Mandek Aduan Harun Al-Rasjid Dari 2012! Semenjak Disuntik Oleh ‘Dokter’ Korea Di RSHS, Bandung

harun1destinasiaNewsMenikmati masa pensiunannya, H. Harun Al Rasjid, SH.,MH (70) mantan Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Kabupaten Tasikmalaya, ditemui pada pertengahan Februari 2018, idealnya hidup dalam suasana penuh ketenangan.

Sebaliknya, Harun kala ditemui yang ditemani isterinya, di kawasan berudara sejuk Lembang, Kabupaten Bandung, hanya keluh-kesah rasa sakit tak terkira. Ini diderita, sejak disuntik dokter asal korea pada 2012. Ya, enam tahun lalu!

“Saya masih ingat, 5 Desember 2012 sore. Disuntik dokter asal Korea (Selatan  atau Utara? - red). Ini nih di bagian pantat ujung tulang tungkai sebelah kiri,” ujarnya sambil duduk di kursi roda di ruang tamu rumahnya.

Saat itu lengan kanannya, berusaha menunjuk-nunjuk area bagian pinggulnya dengan susah payah. Kenyataannya untuk sekedar bergerak, sudah lama ia kesulitan. Salah satu musyababnya, kateter di tubuhnya sudah lama terpasang. “Untuk BAB saja susahnya bukan main,” keluh Harun dengan suara lirih.

Muasal kisah ini, berawal sesaat disuntik dokter asal Korea itu di gedung RSHS lantai 3. Kejadiannya, ia ingat scukup rinci. Apalagi rasa sakitnya hingga kini, masih terasa, katanya. Padahal sebelum disuntik ia bisa berjalan, walaupun dibantu walker.

”Sekitar dua jam seperempat menit setelah disuntik yang sakitnya luar biasa itu, saya ambruk. Tak kuat berdiri. Lalu, ditolong beberapa dokter memakai kursi roda. Selanjutnya, digotong ke mobil, pulang ke rumah. Sejak itu saya lumpuh dari pinggang ke bawah.”

Lantai 3 Itu Di RSHS, Bandung.  

harun2Penyuntikan di atas menurut Harun yang dipaparkan rinci, serta dibuktikan arsip pengaduan dugaan pelanggaran disiplin kedokteran ke Ketua Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI), tertanggal Bandung 8 Agustus 2014, dengan pelapor/pengadu DPC Asosiasi Advokat Indonesia (AAI) Bandung, yang ditandatangani H. Kuswara S. Taryono, SH, MH. DKK, ”Berlangsung di RS Hasan Sadikin Lantai 3.”

Ternyata, pangkal tolak Harun ‘bersedia’ disuntik dokter Korea, merunut  ringkasan dari surat AAI tertanggal 8/8/2014 di halaman 2 bila diringkas, memunculkan dugaan  kisah keterkaitan dengan sejumlah dokter.

“Januari sampai Oktober 2012 saya berobat ke dr. Adelina, Sp.S, di RS Advent Bandung. Keluhannya, rasa sakit terus-menerus di pinggang belakang. Dokter ini lalu menganjurkan dioperasi oleh dr Rully Zul Dahlan, Sp. BS.,” kata Harun dengan tambahan keterangan, “Pada september – Oktober 2012, menjalani rawat inap di RS Advent Bandung. Ini buat persiapan dan operasi pembuluh darah pada torakal punggung No 4-5,6,7,9 – 1, Ketua Tim Operasi dr Rully. Namun awal November 2012, saya diperbolehkan pulang. Dianggap sehat dan mampu berjalan dibantu walker.”

Kisah berlanjut, kata Harun pada November 2012, dr. Rully Dahlan, dan dr. Adelina meyakinkan dirinya, ”Tak perlu dioperasi cukup disuntik dengan obat saja oleh dokter dari Korea. Disini tak ada penjelasan efek samping perlakuan ini.”

Puncaknya pada 5 Desember 2012, masih kata Harun, difasilitasi dr Rully Zul Dahlan dirinya yang masih bisa berjalan dengan bantuan walker, ”Saya disuruh datang ke RS Hasan Sadikin Bandung, lalu sibawa ke lantai 3 ruang operasi untuk penyuntikan oleh dokter Korea.”

