Musik 7 Titik – Butterfield Music Frontyard : “Ditutup Berdarah-darah ...”, Ucap Angga Wardhana

MTT 1

DestinasiaNews -  Hapunten plot reportase penutupan atawa pamungkas “Bandung Musik Asyiik – Festival Musik 7 Titik” (20/4 – 29/5/2016), untuk kali ini tidak begitu runtun. Gerangannya, ada hal yang penting diungkap. Alkisahnya, ada semacam breaking news, tiba-tiba para inisiator helatan marathon ini dipanggil, harus muncul ke panggung. Tak biasanya, padahal panggung itu selama dua hari di Butterfield Kitchen di Jl. Dipati Ukur No 5 Bandung – dipakai oleh para pemain!

Singkat kisah, berkumpullah pada Minggu, 29 Mei 2016 Pukul 21.15 WIB di atas panggung dengan komando di antaranya Angga Wardhana, Dudi Nhay SS, Adjierao, Ade Rudiana, Icha KSP, Erlan Effendy (eh da izin teu hadilir –red), Luthfie, Zaki “4 Peniti”, dan Pra B Dharmayang sebelumnya telah mengantarkan putrinya “menghentak denyut Jazz Bandung” Nayra Dharma (16),plus para ponggawa lainnya. “Terima kasih atas pentas Musik 7 Titik sudah tuntas. Menurut Kang Harry Pochangini kita lakukan berdarah-darah. Artinya, penuh pengorbanan, demi Bandung sebagai kota musik! Sebenarnya, tak mau ini berakhir. Bila berakhir, terbayanglah banyak bon tagihan ke sayah ...”, ucap Angga yang disambut ger secara koor dari puluhan hadirin.  

MTT 2a

Tiba-tiba corong beralih ke Dudi Nhay SS:”Sama seperti Angga tadi, terima kasih ke semua pihak. Singkatnya, begini tadi siang kita didatangi crew stasiun TV swasta nasional. Setelah lebaran akan digelar Musik 7 Titik lanjutan, dan mereka siap mendampingi kita. Termasuk mengadakan untuk beberapa acara live”. Tak pelak tepuk tangan, tanda syukur dan apresiasi dari khalayak. “Hanya ingat, nanti yang garap haruslah yang muda-muda. Para senior, biarlah mendampingi, harus ada regenerasi!”.  

“Yang jelas musik Bandung, omat edankeun, ulah diubaran ...”, sabet Pra B Dharma yang didaulat mengucapkan credo “sakti dan wajib” yang pernah diucapkan Ridwan Kamil, Walikota Bandung, kala hadir di titik ke- 5 di Bumi Sangkuriang (18/5/2016).

Sing Gancang Lunas

MTT 3a

Asal tahu saja credo ini pada malam itu dikumandangkan juga sebelumnya dengan lantang oleh “seniman bengal”Man Jasad di panggung yang sama. Ia bersama Karinding Attack secara atraktif – menyerang dunia, membela Indonesia, hutangna ka IMF sing gancanglunas!. “Dikotomi musik tradisi dan modern itu sejatinya tak ada. Yang ada itu musik universal. Makanya kami serang dunia dengan karinding!”                        

Kembali ke seremoni penutupan secara formal yang terbilang “sakral”, penuh nuansa ketidakpercayaan –“Kenapa bisa ya, kita selengarakan pentas ini hingga tuntas padahal durasinya panjang, menguras tenaga dan pikiran, melibatkan hampir seribu musisi? Hasilnya, nanti apa?”, itu mungkin kata tanya dari puluhan  pemilik benak pendukung acara ini. “Pokona mah mari kita lanjutkan babak kedua musik 7 titik usai lebaran nanti ...”, pungkas Dudi Nhay SS yang diiyakan segenap pendukung acara lainnya.

MTT 4a

Kembali ke Man Jasad yang garang namun lembut hatinya, bersama Karinding Attack mengumandangkan koleksi tembang “Burial Buncelik”, “Dadangus Bagong”, “Lapar Emak”, dan “Loba Istighfar”.Menariknya, secara poksang Man Jasad sebelum mengumandangkan tembang “Loba Istighfar” yang banyak disukai kaum tertindas alias anu gede hutang, secara berseloroh Ia persembahkan khusus kepada Dudi Nhay SS –“Mangga ieu Kanggo Kang Nhay anu nuju diudag-udag debt collector ...”. Lucunya, yang diberi persembahan hanya bisa nyengir kuda ...

