Demam Batu Akik, Sampai Kapan?

akik

akik a

Destinasianews - Demam yang satu ini, obatnya apa? Dikonsultasikan ke dokter, bingunglah dia mendiagnosanya. Simptomnya, secara fisik maupun psikis bila ditelaah dari segi medis amatlah susah. Singkatnya, booming batu akik yang melanda bangsa kita dalam dua tahun terakhir dari 2015, apakah ini anugrah atau musibah? Faktanya, bangsa kita saat ini terkena demam batu akik!

Berbicara anugrah, Ir. H. Sujatmiko, Dipl.Ing, Geologist dan Gemmologist, kepada destinasianews.com pada awal Maret 2015 mengungkapkan:”Ini saatnya orang-orang kecil berpesta. Bukankah, uang dari kelas menengah bisa turun ke bawah melalui euphoria ini. Pandai-pandailah memanfaatkan momen ini. Standarisasi material versi dalam negeri perlu ditata, memang. Janganlah dulu menata ke level internasional. Olah saja kegairahan ekonominya, niscaya hal ini bisa berlangsung lama. Kapan lagi ada momen seperti ini?

Sujatmiko, kala ditanya, bagaimana dengan fenomena kerusakan lingkungan:”Ah, itu paling-paling sekitar 2 hektaran yang diolah rakyat. Bandingkan dengan perusahaan tambang yang menggerus lahan hingga ribuan hektar?!”.

Penutupnya, perbincangan menarik dengan Sujatmiko yang kini Ia didaulaut menjadi juri pada berbagai festival batu akik di merata tempat:”Memang, kita harus bijak pada lingkungan hidup. Jangan asal mengambil bahan, pikirkan juga kemaslahatannya”.

Lain halnya Sujatmiko, pecinta batu akik Dadan Kamera yang bisa ‘nongkrong’ di kawasan Cihapit Bandung memasarkan aneka pernak-pernik kamera analog dan digital segala jaman:”Lebih dari sepuluh tahun saya sudah mengoleksi aneka batu akik. Kepada rekan-rekan yang baru bermain ini. Bila ada yang menawar dengan harga pantas, jual saja. Ini saatnya warga di kalangan bawah menyerap uang dari kelas atas. Hikmahnya, ekonomi di bidang ini menjadi bergairah. Walaupun, dampak lain kegairahan ekonomi di luar batu akik, mulai terasa penurunannya, memang”.

Ditanya sampai kapankah demam ini akan berakhir? Dadan dengan lugas mengurai:”Pasti akan menurun demam ini. Lihat saja dulu kan pernah ada demam anthurium, ikan koi, marmer tembus sinar, aneka burung berkicau, dan lainnya. Kini bagaimana nasibnya?”

Yang unik, di kalangan para mantan jendreal diantaranya I.G.K. Manila, May Jend. TNI AD (POM ABRI) Purn:”Bagi saya soal keindahan adalah hal yang utama, selain mutu material kelangkaan, dan dari mana diperoleh. Sudah lama saya suka untuk memakainya. Ini kan kekayaan dan keindahan alam kita”.

Yang cukup unik Man Jasad, seniman Bandung dedengkot “Karinding Attack”, kala ditemui baru-baru ini dalam salah satu pameran batu akik di Bandung:”Saya hanya ingin memuliakan batu akik kita. Tahukah, apa yang saya muliakan dengan batu ini? Ini cincin batu dari sesemplekan batu (serpihan batu – red.) trotoar di Jl. Braga yang proyeknya terbengkalai. Saya namakan ini Batu Akik Braga – Ridwan Kamil”, serunya dengan nada menyindir.

Hebatnya, Man Jasad sambil mengeluarkan koleksinya, tanpa tedeng aling-aling Ia keluarkan sederet batu akik lain dari berbagai tempat yang ada hubungannya dengan tokoh tertentu yang masih moncer. “Ini saya namakan Batu Aher. Bahannya dari sesemplekan yang ada di sekitar Gedung Sate Bandung”, begitu urainya sambil berencana akan memungut batu di sekitar rumah dinas Wakil Gubernur Jabar, Deddy Mizwar untuk dijadikan cincin kelak.

Fenomena demam batu akik ala Man Jasad, tak pelak menimbulkan “kegemparan” tersendiri di kalangan pecinta batu akik yang rata-rata terbagi pada tiga kelompok utama – Alasan mistis, percaya pada kandungan energi tertentu, dan penggemar yang semata karena keindahannya (fashionable). “Pokoknya, ikut sajalah saya ini dengan trend masyarakat. Soal sampai kapan demam ini akan berakhir, tak saya perdulikan. Namanya juga pesta rakyat, saya ikutan. Yang penting tak merusak lingkungan. Yang saya gunakan bahannya dari sesemplekan saja?!”.

