LAKSI Dukung Kapolri - Tegakkan Hukum Bagi Pelaku Hoax

IMG 20181012 WA0056
destinasiaNews - Terkait pemeriksaan terhadap Ketua Dewan Kehormatan PAN, M Amien Rais. Dalam hal ini sebagai saksi, pada kasus dugaan tindak pidana kebohongan yang dilakukan Ratna Sarumpaet.  Menurut Ketua Umum LAKSI (Lembaga Advokasi Kajian Strategis Indonesia, Azmi Hidzaqi dalam  proses hukum, itu merupakan hal yang biasa. Maknanya, penyidik kepolisian berupaya mengungkap kebenaran suatu peristiwa dalam konteks tindak pidana. 
 
"Oleh karenanya, bila ada upaya-upaya menggeser persoalan hukum menjadi persoalan politik justru tidaklah relevan," 
 
Dalam hal ini, adanya dukungan dari pihak yang menamakan diri Alumni PA 212 pada pemeriksaan hari ini, telah memantik dan mendorong persoalan hukum biasa,  bisa berpotensi menjadi persoalan politik yang  dipolitisasi Amien Rais dan pendukungnya.
 
"Sebagai warga negara, M Amien Rais mesti menyikapi pemanggilan pemeriksaan ini sebagai proses hukum normal, ini dalam kerangka penegakan hukum," kata Azmi.
 
Ancaman membongkar kasus-kasus di KPK, termasuk ancaman penggantian Kapolri Jenderal Tito Karnavian, dan provokasi kebencian berdasarkan etnis, serta agama oleh M Amien Rais dan pendukungnya,  merupakan manuver politik yang tidak memberikan keteladanan bagi warga negara.
 
"Ancaman-ancaman itu tidak relevan dengan kasus yang sedang dialami Ratna Sarumpaet, justru bisa menggeser persoalan hukum biasa menjadi persoalan politik," lagi ujar Azmi.
 
Politisasi itu, justru datang dari pihak M Amien Rais sendiri  yang ditujukan untuk melindungi dirinya secara berlebihan. Padahal Amien Rais hanya dimintai keterangan sebagai saksi. 
 
Meski demikian, upaya M Amien Rais kata Azmi  berupa membongkar kasus-kasus KPK dan mengkritisi kinerja Polri, adalah rekayasa dan upaya  menebarkan berita bohong tanpa didukung bukti  otentik. Masih kata Azmi pernyataan Amin Rais dan Bambang Wijoyanto yang menyatakan adanya aliran dana dari Basuki Hariman kepada Jendral Tito Karnavian merupakan tuduhan dan fitnah yang sangat keji. 
 
Dalam paparan lanjutan, Azmi menyatakan bukti dan datanya tidak dapat dibuktikan. Dugaannya, Amin Rais hendak mengadu domba antara institusi Polri dan KPK agar terjadinya ketegangan dalam pengusutan kasus korupsi. 
 
Dalam kenyataannya,  ketua KPK Agus Raharjo mengaku sulit untuk membuktikan adanya aliran dana yang disinyalir diterima oleh Kapolri dari pengusaha CV. Sumber laut. Sejak awal Basuki Hariman, Pengusaha CV Sumber Laut tidak pernah mengakui adanya suap ke mantan Kapolda metro jaya itu. 
 
Masih menurut Azmi, kasus ini sengaja dibesar-besarkan untuk mendiskreditkan Kapolri, malah mengarah pada adu domba antar lembaga penegak hukum KPK dan Polri. 
 
Atas dasar ini LAKSI menuntut : 
1. Polri untuk mengusut tuntas berita bohong Ratna Sarumpaet dan semua sumber hoax yang membuat gaduh situasi
2. Meminta dan mendesak Kajagung agar membuka kembali kasus keterangan palsu Saudara Bambang  W yang telah dideponering pihak Kejaksaan Agung, untuk dilanjutkan proses hukumnya. 
3. Mendukung Kapolri untuk tidak takut diintimidasi oleh siapapun. Dan kami suport Polri bekerja secara profesional dalam mengamankan situasi nasional.
 
