Yusep Sudrajat, Kunjungi Ponpes Al Falah Nagreg – Mari, Tangani Sampih demi Revitalisasi Sungai Citarum 

IMG 20190329 WA0013
destinasiaNews  -  Yusep Sudrajat selaku Dansektor 21 Program Citarum Harum, kembali pada Rabu, 28 Maret 2019 menyambangi salah satu simpul  masyarakat yang berkontribusi langsung, maupun tidak langsung terhadap revitalisasi Sungai Citarum. Hari itu ia menyambangi Ponpes Al-Qur’an Al Falah 2 Nagreg di Jl. Raya Nagreg No. 35 Pamucatan Nagreg Kendan Kabupaten Bandung, Jawa Barat.  
 
Dihadapan tuan rumah, pimpinan Ponpes Al-Quran Al Falah 2, nama lain dari Ponpes ini yakni KH Cecep Abdullah yang didampingi beberapa ustad dan ratusan santri, Yusep menjelaskan secara runtun tentang misi dan visi revitalisasi Sungai Citarum. Panduannya, mengacu ke Perpres No. 15 Tahun 2018 - tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Daerah Aliran Sungai Citarum:
 
“Benar seperti kata Pak Kiyai Cecep tadi, kini ada sebagian sungai Citarum sudah bisa dipakai untuk berenang oleh warga, terutama anak-anak. Impian saya, sudah ada yang tercapai, paparnya yang diapresiasi secara spontan oleh ratusan santri dengan bertepuk-tangan riuh.
 IMG 20190329 WA0012
Seakan menyela dari riuhan tepuk tangan itu, kembali Yusep mendedarkan upayanya itu terjadi berkat kerja keras semua pihak. Menurutnya, dalam 30 tahun terakhir Sungai Citarum menjadi septic tank bagi jutaan warga di bantarannya.
 
“Target mulai hulu hingga hilir sepanjang 269 Km bantarannya harus ditanami sedikitnya 26 juta pohon selama 7 tahun. Sekarang, sejak Maret 2018 baru 1 juta pohon tertanam. Gunung Wayang di hulu sekitar 1.400 Ha harus dihijaukan, juga 460 ribu Ha sawah di Bekasi sebagai lumbung padi, harus diselamatkan. Belum lagi bendungan (waduk) Cirata, Saguling, Jatiluhur adalah pembangkit listrik bagi pulau Jawa dan Bali, juga fungsi lain seperti sebagai tempat keramba jaring apung (ikan), harus dibenahi,” urai Yusep yang kini paham tentang karakter Sungai Citarum.   
 
Sungai Terkotor  
 
Yusep, tiba pada penjelasan Sungai Citarum sebagai salah satu sungai terkotor sedunia, tatkala video dan pemberitaannya menjadi viral pada era 2017-an. Indikasinya pada tahun yang sama, BPJS se Indonesia melaporkan sekitar Rp. 1,9 T adalah pengeluaran terbesar bagi warga di sekitar Sungai Citarum. Penyebabnya, di antaramya limbah pabrik sebanyak 3000-an di bantaran, tanpa IPAL yang sempurna.
 
“Sejak Maret (2017) sekitar 60 – 70-an telah dicor lubang pembuangan limbahnya. Sekarang terus bertahap IPAL ini dibenahi, biasanya kami pasang ikan koi sebagai indikator layak tidaknya digelontorkan ke Citarum. Masalah lainnya, soal sampah, tinja, dan sejumlah rumah sakit, dan rumah tangga, perlu kerjasama menanggulanginya,” jelas Yusep yang di Ponpes Al Falah Nagreg akan memasang incinerator sampah ramah lingkungan, setelah sebelumnya menyisipkan cara-cara praktis bagi warga untuk menanggulangi berita hoax yang meresahkan kita.
 
“Semoga saja upaya ini akan menjadi pilot project, sedkitnya di beberapa titik area sector 21 ,” papar H Ade sebagai partisipan pemulihan Sungai Citarum yang ikut meninjau Ponpes ini.
 
