TP Jazz Weekend, Jeff Lorber – Lagi, Hembuskan Jazz Fusion Asyik ...

TP Jazz 2016

DestinasiaNewsYang asyik, mumpung lagi hangat-hangatnya digelar di kota ini “Bandung Pasti Asyiik-Festival Musik 7 Titik” sejak 20 April – 29 Mei 2016. Ini melibatkan ratusan musisi dari berbagai paruh generasi, dan all genre, musik modern atau tradisi – katanya, demi menyasar Bandung sebagai kota musik. Sehari usai dihelat gelaran ke-3 dari Festival Musik 7 Titik, Tataloe Jeung Baraya (11/5/2016) di Taman Dewi Sartika Balaikota Bandung, esok malamnya (12/5/2016) di The Papandayan  Jl. Gatot Subroto Bandung, Jeff Lorber (64) menghembuskan lagi nafas dan hentakan jazz fusion era 1970-an, yang Ia sebut segabai  “generasi kedua fusion”.

Malam itu Bandung yang sejak petang terus diguyur hujan di The Papandayan, tepatnya di Mirten Lounge – usai dihantarkan oleh beberapa tembang jazz standard melalui petikan solo gitar yang memukau dari Neyra Dharma, Jeff Lorber muncul dalam formasi khusus. Pelengkapnya, ada Dwiki Dharmawan (organ), Barry Likumahuwa (bass), Ricad Hutapea (sax), dan Echa Soemantri.

Jeff Lorber membuka kata “sampurasun”, dibalas “rampes” oleh penonton, Ia menjawab ulang “hatur nuhun”, setelahnya. Lanjut, Ia mengulas kehadiran dan kerinduannya terhadap komunitas jazz Indonesia yang utamanya sejak Jakjazz 2012 di Jakarta, merespon baik kiprahnya. Kepada destinasiaNews,  sambil menandatangani CD karyanya:”Sudah banyak tahu tentang potensi musik dan jazz di kota ini. Saya banyak tahu dari Dwiki dan Barry. Sangatlah puas bermain disini”.  

Fusion itu ...

Nah, soal hembusan fusion jazz yang dikumandangkan Jeff Lorber malam itu, di antaranya menggambarkan “keliaran” dirinya dalam menata fusion jazz. Ini tergambar jelas dalam: “Hudson”, “Chinese Herbs”, “Tune 88”, “Singaraja”, “Monseurat”, “Clarissa” dan beberapa lainnya. “Ini lagu-lagu yang suka kita mainkan pada era 80-an. Dulu, hanya dari radio dan kaset, terus CD, dan sekarang, ya dari you tube”, kata sekumpulan musisi Bandung yang sebagian besar sedang bergiat dalam “Festival Musik 7 Titik”.

 Yang absah nampaknya Venche Manuhutu yang duduk di salah satu pojok, tampak menikmati sajian Jeff Lorber Cs. Usai penampilan:”Ini baru fusion jazz yang sangat keren dan bergizi”, sambil menunjukkan jempolnya. Venche, ayah dari “rising star” jazz Indonesia, yakni David Manuhutu. “Kehadiran Lorber sangat berguna bagi kita. Banyak hal dapat kita pelajari dari cara Ia bermain, harmonisasi, dan nuansa fusion jazz-nya khas”, terangnya yang berencana menghadiri wisuda S-2 David di NYU (New York University –red.) Amerika Serikat pada 17 Mei 2016 – Tanggal 14 ini saya berangkat ke sana. Bangganya, David adalah orang Indonesia pertama  lulus S-2  program studi musik jazz di univertitas ini”.

 Bagi 8 mahasiswa ITB malam itu, yang datang khusus menikmati dan mengamati penampilan Lorber Cs, ada di antaranya Samuel Belia, Adrian Hartanto, Aldrich Valentino, Stevanus Wibisono, Kevin Kurniawan, Hansel Tampubolon, Erick Rene, dan Nawwaf, serempak:”Puas banget. Biasa kita hanya bisa dengar dari produk digital dan you tube. Tadi sempat berdiskusi sekilas soal musik. Katanya, jangan ragu teruslah bermain. Ini membesarkan kami ...”.

 Walhasil, kata Harry Pochang sebagai penyelia TP Jazz yang terbilang amat intens mengembangkan blues dan jazz, serta kini di “kumakami” dengan aneka programnya yang mengakar:”Semoga kehadiran Jeff  Lorber dan kawan-kawan kita tadi, menginspirasi pecinta jazz di Bandung”.

 Tak dinyana, ini dijawab rekan-rekan musisi penonton malam itu:”Ini seperti penampilan ke tiga setengah dari Bandung Pasti Asyiik – Festival Musik Tujuh Titik” – Wow, kata Harry Pochang sambil melakukan tos kepada rekan-rekannya, dengan setengah berlantang-ria: Bravo fusion jazz !  (HS/dtn)   

Add a comment

Tatalu Jeung Baraya – Musik 7 Titik: Digagas, Bandung World Drum Festival ... #3

Tatalu 3 perk

DestinasiaNews – Di antara kelindan dua ratus lebih musisi Bandung yang mentas di Taman Dewi Sartika Balaikota Bandung (11/5/2016), kala itu digelar titik ke-4 dari “Bandung Pasti Asyiik – Festival Musik 7 Titik”. “Jadi terinspirasi, tahun depan kita harus mementaskan Bandung World Drum Festival. Ini sekaligus sebagai rintisan Bandung sebagai destinasi kota musik tingkat dunia”, itu kata MC Angga usai mementaskan garapannya yang dinilai sukses. Gagasan yang terbilang lama mengendap di ratusan musisi Bandung, khususnya para perkusionis, langsung disantap musisi lainnya.