Demikianlah pernyataan sikap LAKSI (12/10/2018) yang diungkapkan untuk direspon oleh seluruh pemangku kebijakan. (SA/Rls)
 
Add a comment

HNSI Jabar Optimis, Pasar Ikan Higienis di Cingcin Kab. Bandung Terwujud

hnsijabar cingcin1destinasianews - Kabar gembira, kalau pun boleh disebut. Pasalnya, HNSI (Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia) Jawa Barat du Sekertariatnya Jl. Gatot Subroto No.197 A Bandung, mengumumkan progres rintisannya - memajukan sekitar 500 ribu nelayan tangkap dan budi daya, melalui pembangunan Pasar Ikan Higienis (PIH).

Menurut Nandang H Permana, Ketua HNSI Jabar (8 Oktober 2018), dua pengusaha masing-masing Mr. Kok Heng Tang asal Singapura dan Mr Omen dari Malaysia, rasanya berminat besar untuk bermitra mengembangkan PIH di daerah Cingcin, dekat Soreang Kabupaten Bandung.

Keseriusan atas dua calon mitra usaha bagi Pemkab Bandung dan HNSI Jabar, dibuktikan dengan hari Senin (8/10/218), kedua rombongan pebisnis ini terjun ke lapangan di Cingcin Kab. Bandung.

"Mereka mengecek keadaan lokasi dan situasi di sana. Tadi katanya, sudah dikatakan cocok. Tinggal hitung-hitungan feasibility study dan ke-ekonomian yang akan dihitung lebih cermat. Secara prinsip, tak begitu masalah," papar Nandang yang diamini Sekertaris HNSI Jabar Chevi Epi Sutisna.

Lebih lanjut menurut Nandang, yang diketengahkan untuk memperlancar jalannya bisnis PIH ini, HNSI Jabar akan menempatkan unit bisnis Puskoneli (Pusat Koperasi Nelayan Indonesia), "Pihak Puskoneli inilah yang akan mem-back up kerjasama antara Pemkab Bandung yang diwakili Dinas Kelautan & Perikanan, dengan pebisnis dari negeri jiran, dan HNSI Jabar. Semoga selambatnya, Desember 2018 ini PIH itu akan terwujud," pungkas Nandang dengan rona wajah sumringah. (HS/MG/dtn)

Add a comment

Kasus Penipuan Promosi Rumah Murah di Bandung, Korban Dirugikan Miliaran Rupiah

Sidang Syna1

 

destinasiaNews– Kasus penipuan penjualan rumah harga murah terjadi di Kota Bandung. Kali ini modus penipuannya berupa harga promosi untuk 20 unit rumah, dijual kisaran harga Rp 60 juta tipe luas rumah 54 meter persegi dengan luas tanah 70 meter persegi (54/70). Rumah murah tersebut rencananya akan dibangun di Jalan Sekesalam Kp Cigorowong, Ds Sindanglaya, Kecamatan  Cimenyan, Kabupaten Bandung di bawah naungan Syna Group.

 

Kini kasusnya pun sudah dalam proses persidangan di Pengadilan Negeri Bandung. Dalam gelaran sidang kasus pada Kamis, 20 Sepetember 2018, dihadirkan tiga terdakwa yaitu Iwan Cica Erlangga (33) sebagai Komisaris Syna Group, Wildan Amarul Husna (30) sebagai Direktur Utama PT Jaka Tingkir Abadi dan Irfan Kurniawan (28) sebagai Direktur PT Multi Hataya Partner.

 

Sidang mengagendakan pemeriksaan saksi Harisman dan Prima Aulia.  Keduanya sebagai korban yang telah membayarkan sejumlah uang pada tiga terdakwa untuk satu unit rumah. Dan saksi dari Syna Group dihadirkan Indah Meylani dan Ikke sebagai marketing.

 

Dalam persidangan, Harisman menceritakan kronologisnya, berawal saat istrinya ditawari temannya, ketika mengetahui promosi rumah murah tersebut.  Ada penjualan rumah murah dengan promosi 20 unit rumah pertama seharga Rp 60 juta tipe 54/70 meter persegi di Kp Cigorowong, Ds Sindanglaya, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung.

 

Istrinya Harisman-pun langsung tertarik dan tanpa pikir panjang, langsung membeli rumah itu dengan menyerahkan booking fee senilai Rp 5 juta di transfer ke rekening bank BCA pada 16 Maret 2017, penerima atas nama Indah Meylani selaku marketing Syna Group. Pada tanggal yang sama, ia juga menyerahkan uang Rp 52 juta untuk booking promo di transfer ke rekening Bank Mandiri, penerimanya atas nama PT Anairis Putri Cahaya.

