Sababay Industry Berdayakan Petani Lokal Dalam Produksi Wine

Sababay W1

Destinasianews–Kebutuhan wine di Bali, saat ini mencapai 21 juta botol per tahun dan 95% nya masih didominasi produk impor. Padahal, banyak varian wine lokal yang tidak kalah kualitas dan cita rasanya dibanding dengan buatan Eropa maupun Amerika, ungkap Mulyati Gozali Founder PT. Sababay Industry, saat acara Wine Pairing yang bertajuk : “A Nation Branding Through Culinary Partnership Celebration Sababay X The Peak Connoiseseurs”, berlangsung di Four Point by Sheraton Jalan Ir. H. .Juanda Bandung, Rabu, (24/2/2016).

PT. Sababay Industry adalah salah satu produsen wine lokal yang menggandeng petani di Buleleng, Bali. Kerjasama ini untuk penjualan anggur secara eksklusif dengan harga wajar dan ramah bagi petani lokal. Hal ini dilatarbelakangi karena keprihatinan harga anggur lokal yang dibanderol sangat murah (Rp. 5 ratus per kilogram). Ada kesenjangan di antara masyarakat Bali, di mana bagian bawah sangat maju dengan pariwisata yang berkembang pesat. Sementara penduduk yang tinggal di wilayah pegunungan cenderung tertinggal, kata Mulyati.

Sababay W2

Mulyati Gozali Founder Sababay Winery lokal asal Bali, mengatakan, dengan membangun pabrik dan kebun secara terintegrasi, anggur petani bisa langsung dibeli Sababay dengan harga layak, Rp 5 ribu per kilogram atau 10 kali lebih tinggi dari harga di tengkulak. “Total petani binaan kami 160 , tapi sebenarnya ada 500 petani lain yang antri, mereka melihat petani binaan kami lebih makmur, tapi kapasitas produksi kami belum bisa menampung,” ujarnya

Pihaknya memberi pelatihan dan penyuluhan harian kepada para petani, terutama menyangkut cara bertanam, memetik anggur, dan mengenali waktu panen. Saat ini, luas kebun anggur yang digarap petani binaan Sababay Industri mencapai 80 hektare (ha) dari lahan 1000 hektar yang ada. Untuk memutus mata rantai tengkulak, pabrik Sababay dibangun satu lokasi dengan kebun anggur tersebut. “Kami berdayakan petani agar mereka bisa hidup layak dan mendapatkan hasil yang fair,” katanya.

Saat ini petani binaannya bisa meraup nilai panen Rp 100 juta, angka yang tidak terbayangkan oleh petani anggur di Bali Utara. Sababay Industry berprinsip, lima tahun pertama Sababay mendorong petani menjadi mandiri, lima tahun kedua menjadi makmur. “Saat ini, kami sudah masuk dalam periode makmur. Petani happy, anak-anaknya bisa kuliah, punya sapi tujuh ekor dan banyak lagi,” kata Mulyati

“Yang mendasari Sababay kerjasama kemitraan dengan petani lokal dengan memberikan harga yang layak yaitu dengan harga Rp. 5 ribu per kilogram, untuk produksi anggur mereka.  Indonesia pun bukan sekedar penikmat wine dari Eropa saja, melainkan memiliki produk buatan anak negeri,” ujar, Manpalagupta Sitorus, Marketing Director Sababay.

“Potensi pertumbuhan wine di Asia, khususnya Bali merupakan salah satu potensi untuk pengembangan ekonomi kreatif. Selain itu, memberikan nilai tambah terhadap produk perkebunan anggur”, kata Evy Gozali, CEO Sababay.

“Tidak salah jika wine asli Indonesia yang diproduksi dari anggur yang dibudidayakan di iklim tropis, menjadi alternatif minuman dari olahan buah anggur yang dipermentasi selama dua bulan itu, memiliki aroma, rasa dan style cukup berbeda dengan produk impor”, tegasnya.

Selain itu, kehadiran wine lokal ini sekaligus menepis anggapan jika Indonesia tidak dapat memproduksi minuman anggur karena faktor iklim yang tidak mendukung. Faktanya, anggur dapat tumbuh dengan baik pada iklim cenderung kering dengan suhu udara malam hari yang cukup dingin. Pemilihan lokasi serta varietas anggur yang tepat, membuat budi daya anggur di Indonesia dapat memberikan hasil memuaskan. Bahkan, anggur produk Sababay mulai dilirik wine expert dari luar negeri dengan meraih beberapa penghargaan, kata Evy.

Hal ini membuktikan kualitas wine lokal sudah diakuimancanegara. Diantaranya Sababay Moscato d’Bali yang meraih medali perak dalam ajang Austrian Wine Challenge Wienna 2015. Wine ini memiliki cita rasa manis dan aroma segar sehingga mudah diterima penikmat anggur, ujar Evy.

Produk wine lokal lainnya yang mampu berbicara di tingkat dunia dan diakui penikmat wine adalah Sababay Ludisia, Sababay Reserve Red, Sababay White Velvet, dan Sababay Pink Blossom, papar Evy menambahkan.