Masih kata Harun beberapa saat sebelum penyuntikan oleh dokter Korea, ”Saya disuruh mengangkat kaki kiri dan kanan ke atas sampai 90 derajat. Saya mampu melakukannya dan mampu berdiri. Juga asisten dr Rully Zul Dahlan menanyakan, apakah ada rasa sakit. Saya jawab, tidak ada…, jelasnya dengan menyatakan, “Itulah detik-detik sebelum penyuntikan yang menyusahkan saya dan keluarga dalam enam tahun terakhir.”

 

Dugaan Mal Praktik Itu..

Masih berpangkal dari surat AAI tertanggal 8/8/2014, dugaan keras malpraktik ini dr. Rully Zul Dahlan dan dr Adelina serta dokter dari Korea telah melanggar disiplin Profesi Kedokteran, sebagaimana diatur dalam Peraturan Konsul Kedokteran Indonesia No. 4 Tahun 2011, berupa :

1. Menyuruh dokter dari Korea menyuntikkan obat yang tidak jelas dan tidak terdaftar di BPOM RI.

2. Menyuruh dokter Korea melakukan tindakan medis terhadap pasien, padahal dokter ini tidak memiliki izin praktik di Indonesia. Dokter ini datang ke Indonesia dalam rangka Simposium (International Cadaveric Dissection and Symposium of Spine 2012).

3 Menjamin obat yang disuntikkan pasti dapat menyembuhkan pasien, dan mengatakan rugi apabila tidak ikut program penyuntikan ini.

“Semua ini betul-betul terjadi dan siap malah disumpah pocong sekalian. Saya menderita lahir bathin, gara-gara penyuntikan ini,” jelas Harun dengan nada menghiba yang sangat dalam.

Berdasarkan kejadian di atas, masih pada 2014 yakni dua tahun setelah peristiwa ini, laporan pengaduan per 28 Juni 2014 ditujukan ke Ketua IDI Pusat, melalui surat Ketua PB IDI No 4695/PB/H3/06/2014 per 27 Juni 2014. “Dari surat ini disarankan pengaduan ke MKDKI,” imbuh Harun dengan menambahkan laporan sejenis ke Ketua IDI Provinsi Jawa Barat, per tangga 26 Juni 2014 –“Ditujukan ke Ketua Bidang Hukum, Etika, dan Profesi (Dr. Tammy J Sjarif M,H, Kes). Mengundang saya untuk klarifikasi, namun tak ada tindak lanjut.”

Pengaduan Yang Mandek!

Diringkas, nasib pengaduan yang telah disebar ke ‘delapan penjuru angin’ oleh korban, dugaan mal praktik ini “tak jelas alias mandek” disikapi para pihak yang dimintai bantuannya oleh AAI Bandung, antara lain IDI Cabang kota Bandung (no surat 93/A.5/IDI-Bd/VI/2014 – per 23/6/2013); Ombudsman RI (no 0312/KLA/0599/PBP.28/VII/2015 – per 22/7/2015); Sekjen Kemenkes, Ka Biro Hukum dan Organisasi (no HK.04.01/IV.2/2094/2015 – per 28/8/2015); dan Dit Reskrimsus Polda Jabar (No B/410/2016/Dit Reskrimsus – per 28/10/2016), kabar terakhir beberapa pihak menyarankan negosiasi dengan dr Rully Hanafi Zul Dahlan.

Kala di konfirmasi, masih di rumah Harun berdasarkan sepintas berkas yang ia sodorkan – Negosiasi dari dr Rully itu bagaimana?

“Tegas saya tolak melalui surat ke Tim Mal Praktik Dokter Dit Krimsus Polda Jabar (3/10/2016). Bukan uangnya, yang katanya mau beri Rp. 80 juta, melainkan penderitaan saya tak sebanding dengan nilai uang. Good will untuk membantu pengobatan kepada saya pun, hingga hari ini tidak ada. Malah, saling lempar tanggung-jawab seperti sejak awal kasus ini muncul,” tandas Harun, “Mana tanggung jawab dokter dan RS Hasan Sadikin yang tempatnya dipakai praktik  illegal dokter Korea? MKDKI pun sama, berdalih tim yang dulu sudah bubar, katanya.”