 

Selanjutnya, pada tanggal 18 Maret 2017, istrinya Harisman bersama putra sulungnya membayar lunas sebesar Rp 3 juta di kantor PT Anairis Putri Cahaya Jalan A.H Nasution, Arcamanik Kota Bandung, diterima oleh Siti Nurhayati petugas di teller.

 

"Sehingga rumah dibayar lunas Rp 60 juta, seluruh transaksi pembayaran, itu dilakukan istri saya”, kata Harisman.  Dan saat itu juga langsung dilakukan Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB) dengan Notaris Ai Mimin, ucap dia menambahkan.

 

Kecurigaan pun mulai terasa setelah membayar lunas, rumah tersebut tak kunjung ia terima hingga kini.  Bahkan sertifikat pun ia tak pernah melihatnya.

"Saya sempat datangi lokasi proyek perumahan Syna Sindanglaya yang beralamat di Jalan Sekesalam Kp Cigorowong, Ds Sindanglaya, Kec Cimenyan, Kabupaten Bandung, namun ternyata satu unit rumahpun belum dibangun. Saya tanya ke warga sekitar, ternyata tanahnya juga belum dibayar, perizinan juga belum ada.

Setelah itu saya dan beberapa korban lainnya menguasakan kasus ini kepada Lembaga Bantuan Hukum (LKBH) Mahawarman, kemudian melaporkannya ke Polrestabes Bandung," terang Harisman.

Hal senada juga dilontarkan Prima Aulia. Pada April 2017, ia membeli rumah di lokasi yang sama dengan Harisman seharga Rp 210 juta dengan tipe 54/70 meter persegi dan jika dibayar lunas, cukup bayar Rp 175 juta.  Pembayaran dilakukan bertahap atau dicicil selama tiga bulan.

 

Pertama, pada 27 April 2017 Prima membayar booking fee sebesar Rp 5 juta di transfer ke rekening atas nama PT Anairis Putri Cahaya. “Saya kemudian membayar down payment sebesar Rp 30 juta ke penerima yang sama pada 13 Mei 2017.  Lalu kemudian pada 23 Mei 2017 membayar Rp 30 juta, pada 3 Juni 2017 membayar Rp 30 juta.  Terakhir pada 10 Juni 2017 membayar Rp 80 juta untuk pelunasan. Semua pembayaran ditransfer ke rekening PT Anairis Putri Cahaya," ujarnya.

 

Usai pelunasan, Prima dijanjikan bahwa rumah akan diserahterimakan setelah 9 bulan 1 minggu.  Pada 10 Juni itu pula, ia melakukan PPJB dengan Syna Group yang diwakili Iwan Cica Erlngga di Notaris Al Mimin.

 

"Namun setelah sembilan bulan satu minggu yang dijanjikan sampai dengan saat ini rumah tidak saya terima.  Uang juga tidak dikembalikan," keluhnya.

 

Sementara itu, dalam berkas dakwaan dari jaksa Fitria Lestari, SH., terungkap ada 38 konsumen yang telah membeli tanah kaveling untuk rumah siap bangun yang berlokasi di Jalan Sekesalam Kp. Cigorowong Ds Sindanglaya, Kec Cimenyan, Kabupaten Bandung itu. Mereka umumnya telah membayar Rp 42 juta hingga Rp 60 juta.  Sehingga total uang yang sudah dibayarkan mencapai Rp 2 miliar lebih.

 

"Saat menawarkan kavling siap bangun tersebut, Syna Group menjanjikan rumah konsumen segera dibangun setelah pembayaran tahap pertama dan akan selesai setelah 9 bulan 1 minggu namun hingga saat ini, semua konsumen belum menerima rumah sebagaimana yang dijanjikan," papar Fitria

 

Ketiga terdakwa dijerat Pasal 378 juncto Pasal 55 ayat 1 juncto Pasal 65 ayat 1 KUH Pidana. Dalam uraiannya, disebutkan bahwa Iwan Cica Erlangga merupakan Komisaris Syna Group yang membawahi lima perusahaan yakni PT Anairis Putri Cahaya yang bergerak di bidang marketing dengan pimpinannya Kartini biasa disapa Ajeng, saat ini dia berstatus buronan.

 

Kemudian PT Multi Hataya Partner yang bergerak di bidang developer dengan pimpinannya Irfan Kurniawan. Irfan juga membawahi anak perusahaan yakni PT Lembur Karuhun, PT Pramuda Utama Andiri dan PT Jaka Tingkir dengan direkturnya Wildan Amarul Husna.  Lalu PT Garuda Teknik Otomatis, PT Hyura Central Buana dan PT Bandung Internasional Property.