 Sampah itu    
 
Alhasil kunjungan Yusep ke Ponpes yang menurut   Cecep Abdullah telah dirintis oleh ayahnya KH. Qori Ahmad Sahid pada tahun 1970. “Pesantren  ini punya 2.500-an santri berasal dari daerah Nagreg dan Cicalengka. Juga ada formal sejak TK, SD, Tsanawiyah (SMP), Aliyah (SMA), SMK, hingga perguruan tinggi. Kali ini siswa SMK-nya sedang menghadapi UNBK,” jelas Cecep Abdullah.
 
Intinya, dari kunjungan ini untuk jangka pendek ini akan dilengkapi dengan incinerator pengolah sampah yang ramah lingkungan:”Nantinya, sampah dari kompleks Ponpes ini secepatnya dapat ditangani dengan baik dan terpadu,” jelas Yusef sambil menambahkan pada siang harinya akan meninjau penerapan incinerator di beberapa titik di bantaran Sungai Citarum. (HS/SA/dtn)
 
Add a comment

Kol. Inf. Yusep Sudrajat - Sukses Tingkatkan SHU & Kinerja, di RAT ke-59 Puskop Kartika Siliwangi

kop1destinasiaNews – Berita gembira muncul kala digelar RAT (Rapat Anggota Tahunan) ke–59  Pusat Koperasi (Puskop) Kartika Siliwangi, saat Tutup Buku Tahun 2018 di Denma Kodam III/Siliwangi di Jl. Aceh Kota Bandung (27/3/2019. Kolonel Arm. Mandrawan S, Perwakilan Induk Koperasi Kartika, dalam cuplikan kata sambutannya, di antaranya, ”Keberhasilan menggenjot pencapaian Sisa Hasil Usaha (SHU) tahun 2018, ini melebihi dari target perencanaan,. Tepatnya, menembus angka Rp. 1,8 miliar. Jumlah itu meningkat hingga 285 persen dari pencapaian SHU tahun sebelumnya.”

 

Lebih lanjut kata Mandrawan S, SHU bukanlah segalanya, tetapi pencapaian ini merupakan salah satu indikator penting dalam keberhasilan koperasi ketika menjalankan kegiatan usahanya. "Atas keberhasilan ini, saya atas nama pengurus Induk Koperasi Kartika menyampaikan penghargaan yang setinggi tingginya. Semoga keberhasilan ini dapat ditingkatkan lagi pada tahun mendatang."

 

Pada pihak lain, Ketua Umum Puskop Kartika Siliwangi, Kol Inf Yusep Sudrajat, mengatakan apresiasi yang hampir sama, atas kemajuan yang dikatakannya cukup significan. Kemajuan ini meliputi selain peningkatan SHU, juga efisiensi penggunaan dana pengeluaran di bawah nilai perencanaan. "Dari perencanaan penggunaan dana Rp.1 miliar lebih, kami hanya mengeluarkan Rp.900 juta-an, artinya penggunaan dana pengeluaran lebih minimal (kecil) dibanding dengan jumlah perencanaan," jelas Yusep Surajat.

 

Bersih & Jujur

kop2Lebih jauh menurut Yusep Sudrajat yang sehari-hari dikenal juga sebagi Komandan Sektor 21 dalam kaitan revitalisasi Sungai Citarum, obsesi keberadaan koperasi sebagai ‘soko guru’ ekonomi di negara kita - sebagai lembaga keuangan yang dipercaya, “Tahap demi tahap mulai dipercaya semua personil maupun anggota koperasi di mana pun, utamanya bagi jajaran Puskop Kartika Siliwangi.Caranya, lakukan bersih bersih. Bersih di segala tindakan, pola pikir, administrasi, dan anggaran,” ujarnya sambil menambahkan, “Harapannya, seluruh anggota menjadi percaya, melalui koperasi kesejahteraan anggota itu dapat kita raih bersama.”

 

Bagi Yusep Sudrajat yang menjabat sebagai Kapuskop Kartika Siliwangi sejak Februari 2018, upayanya dalam hal implementasi program Usipa bagi anggotanya - tanpa melibatkan pihak ketiga (bank atau lembaga keuangan lain), dirasakan sebagai hal yang membanggakannya, "Selama satu tahun itu, alhamdulillah sudah jauh meningkat. Dari uang Rp.5 miliar yang ada di koperasi, berupa dana segar, itu duitnya benar-benar ada di koperasi."


