Wachdach

Add a comment

Musik 7 Titik – Butterfield Music Frontyard : “Parantos Medal, Nayra Dharma – Female Jazz Guitarist Only Started Playing in 2015 !

NAYRA 2

DestinasiaNews “Perhatikan remaja wanita ini. Permainan jazz gitarnya luar biasa ...”, papar Dudi Nhay SS, salah satu inisiator “Bandung Pasti Asyiik – Musik 7 Titik” (20/4 -29/5/2016) pada  titik terakhir ke-7 di Butterfield Kitchen Jl. Dipati Ukur Bandung. Yang spesial Dudi tak biasanya berbicara seperti ini kepada destinasiaNews sambil menepuk punggung – Apa gerangan hebatnya remaja ini? 

 

Selanjutnya mata dan kuping termasuk hati, diharuskan mencrong alias fokus ke permainan gitar jazz oleh gadis kelahiran 4 Juni tahun 2000, Nayra Dharma yang imut-imut menggemaskan. Betapa tidak? Deretan tembang sulit bagi pemain jazz standard orang dewasa pun dilahap manis dan mulus. Tentu banyak kejutan dan hentakan dari keterampilannya yang sudah masuk tahapan “piawai” dari dara seusianya. “Aduh maaf ya, tangan saya pegel”, berterus-terang Ia berkomunikasi dengan penonton usai diberi applaus panjang penuh kekaguman, pada jeda penampilannya. “Nggak apa-apa, teruskan ajah ...pegelnyah ...” , timpal penonton mengapresiasi atas  permainan fingerstyle yang amat apik.

NAYRA 1

Mau tahu, tembang jazz standard apa yang dimainkannya? Ini dia, mulai dari "Stompin' at the Savoy", "Triste" yang biasa dimainkan “jawara jazz” Antonio Carlos Jobim, "Misty" komposisi instrumentalia yang biasa dibawakan Eroll Gardner, "Quiet Nights of Quiet Stars", "Four", "I got Rhythm", dan "L.O.V.E".

Ketika berbincang dengan destinasiaNewsawak media lain, barulah tergali lebih jauh siapa dara yang punya julukan khusus di panggung Butterfield Kitchen pada hari terakhir, Minggu (29/5/2016) di pentas “Musik 7 Titik”, sebagai : Parantos medal, female jazz guitarist only started playing in 2015 !

 

“Betul kan, seperti apa kata saya tentang Nayra Dharma, hebat kan, padahal baru satu tahun lebih fokus belajar gitar ?”, itu kata Dudi Nhay SS usai mengapresiasi gelarannya. Dipikir lebih jauh, memang “buah tak jatuh dari pohonnya”.  Nayra Dharma adalah putri dari Pra Budidharma, Bassist Krakatau Band yang sudah lama malang-melintang di dunia jazz.

 

NAYRA 3

Ngadegdeg

“Dulu mah, saya tak begitu nggeuh dengan jazz gitar. Apalagi papa kan sarankan Aku kursus drum sama piano. Sekarang Aku sekolah di ‘home schooling’ Taman Sekar Bandung. Jadi punya banyak waktu perdalam jazz sama papa”, urainya dengan nada high spirit nan charming khas remaja masa kini – berterus terang tanpa beban.

 

Cerita lainnya masih menurut Nayra Dharma yang bersaudara perempuan Prisciliya Pricessa, dan Pricil Priscilya lV di hadapan ibunya Jellin Roslina, Ia berkisah lancar tentang apa dan mengapa sampai-sampai “mengikuti” ayahnya : ” Waktu itu Aku sampai ngedekdek (ngadegdeg – Sunda), waktu tiba-tiba harus main gitar di TP Jazz  di Papandayan Hotel Bandung sama temen-temen papa”, sambil memperagakan jari tangan kirinya – “Ya guguplah kan semua teman main papa main jazz-nya sudah gimana gituh ?. Uniknya kala itu tuturnya – “Banyak penonton yang nanya, sudah punya album berapa, padahal belum satu pun ...”.

