PPFI Teken MoU dengan Pemprov Jabar : Antara Idealisme dan Merugi (2)

PPFI MoU Jbr

Destinasianews - Menarik disimak saat penandatanganan MoU antara PPFI (Persatuan Produser Film Indonesia) berjangka 5 tahun, yang diwakili Ketua Umum, Firman Bintang, dengan Pemprov Jabar, yang diwakili Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan (15/1/2015), di Gedung Sate Bandung. Tercuat juga keluhan yang selama ini sering terdengar samar-samar.

Merunut Firman, dari 100 judul film yang diproduksi di negeri ini, 80 diantaranya berasal dari buah karya rekan-rekannya yang tergabung pada PPFI. Ironinya, sekitar 70 film yang beredar dalam setahun kondisinya merugi. “Namun karena kadung kami sudah mencintai dunia film, apa pun yang terjadi kami akan terus berproduksi semata demi kehormatan dunia film kita”, jelas Firman yang kala itu menuai tepuk tangan - diapresiasi atas kegigihannya.

Saat itu pula Firman sempat berkisah atas upaya Manoj Punjabi memproduksi film “Dibawah Lindungan Ka’bah” yang menelan biaya Rp. 24 miliar. “Yang kembali hanya Rp. 4 miliar”, ujarnya dengan nada suara berusaha tetap tegar. Lanjutnya, Firman berkisah perihal karibnya Gope Samtani yang menelurkan film berjudul “Sang Kiai” dengan anggaran di atas Rp. 10 miliar. “Ini lagi sedihnya, pemasukannya tak seperlimanya”.

Menanggapi hal ini, Aher kala itu dengan gaya memotivasi wakilnya, Demiz alias Deddy Mizwar yang punya jam terbang tinggi di dunia perfileman nasional – berhasrat menghidupkan dunia perfileman di Jabar: “Kalau untuk studio alam itu berapa luas minimalnya?”.

“Mungkin minimal 100 hektar luas lahannya”, jawab Demiz atas lontaran Aher sambil membuka kesempatan kepada beberapa produser lainnya untuk mengisi urun rembug ini. “Minimal 200 hektar Pak Gubernur”, kata salah satu produser yang duduk dijajaran depan di ruangan Sanggabuwana, Gedung Sate Bandung. “Nah, beginilah sebagai pendahuluan ada lahan sekitar 200 hektar di Pelabuhan Ratu (Kabupaten Sukabumi – red.). Silahkan digunakan disana”, jelas Aher yang juga memberikan alternatif lahan di dekat area Cisumdawu (tol Cirebon, Sumedang, Dawuan – red.).

Tak sampai disitu, dialog ini pun sempat berbuntut. Pasalnya, setelah lontaran tawaran 200 hektar dari Aher disambut gembira, ada beberapa produser yang memberikan opini:”Kami pun pernah menggunakan studio alam di dekat Bekasi dan Krawang. Masalahnya, waktu tempuh dari Jakarta ke lokasi yang sarat dengan kemacetan, masih menjadi kendala tersendiri”. Beralih ke pokok bahasan kerjasama konkrit lainnya, Aher dan para produser membincangkan peluang kemudahan sarana vital seperti pengadaan genset dan akomodasi bagi awak film.

Kesimpulannya, diskusi yang terbilang unik hari itu, Pemprov Jabar berusaha mengupayakan pengadaan genset yang bisa disewa para produser film dengan harga “non komersial”. “Demi meringankan biaya akomodasi awak film kita dijajaki kerjasama dengan PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran) setempat”, kata Demiz yang juga sempat membuka rahasia siasat efisiensi, 90 persen syuting film “Nagabonar” - berlangsung di Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi bukan di Sumatera Utara sana.

“Paling tidak, kami tak merugi banyaklah melalui kerjasama ini bila terwujud kelak”, kata salah seorang produser yang hari itu tampak sumringah menyongsong penandatanganan MoU ini.

Penandatangan MoU yang juga dihadiri Direktur Pengembangan Industri Perfileman, Kementerian Pariwisata, Armain Firmansyah, cukup beralasan dilakukan antara PPFI dengan Pemrov Jabar. Pasalnya, merujuk pada agenda kerja pada 2014 di kementeriannya ada 153 pembuat film dari negara asing yang syuting di Indonseia:”Provinsi Jabar dan Bali adalah dua favorit bagi mereka”, jelas Armain.