Kebanggaan ini patut Yusep Sudrajat ungkapkan, mengingat pada tahun-tahun sebelumnya program Usipa ini kerap melibatkan pihak ketiga. Perubahan terjadi, tatkala Yusep memimpin koperasi ini, mampu meningkatkan kinerja di beberapa bidang, "Saya bilang gunakan dana sendiri yang ada di Puskop. Karena itu, bunganya dapat ditekan seminimal mungkin, menjadi 0,8 persen per bulan. Sehingga kalau 12 bulan, hanya sekitar 10 persen," jelasnya dengan nada sumringah, “Tadi Anda bisa lihat sendiri, pada RAT kali ini kami bisa memberikan doorprize sepia motor, dan pembagian bea siswa ke beberapa siswa SMA, dan mahasiswa di antara putra-putri kita.” (HS/SF/dtn)

Add a comment

Berkarya Jabar - Eka Santosa : Tingkatkan Kesehatan, Bangun RS Berujung Kasus Alkes!

rri eka

destinasiaNews - Eka Santosa, Ketua DPW Partai Berkarya Jawa Barat di studo RRI Jl. Diponegoro Kota Bandung, pada Senin, 25 Maret 2019 pukul 14.00 - 14 mendedarkan gagasan politik dengan lantang, “"Persoalan tata ruang dan lingkungan yang amburadul di KBU (Kawasan Bandung Utara) sejak puluhan tahun, tak kunjung tuntas. Ini menjengkelkan. Bagaimana rakyat mau tentram?, jelas Eka ketika menjawab pertanyaan pemandu acara Pujo Hastowo, penyiar senior RRI Bandung - Seperti apa amburadulnya tata lingkungan hidup di Jabar?

Statemen lugas Eka itu, yang membahas soal lingkungan hidup, krisis kepemimpinan, dan munculnya dehumanisasi di Tanah Pasundan, menurutnya karena tidak ada pemimpin urat kepemimpinan yang lugas dan tegas, "Coba tiru Gubernur DKI, beliau mampu menghentikan reklamasi pantai di Teluk Jakarta. Kalau di Jabar, misalnya Hotel Pullman Bandung (Gasibu) yang ketinggiannya melebihi aturan. Fatalnya, IMB nya bermasalah sejak awal (2012). Nasibnya sekarang masih berjaya di lahan yang dulu saya rekomendasikan (Ketua DPRD Jabar 1999 - 2004) sebagai RTH atau hutan kota. Belum lagi Sungai Citarum sebagai sungai terkotor sedunia, ini menyakitkan bagi kita yang katanya sebagai bangsa berbudaya tinggi."

Tegasnya hari itu Eka di RRI Bandung, membahas program kerja Partai Berkarya Jabar, kelak bila ada yang duduk di legislatif di berbagai tingkatan, selain membenahi masalah lingkungan hidup, juga pendidikan, lapangan kerja, kesehatan, dan ketahanan pangan, disertai pengembangan swa-sembada seperti prestasi Indonesia pada era 1980-an.

"Kita harus obyektif, hal yang baik seperti GBHN, swa sembada pangan, keberhasilan program KB (Keluarga Berencana), tumbuhnya Klompencapir (Kelompok Pendengar dan Pemirsa) yang menggiatkan ekonomi kerakyatan kala itu di pedesaan, mengapa tidak dihidupkan lagi?" tambahnya kala dicecar Pujo dengan sejumlah pertanyaan yang menyasar - Solusi atas karut-marut di Jabar.

Terkait bagaimana meningkatkan taraf kesehatan warga Jabar, kata Eka perlu perbaikan lingkungan di segala sektor. "Jangan terkecoh meningkatkan kesehatan lalu membangun rumah sakit secara masif, padahal kondisi lingkungan masih amburadul. Air bersih, tata ruang, polusi dalam berbagai tingkatan, tak dibenahi. Akhirnya, program kesehatan identik dengan proyek, ya seputar alkes-alkes yang bermasalah menjadi tipikor, ujarnya dengan menambahkan - " Banyak pembuat keputusan membangun rumah sakit, yang berujung proyek, ya alkes alkes itu... "

Kepada destinasianews usai 'Kampanye Partai Berkarya' di RRI Bandung, Eka didampingi pengurus DPW Partai Berkarya Jabar Dr. Neneng Nenih, Ketua Perempuan Jabar, dan Ahmad Suwardi, Sekertaris Bappilu Partai Berkarya Jabar, mengungkapkan apresiasi atas beberapa kolega yang memberikan reaksi positif atas materi kampanye kali ini:

