dapil.

Hal berbeda lainnya untuk sebutan pemilu 2019, ini dikatakan sebagai ‘general election’ paling komplikatif se-dunia. Lalu, muncullah Peraturan Nomor 20 Tahun 2018. Ini mengatur pencalonan anggota DPR, DPRD (Provinsi), dan DPRD (Kota/Kabupaten). Isinya, terlarang bagi mantan terpidana korupsi, bandar narkoba, dan predator seksual. Dari tiga larangan tadi, Anda masuk yang mana? Huahahah...

Yang Mendadak itu

Sesuai paparan di atas, tersempal sedikit kisah dari sang sobat penulis. Sebutlah al-kisahnya, ibarat mendadak ‘nyaleg’. Kisah ini terjadi menimpa sosok perempuan di Pileg 2019. Tepatnya, terpatuk pada diri seorang tetangga sang sobat. Domisiinya di wilayah yang secara sosio-demografik disebut antara pedesaan dan perkotaan. Terbayanglah, bagaimana serunya?

Identifikasi lanjutannya menurut sang sobat lagi, caleg ini berkompetisi di sebuah dapil untuk tingkat DPRD provinsi pendulang suara di tingkat nasional. Mujurnya, caleg ini kebagian nomor urut 3. Kisaran usianya, lulusan SMA dengan pengalaman bekerja 5 tahunan di sektor swasta. Status maritalnya, telah menikah dengan satu anak balita. Partai lama atau partai baru?

”Sudahlah, itu terlalu politis dan privat. Yang jelas caleg ini, namanya sudah muncul di stiker ukuran 5 X 10 cm, poster, dan medsos. Diperhatikan, penampilannya di stiker dengan wajah aslinya, terpaut cukup jauh,” begitu kata sang sobat ini tanpa penjelasan lebih lanjut – apa itu makna terpaut cukup jauh?

Tadinya, berharap ada pernyataan seperti lebih cantik, kurang cantik, atau kurang menarik dalam tampilan gambar stiker. Rupanya, sang sobat ini tak mau menjelaskan lebih jauh. “Lebih cantik di stiker, ya pastinya Bro?” kataku sedikit memprovokasi, berhasrat memancing,

“Waduh, tak usahlah diperdalam investigasi soal ini. Salah-salah aku disomasi. Masa sih, di stiker tidak lebih cantik dari aslinya?! Hanya, ini lucu saja, namanya juga mendadak nyaleg, kalee ...” pungkasnya seakan menutup sub topik ini.

“Jelasnya, ini mendadak nyaleg Bro. Sehari-hari bertetangga, dulu omongannya sering nyrocos. Buat apa ikut-ikutan aktif partai politik. Bukanah, ujung-ujungnya OTT oleh KPK? Eh, lucunya dia sekarang seperti jadi orang nomor satu di partainya,” urai sang sobat dengan penuh rasa heran seheran-herannya.

Larut dalam perbincangan selanjutnya bersama sang sobat, makin ramai saja. Menurutnya, boleh jadi ‘perahu’ partai sang caleg wanita ini begitu kuat daya hipnotisnya?! Katakanlah, hanya sekejap, yang tadinya sang caleg wanita ini polos a politis, menjadi begitu militan, dengan konsekuensi ngawur katanya.

“Lucunya, sejak lolos dari bacaleg (Bakal Calon Legislatif) menjadi caleg. Orang ini mendadak ramah dan ‘baik hati’ ke seantero kampung atau kompleks rumahnya. Cerita bohongnya, bapak-bapak dan ibu-ibu yang sehat tetangganya, jadi sering disapa tatap muka. Kapan sakitya biar saya jadwalkan untuk dijenguk,” jelasnya sambil sedikit tertawa dengan menambahkan – “Jadi lebay deh, terbayang kalau jadi wakil rakyat lebaynya setingkat apa?”

Ke sang sobat yang hobinya bak pengamat politik tigkat tinggi, ditanya bagaimana caleg ini dalam menghadapi pragmatisme yang vulgar kini dengan tuntutan cost politics yang terbilang tinggi?

“Ini bikin dirinya seperti habis-habisan umbar janji. Soal membagikan aneka kebutuhan dasar mulai mie isntan, sampai pengganti ongkos transpor pada setiap riungan, sedikitnya tiga kali seminggu di banyak komunitas. Keluhan mulai muncul, kabarnya tanah warisan suaminya sampai-sampai mau dijual,” papar sang sobat dengan nada datar.