Korelasi Angka Perceraian

Sedikit melenceng dari kupasan demam batu akik, ada fenomena menarik berkaitan dengan angka perceraian yang menurun di Kabupaten Purbalingga:” Berkah demam batu akik, gugatan perceraian pada bulan-bulan terakhir ini di tahun 2015 yang rata-rata 2.300 kasus, turun menjadi 1.800-an kasus”, kata Sukento Rido Marhaendrianto, Bupati Purbalingga yang dimuat pada berbagai media. Siapa nyana, demam ini seperti banyak diulas pada berbagai media mencuatkan tingginya angka transaksi bisnis, ternyata untuk peningkatan indeks mutu I hidup ada korelasi positipnya. “Hanya modal mesin gerinda bekas, disewakan kepada pecinta batu akik. Adalah tambahan uang”, papar Sumadi (43), juru parkir dikawasan Jalan Cibadak Bandung kini punya pendapatan sampingan. “Istri saya juga mendukung, perhiasan emasnya dijual buat beli mesin gerinda bekas ini”.

Turunnya Demam

akik b

Namanya juga demam, bak kurva normal – yang dibawah biasanya banyak, sedangkan yang di atas, hanya sedikit saja, atau yang “terseleksi” tetaplah sedikit jumlahnya dibanding yang rata-rata. Tak heran, kini sudah mulai terdengar obral batu akik di berbagai festival di merata tempat. “Kami jual saja per biji Rp. 5 ribu rupiah pada hari terakhir pameran”, kata Armin (43), pedagang akik dari salah satu festival di luar pulau Jawa baru-baru ini per telepon kepada destinasianews.com.

Penyebab lainnya yang dikeluhkan pecinta akik terutama kelas pemula:”Setelah saya beli dengan cukup mahal. Harganya jatuh, tak punya standar lagi. Tak seperti berlian atau batu mulai tingkat dunia lainnya yang bersertifikat resmi. Kalau itu sih terkadang bisa digadaikan. Yang ini mana bisa?”, papar Sumardiyono (46), yang mengoleksi batu akik baru-baru ini secara “membabi buta”.

Terpulang kini untuk menjaga “suhu” demam ini, pemerintah dan asosiasi batu akik harus pandai-pandai memeliharanya. “Standarisasi dan sertifikasi cara Indonesia, boleh-boleh saja dilakukan. Para pejabat, kalau dalam pembukaan pameran misalnya, jangan main minta saja. Seharusnya mereka membeli dengan harga pantas”, tambah Ujang Bando (36) pedagang akik yang hapal betul mana pejabat atau tokoh yang suka membeli dan yang suka meminta kenang-kenangan dari pedagang batu akik.

Alhasil, siapa pun yang ingin ikut bermain batu akik, harap waspada. Kala pamornya menurun dan harga batu akik menukik:”Bisa saja terjadi dalam waktu dekat. Namanya juga sebagai mode. Selama jadi trend atau kecenderungan, ia kerap diburu. Saat masyarakat bosan dan jenuh, sudahlah berakhir. Harapannya, masih lama demam ini”, tutup Enje Kodir (36) pedagang batu akik dadakan yang kini nongkrong di salah satu lapak di kota Bandung. (HS/dtn).


emgz2

Artikel lain...

Upaya Cegah Pikun, Komunitas Handycrafts Bandung Gelar Workshop Kemikomi

Upaya Cegah Pikun, Komunitas Handycrafts Bandung Gelar Workshop Kemikomi

destinasiaNews - Kota Bandung tercatat sebagai salah satu dalam jaringan kota kreatif UNESCO Creative Cities Network. Dikukuhkan oleh Organisasi Pendidikan,...

UPI Akui Fasilitasnya Digunakan ‘Sunda Empire’, dan Membantah Ada Keterlibatan

UPI Akui Fasilitasnya Digunakan ‘Sunda Empire’, dan Membantah Ada Keterlibatan

destinasiaNews– Heboh pemberitaan Keraton Agung Sejagat di Purworejo yang sempat memanggungkan pasangan ‘Raja’ Toto Santosa dan ‘Ratu’ Fanni Aminadia, yang...

‘Duet’ Dansektor 22 Citarum Harum & Kadishut Prov Jabar, Tanami Lahan Kritis di Cimenyan KBU

‘Duet’ Dansektor 22 Citarum Harum & Kadishut Prov Jabar, Tanami Lahan Kritis di Cimenyan KBU

destinasiaNews– Melanjut maraknya kegiatan reboisasi lahan kritis di KBU (Kawasan Bandung Utara), sedikitnya 2.900 bibit tanaman keras, pada hari Sabtu...

Oded M Danial Kunjungi Komunitas Bandung Hydromarket: Swasembada Sayur & Tekan Stunting

Oded M Danial Kunjungi Komunitas Bandung Hydromarket: Swasembada Sayur & Tekan Stunting

destinasiaNews – Walikota Bandung Oded M Danial dakam kunjungannya ke Komunitas Bandung Hydromarket (KBH) di Sekertariatnya Jl. Pirus Galuh 3,...

Satgas Citarum Sektor 21-12 Giat Bebersih di Aliran Anak Sungai Ciwidey Kampung Patrol

Satgas Citarum Sektor 21-12 Giat  Bebersih di Aliran Anak Sungai Ciwidey Kampung Patrol

  destinasiaNews. – Kegiatan bebersih sungai dalam program Citarum harum maka aktifitas Satgas Citarum Harum Sektor 21 subsektor 12 Soreang...

Pengunjung

04772669
Hari ini
Kemarin
3105
3512