 

Syna Group melalui PT Anairis Putri Cahaya awalnya mencari tanah kosong untuk dijadikan kavling siap bangun. Dalam menjalankan usahanya, terdakwa memberikan program promo reguler, reguler B, dan tahapan.

 

Program promo tersebut menawarkan harga Rp 60 juta untuk satu unit rumah dengan luas 70 meter persegi dan bangunan 54 meter persegi. Pembayaran dilakukan bertahap selama satu bulan sampai lunas.  Setelah lunas rumah akan dibangun.

 

Program reguler, menawarkan rumah seharga Rp 210 juta dengan luas tanah 70 meter persegi dan bangunan 50 meter persegi. Pembayaran bertahap selama tiga bulan. Kemudian program reguler B, menawarkan rumah Rp 520 juta dengan luas tanah 70 meter persegi serta bangunan 54 meter persegi.  Pembayaran bertahap selama delapan bulan.

 

Fitria juga menambahkan, untuk penghitungan konstruksi, gambar desain bangunan, dan estimasi harga ditentukan terdakwa Iwan dan Irfan.  Terdakwa juga mempromosikan rumahnya karena lokasi yang strategis, tanpa bunga, tanpa BI checking serta angsuran flat. (IG/dtn)

Add a comment

Tiga Calon Rektor Unpad Bikin Gaduh & Prihatin - MWA Didesak Bikin Tim Investigasi

rektor unpad 2Destinasianews - Laiknya sebuah dramaturgi, tatkala muncul tahapan 3 calon rektor Unpad (Universitas Padjadjaran) 2019 – 2024, yakni Obsatar Sinaga, Aldrin Herwany, dan Atip Latipulhayat, ada kegaduhan tersendiri. Pasalnya, Obsatar Sinaga, seakan tiba-tiba dilanda isu KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga).

 

Asal tahu saja, terjadinya KDRT ini terhadap mantan isteri Obstara Sinaga, terjadi pada tahun 2002 - alias 16 tahun lalu!

 

Mereaksi isu ‘miring’ ini pada Jumat, 28 September 2018 berlangsung diskusi ‘gempungan’ – mempertanyakan kinerja MWA (Majelis Wali Amanat) Unpad. Pesertanya, mayoritas alumni senior Unpad yang terafiliasi pada berbagai organisasi kemasyarakatan di Jawa Barat. Hadir di antaranya, Dindin S Maolani, Memet Hamdan, Andri Kantaprawira, Muslim Mufti, Buky Wibawa, Mansur ‘Uung’ Ahmad, Henda Surwenda Atmaja, Avi Taufik, Sapta, Ifi Afiat, Tatang Setiawan, Irwan Muchtar, Acil Bimbo, dan lainnya.

 

Mengapa meloloskan calon rektor yang punya rekam jejak kasus KDRT? Bukankah institusi Unpad melekat dengan unsur atikan (pendidikan)? Apa jadinya bila pimpinan lembaga pendidikan kebanggaan warga Jabar, pernah tersandung kasus moral dan etika?   Begitu, sebagian lontaran dari peserta gempungan ini yang juga beberapa di antaranya berusaha menetralisir polemik ini, demi mencari jalan keluar terbaik.

 

Tim Investigasi Independen

 

Dalam keterangan pers hari itu di GIM, Dindin S Maolani menjelaskan sikap hasil gempungan ini, mempertanyakan kinerja MWA, serta desakan segera membentuk tim investigasi independen.

 

“Ngapain saja selama ini mereka bekerja? Kami akan segera menemuinya. Terkait, apakah kasus ini sudah kadaluarsa?” seru Dindin sambil mengatakan –“Kejadian KDRT ini janganlah disepelekan karena telah membawa nama Unpad. Munculnya kembali kasus ini dari mantan isterinya, jadi jangan diabaikan.”

 

Lebih lanjut, Dindin dalam pengakuannya sudah kontak dengan mantan istri Obsatar Sinaga, melalui suaminya yang membenarkan perihal suratnya ke MWA termasuk ke Presiden Jokowi beberapa waktu lalu yang kini sudah tersebar di lini massa. Menurutnya, tidaklah mungkin peristiwa kala itu yang sudah pernah dilaporkan ke Polrestabes bisa hilang begitu saja:”Malah pernah dilaporkan ke Kompolnas ?”