“Kenapa tidak? Itu gagasan bagus, almarhum ayah saya dulu sering mengungkapkan ini. Malah lebih jauh, bangun juga semacam opera house di Sidney Australia. Potensi kita luar biasa. Hanya political will yang kita butuhkan dari para pembuat keputusan. Musisi kan sudah menggagas”, itu kata Yala Roesli (34), putra almarhum musisi Bandung Harry Roesli.

Respon positif gagasan itu langsung “ditangkap” Reza “Icha” Perkusi yang kala itu usai mengomandai puluhan perkusionis lainnya:” Opera house seperti di Sidney, sudah pantas ada di Bandung. Ini menjadikan kita bisa tampil maksimal, dan cost-nya lebih murah. Tak seperti sekarang, karena gedungnya kurang memadai, jadinya serba mahal. Juga bisa mengundang wisatawan mancanegara, tentunya”.

Tatalu ka 3Menimpal gagasan ini destinasiaNews, mengkonfirmasi ke Yala Roesli yang kini bersama saudara kembarnya masih mengurus “warisan ayahandanya” dunia musik perkusi dan saparakanca:”Salah satu kekuatan kita dalam berdiplomasi di tingkat dunia, ada di budaya dan musik di dalamnya. Mari kita matangkan gagasan ini”.

Saat itu juga destinasiaNews, kembali menggulirkan gagasan ini ke kalangan “grass root” perkusionis, anggota Tataloe Music Center yang katanya merasa exited banget usai memainkan repertoir Bedug Jepang” untuk menghormati musisi Harry Roesli. “Setuju pisan atuh. Itu mah gagasan bagus. Kami yang muda-muda siap dukung. Nantinya, orang ke Bandung, tak hanya wisata belanja belaka”, serempak kata beberapa mahasiswa yang mengaku namanya Selly Karnia (UPI), Mariah Al Qibty (STSI Bandung), Sizzy (Unpas), Mirna Nurlama (Unpas), dan Yuni Astisi (Unpas).

Pamungkas, soal ini penasaran saja – random dimintai salah satu penonton gelaran ini. Tersebutlah, Rendi (27), karyawan swasta, yang mengaku sebagai pecinta musik: ”Tak usah tahun depan, sebaiknya bulan depan saja”, demikian opininya saking antusiasnya akan gagasan ini.

Intinya, gagasan di atas, dilihat secara umum, ada keselarasan dengan apa yang dikemukakan Ridwan Kamil, Walikota Bandung usai membuka gelaran ini siang hari tadi (11/2016): ”Bandung sebagai kota musik, memang sangat memerlukan warga yang kreatif. Gagasan ini sejauh baik bagi kita semua, mengapa tidak ?”. Nah, lho ? (HS/SA/dtn).

Baca Juga : Tatalu Jeung Baraya – Musik 7 Titik: “Musik Bandung Hayu Urang Edankeun ...”, kata Ridwan Kamil #1

Tatalu Jeung Baraya – Musik 7 Titik: “Perkusi itu Tak Asal Pukul ...”, kata Ridwan Kamil #2

 

Add a comment

Tatalu Jeung Baraya – Musik 7 Titik: “Perkusi itu Tak Asal Pukul ...”, kata Ridwan Kamil #2

Tatalu1

DestinasiaNews– Menarik disimak apa kata Ridwan Kamil, Walikota Bandung dalam sambutannya kala membuka Tatalu Jeung Baraya – Musik 7 Titik (11/5/2016) di Taman Dewi Sartika Balaikota Bandung. Kala itu Ia sendiri menyebutnya secara sekilas pidatonya, menyebut - “Sebagai sedikit ber-teori musik”. Dalam ujarannya Ia sempat menyabit, betapa penting musik itu dalam kehidupan kita:”Membahagiakan diri kita dan orang sekitar. Paling tidak, melepaskan sakit hati dari mantan ...”, katanya.

Selain karena faktor cuaca yang dingin dan sejuk, orang Bandung menjadi suka bermusik –“Juga karena kita sering berkumpul. Ini karakter khas orang Bandung”. Lain pula kata Erlan Effendy, salah satu dedengkot Wachdach Band yang juga salah satu motivator terwujudnya program “Bandung Pasti Asyiik – Musik 7 Titik” (20/4 – 29/5/2016):”Kumaha nya? Pokona mah asyiik we jadi urang Bandung mah. Betul tadi sepeti kata Kang Ridwan Kamil, soal musik urang mah urang Bandung jago we dari dulu”.