Saksi, Tak Perlu Disuntik

harun3Sebuah catatan yang cukup berarti atas dugaan mal praktik ini, bolehlah disimak apa kata saksi menurut surat yang diajukan ke MKDKI Jakarta Pusat  (8/8/2014), dari pelapor H Kuswara S Taryono, SH .MH, DKK Tim Advokasi AAI Bandung.

Tercantum dalam lembar ke-3 surat ini. Dr. Thamrin Syamsudin, SpS sebagai dokter yang merawat pasien (Harun – red) sejak 2012 – 2014. Selanjutnya Dr Tan Siaw Koan, Sp. Rad, menyatakan tidak perlu diuntik dan salah penanganan. Pun, Dr Tedy Sadeli W,. Sp. KFR, menyatakan Harun menderita kelumpuhan permanen. 

Perihal pengaduan Harun yang tak lelah dilayangkan ke semua pihak yang berwenang. “Semoga hukum tetap ditegakkan. Saya akan berjuang terus untuk itu,” tutupnya dengan rona wajah datar memendam penderitaan.

Harun semenjak ber-kursi roda, alih-alih bisa bercengkrama dengan anak dan cucu inginnya. “Justru berbagai berbagai penyakit seperti wasir, pelemahan otot, juga gatal-gatal di sekujur kulit, sekarang terus terasa.” (HS/IS/dtn)  

Add a comment

Yuk, Mulai GERMAS-mu Sekarang!

germasdestinasiaNewsDestiners, sudahkah kita menerapkan pola hidup sehat sehari-hari? Tidak dipungkiri, fakta dan jawabannya, sebagian besar adalah belum. Betul? Rupanya, motivasi kurang dari tiap individu adalah alasan utama kenapa kita belum mau menerapkan pola hidup sehat.

 

Banyak faktor yang menyebabkan kita agak susah untuk menerapkan pola tersebut. Umumnya, faktor gaya hidup kekinian yang tidak sehat, pengaruh lingkungan, dan pencemaran, yang tanpa disadari dapat menyebabkan penyakit tidak menular.

germas2Jika ini trend-nya transisi epidemiologi, dari tahun 1990 sampai (katakanlah) sekarang, penyebab utama dari beban penyakit di masyarakat adalah Penyakit Tidak Menular yang semakin meningkat. Sadarkah kita akan hal kecil ini?!

 

Nah, tentu harus ada tindak pencegahannya bukan? Yang paling simple, yuk, kita ikutan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS). Menurut Ibu Dedeh, S.Gz., M.KM., RD, gerakan ini menjadi sangat penting untuk dilaksanakan agar kualitas hidup (Quality of life) kita menjadi lebih baik.

 

 

Bahkan, sudah tertuang dalam Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2017 Tentang Gerakan Masyarakat Hidup Sehat.

 

 

GERMAS Goal!

germas4

Destiners, siapa yang mau sakit?

Meski ini fenomena klasik-umum, tetapi jika kita sakit, terbesit akan biaya berobat-nya juga, kan?

 

 

Nah, dengan menerapkan berperilaku hidup sehat, salah satu dampaknya tentu mengurangi biaya berobat. Membuat kita lebih produktif. Menciptakan lingkungan yang bersih. Dan otomatis, kesehatan kita terjaga.

 

 

germas3GERMAS sudah digaungkan sejak lama, dan sekarang makin digalakkan oleh seluruh lapisan masyrakat. Bukti untuk mensukseskan gerakan ini adanya dukungan nyata dari lintas sektor terkait pada pembangunan akses air minum, sanitasi pemukiman layak huni dan infrastruktur dasar juga dalam kemanan pangan.

 

Juga, Pemerintahan Pusat maupun Pemerintahan Daerah menyiapkan sarana dan pra-sarana pendukungnya. Tidak ketinggalan dari dunia Institusi maupun organisasi profesi masyarakat, ikut turut andil berperilaku sehat.