 

rektor unpad 1Sementara Kesimpulannya

 

Menyoal kinerja MWA Unpad, Dindin mempertanyakan esensi terjadinya KDRT ini dengan kesimpulan sementara:

 

”Kejadian KDRT ini ada. Bahwa itu menjadi fakta hukum, tentu saja harus ada pelaporan dari Ibu Erna (korban) ke polisi. Bahwa itu ada perdamaian dalam konteks luka yang begitu berat, itu bisa saja terjadi. Dan ini ditolak oleh kuasa hukumnya (Bintang Yalasena Law Office) ini menjadi penting.”  

 

Menyangkut pertanyaan pewarta tentang azas nebis in idem seperti diungkap kuasa hukum Obsatar Sinaga (24 September 2018), yang di antaranya memuat pengakuan dua putranya tentang pelurusan kasus KDRT ini. Menurut Dindin hal ini dapat dipertanyakan oleh tim investigasi MWA Unpad, mulai dari perdamaian seperti apa, adakah kompensasinya dan sebagainya:

 

”Lagi pula ini kan sepihak, mungkin saja perdamaiannya dipertanyakan?”

 

Sementara itu tokoh Jabar Acil Bimbo dalam kesempatan ini melontarkan semacam sindirian tajam:

 

”Janganlah calon rektor ini dipakai sebagai heureuy (main-main). Harus kita ingat, keberadaan institusi pendidikan Unpad ini merupakan warisan dari para pendahulu tokoh Jabar. Salah satunya sebagai penjaga moral dan etika warga.”

 

Di pihak lain esoknya Sabtu, 29 september 2018 hadir tiga calon rektor Unpad di atas dalam talk show di Gedung 2 Rektor Lantai 4 Jl. Dipati Ukur No. 35 Bandung, Obsatar Sinaga angkat bicara. Ia mengungkapkan keprihatiannya atas merebaknya isu ‘bukan orang Sunda’.

 

Pelurusan Obsatar Sinaga mempertanyakan kodratnya – adanya atribut marga Sinaga di belakang namanya itu pemberian orang tuanya. Termasuk kecintaannya untuk mengembangkan budaya dan adat Sunda sudah melekat dari ibunya yang berdarah Sunda.

 

Eka Santosa Bicara

 

Secara terpisah Eka Santosa, Mantan Ketua Alumni FISIP Unpad yang juga Wakil Ketua IKA Unpad 2012 - 2016, kala dimintai pendapat tentang kegaduhan pada tahapan 3 calon rektor ini, institusi ini harus dijaga marwahnya dengan dengan landasan:

 

“Kita ingat saja nilai kehormatan seperti Guru Ratu Wong Atua Karo. Maknanya, Unpad yang melekat dengan pewarisan nilai-nilai kehidupan, pengelolanya harus sarat dengan aspek keteladanan. Ini tidak bisa ditawar.”

 

Lebih lanjut menurut Eka, jabatan seorang rektor janganlah terlalu berorientasi ke hal-hal teknis atau birokratis semata:

 

”Pertanyaan awam, apakah tidak ada yang lebih baik? Jabatan rektor itu melekat dengan sejumlah nilai moral. Bila pun terus berlangsung hingga 27 Oktober 2018 (pemilihan rektor)? Nah, ini MWA Unpad boleh dikata kecolongan. Lembaga ini tentu akan terbebani. Tak terbayang bagaimana menghentikan kegaduhan ini?!” tutupnya dengan berharap MWA Unpad membentuk tim investigasi independen. (HS / GUN)

Add a comment

Terungkapnya Penjualan Obat Keras Tanpa Resep Dokter

IMG 20180926 WA0088
destinasiaNews - Pada hari Rabu tanggal 26 September 2018 Pada pukul 16.00 bertempat di Pasar Curug Agung Ds/Kec.Padalarang Kabupaten Bandung Barat (KBB), telah dilaksanakan Rangkaian pengungkapan penjualan obat Keras tanpa resep dokter (Ilegal) oleh personel gabungan Tim intelrem 062/Tn, Deninteldam III/Slw dan Unitinteldim 0609/Kab.Bandung Pimpinan Kapten Inf Arif As'ari Dantimintelrem 062/Tn beserta 14 orang anggota.
 