Andai tidak lolos ke parlemen, apa yang terjadi? “Waduh, ini sangat mudah ditebak, mampu bertahan saja itu sudah untung besar. Tak terbayang bagaimana nantinya,” jelas sang sobat menghkawatirkan bila mimpi buruk itu terjadi.

Berpartai itu

Sepengetahuan kita menjadi anggota partai itu dinegara kita adalah anugrah. Beruntung kita hidup di negara demokratis. Sayangnya, berpartai di kebanyakan orang masih dipahami secara elementer. Secuil kisah sang caleg di atas, merupakan representasi mayoritas anggota partai – ikut rame-rame tanpa tahu esensi berpartai secara benar, paling tidak yang sesuai idealisasi. Penyaluran sikap politik yang bermuara pada prinsip trias politica (legislatif, eksekutif, dan yudikatif). Sayangnya, hal ini baru dipahami sebatas kulitnya belaka.

Sampai disini, apa boleh buat, memang baru sebeginilah adanya. Faktor itu di antaranya bergantung pada seberapa kuat atau berkualitasnya sumber daya manusia (SDM), tingkat pendidikan politik, plus suasana politik dan kemapanan ekonomi, dari sebuah negara yang masih berkembang.

Secuil Kesimpulan

Berangkat dari secuil kasus ‘nyaleg’ di atas, predksi andaikan person yang ‘nyaleg’ ini berhasil meraih kursi legislatif. Dengan kualitas SDM seperti ini, bisa ditebak orientasi kekuasaannya kelak. Dipastikan tidakn jauh dari – bagaimana mengembalikan ongkos politik yang telah dikeluarkannya dengan segera. Lembaga anti rasuah KPK dan Tim Saber Pungli, pastilah menanti.

Sejatinya, tatkala yang ‘nyaleg’ ini kala berkampanye, anggaplah sebagai manuver kamuflase ‘yang diridoi negara’. Artinya, siapa pun yang terperdaya olehnya, selorohnya ‘bukan tanggung-jawab negara’. Maknanya lagi, rakyat kebanyakan harus cerdas, dan cermat memilih siapa wakil kita di parlemen kelak. Lucunya, mau cerdas dan cermat bagaimana, SDM faktanya – segituh-gituhnya?!

Kondisi pemilih serta calon yang dipilih yang sama-sama rawan secara politik maupun pragmatisme yang salah kaprah, amatlah memungkinkan tujuan memunculkan wakil rakyat yang benar sebenar-benarnya, meleset 99%.

Ironi, calon yang berkualitas namun tidak memiliki kekuatan ekonomi memadai sebagai daya pikat kaena tuntutan pragmatsme itu, justru tersisih sejak awal mendaftar sebagai caleg! Artinya, baru mendaftar, sudah gugur!

Kekhawatiran kita, parlemen kelak diisi oleh orang-orang yang keropos berintegritas. Mereka kerap berkedok penuh kepura-puraan, sejatinya adalah manusia licik dan busuk berbalur kosmetik harum mewangi nan baik hati. Faktanya, demikianlah adanya !

Faktor ‘internal’ lain yang patut diperhitungkan dalam dunia ‘caleg-menyaleg’, hadirnya fenomena ‘usaha baru’. Ini diisi oleh semacam ‘tim sukses’ atawa petualang ‘pedagang caleg’. Kehadirannya, ada di desa dan kota. Kepiawaiannya dalam ‘memperdagangkan caleg’, sungguh mengagumkan. Kasak-kusuk dan jual-beli suara dengan lembaga terkait, serta tokoh ternama setempat kerap dijadikan pembenaran. Klaimnya, dapat memenangkan suara dengan pengaruhnya. Mereka kerap sesumbar, bak bisa menghentikan petir di langit. Praktiknya, tak sedikit para caleg terpedaya oleh klaim perolehan suara.

Tak percaya dengan sinyalemen ini di lapangan? Silahkan buktikan sendiri. Mereka ini berkeliaran mencari mangsa, hingga detik-detik Pemilu 2019.      