 

Singkat kisah Nayra Dharma yang memulai debutnya di Kota Tua Jazz Festival, TP Jazz Festival, serta Braga Jazz Walk, yang dijalaninya dalam kurun setahun terakhir lebih, kini sedang fokus menambah “koleksi” keterampilannya dari musisi jazz dunia di rumahnya. “Aku belajar banyak accord, juga perdalam swing, dan bebob, malah. Sekarang kan orang suka fusion. Padahal ini mah da jazz tahun 1950-an”.

 

Over all, memang parantos medal musisi jazz Bandung generasi baru.  Kata Nayra Dharma pula : ”Aku mau tuntaskan jazz ini, kalau bisa belajar atau kuliah di tanah kelahirannya di Amrik sana ...”.

 

 “Ini salah satu hasilnya dari Musik 7 Titik, Bandung sebagai kota musik. Kita akan kawal ini. Nayra dan adik-adik kecil maupun sebaya lainnya, adalah aset kota Bandung untuk Indonesia dan dunia”, tutur  Angga Wardhana yang tak akan kapok menggelar pentas sejenis demi memunculkan bibit baru.

prabudidarma

 

Sementara Pra Budidharma ayah Nayra Dharma, malam harinya seakan membuka karpet merah untuk putrinya dan pemusik junior Bandung lainnya, kala didaulat di atas panggung saat seremoni penutupan sebelum Hockey Hook yang punya style ska manggung, lantang mengunmandangkan credo tentang spirit musik Bandung : ”Omat edankeun, ulah diubaran. Ini tak lain maknanya, talenta Nayra Dharma dan lainnya, harus terus dipupuk ! (HS/SA/dtn)  

 

Baca juga :

Musik 7 Titik – Butterfield Music Frontyard : “Ditutup Berdarah-darah ...”, Ucap Angga Wardhana 

Musik 7 Titik – Butterfield Music Frontyard: “Makin Dekatkah ke Bandung Kota Musik?” 

Musik 7 Titik – Butterfield Music Frontyard: Lahirkan Generasi Baru Musisi Bandung 

Musik 7 Titik – Butterfield Music Frontyard: “Pamungkas Makin Asyik, Justru ...” 

“Bandung Pasti Asyiik – Musik 7 Titik” – Butterfield Music Frontyard, Pamungkas Euy ...

“Bandung Pasti Asyiik – Musik 7 Titik” – Jlegur Hunting Stars di Rumah Eyang Martha, Bandung 

“Bandung Pasti Asyiik – Musik 7 Titik” – Hunting Stars di Rumah Eyang Martha, Bandung 

Bandung Pasti Asyiik - Omat Edankeun, Ulah Diubaran, Kata Ridwan Kamil Sembari ... 

“Bandung Pasti Asyiik ”, Dari Hati ke Hati- Pengakuan itu dari Luar 

“Bandung Pasti Asyiik ”, Dari Hati ke Hati- Tak Sekadar Reuni dan Nostalgia ... 

Bandung Pasti Asyiik – Musik Tanpa Batas: Jam Session Tanpa Waswas ...

Bandung Pasti Asyiik – Musik Tanpa Batas: Gali Musikalitas Tanpa Waswas

Tah Ieu, Bandung Pasti Asyiik - Musik Tanpa Batas di Cafe Halaman

“Bandung Pasti Asyiik – Festival Musik 7 Titik”, The Time Bomb Blues #2: Harry Pochang & Selmabelle

Bandung Pasti Asyiik – Festival Musik 7 Titik # 2 Musisi Bersatu, Mungkinkah

“Bandung Pasti Asyiik – Festival Musik 7 Titik”, The Time Bomb Blues #1: Peduli untuk Sandy

Bandung Pasti Asyiik – Festival Musik 7 Titik # 1 Tampung Aspirasi Musisi

Add a comment

Musik 7 Titik – Butterfield Music Frontyard : “Ditutup Berdarah-darah ...”, Ucap Angga Wardhana

MTT 1

DestinasiaNews -  Hapunten plot reportase penutupan atawa pamungkas “Bandung Musik Asyiik – Festival Musik 7 Titik” (20/4 – 29/5/2016), untuk kali ini tidak begitu runtun. Gerangannya, ada hal yang penting diungkap. Alkisahnya, ada semacam breaking news, tiba-tiba para inisiator helatan marathon ini dipanggil, harus muncul ke panggung. Tak biasanya, padahal panggung itu selama dua hari di Butterfield Kitchen di Jl. Dipati Ukur No 5 Bandung – dipakai oleh para pemain!