Kegiatan Pengungkapan terhadap penjual obat keras tanpa resep dokter (Ilegal) di daerah Pasar Curug Agung Ds/Kec.Padalarang KBB.
sangat mengejutkan, karena saat itu gabungan tim intelrem kedapatan menangkap basah penjual dan pembeli, sekitar pukul 18.10 penjual dan pembeli kedapatan sedang berteransaksi penjualan dan pembelian obat tanpa resep dokter (ilegal). bukan hanya penjuala dan pembeli di sanapun ada saksi yang melihat bukti transaksi tersebut. Tanpa pikir panjang gabungan Tim intelrem membawa sekitar  7 orang berikut barang bukti  ke Makoramil 0923/Padalarang untuk diamankan dan dimintai keterangan.
 
Sebelumnya memang gabungan Tim interem ini sudah mengendus adanya praktek penjualan obat tanpa resep (ilegal) di pasar Curug Agung tersebut. Karena sebelumnya pada Pukul 16.00 Personel gabungan melaksanakan Briefing bertempat di Parkiran SPBU Kotabaru Ds/Kec.Padalarang KBB melaksanakan Antug/Ansas dan pembagian tugas. dan di lanjutkan Pukul 16.30 Personel Timintel melaksanakan kelayakan Uji Cover. Pukul 17.30 Unsur Pengaman berangkat mendahului menuju lokasi sekitar sasaran untuk memantau perkembangan situasi dan Kondisi. selang waktu sekitar Pukul 18.05 Unsur pelaksana masuk ke kios Sasaran beralamat di kios yang berada di Pasar Curug Agung Ds/Kec.Padalarang KBB dengan menyamar sebagai pembeli, Pada saat unsur pelaksana sampai di kios, kebetulan ada pembeli yang sedang transaksi obat keras tanpa resep, di situlah gabungan Tim intelrem menciduk penjual dan pembeli. 
 
Pukul 18.15 Personel gabungan beserta sasaran tiba di Makoramil 0923/Padalarang. setibanya di Makoramil 0923/Padalarang
Kondisi di Makoramil 0923/Padalarang dan sekitarnya sedang mati lampu. tapi tidak terhalang oleh matinya lampu Kegiatan tetap dilangsungkannya pengembangan.[BI]
 
 
Add a comment


emgz2

Artikel lain...

Meriahnya Perayaan Hari Ibu di Lapas Perempuan Bandung, Potong Rambut & Tata Rias Gratis dari Para Profesional

Meriahnya Perayaan Hari Ibu di Lapas Perempuan Bandung, Potong Rambut & Tata Rias Gratis dari Para Profesional

DestinasiaNews – Perayaan Hari Ibu yang jatuh setiap 10 Desember. Khusus pada tahun 2018, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas II...

Bertemu Koruptor di Pusaran ‘Kanker Stadium 4” – (Parodi, Huahaha ...)

Bertemu Koruptor di Pusaran ‘Kanker Stadium 4” – (Parodi, Huahaha ...)

OPINI Oleh : Harri Safiari destinasiaNews – Absurditas pribadi, sejahat-jahatnya seorang koruptor layaklah ditemui apalagi selama ia masih dipenjara. Ini pegangan...

Rupa-rupa ‘Nyaleg’ di Pileg 2019, Rupanya Huahahaha

Rupa-rupa ‘Nyaleg’ di Pileg 2019, Rupanya Huahahaha

OPINI Oleh: Harri Safiari destinasiaNews – Lolos menjadi calon legislatif atawa caleg, alias ‘nyaleg’ untuk Pemilu 2019, bolehlah disebut sebagai...

Rayakan Malam Pergantian Tahun Ala The Greatest Showman di The Papandayan

Rayakan Malam Pergantian Tahun Ala The Greatest Showman di The Papandayan

 destinasiaNews - Menyambut pergantian tahun baru 2019, The Papandayan menghadirkan pesta malam pergantian tahun bertajuk The Greatest Showman inspired Circus...

Eka Santosa, Tempatkan JIM 2018 Pangandaran, Paduan Pengembangan Olahraga Prestasi dan Destinasi Wisata

Eka Santosa, Tempatkan JIM 2018 Pangandaran, Paduan Pengembangan Olahraga Prestasi dan Destinasi Wisata

Varian multi facet sosok tokoh Jabar Eka Santosa (59), mantan Ketua KONI Jabar (2002 – 2006) yang juga Ketua Forum...

Pengunjung

02867505
Hari ini
Kemarin
1570
2820