Sejurus kemudian Man Jasad bersama Karinding Attack yang subuh malam itu harus berangkat ke Yogyakarta bersama 12 orang rombongannya, akan ditanggap oleh 6 orang “bule” asal Belgia – “Mereka undang kami khusus ke Yogyakarta, hanya ditonton enam orang. Siapa tahu dibawa ke Eropa. Mereka tahu kami dari You Tube” – Astaghfirullah loba bayareun ...//Astaghfirullah loba nu nagih ...

Menutup reportase yang tumpang-tindih ini, semoga panitia yang sudah berjibaku demi suksesnya helatan akbar “Musik 7 Titik”, teu kapok. “Kami salut ke panitia. Memberi wadah bagi kami yang sedang bergelut di dunia akademis.Terima kasih atas adanya ajang ini yang mulus rahayu ...”, tutup Satya Garya PH, Dian Saputra, dan Hilal, ketiganya mahasiswa Unpas prodi Seni Musik yang juga terjun mengisi beberapa acara di pentas ini.  (HS/SA/dtn)

MTT 5a

 

Baca juga : 

Musik 7 Titik – Butterfield Music Frontyard : “Parantos Medal, Nayra Dharma – Female Jazz Guitarist Only Started Playing in 2015 !

Musik 7 Titik – Butterfield Music Frontyard: “Makin Dekatkah ke Bandung Kota Musik?” 

Musik 7 Titik – Butterfield Music Frontyard: Lahirkan Generasi Baru Musisi Bandung 

Musik 7 Titik – Butterfield Music Frontyard: “Pamungkas Makin Asyik, Justru ...” 

“Bandung Pasti Asyiik – Musik 7 Titik” – Butterfield Music Frontyard, Pamungkas Euy ...

 “Bandung Pasti Asyiik – Musik 7 Titik” – Jlegur Hunting Stars di Rumah Eyang Martha, Bandung 

“Bandung Pasti Asyiik – Musik 7 Titik” – Hunting Stars di Rumah Eyang Martha, Bandung  

Bandung Pasti Asyiik - Omat Edankeun, Ulah Diubaran, Kata Ridwan Kamil Sembari ...  

“Bandung Pasti Asyiik ”, Dari Hati ke Hati- Pengakuan itu dari Luar  

“Bandung Pasti Asyiik ”, Dari Hati ke Hati- Tak Sekadar Reuni dan Nostalgia ...  

Bandung Pasti Asyiik – Musik Tanpa Batas: Jam Session Tanpa Waswas ... 

Bandung Pasti Asyiik – Musik Tanpa Batas: Gali Musikalitas Tanpa Waswas

Tah Ieu, Bandung Pasti Asyiik - Musik Tanpa Batas di Cafe Halaman

“Bandung Pasti Asyiik – Festival Musik 7 Titik”, The Time Bomb Blues #2: Harry Pochang & Selmabelle 

Bandung Pasti Asyiik – Festival Musik 7 Titik # 2 Musisi Bersatu, Mungkinkah

“Bandung Pasti Asyiik – Festival Musik 7 Titik”, The Time Bomb Blues #1: Peduli untuk Sandy 

Bandung Pasti Asyiik – Festival Musik 7 Titik # 1 Tampung Aspirasi Musisi

Add a comment

Musik 7 Titik – Butterfield Music Frontyard: “Makin Dekatkah ke Bandung Kota Musik?”

BF 1

DestinasiaNews – Ingar bingar helatan bertajuk besar “Bandung Musik Asyiik – Festival Musik 7 Titik” (20/4 – 29/5/2016) yang digagas “Musisi Bandung Pisan”, hingga titik terakhir ke-7 di Butterfield Kitchen Jl. Dipatiukur No. 5 Bandung (28 – 29/5/2016), masih mengapungkan euphoria. Alih-alih “maunya” Bandung semakin kuat ditahbiskan sebagai kota musik di Nusantara, di sana–sini masih ditemukan kekurangan.