Singkat kisah, berkumpullah pada Minggu, 29 Mei 2016 Pukul 21.15 WIB di atas panggung dengan komando di antaranya Angga Wardhana, Dudi Nhay SS, Adjierao, Ade Rudiana, Icha KSP, Erlan Effendy (eh da izin teu hadilir –red), Luthfie, Zaki “4 Peniti”, dan Pra B Dharmayang sebelumnya telah mengantarkan putrinya “menghentak denyut Jazz Bandung” Nayra Dharma (16),plus para ponggawa lainnya. “Terima kasih atas pentas Musik 7 Titik sudah tuntas. Menurut Kang Harry Pochangini kita lakukan berdarah-darah. Artinya, penuh pengorbanan, demi Bandung sebagai kota musik! Sebenarnya, tak mau ini berakhir. Bila berakhir, terbayanglah banyak bon tagihan ke sayah ...”, ucap Angga yang disambut ger secara koor dari puluhan hadirin.  

MTT 2a

Tiba-tiba corong beralih ke Dudi Nhay SS:”Sama seperti Angga tadi, terima kasih ke semua pihak. Singkatnya, begini tadi siang kita didatangi crew stasiun TV swasta nasional. Setelah lebaran akan digelar Musik 7 Titik lanjutan, dan mereka siap mendampingi kita. Termasuk mengadakan untuk beberapa acara live”. Tak pelak tepuk tangan, tanda syukur dan apresiasi dari khalayak. “Hanya ingat, nanti yang garap haruslah yang muda-muda. Para senior, biarlah mendampingi, harus ada regenerasi!”.  

“Yang jelas musik Bandung, omat edankeun, ulah diubaran ...”, sabet Pra B Dharma yang didaulat mengucapkan credo “sakti dan wajib” yang pernah diucapkan Ridwan Kamil, Walikota Bandung, kala hadir di titik ke- 5 di Bumi Sangkuriang (18/5/2016).

Sing Gancang Lunas

MTT 3a

Asal tahu saja credo ini pada malam itu dikumandangkan juga sebelumnya dengan lantang oleh “seniman bengal”Man Jasad di panggung yang sama. Ia bersama Karinding Attack secara atraktif – menyerang dunia, membela Indonesia, hutangna ka IMF sing gancanglunas!. “Dikotomi musik tradisi dan modern itu sejatinya tak ada. Yang ada itu musik universal. Makanya kami serang dunia dengan karinding!”                        

Kembali ke seremoni penutupan secara formal yang terbilang “sakral”, penuh nuansa ketidakpercayaan –“Kenapa bisa ya, kita selengarakan pentas ini hingga tuntas padahal durasinya panjang, menguras tenaga dan pikiran, melibatkan hampir seribu musisi? Hasilnya, nanti apa?”, itu mungkin kata tanya dari puluhan  pemilik benak pendukung acara ini. “Pokona mah mari kita lanjutkan babak kedua musik 7 titik usai lebaran nanti ...”, pungkas Dudi Nhay SS yang diiyakan segenap pendukung acara lainnya.

MTT 4a

Kembali ke Man Jasad yang garang namun lembut hatinya, bersama Karinding Attack mengumandangkan koleksi tembang “Burial Buncelik”, “Dadangus Bagong”, “Lapar Emak”, dan “Loba Istighfar”.Menariknya, secara poksang Man Jasad sebelum mengumandangkan tembang “Loba Istighfar” yang banyak disukai kaum tertindas alias anu gede hutang, secara berseloroh Ia persembahkan khusus kepada Dudi Nhay SS –“Mangga ieu Kanggo Kang Nhay anu nuju diudag-udag debt collector ...”. Lucunya, yang diberi persembahan hanya bisa nyengir kuda ...