Alhasil, sejumlah produser film pada hari itu tampak bungah, diantaranya ada Boksan Tani dari Rapi Film, Ram Soraya dari PT Soraya Film, Manoj Punjabi dari MD Pictures, Hari Simon dari Jatayu Film, Rudi Sunyoto, Manot Santani dari 13 Production, pun ada Gatot Brajamusti asal Sukabumi. Aktris Ira Wibowo dan aktor Surya Saputra, beserta beberapa rekannya pun tampak gembira.

“Tak percuma kami hadir disini hari ini. Berkat Kang Deddy Miszwar, hal unik ini bisa terwujud. Semoga efisiensi biaya syuting bisa kami lakukan melalui kerjasama ini”, ucap Manoj yang katanya tak akan kapok memproduksi film semata demi kehormatan dunia sinematografi di negeri kita. Bandung Screen College

Beberapa hari kemudian, destinasianews.com berkesempatan memperbincangkan materi MoU ini dengan sineas independen Arvin Miracelova, yang sejak September 2014 gencar memperkenalkan “cara baru” memproduksi film berbasis komunitas untuk pasar nasional dan internasional. Arvin melalui lembaganya Bandung Screen College, pun menyambut baik MoU ini. “Walaupun cara kami berbeda dalam kerangka memproduksi film, tentu banyak sinkronisasi kelak. Sedikitnya, kita bisa saling bantu dan sharing dalam banyak hal”.(HS/SA/dtn)

Add a comment

PPFI Teken MoU dengan Pemprov Jabar – Keindahan Alam dan Keramahtamahan Warga

Foto Edit PPFI Mou Jabar2

Destinasianews – “Kami gembira sekali hari ini (15/1/2015 – red). Kerjasama yang selama ini memang sudah terjalin baik, namun belum diformalkan. Hari ini jadi resmi. Ini memudahkan melakukan kegiatan syuting di Jawa Barat yang alamnya sangat indah, warganya pun selalu ramah menyambut kami”, tutur aktris Ira Wibowo, disela-sela gebyar penuh bintang di ruangan Sanggabuwana, Gedung Sate Bandung.

Hari itu memang diteken ( MoU-Nota Kesepahaman) antara PPFI (Persatuan Produser Film Indonesia), diwakili Ketua Umum, Firman Bintang, dengan Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan. “Ini saatnya membuktikan orang film yang saya gaet selama ini. Maksudnya pengalaman panjang dari Kang Deddy Mizwar (Wakil Gubernur Jabar – red) dalam perfileman, bisalah dibuktikan kelak. Bukankah, begitu Kang Deddy…?”, ujar Aher, sapaan akrab Ahmad Heryawan beberapa saat sebelum penandatanganan ini. Tak pelak suasana penandatanganan yang awalnya terbilang agak kaku, selanjutnya menjadi cair – penuh gelak tawa, malah. Pasalnya, Demiz, sapaan akrab Deddy Mizwar, disapa dengan bahasa keseharian, pun Ia manggut-manggut penuh makna.

“Ini mah seperti unjuk kabisa antara politisi dengan pemain watak dari dunia perfileman. Kang Demiz, manggut-manggut seperti Nagabonar”, celetuk salah seorang hadirin dari bangku belakang kala itu.

Boleh dikata, Demiz, ‘Si Nagabonar”, hari itu berperan sebagai saksi penandataganan MoU. Ini menjadikan alam Jawa Barat, semakin terbuka dan mudah digunakan untuk latar pembuatan film nasional. “Saya cukup paham dan bisa menyelami kemudahan apa yang sekiranya bisa dibantu oleh Pemrov Jabar”, kata Demiz kala ditanya konkritnya seperti apa lingkup kerjasama selama 5 tahun ini ?