Alhasil, rupa-rupa di seputar ‘menyaleg’ di Pileg 2019, terserah akan disikapi dengan serius, atau bagaimana? Sekedar mengingatkan, jalannya nasib negara kita untuk 5 tahun mendatang sejak 2019, salah satunya ditentukan oleh sukses tidaknya pesta demokrasi berbiaya total Rp 24,9 triliun.

Melihat kembali pada secuil kasus seperti kata sang sobat di atas, ada baiknya tak usah berkernyit dahi, marilah kita berhuahahaha...saja. (Harri Safiari adalah wartawan senior, Kota Bandung. Red)  

Add a comment

Pakar Budi Daya Ikan Lepas Pantai Negeri Vietnam Sambangi Aquatec Padalarang – Dapatkan Solusi Serangan Taifun

Jaring Apung

destinasiaNews - PT. Gani Arta Dwitunggal produsen AgroPro (pertanian) dan Aquatec (perikanan) di Jalan Raya Batujajar KM 2.8 Padalarang Kabupaten Bandung Barat, Jabar, pada Jumat, 23 November 2018 disambangi pakar budi daya perikanan lepas pantai dari negeri Vietnam.

“Banyak hal kami bahas. Utamanya, soal bagaimana mengatasi taifun yang tiap tahun melanda budi daya perikanan lepas pantai (offshore) mereka. Kebetulan produk kami Aquatec, sudah cukup lama punya teknologi mengatasi hal ini,” papar Andi J Sunadim, S.Mn, General Manager PT. Gani Arta Dwitunggal.  

Para tamu PT. Gani Arta Dwitunggal terdiri atas  Mr. Nguyen Ba Thong, Science Technology Coordinator VSA (Vietnam Seaculture Association), dan Ms. Le Hong Lien, Administrator VSA. Rombongan tamu ini, menurut Andi merupakan pakar perikanan yang cukup berpengaruh dalam pembuatan kebijakan di negaranya, terutama budi daya ikan lepas pantai.

Menurut Andi, kehadiran tamunya ini hari itu sempat dibawa berkeliling ke pabriknya. Selama kunjungan itu, mereka tampak semakin mengagumi keunggulan teknologi budidaya ikan di lepas pantai dari demo varian KJA merek Aquatec, yang sudah dipakai di beberapa negara. Berkali-kali mereka katakan KJA bundar offshore submersible itu, bisa digunakan sebagai solusi dari serangan taifun di negaranya.

“Yang banyak dibahas itu utamanya KJA (keramba jaring apung) bundar offshore, dan KJA bundar submersible. Produk terakhir ini, bisa ditenggelamkan tatkala ada taifun. Lalu, diapungkan kembali dengan cepat dan mudah,” terang Andi.

Merasa Yakin

Satu hal tindak lanjut dari kunjungan ini, pihak tamunya akan lebih intensif memperkenalkan produk Aquatec di negaranya.

“Saya berhubungan dengan mereka, ketika sama-sama menghadiri  Offshore Mariculture Conference Asia 2018 di Singapura. Waktu itu, sekilas mereka telah melihat cara kerja KJA submersible. Sekarang di Padalarang, semakin yakin, produk kita punya banyak keunggulan, tentu dengan harga sangat bersaing,” jelas Andi yang dalam waktu dekat akan mengekspor kembali KJA Submesible ke berbagai negara.

Secara terpisah redaksi mengontak pegiat MAI (Masyarakat Aquakultur Indonesia) perwakilan Jawa Barat, Ir. Mohamad Husen yang biasa disapa Husen Lauk. Menurutnya, produk KJA yang dihasilkan PT. Gani Arta Dwitunggal, memang sudah lama go international.

“Di Hainan, China, malah sudah teruji. Jadi penyelamat budi daya perikanan lepas pantai. Utamanya KJA bundar lepas pantai submersible. Ini genuine karya anak bangsa. Sayang, di dalam negeri, masih dilihat sebelah mata,” papar Husen Lauk sambil memungkas – “Ironi, sepertinya kita masih berorientasi produk luar negeri minded, bingung saya.” (HS/dtn)  

Add a comment

Candra Malik Gelar Siraman Rohani, di Warunk Hawu, Alam Santosa

Candra PI

 

destinasiaNews - Anggaplah ini sebagai gerakan diam-diam namun telak. Adalah Warunk Hawu sebuah cafe 'tradisional kontemporer' di Kawasan Eko Wisata dan Budaya Alam Santosa. Tepatnya di Pasir Impun, Cimenyan Kabupaten Bandung, ini dikenal juga sebagai kediaman tokoh Jabar Eka Santosa. 