Sejurus kemudian Man Jasad bersama Karinding Attack yang subuh malam itu harus berangkat ke Yogyakarta bersama 12 orang rombongannya, akan ditanggap oleh 6 orang “bule” asal Belgia – “Mereka undang kami khusus ke Yogyakarta, hanya ditonton enam orang. Siapa tahu dibawa ke Eropa. Mereka tahu kami dari You Tube” – Astaghfirullah loba bayareun ...//Astaghfirullah loba nu nagih ...

Menutup reportase yang tumpang-tindih ini, semoga panitia yang sudah berjibaku demi suksesnya helatan akbar “Musik 7 Titik”, teu kapok. “Kami salut ke panitia. Memberi wadah bagi kami yang sedang bergelut di dunia akademis.Terima kasih atas adanya ajang ini yang mulus rahayu ...”, tutup Satya Garya PH, Dian Saputra, dan Hilal, ketiganya mahasiswa Unpas prodi Seni Musik yang juga terjun mengisi beberapa acara di pentas ini.  (HS/SA/dtn)

MTT 5a

 

Baca juga : 

Musik 7 Titik – Butterfield Music Frontyard : “Parantos Medal, Nayra Dharma – Female Jazz Guitarist Only Started Playing in 2015 !

Musik 7 Titik – Butterfield Music Frontyard: “Makin Dekatkah ke Bandung Kota Musik?” 

Musik 7 Titik – Butterfield Music Frontyard: Lahirkan Generasi Baru Musisi Bandung 

Musik 7 Titik – Butterfield Music Frontyard: “Pamungkas Makin Asyik, Justru ...” 

“Bandung Pasti Asyiik – Musik 7 Titik” – Butterfield Music Frontyard, Pamungkas Euy ...

 “Bandung Pasti Asyiik – Musik 7 Titik” – Jlegur Hunting Stars di Rumah Eyang Martha, Bandung 

“Bandung Pasti Asyiik – Musik 7 Titik” – Hunting Stars di Rumah Eyang Martha, Bandung  

Bandung Pasti Asyiik - Omat Edankeun, Ulah Diubaran, Kata Ridwan Kamil Sembari ...  

“Bandung Pasti Asyiik ”, Dari Hati ke Hati- Pengakuan itu dari Luar  

“Bandung Pasti Asyiik ”, Dari Hati ke Hati- Tak Sekadar Reuni dan Nostalgia ...  

Bandung Pasti Asyiik – Musik Tanpa Batas: Jam Session Tanpa Waswas ... 

Bandung Pasti Asyiik – Musik Tanpa Batas: Gali Musikalitas Tanpa Waswas

Tah Ieu, Bandung Pasti Asyiik - Musik Tanpa Batas di Cafe Halaman

“Bandung Pasti Asyiik – Festival Musik 7 Titik”, The Time Bomb Blues #2: Harry Pochang & Selmabelle 

Bandung Pasti Asyiik – Festival Musik 7 Titik # 2 Musisi Bersatu, Mungkinkah

“Bandung Pasti Asyiik – Festival Musik 7 Titik”, The Time Bomb Blues #1: Peduli untuk Sandy 

Bandung Pasti Asyiik – Festival Musik 7 Titik # 1 Tampung Aspirasi Musisi

Add a comment

Musik 7 Titik – Butterfield Music Frontyard: “Makin Dekatkah ke Bandung Kota Musik?”

BF 1

DestinasiaNews – Ingar bingar helatan bertajuk besar “Bandung Musik Asyiik – Festival Musik 7 Titik” (20/4 – 29/5/2016) yang digagas “Musisi Bandung Pisan”, hingga titik terakhir ke-7 di Butterfield Kitchen Jl. Dipatiukur No. 5 Bandung (28 – 29/5/2016), masih mengapungkan euphoria. Alih-alih “maunya” Bandung semakin kuat ditahbiskan sebagai kota musik di Nusantara, di sana–sini masih ditemukan kekurangan.