Foto Edit PPFI Mou JabarMenurut penandatangan kedua belah pihak, landasan utama MoU ini meliputi amanat dari Undang-undang Perfileman No. 33, tahun 2009 pasal 54, tentang pemerintah daerah yang wajib memfasilitasi pembuatan film Indonesia, serta membantu pembiayaan, apresiasi, dan pengarsipan. Lainnya, mengacu pada pasal 55, yakni pemerintah daerah mempunyai tugas melaksanakan kebijakan dan rencana induk perfileman nasional, dengan menyediakan sarana prasarana untuk pengembangan dan kemajuan perfileman.

Nota Kesepahaman yang juga dihadiri Direktur Pengembangan Industri Perfileman, Kementerian Pariwisata, Armain Firmansyah, serta Wakil Ketua DPRD Jabar, dan Sekertaris Daerah Provinsi Jabar, memiliki nilai strategis dan ekonomi yang cukup nyata. ”Ada tujuh puluh persen kebun teh di Indonesia, dan kawah berkelas dunia, Kawah Putih dan Tangkuban Parahu. Juga panorama pantai mulai Pangandaran hingga Palabuhan Ratu, silahkan dipakai”, jelas Aher yang diiyakan oleh segenap hadirin kala itu.

Hal lain yang tak kurang menariknya, ada sekitar 46 juta populasi di Jawa Barat. “Bukankah ini sasaran pasar yang menjanjikan bagi kita?”, jelas Aher dalam salah satu sambutannya.

“Selain pasar yang besar tadi, menurut saya keindahan dan keramahtamahan warga Jabar, serta dekatnya lokasi dari ibukota, jadi nilai plus tersendiri. Hanya perlu dikonkritkan kerjasama ini agar berjalaFoto Edit PPFI Mou Jabar3n mulus seperti MoU dengan Pemprov dan Pemda lain di Nusantara”, tambah Ira Wibowo yang hari itu sempat ditarik kesana-kemari untuk berfoto bersama oleh fans-nya.

Secara terpisah destinasianews.com beberapa hari kemudian menghubungi Dra. Tia Fitriani, anggota DPRD Jabar Komisi ll yang diantaranya menggarap masalah kepariwisataan dan perfileman. Menurutnya, MoU ini disambut baik sejauh akan memberdayakan potensi yang ada di Jawa Barat.”Semoga saja dalam implementasinya kelak dapat memberikan dampak positif bagi warga Jawa Barat”.(HS/SA/dtn)

Add a comment


emgz2

Artikel lain...

Wow, Rektor Unpad & Produsen Aquatec Petik Hasil Maksimal Panen Budidaya Kerapu di Pangandaran

Wow,  Rektor Unpad & Produsen Aquatec Petik Hasil Maksimal Panen Budidaya Kerapu di Pangandaran

destinasiaNews - Boleh dibilang kegiatan produktif ini nyaris tak banyak orang tahu, padahal ini merupakan 'giant step for Indonesian's development'....

Jadi Juri Unjuk Kabisa Wanoja Jajaka Budaya Jabar, Eka Santosa - Kembangkan Budaya Kita

Jadi Juri Unjuk Kabisa Wanoja Jajaka Budaya Jabar, Eka Santosa - Kembangkan Budaya Kita

destinasiaNews - Boleh dikata ini penampilan tokoh Jabar Eka Santosa yang sedikit tak 'lazim' akhir-akhir ini? Gerangannya kali ini penuh dengan...

Gerai GORO DAYUNG di Bandung Munculkan Antusiasme Peserta Munas ISMI ke-2

Gerai GORO DAYUNG di Bandung Munculkan Antusiasme Peserta Munas ISMI ke-2

destinasiaNews - Sejumlah peserta Musyawarah Nasional (Munas), Ikatan Saudagar Muslim se-Indonesia (ISMI) ke-2 di Hotel Grand Asrilia Bandung, pada Sabtu,...

LAKSI Dukung Kapolri - Tegakkan Hukum Bagi Pelaku Hoax

LAKSI Dukung Kapolri - Tegakkan Hukum Bagi Pelaku  Hoax

destinasiaNews - Terkait pemeriksaan terhadap Ketua Dewan Kehormatan PAN, M Amien Rais. Dalam hal ini sebagai saksi, pada kasus dugaan...

Pengunjung

02654284
Hari ini
Kemarin
1372
4849