 

Lalu, bagaimana kita sebagai individu dapat mendukung dan berperan aktif dalam GERMAS ini?

“Biasakan memilah gaya hidup sehat untuk diri kita sendiri. Hindari rokok, alhokol dan zat karsiogenik lainnya. Tidak ada salahnya, kan, berepot-repot di dapur untuk menyediakan buah dan sayuran segar bagi kita maupun keluarga? Pola makan dengan gizi seimbang. Cek kesehatan berkala di sarana kesehatan. Bagi para pegawai kantor, tidak ada salahnya melakukan peregangan seperti menggunakan tangga daripada lift, kan? Juga istirahat yang cukup.” Tutur Beliau, yang juga menjabat sebagai Kepala Sub Instalasi Mutu Dan Pelayanan Makanan di Instalasi Gizi, RSUP dr. Hasan Sadikin, Bandung. (SF/dtn/gambar, google.)

Add a comment

Number One Bali Honey – ‘Bukan Sembarang Madu’, Kata Inna

IMG 20180101 102837
destinasiaNews – “Perkenalkan, Number One Bali Honey ini madu bukan sembarang madu,” kata Inna pemilik nama lengkap Inana Musailimah Tri Santosa. Tanpa banyak bicara, wanita paruh baya yang masih tampak gesit  diusianya, mempersilahkan belasan jurnalis  mencicipi produknya.
 
“Pakailah sendok plastik ini, lalu emut-mutlah di mulut,” tutur Inna memberi petunjuk singkat. Aneka reaksi dari para jurnalis yang tergabung dalam JBN (Jurnalis  Bela Negara) yang hari itu (30/12/2017) di Pasraman Widya Dharma Jalan Subagyo Lanud Husein Sastranagara Bandung.
 
“Ini beda rasanya dengan madu biasa, lebih natural dibanding madu biasa lainnya. Rasa bunga dan buah, begitu terasa,” kata jurnalis Bagoes Rinto Hadi. Jurnalis lainnya, Mochammad Gun, menimpal:”Benar ini, tak seperti madu biasa yang suka saya konsumsi. Kenapa bisa begini?”
 
Tak berapa lama Inna yang berpembawaan ramah, belakangan  ia membocorkan info, ia memang berasal dari kota Solo (Jawa tengah), menjelaskan inilah bedanya dengan madu yang biasa kita konsumsi. “Ini berasal dari lebah asli Eropa (Apis Mellifera). Lebah ini terkenal paling cerdas dalam memilih sari bunga (nectar),” terang Inna sambil menambahkan –“Budidaya lebahnya, hanya khusus di Bedugul (Bali). Di sana masih luas hutannya, tanaman liar, aneka buah, dan bunga liar tumbuh subur. Makanya, punya taste dan khasiat yang kuat”
 
Menurut Inna, dirinya sebelum berani menawarkan keunggulan madu yang punya banyak khasiat kesehatan, sekeluarga telah lama mengkonsumsinya sebagai pengganti gula putih.  “Saya gunakan untuk memasak, membuat minuman, membuat kue, dan dikonsumsi rutin pagi dan sore,” papanya dengan menambahkan: “Sebaiknya Bali Honey tidak disimpan di dalam kulkas. Dan habiskan sebelum masa lakunya selama 6 bulan”
 
So, bagi warga Bandung dan sekitarnya yang berminat merasakan khasiat dan sensasi madu merek Number One Bali Honey dapat mengontak Inna di nomor 085244787788.“Banderolnya Rp.275.000, ukuran botol 600 graam,” begitu pungkasnya dengan ramah.  (HS/SA/dtn)
 
Add a comment

Perangi Narkotika dengan Senjata Rehabilitasi, Mungkinkah?

rehab
DR. Anang Iskandar, SIK, SH, MH,
Dosen Pidana Narkotika Universitas Trisakti, mantan Kabareskrim (2015 - 2016), kini Kepala BNN (2012-2015), mengurai ihwal ampuhnya upaya rehabilitasi. Tentu, kiatnya dalam konteks memerangi maraknya 'virus dunia' narkotika di Indonesia. Inilah nukilannya ...
 