Eddy Sugiri, Owner The Peak Connoisseurs, mengatakan, wine asal Indonesia sudah mulai disukai, “Saya sebagai distributor delapan merek wine dunia, sudah lama ingin bekerjasama dengan Sababay Winery, dan akhirnya saat ini impian kami dapat terwujud,” ujarnya.

“Memorandum of Understanding (MoU) antara The Peak Connoisseurs dan Sababay Winery, menandakan hadirnya wine lokal Sababay di Indonesia khususnya di Kota Bandung,” kata Eddy,

Kehadiran wine lokal semakin menambah referensi penikmatnya termasuk ekspatriat dan melengkapi ragam jenis minuman anggur produksi dari berbagai negara, tegasnya.

“Ya, minat masyarakat menikmati minuman eksklusif ini bukan hanya sekadar pelengkap sajian, tapi sudah menjadi lifestyle. Wine tidak hanya digunakan untuk menyelingi hidangan, melainkan bagian dari pergaulan sosial.

Sababay W3

Tidak hanya itu, menghirup dan menikmati wine dalam keadaan santai membuat tubuh merasa rileks. Kenikmatan anggur dimulai dari aroma yang keluar saat dituangkan ke dalam gelas, pungkasnya.

Sababay mampu memproduksi 500 ribu botol wine asli Bali setiap bulannya, yang dijual dengan harga Rp 200-400 ribu per botolnya. Perusahaan yang bergerak di bisnis winery itu membesut merek Sababay Wine, wine lokal asli Bali.  Varian wine produksi Sababay di antaranya: Pink Blossom, Ludisia, Moscato d’Bali, dan Reserve Red.

Uniknya wine racikan Sababay ini disandingkan dengan panganan ala Chef Putri Mumpuni dari Aku Cinta Masakan Indonesia (ACMI) antara lain : Lumpia Semarang, Asinan Jakarta, Gado-Gado, Tahu Telor Surabaya, Soto Lamongan, Dori Rica-Rica, Sate Maranggi, Tumis Buncis Teri Medan, dan Kue Lumpur Jakarta.

Menurut pantauan destinasianews.com, pada acara tersebut hadir pula Jendral TNI (Purn), Wismoyo Arismunandar (Mantan Kasad), Profesor Wiranto (Mantan Mendiknas), seniman kondang, Nyoman Nuarta beserta istri, Ketua Apindo Jawa Barat, Deddy Widjaja dan ratusan tamu undangan lainnya, (HRS/SA/dtn).

Add a comment

Malam Tahun Baru Imlek di Jing Paradise Chinese Fine Dining

 Imlek Mercur edit

 

Destinasianews - Di awal bulan Februari, masyarakat Tionghoa akan menyambut tahun baru Imlek. Pada perayaan ini, budaya berkumpul bersama keluarga sudah menjadi tradisi turun temurun sekaligus sebagai bentuk syukur atas berkah yang di dapat sambil saling memanjatkan doa untuk kerabat.

Mengikuti tradisi menyambut Imlek, Jing Paradise Chinese Fine Dining menawarkan sajian masakan oriental terbaik untuk dinikmati bersama keintiman keluarga dan kerabat terdekat Anda. Selain sajian menu otentiknya, Jing Paradise menyuguhkan pertunjukan barongsai, hiburan musik oriental, atraksi Yu Sheng, dan bagi-bagi angpao dengan grand prize kesempatan menginap di Mercure Bandung Setiabudi.

Chinese New Year Package yang ditawarkan terdiri dari Package Set Menu A di Rp. 4.888.000,- ++ untuk 1 table x 10 pax, dan Package Set Menu B di Rp. 8.888.000,- ++ untuk 1 table x 10 pax. Kedua menu tersebut memiliki 10 varian menu yang akan menghangatkan kebersamaan Anda dengan orang-orang tercinta.

Jing Paradise Chinese Fine Dining merupakan restaurant yang menyajikan cita rasa oriental terbaik dengan memberikan pengalaman bersantap yang berkesan dan tempat sempurna untuk merayakan acara spesial bersama keluarga dan teman. Untuk informasi dan reservasi, dapat menghubungi 022-201 2610. Jing Paradise Chinese Fine Dining - Mercure Bandung Setiabudi Jalan Dr Setiabudi No. 269 – 275 Bandung. (HRS/Rls/dtn)***

Add a comment

Awug Beras Asli Cibeunying – Kuliner Tradisional Tahan Banting !

AWUG 3 Copy

Destinasianews – Boleh taruhan, kuliner tradisional khas Jawa Barat yang satu ini, namanya awug. Ini termasuk kategori, kuliner tahan banting! Maknanya, sementara jenis makanan tradisional atau jajanan pasar lain semakin terdesak oleh serbuan “kuliner globalisasi”. Hebatnya, jajanan tradisional awug, yang satu ini beserta rekan-rekannya masih lestari. “Demi menghadang serbuan kuliner, apalagi sejak dijalankan MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN), awal 2016 – awug dan rekannya itu ongol-ongol, putri noong, adas, lupis, putri mayang, kelepon, ali agrem, bika ambon, moci, gurandil, jiwel, jalabria, naga sari, moho, dan bugis. Mereka itu bemper efektip, untuk menghadang kuliner asing!”, kata Mamat Hendarsyah (43), pengamat dan pecinta kuliner Bandung.