 

Gerangannya pada Rabu malam (21/11/2018) akan menggelar obrolan santai bersama tokoh sufi, sastrawan, wartawan, pelantun lagu rohani, artis film, dan penulis sejumlah kolom di berbagai media tanah air - Candra Malik.

 

Barang tentu, peserta obrolan ini kalangan 'sejenis', boleh ditebak ada dari beberapa komunitas seni dan budaya, termasuk para politisi pun akan hadir. 

 

"Tadi siang sudah hadir di Alam Santosa, langsung dari Banyumas (Jateng). Tadi rehat sejenak di Warunk Hawu, sekarang sedang istirahat buat tampil nanti malam bersama kita," papar Bendra Angrenaswara, koordinator obrolan santai bertajuk Merawat Cinta Merawat Indonesia. 

 

Menurut Bendra, ancar-ancar  yang dikemukakan nanti malam oleh Candra Malik, seputar  persoalan non partisan, dan pesan perdamaian:"Ibaratnya, kita merasa perlu mendinginkan suasana sebelum Pemilu 2019 yang katanya itu tahun panas. Nah, semoga dari Pasir Impun yang kental dengan nuansa damai dari alam penuh kehijauan, pesan ini tersampaikan ke pelosok Nusantara," lagi kata Bendra yang selama ini tergabung pada kelompok band religi Minladunka + sebagai gitaris.

 

Secara terpisah Eka Santosa yang hari ini (21/11/2018) sebagai tuan rumah, namun kebetulan sedang berada di Tasikmalaya, mengabarkan melalui telepon, berharap kehadiran Candra Malik ke Bandung mampu memberikan angin segar berupa siraman rohani yang khas, dalam konteks pergulatan membangun Indonesia yang modern dan berjati-diri kebangsaan secara utuh. 

 

"Saya termasuk pengagumnya, karyanya banyak mengispirasi bangsa. Pencerahan seperti inilah yang kita butuhkan saat ini. Mengolah mental bangsa secara jernih," ungkap Eka yang selama di Tasikmalaya ditemani pegiat seni dan budaya Deni 'Ozenk' Tudirahayu. (HS/dtn)

Add a comment


emgz2

Artikel lain...

RUU Permusikan Batal Diolah DPR – Musisi Bandung, Suka Cita

RUU Permusikan Batal Diolah DPR – Musisi Bandung, Suka Cita

 Para musisi bertemu dengan para anggota DPRI Fraksi PDIP. destinasiaNews – Kamis siang (14/2/2019) di Rumah Makan ‘legendaris’ Bu Eha yang...

Gerakan Hejo Warnai Citarum Expo 2019 - Kenalkan Inovasi Perangi Sampah

Gerakan Hejo Warnai Citarum Expo 2019  - Kenalkan Inovasi Perangi Sampah

destinasiaNews – Bermula dari pertemuan antara Gerakan Hejo (GH), dengan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil selaku Komandan Satgas Citarum Harum pada...

Pengembang Memprediksi Masa Depan Yang Cerah Untuk Pasar Properti Australia

Pengembang Memprediksi Masa Depan Yang Cerah Untuk Pasar Properti Australia

"Tingkat Suku Bunga, Pertumbuhan Lapangan Pekerjaan, Kekuatan Ekonomi Dan Pasokan Hunian Baru Yang Terbatas Akan Memastikan Keyakinan Para Pembeli Di...

101 Lampion menghiasi IMLEK & Cap Go Meh THE 1O1 Bogor Suryakancana

101 Lampion menghiasi IMLEK & Cap Go Meh THE 1O1 Bogor Suryakancana

destinasiaNews - Tahun Baru Cina atau yang dikenal dengan imlek dan cap go meh selalu menjadi momen yang ditunggu-tunggu untuk...

Kemeriahan Chinese New Year di Pago Restaurant

Kemeriahan Chinese New Year di Pago Restaurant

  destinasiaNews – Dalam menyambut Tahun Baru Imlek, The Papandayan kembali mengadakan Chinese New Year Dinner di Pago Restaurant yang dilangsungkan...

Pengunjung

02995826
Hari ini
Kemarin
816
3554