Ambillah ini sebagai pembanding, galibnya kota ini justru telah ditetapkan UNESCO (11/11/2015) sebagai kota kedua di Nusantara setelah Pekalongan pada 2014 – sebagai kota Craft & Folk Art. Faktanya, UCCN (UNESCO Creative City Network), menetapkan Bandung karena punya keunggulan di dunia dalam bidang desain.

Reaksinya, musisi Bandung dari berbagai genre rupanya yang tergabung dalam “Musisi Bandung Pisan” masih geregetan – Seharusnya kota ini bisa juga ditetapkan UCCN sebagai kota musik. Buktinya, musisi Bandung taruhlah mulai era Mang Koko, Muchtar Embut, Deddy Dores, Harry Roesli, Darso, Hasbullah, Adang Bendo, Elfa Seciora, Doel Soembang, Nining Meida, Purwacaraka, dan Dwiki Dharmawan, serta banyak lainnya sudah menorehkan jasa di bidang permusikan Indonesia.

Diketahui bersama, berkat pentahbisan kota Bandung oleh UCCN di bidang desain, maka Bandung relatif sejajar dengan kota-kota: Singapore, Budapest, Kaunas (Lithuania), Detroit (AS), dan Puebla (Mexico). Begitu pula seperti sudah banyak dilansir oleh mass media pada akhir tahum 2015, kota di dunia yang ditahbiskan sebagai kota musik, antara lain: Adelaide (Australia), Idanha-a-Nova (Portugal), Kingston(Jamaica), Kinshasa (Congo), Liverpool (Inggris), Medelln (Colombia), Salvador (Brasil), Katowice(Polandia), Tongyeong (Korea),dan...Varanasi...(India).

Nah, bila warga Bandung berhasrat mensejajarkan diri kotanya sebagai kota musik yang diakui dunia, minimal oleh sekitar 195 negara yang tergabung pada Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization- UNESCO), sah sah saja bila mengintip atau berkaca pada kota-kota di atas.

Pendidikan Musik & Pengakuan 

“Saya pernah tinggal di Adelaide beberapa tahun di negeri Kangguru. Di sana memang soal musik, warganya terfasilitasi dengan baik, oleh pemerintah maupun swasta. Gedung konser dan pusat-pusat pendidikan musik, dari mulai yang gratisan dengan kualitas baik, hingga yang berbayar, informasinya mudah didapat”, jelas Nefrita (37)yang tak sengaja bertemu destinasiaNews di antara pengunjung bazaar di Butterfield Kitchen (29/5/2015).

BF 4BF 6“Lihat animo dan sejarah panjang kehadiran musik di kota Kembang untuk tingkat Nusantara, bukan tak mungkin jadi kota musik dunia. Syaratnya pemerintah tak boleh tinggal diam. Harus memfasilitasi warganya”, ujar Nefrita kala ditanya – Mungkinkah Bandung bisa sejajar dengan Adelaide?

“Jangan dikira adanya sanggar-sanggar seni tradisi walaupun serba terbatas, bisa menjadi pertimbangan UNESCO nantinya. Penilaiannya bukan pada musik pop saja. Semua genre musik dipertimbangkan”, tambah Nefrita lagi. Ia berujar demikian, setelah paham bahwa helatan “musik 7 titik”, salah satunya digagas demi memperkuat posisi kota Bandung di tingkat nasional dan dunia.

Walaupun Imelda Rosalin dan Presenter Farhan, sebagai salah satu penggagas helatan ini, kerap berujar – “Biarkanlah pengakuan Bandung sebagai kota musik, datangnya dari luar saja. Tugas kita bermusiklah dengan baik dan benar. Libatkanlah warga sebanyak mungkin ...”.

Pekerjaan Rumah

BF 2BF 3

Penutupnya pada sesi Percussion Class “Latin” with Icha KSP pada Minggu sore (29/5/2016) di Butterfield Kitchen area Butterfield Hall, ada perbincangan menarik tentang musisi Bandung mau dibawa ke mana? “Ya, memang tak sekedar berkumpul sekarang di titik yang ke-7 sejak 20 April 2016 lalu. Setelah ini masih banyak PR yang harus kita kerjakan”.