AWUG 1 Copy

Mamat, bukan tanpa sebab berkata demikian. Perihal awug, menurutnya bisa disetararakan sebagai “ideologi kuliner” Jawa Barat dan Indonesia umumnya. “Lha, sok lihat di mall dan café serta hotel berbintang di Bandung dan kota besar lainnya di Jabar, apakah sajian kuliner ini selalu ada? Paling juga hanya dalam suasana tertentu, kan. Bandingkan dengan kuliner  antah-berantah yang kni makin merajalela”.

Sejenak, mari kita beralih ke awug beras asli Cibeunying yang setiap hari mangkal di Jl. Ahmad Yani Bandung di seberang STT (Sekolah Tinggi Tekstil), keberadaannya sudah menjadi bagian terpisahkan dari warga Bandung.” Dalam seminggu, sedikitnya dua kali saya mampir kesini. Kalau musim hujan, nikmat sekali ini awug. Selalu ditunggu orang rumah”, papar Hamdan (37), pegawai salah satu bank swasta di belahan Bandung kota.

AWUG 2 Copy“Harganya ini sangat terjangkau, awugnya lagian tak terlalu manis. Lagian itu kelepon dan adas serta ali agrem, juga disukai anak-anak saya”, kata Mimin (35), seorang ibu rumah tangga yang sudah melanggannya sejak tiga tahun terakhir. Tampak Mimin hari itu membeli paket awung sebanyak dua bungkus. “Ini hanya empat belas ribu rupiah saja. Ada awug dan lainnya”.

Kembali ke perihal awug sebagai penganan tradisional Jawa Barat, yang kini masuk sebagai kuliner tahan banting, menurut para penyukanya diakui keberadaannya.”Famili saya saja yang dari Jakarta bila datang ke Bandung, yang ditanyakan pertama kalau kesini pasti – awugnya ada?”, itu kata Erfana (43), seorang ibu rumah tangga yang tinggal di area Padasuka Bandung. “Kata sayah mah ini awug amat cocok buat jadi kuliner Jawa Barat, soalnya tahan banting sih..”, tukas Erfana ketika diajak berdiskusi ringan soal keberadaan kuliner awug diantara kuliner lainnya.  

Sodara atawa destiners, terutama bagi yang belum merasakan awug dalam rasa serasa-rasanya, tidak ada salahnya hadir di Cibeunying Jl. Ahmad Yani Bandung. Kepulan awug dan rekan-rekannya yang setiap siang hingga sore selalu menghiasi geliat kuliner Bandung, silahkan dicecap lalu disantap. Maukah Anda juga jadi tahan banting seperti awug? Semoga … (HS/SA/dtn).   

Baca juga : Awug, Makanan Tradisi Berselera Tinggi

Add a comment


emgz2

Artikel lain...

Kontroversi PLPR Palabuhanratu di PTUN Bandung – Pura-pura Tak Tahu …

Kontroversi PLPR Palabuhanratu di PTUN Bandung – Pura-pura Tak Tahu …

destinasiaNews – Ternyata, masih alot bagai keong, bisa dikatakan demikian soal ini.  Dari ruang sidang di PTUN Bandung (23/8/2017) Ketua Majelis...

Kaukus Muda Unisba untuk Kota Bandung Dukung Kang Deny Menuju Bandung Satu

Kaukus Muda Unisba untuk Kota Bandung Dukung Kang Deny Menuju Bandung Satu

destinasiaNews - Penataan ruang bagaimana membuat ruang terbatas menjadi ruang yang hidup dan menyejahterakan masyarakat itulah konsep dasar kang Deni...

Imunisasi Rubella, Selamatkan Generasi Bangsa

Imunisasi Rubella, Selamatkan Generasi Bangsa

DestinasiaNews - Anak-anak merupakan aset terbaik dalam keluarga maupun sebagai penerus bangsa. Sehingga, kondisi kesehatan anak-anak haruslah menjadi prioritas utama....

Pemandian Cipanas Nagrak, Lembang Nan Virgin!

Pemandian Cipanas Nagrak, Lembang Nan Virgin!

Destinasianews – Destiners, apa yang baru di sekitaran daerah Lembang? Ada pemandian air panas alami disana. Tepatnya berada di perbatasan...

Susi Pudjiastuti, Menteri KKP di Unpad – Histeria Massa & Mafia Tenggelamkan …

Susi Pudjiastuti, Menteri KKP di Unpad – Histeria Massa & Mafia Tenggelamkan …

  destinasiNews  -  Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, pada Jumat (18/8/2017) hadir di dua acara di Bandung. Paginya, ia...

Pengunjung

01564202
Hari ini
Kemarin
820
1328