Soal “tak asal pukul” dalam ber-tatalu atau bermain musik perkusi, menurut Ridwan Kamil, sebaiknya kita tak asal pukul. “Makanya pentas semacam ini, sebaiknya tak hanya pada tahun ini. Jadikanlah sebagai penarik wisata dari luar kota Bandung dan mancanegara. Juga, sebagai wadah menyalurkan bakat-bakat musik warga Bandung. Jadi, warga Bandung tak asal pukul ya?”, katanya yang disambut riuh ratusan pemain dan penonton yang membaur.

Tatalu Festv Gilles de NeveSoal “tak asal pukul” ini redaksi destinasiaNews, sempat mengontak Gilles de Neve, musisi senior Bandung yang juga dikenal sebagai luthier piawai pembuat alat musik berdawai kelas “dunia” dari Indonesia. “Coba simak, dari suku kata Bandung, bisa kita potong ada penggalan suka kata band. Artinya, secara harfiah, dari dulu nenek moyang kita sudah mentakdirkan suka bermain musik atau band ...”, ujarnya diakhiri tawa.

Ketika destinasiaNews bertanya, mengapa belum sempat hadir di pentas Musik 7 Titik? “Ya, saya sudah tahu terutama dari pemberitaannya. Tujuannya bagus untuk helatan ini, mempersatukan musisi Bandung. Tunggulah, saya nanti akan hadir. Masih ada tiga titik lagi ya? Salam saja untuk semua rekan-rekan musisi Bandung. Salut atas prakarsanya”.

Nah, sekilas perkara “tak asal pukul ...”, semoga menginspirasi kita. Ini tak jauh dari opini salah satu orang tua yang hadir dalam pentas musik ini di Taman Dewi Sartika Balaikota Bandung, Sumardi (31) namanya. Ia mengantar putrinya Mirna (9) dari salah satu kelompok peserta:”Setuju kami selaku orang tua, tadi kata Kang Ridwal Kamil, pentas ini akan berlanjut. Jadi tak hanya pada hari ini saja”.

Alhasil, keriuhan di Taman Dewi Sartika yang diramaikan oleh Kalonica XICX, Two Brother, New Soul Percussion, Jafran, Bedug Jepang, Sabisana Percussion, USBP, Raihan + BDP, Tataloe Kids Percussion, Tataloe Stomp Percussion, Orokaya, Idea Percussion, dan GWM Marchingband, telah menginsirasi warga Bandung. (HS/SA/dtn)

Tatalu ka 2

Baca Juga : Tatalu Jeung Baraya – Musik 7 Titik: “Musik Bandung Hayu Urang Edankeun ...”, kata Ridwan Kamil #1

                 Tatalu Jeung Baraya – Musik 7 Titik: Digagas, Bandung World Drum Festival ... #3

 

Add a comment


emgz2

Artikel lain...

Pemimpin Dari Birokrat Untuk Bandung Barat Masih Ideal

Pemimpin Dari Birokrat Untuk Bandung Barat Masih Ideal

DestinasiaNews.com, Bandung Barat – Pertarungan politik merebut kursi Bandung Barat satu semakin menggeliat, Kali ini organisasi  DPC Taruna Merah Putih...

Manusia Pohon Aiptu Nunuh & Kapolsek Ibun Asep Dedi – Kembali, Tanam 2.500 Pohon

Manusia Pohon Aiptu Nunuh & Kapolsek Ibun Asep Dedi – Kembali, Tanam 2.500 Pohon

destinasiaNews – Menyongsong pengingatan hari pohon se dunia, kembali “Manusia Pohon” Aiptu Nunuh  dan kapolsek Ibun Iptu Asep Dedi menghijaukan...

Gerakan Hejo Garut & ‘Barudak’ XTC,  Plus Angin Metal Head, Tanam 1000 Pohon -  Biar, Air Terkendali …

Gerakan Hejo Garut & ‘Barudak’ XTC,  Plus Angin Metal Head, Tanam 1000 Pohon -  Biar, Air Terkendali …

destinasiaNews – Katakanlah ini ‘goup’ atau resminya DPD Gerakan Hejo Kabupaten Garut, seakan-akan ‘gak ada abiznya’ – Terus menghijaukan tatar...

Demiz Ditanya Wakilnya, Kala Berkunjung ke Partai Berkarya Jabar: Akan Diselesaikan Secara Adat

Demiz Ditanya Wakilnya, Kala Berkunjung ke Partai Berkarya Jabar: Akan Diselesaikan Secara Adat

destinasiaNews – Ujung dari acara kunjungan Dedy Mizwar Wakil Gubernur Jabar ke Kawasan Ekowisata dan Budaya Alam Santosa, Pasir Impun...

Obsatar Sinaga: Dedy Mizwar Kunjungi Partai Berkarya Jabar, Ada Apa?

Obsatar Sinaga: Dedy Mizwar Kunjungi Partai Berkarya Jabar, Ada Apa?

destinasiaNews – Eka Santosa, Ketua DPW Partai Berkarya Jawa Barat, terkait rencana kehadiran Wakil Gubernur Jawa Barat Dedy Mizwar ke...

Pengunjung

01692426
Hari ini
Kemarin
659
1496