BF 8BF 9Sore itu usai Icha KSP membedah bagaimana kondisi “generasi perkusi” Bandung sepeninggal Hasbullah dan Adang Bendo yang lebih banyak berorientasi Latin, di Butterfield Kitchen dipanggungkan berturut-turut “generasi baru” musisi Bandung: USBP (United Stated of Bandung Percussion), Joy Invasion. Bintang “Band”, Anantura, dan Keroncong 7 Putri. Menurut Dudi Nhay SS dan Angga yang tak putus-putus membimbing adik-adiknya:”Di tangan merekalah masa depan musisi Bandung itu. PR itu sebagian ada di mereka ...”. 

Kembali ke Icha KSP dan Ade Rudiana yang harus dilakukan adalah meneruskan wadah bagi para musisi dari berbagai genre. “Sekaligus kita membina, kualitas, dan memberi masukan berarti bagi mereka dari para seniornya. Beruntung di Bandung walaupun dalam serba keterbatasan masih ada yang peduli”.

BF 5Dukungan dari para akademisi pun sangatlah diperlukan. “Pengajar baik di PTN dan PTS keabsahannya di bidang musik dan pendukung lainnya harus ditingkatkan dalam banyak hal. Ini PR kita bersama”, kata Boy Irawan, Dosen DKV Universitas Pasundan yang pada “titik ke-7” membuka gerai di Butterfield Frontyard. “Apa pun jadinya melalui kegiatan Musik 7 Titik ini kami sangat mendukung terwujudnya Bandung sebagai kota musik. Semua ini sudah diawali oleh rekan-rekan di Bandung. Semoga saja dukungan dari UNESCO setelah ditahbiskan sebagai kota kreatif di bidang desain”. (HS/SA/dtn)

BF 7      

Add a comment


emgz2

Artikel lain...

Pemimpin Dari Birokrat Untuk Bandung Barat Masih Ideal

Pemimpin Dari Birokrat Untuk Bandung Barat Masih Ideal

DestinasiaNews.com, Bandung Barat – Pertarungan politik merebut kursi Bandung Barat satu semakin menggeliat, Kali ini organisasi  DPC Taruna Merah Putih...

Manusia Pohon Aiptu Nunuh & Kapolsek Ibun Asep Dedi – Kembali, Tanam 2.500 Pohon

Manusia Pohon Aiptu Nunuh & Kapolsek Ibun Asep Dedi – Kembali, Tanam 2.500 Pohon

destinasiaNews – Menyongsong pengingatan hari pohon se dunia, kembali “Manusia Pohon” Aiptu Nunuh  dan kapolsek Ibun Iptu Asep Dedi menghijaukan...

Gerakan Hejo Garut & ‘Barudak’ XTC,  Plus Angin Metal Head, Tanam 1000 Pohon -  Biar, Air Terkendali …

Gerakan Hejo Garut & ‘Barudak’ XTC,  Plus Angin Metal Head, Tanam 1000 Pohon -  Biar, Air Terkendali …

destinasiaNews – Katakanlah ini ‘goup’ atau resminya DPD Gerakan Hejo Kabupaten Garut, seakan-akan ‘gak ada abiznya’ – Terus menghijaukan tatar...

Demiz Ditanya Wakilnya, Kala Berkunjung ke Partai Berkarya Jabar: Akan Diselesaikan Secara Adat

Demiz Ditanya Wakilnya, Kala Berkunjung ke Partai Berkarya Jabar: Akan Diselesaikan Secara Adat

destinasiaNews – Ujung dari acara kunjungan Dedy Mizwar Wakil Gubernur Jabar ke Kawasan Ekowisata dan Budaya Alam Santosa, Pasir Impun...

Obsatar Sinaga: Dedy Mizwar Kunjungi Partai Berkarya Jabar, Ada Apa?

Obsatar Sinaga: Dedy Mizwar Kunjungi Partai Berkarya Jabar, Ada Apa?

destinasiaNews – Eka Santosa, Ketua DPW Partai Berkarya Jawa Barat, terkait rencana kehadiran Wakil Gubernur Jawa Barat Dedy Mizwar ke...

Pengunjung

01692429
Hari ini
Kemarin
662
1496