"Tak menyangka ini ada beberapa rekan yang menyimak dari daerah Jabar Selatan (Garut dan Tasikmalaya). Ternyata RRI denyutnya masih terasa hingga di pelosok daerah." (HS/SF/dtn)

Add a comment

Guntur Saragih, KPPU Angkat Bicara di FH Unpad: Tak Setuju Batas Atas & Bawah Tarif Penerbangan

Bincang Publk

destinasianews – Dr. Guntur Syahputra Saragih, M.S.M., Anggota Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) usai menghadiri Bincang Publik yang mengulik Persaingan Usaha dalam Industri Penerbangan, Kamis, (21/3/2019), di Auditorium Tommy Koh-Mochtar Kusumaatmadja FH Universitas Padjadjaran (Unpad) Kampus Jatinangor, mengemukakan:

“Publik masih banyak yang belum mengerti, akibat persaingan usaha yang tidak sehat, dampaknya sangat besar. Kerugian, akibat kesalahan aturan dalam persaingan usaha, bisa lebih besar dari mega korupsi di negeri kita. Lebih besar dari kasus e KTP (Rp. 2,3 T), misalnya,” ujarnya sambil menambahkan kesadaran warga masih belum full soal ini, terutama dugaan kartel di industri penerbangan – “Diam-diam ua raksasa industri penerbangan bisa memainkan nilai uang lebih dari besaran kasus e-KTP.”

Hadir dalam Bincang Publik yang dipantau ratusan mahasiswa dan praktisi hukum dari berbagai kampus di Tanah Air, karena disiarkan live melalui ‘video confrence’ dengan pemandu acara Ema Rahmawati S.H., M.H, di antaranya  Kabid Hukum Navigasi MHU (Masyarakat Hukum Udara) Dovy Brilliant Hanoto, S.H., dan dosen Persaingan Usaha di Fakultas Hukum Unpad Dr. Isis Ikhwansyah, S.H., MH, CN.

Menurut Guntur butir utama perbincangan ini ini sejatinya, keberadaan airline bagi KPPU bukan soal perkaranya, melainkan sebagai advokasi kebijakan pemerintah.  Soal industri, KPPU tak hanya berbicara soal kinerja maskapai saja, di sini ada keterkaitan lain.

“Di sini ada operator bandara,dan unsur lainnya. Maknanya, memahami persoalan airline tak hanya sebatas soal maskapai saja.”

Ditanya soal sejauh mana progres penyidikan soal kenaikan harga tiket pesawat, yang pada awal tahun 2019 menguncang geliat industri penerbangan nasional:

“Sudah pada tahap penyelidikan. Ini berada pada tahapan menemukan dua alat bukti. Soal ini sedang dilakukan oleh investigator kami.”

Perihal sinyalemen keterlibatan BUMN dalam kenaikan harga tiket pesawat, menurut Guntur, ada tiga hal yang menjadi bahasan, yakni kartel, tiket, cargo dan KSO (rangkap jabatan Garuda dan Sriwijaya). Menurutnya, pertanyaan kunci mengungkap ada tidaknya kartel, bertumpu pada:

 “Apakah dalam penetapan harga (tiket) ini ada penetapan bersama?” ujarnya seraya menyinggung eksistensi Pasal 5 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

Kritik Guntur lainnya, menyasar pada keberadaan Peraturan Menteri Nomor 14 Tahun 2016 tentang Mekanisme Formulasi Perhitungan dan Penetapan Tarif Batas Atas dan Batas Bawah penupang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Uara Niaga Berjadwal Dalam Negeri.

“KPPU tidak setuju dengan peraturan ini. Ini membatasi pelaku usaha. Setiap lingkup bisnis punya nature sendiri-sendiri. Idealnya, penetapan harga itu dilakukan secara individual (airline masing-masing),” jelasnya yang berjanji pada April 2019 KPPU di Bandung akan membuka Kantor Wilayah III untuk lingkup area Banten, DKI, dan Jabar.