Ambillah ini sebagai pembanding, galibnya kota ini justru telah ditetapkan UNESCO (11/11/2015) sebagai kota kedua di Nusantara setelah Pekalongan pada 2014 – sebagai kota Craft & Folk Art. Faktanya, UCCN (UNESCO Creative City Network), menetapkan Bandung karena punya keunggulan di dunia dalam bidang desain.

Reaksinya, musisi Bandung dari berbagai genre rupanya yang tergabung dalam “Musisi Bandung Pisan” masih geregetan – Seharusnya kota ini bisa juga ditetapkan UCCN sebagai kota musik. Buktinya, musisi Bandung taruhlah mulai era Mang Koko, Muchtar Embut, Deddy Dores, Harry Roesli, Darso, Hasbullah, Adang Bendo, Elfa Seciora, Doel Soembang, Nining Meida, Purwacaraka, dan Dwiki Dharmawan, serta banyak lainnya sudah menorehkan jasa di bidang permusikan Indonesia.

Diketahui bersama, berkat pentahbisan kota Bandung oleh UCCN di bidang desain, maka Bandung relatif sejajar dengan kota-kota: Singapore, Budapest, Kaunas (Lithuania), Detroit (AS), dan Puebla (Mexico). Begitu pula seperti sudah banyak dilansir oleh mass media pada akhir tahum 2015, kota di dunia yang ditahbiskan sebagai kota musik, antara lain: Adelaide (Australia), Idanha-a-Nova (Portugal), Kingston(Jamaica), Kinshasa (Congo), Liverpool (Inggris), Medelln (Colombia), Salvador (Brasil), Katowice(Polandia), Tongyeong (Korea),dan...Varanasi...(India).

Nah, bila warga Bandung berhasrat mensejajarkan diri kotanya sebagai kota musik yang diakui dunia, minimal oleh sekitar 195 negara yang tergabung pada Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization- UNESCO), sah sah saja bila mengintip atau berkaca pada kota-kota di atas.

Pendidikan Musik & Pengakuan 

“Saya pernah tinggal di Adelaide beberapa tahun di negeri Kangguru. Di sana memang soal musik, warganya terfasilitasi dengan baik, oleh pemerintah maupun swasta. Gedung konser dan pusat-pusat pendidikan musik, dari mulai yang gratisan dengan kualitas baik, hingga yang berbayar, informasinya mudah didapat”, jelas Nefrita (37)yang tak sengaja bertemu destinasiaNews di antara pengunjung bazaar di Butterfield Kitchen (29/5/2015).

BF 4BF 6“Lihat animo dan sejarah panjang kehadiran musik di kota Kembang untuk tingkat Nusantara, bukan tak mungkin jadi kota musik dunia. Syaratnya pemerintah tak boleh tinggal diam. Harus memfasilitasi warganya”, ujar Nefrita kala ditanya – Mungkinkah Bandung bisa sejajar dengan Adelaide?

“Jangan dikira adanya sanggar-sanggar seni tradisi walaupun serba terbatas, bisa menjadi pertimbangan UNESCO nantinya. Penilaiannya bukan pada musik pop saja. Semua genre musik dipertimbangkan”, tambah Nefrita lagi. Ia berujar demikian, setelah paham bahwa helatan “musik 7 titik”, salah satunya digagas demi memperkuat posisi kota Bandung di tingkat nasional dan dunia.

Walaupun Imelda Rosalin dan Presenter Farhan, sebagai salah satu penggagas helatan ini, kerap berujar – “Biarkanlah pengakuan Bandung sebagai kota musik, datangnya dari luar saja. Tugas kita bermusiklah dengan baik dan benar. Libatkanlah warga sebanyak mungkin ...”.

Pekerjaan Rumah

BF 2BF 3

Penutupnya pada sesi Percussion Class “Latin” with Icha KSP pada Minggu sore (29/5/2016) di Butterfield Kitchen area Butterfield Hall, ada perbincangan menarik tentang musisi Bandung mau dibawa ke mana? “Ya, memang tak sekedar berkumpul sekarang di titik yang ke-7 sejak 20 April 2016 lalu. Setelah ini masih banyak PR yang harus kita kerjakan”.