Supaya Kartel Tak Ada

Sebelumnya masih di forum ini, Dovy Brilliant Hanoto mengupas implikasi persaingan bisnis penerbangan kita. Menurutnya, gonjang-ganjing harga tiket misalnya, terjadi justru setelah banyak disentuh atau melibatkan teknologi internet -  memunculkan persaingan yang tidak sehat:

“Makanya, harus kita kontrol dengan ketat, antara pengertian price dengan cost saja, jangan-jangan para pengguna jasa (masyarakat) banyak dikelabui? Tugas kita bersama-sama membenahinya dengan sektor-sektor lain.”

Pada pihak lainn Isis Ikhwansyah selaku ‘guru’ dari dua nara sumber ini kembali menegaskan, jangan mengorbankan 269 juta populasi negara kita yang menggiurkan sebagai potensi pasar industri penerbangan, belaka:

”Perlu kajian khusus dari segi hukum yang berpihak ke kepntingan konsumen, di antaranya perlu hakim-hakim yang mampu membuat keputusan adil atas peliknya kasus di dunia penerbangan komersial yang melibatkan kecanggihan teknologi terkini”

Isis secara serius mempertanyakan, kasus ribuan warga Aceh yang ingin pergi ke Jakarta, berbondong-bondong justru pergi ke Kuala Lumpur (Malaysia) dahulu karena tiketnya justru jauh lebih murah.

“Ini kan aneh, berarti ada sesuatu yang keliru? Masa warga Aceh mau ke Jakarta atau ke Bandung, misalnya harus ke Malaysia dulu, harus punya paspor? Kedaulatan negara kita ada dimana?”, tutup Isis yang diamini banyak pihak. (HS/HRS/dtn)

Add a comment

Peringatan Bandung Lautan Api Lebih Afdol di Stadion Siliwangi. Mengapa?

bla

DestinasiaNews Di setiap bulan Maret Kota Bandung memiliki tradisi memperingati peristiwa Bandung Lautan Api (BLA). Peristiwa BLA itu sendiri terjadi pada 24 Maret 1946. Pada peristiwa itu beberapa bangunan di Bandung dibakar oleh para Tentara Pelajar yang kelak menjadi tentara pasukan Siliwangi. Pembakaran bangunan itu dilakukan agar tidak bisa digunakan oleh Tentara Sekutu selama ditinggalkan.

Cikal bakal Pasukan Siliwangi itu menghindar ke selatan Bandung atas ancaman Tentara Inggris. Namun, Kolonel AH. Nasution, Komandan Divisi kala itu, tidak mau menyerahkan Bandung begitu saja. Pasukan bersenjata bersama rakyat Bandung mengungsi ke selatan Bandung setelah membakar berbagai instalasi penting. Peristiwa yang diawali pertempuran 3 hari di Fokkersweg (Jl. Nurtanio sekarang) pada 20 Maret 1946 ini pun merupakan salah satu Palagan yang menentukan kemenangan perjuangan revolusi 1945.

Dari peristiwa BLA ini pula kemudian memunculkan seorang Jendral Besar berbintang 5 yaitu Jendral AH. Nasution. Selain itu, BLA juga mengawali keberasamaan antara Pasukan Siliwangi dengan rakyat, khususnya warga Bandung, yang kemudian melahirkan “Siliwangi adalah Rakyat Jawa Barat, Rakyat Jawa Barat adalah Siliwangi.”

FB IMG 1552477515040

Berdasar kisah peristiwa BLA itu, Abah Landoeng (94), salah seorang sepuh Kota Bandung yang juga saksi hidup peristiwa tersebut, berharap peringatan BLA tahun ini dimanfaatkan untuk membangun jiwa kejuangan kaum milenial dalam kebersamaan TNI dengan rakyat. “Peringatan peristiwa Bandung Lautan Api lebih afdol di Stadion Siliwangi,” cetus Bah Landoeng ketika dijumpai tengah bersepeda dan dicegat sejenak di Jalan Martadinata.

Stadion Siliwangi? “Iya, Stadion Siliwangi itu punya kaitan sejarah dengan peristiwa BLA,” kata mantan huru di SMPN 2 dan 5 Bandung ini. Lalu dia berkisah. Di awal tahun 50an Kodam Siliwangi yang saat itu masih berstatus Kodam VI kini Kodam 3, mempunyai inisiatif berterimakasih kepada warga Bandung yang telah bekerjasama dalam peristiwa BLA tahun 1946.

Waktu itu adalah seorang staf Siliwangi yang kemudian akrab disapa dengan panggilan Pak Mashudi. Kodam Siliwangi saat itu masih dipimpin oleh Kolonel Kawilarang. Pak Mashudi lalu berupaya mengumpulkan sedikit demi sedikit sebagian dari gaji para prajurit Siliwangi untuk dijadikan biaya membangun stadion. “Lokasinya di Jl. Lombok yang di jaman Belanda dikenal dengan sebutan Lapangan Sparta. Kenapa stadion? Waktu itu Bandung memang belum memiliki stadion resmi,” tutur Bah Landoeng.

Dari sen demi sen uang gaji prajurit tersebut kala itu terkumpullah biaya untuk membangun stadion olahraga. Lalu, lapangan olahraga yang dinamai Stadion Siliwangi itu merupakan bentuk pengharagaan dan terima kasih untuk warga Bandung. Stadion Siliwangi diresmikan penggunaannya memilih waktu sesuai dengan persitiwa BLA yaitu pada tanggal 24 Maret 1956, sepuluh tahun setelah peristiwa bersejarah itu terjadi.

crop stadion

“Stadion itu masih tegak berdiri dan telah banyak menyumbang untuk peraihan prestasi olahraga Jawa Barat, utamanya Persib, lanjut Abah Landoeng. Berkat andil stadion itu beberapa kali Persib juara di Indonesia dan pada tahun 1967 Jawa Barat sempat menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) berkat adanya Stadion Siliwangi.

“Maka dari itu saya menyarankan, untuk memeperingati Peristiwa BLA kali ini agar diselenggarakan di Stadion Siliwangi. Tahun lalu kan di GOR Pajajaran, tidak ada gereget sejarahnya di situ mah,” ujar Abah Landoeng. (AR/dtn).-

Ilustrasi foto: Historie Van Bandung (HVB), indosport.

#BLA #bandunglautanapi

#stadionsiliwangi

Add a comment


emgz2

Artikel lain...

Subsektor 04-21 Lakukan Komsos Untuk Merubah Pola Hidup Warga

Subsektor 04-21 Lakukan Komsos Untuk Merubah Pola Hidup Warga

destinasiaNews - Untuk merubah pola hidup warga di sekitar bantaran sungai, prajurit satgas Citarum Harum selalu melakukan komsos kepada warga...

Satgas Citarum Subsektor 01-21 Selalu Himbau Warga Menjaga Kebersihan Lingkungan

Satgas Citarum Subsektor 01-21 Selalu Himbau Warga Menjaga Kebersihan Lingkungan

destinasiaNews - Satgas Citarum Harum Subsektor 01-21 Rancaekek dalam melaksanakan tugasnya, selain membersihkan aliran dan bantaran sungai dari sampah juga...

Kolonel Inf Yusef Sudrajat Bantu Tengahi Warga Dan Pabrik

Kolonel Inf Yusef Sudrajat Bantu Tengahi Warga Dan Pabrik

destinasiaNews - Permasalahan yang muncul dalam lingkungan masyarakat yang terdapat pabrik biasanya berupa limbah pabrik yang menimbulkan bau yang mengganggu...

Imam Prasojo Bitjaraken Toedingan Katjoerangan en Polemiek Quick Count Pemilu 2019

Imam Prasojo Bitjaraken Toedingan Katjoerangan en Polemiek Quick Count Pemilu 2019

  OPINI Oleh : Harri Safiari   destinasiaNews – Setoeroet artikelen jang dimoeat Kompas.com (22/4/2019) berdjoedoel: Imbauan Imam Prasodjo Terkait Tudingan...

Degap-degoep Oesai Pemilu 2019 – Bereboet Siapa Mahoe Djadi ‘Presiden’ RI

Degap-degoep Oesai Pemilu 2019 – Bereboet Siapa Mahoe Djadi ‘Presiden’ RI

destinasiaNews – Seoesai pesta democratie paling roemit sedoenia (17/4/2019), kapoetosan formaal menoeroet KPU baroe pada tarich 22 Mei 2019. Ternjata satelahnja,...

Pengunjung

03213842
Hari ini
Kemarin
2229
3958