BF 8BF 9Sore itu usai Icha KSP membedah bagaimana kondisi “generasi perkusi” Bandung sepeninggal Hasbullah dan Adang Bendo yang lebih banyak berorientasi Latin, di Butterfield Kitchen dipanggungkan berturut-turut “generasi baru” musisi Bandung: USBP (United Stated of Bandung Percussion), Joy Invasion. Bintang “Band”, Anantura, dan Keroncong 7 Putri. Menurut Dudi Nhay SS dan Angga yang tak putus-putus membimbing adik-adiknya:”Di tangan merekalah masa depan musisi Bandung itu. PR itu sebagian ada di mereka ...”. 

Kembali ke Icha KSP dan Ade Rudiana yang harus dilakukan adalah meneruskan wadah bagi para musisi dari berbagai genre. “Sekaligus kita membina, kualitas, dan memberi masukan berarti bagi mereka dari para seniornya. Beruntung di Bandung walaupun dalam serba keterbatasan masih ada yang peduli”.

BF 5Dukungan dari para akademisi pun sangatlah diperlukan. “Pengajar baik di PTN dan PTS keabsahannya di bidang musik dan pendukung lainnya harus ditingkatkan dalam banyak hal. Ini PR kita bersama”, kata Boy Irawan, Dosen DKV Universitas Pasundan yang pada “titik ke-7” membuka gerai di Butterfield Frontyard. “Apa pun jadinya melalui kegiatan Musik 7 Titik ini kami sangat mendukung terwujudnya Bandung sebagai kota musik. Semua ini sudah diawali oleh rekan-rekan di Bandung. Semoga saja dukungan dari UNESCO setelah ditahbiskan sebagai kota kreatif di bidang desain”. (HS/SA/dtn)

BF 7      

Add a comment


emgz2

Artikel lain...

Bandung Photo Studio Digital & Lab - Ifan Chandra "Sekali Berarti"

Bandung  Photo Studio Digital & Lab - Ifan Chandra "Sekali Berarti"

destinasiaNews - Wow, urusan foto diri yang keren berharga terjangkau, di Bandung rasanya hanya satu. Ini dia  bidang usahanya, namanya...

Tuntas Jernihkan Pemberitaan Sepihak HU Pikiran Rakyat, Eka Mencuci Lesung …

Tuntas Jernihkan Pemberitaan Sepihak HU Pikiran Rakyat, Eka Mencuci Lesung …

destinasiaNews – Eka Santosa, Ketua DPW Partai Berkarya Jawa Barat yang juga dikenal sebagai Ketua Umum Gerakan Hejo, dan Sekjen...

Eka Santosa, Ketua DPW Partai Berkarya Jabar,  Jelaskan Keberatan Pemberitaan HU Pikiran Rakyat

Eka Santosa, Ketua DPW Partai Berkarya Jabar,  Jelaskan Keberatan Pemberitaan HU Pikiran Rakyat

destinasiaNews – Bergulirnya pemberitaan di harian umum (HU) Pikiran Rakyat berjudul “Dilengserkan, Adi Gugat DPP Partai Berkarya” pada hari Rabu...

Jadilah Politisi Cerdas Dan Bijak..

Jadilah Politisi Cerdas Dan Bijak..

destinasiaNews.com – Bursa calon pemimpin dalam Pemilihan kepada daerah (pilkada) serentak akan kembali digelar pada 2018 di berbagai daerah di...

Kasus PLPR Palabuhanratu di PTUN Bandung, Bayu Risnandar Bersaksi – Boleh Dibangun, Asal …

Kasus PLPR Palabuhanratu di PTUN Bandung, Bayu Risnandar Bersaksi – Boleh Dibangun, Asal …

destinasiaNews– Seperti apa jalannya sidang di PTUN Bandung dalam perkara No 80/G/2017PTUN-BDG pada 13 September 2017 ? Adakah yang berbeda...

Pengunjung

01600299
Hari ini
Kemarin
452
1329