DestinasiaNews - Sampai kini,  masih banyak yang menyangsikan: mungkinkah dengan senjata rehabilitasi kita berhasil memerangi maraknya "virus dunia" narkotika? Jawabannya, sangat mungkin ! Kepastiannya, berangkat dari berbagai dasar ilmiah dan bukti sejarah.
 
Pertama, faktanya, senjata rehabilitasi itu satu-satunya cara pulih dari penyakit ketergantungan narkotika.
 
Kedua, penyalahgunaan narkotika bagi yang menjalani proses hukumnya, harus ditempatkan di lembaga rehabilitasi sesuai tingkat pemeriksaannya. Karenanya, setiap hakim wajib memvonis dengan hukuman rehabilitasi. Harap diingat, ini merupakan amanat konvensi, amanat undang-undang, dan amanat umat manusia untuk hidup sehat - jauh dari segala macam penyakit.Termasuk penyakit ketergantungan.
 
Ketiga, apabila penyalahguna sembuh. Ini bermakna tidak ada lagi penyalahguna. Artinya, tidak ada demand atau permintaan. Otomatis, pedagang narkotika pun, gulung tikar karena tidak ada pembeli.
 
Berawal dari titik ini, senjata rehabilitasi membuktikan keampuhannya, memerangi narkotika. Rehabilitasi bukanlah sekadar memulihkan penyalahguna, melainkan menjadikan bandar narkotika bangkrut selamanya.
 
Secara tekhnis, narkotika adalah obat, bahan dan zat. Ia bukan makanan yang jika diminum, dihisap, dihirup, ditelan atau disuntik berpengaruh pada kerja otak. Sering kali,  ia menyebabkan penyakit ketergantungan. Jika kemudian seseorang mengidap penyakit ini, berakibat kerja otak pun berubah. Ini akan merembet  ke perubahan fungsi vital organ, seperti jantung, peredaran darah, pernapasan, dan lain-lain.
 
Di sisi lain, narkotika sebenarnya memang diperlukan untuk kepentingan kesehatan, ilmu pengetahuan dan teknologi. Tentu, dengan dosis terukur, dan diperuntukkan oleh dokter untuk menghilangkan rasa sakit.
 
Sejatinya, peredaran narkotika harus diawasi secara ketat, dengan rambu-rambu aturan dan perundang-undangan. Sementara penyalahgunaan atau penggunaan tanpa resep dokter, serta peredaran di luar ketentuan perundang-undangan, harus dilarang oleh undang-undang narkotika kita.
 
Diketahui, semua penyalahgunaan narkotika dapat menyebabkan penyakit ketergantungan, atau adiksi. Konsekuensi untuk penyembuhannya, memerlukan upaya serius, dalam arti kembali ke kondisi sehat. Penyembuhan ini galibnya, dimulai dari proses detoksifikasi, proses sosial, dan penanaman kembali nilai-nilai sosial yang hilang akibat adiksi.
 
Secara garis besar, bila merunut kepada UU Narkotika Indonesia, penyalahgunaannya terbagi atas dua tipe. Tipe pertama, penyalahguna untuk diri sendiri, dan penyalahguna untuk diedarkan. Tipe kedua, ini yang perlu diperangi meskipun dengan cara berbeda, bukan melalui rehabilitasi.
 ANANG ISKANDAR
Cara Memerangi Narkotika
Berangkat dari Undang Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika, khususnya pasal 4: senjata utama demi memerangi narkotika, biasanya melalui rehabilitasi. Sasaran “tembaknya", sangat khusus yaitu para penyalahguna.
 
Melalui pasal 4 itu pun, senjatanya bernama rehabilitasi.  Ini pun digunakan demi mencapai tujuan dari lahirnya Undang Undang Narkotika Indonesia. Secara historis, ruh dari Undang Undang ini menegaskan bahwa para penyalahguna dijamin untuk direhabilitasi.
 
Bahkan jaminan ini disebutkan dalam Undang-Undang secara spesifik. Dibuktikan dengan pernyataan ‘mencegah, melindungi, dan menyelamatkan bangsa Indonesia dari penyalahgunaan narkotika, menjamin upaya rehabilitasi medis,  serta rehabilitasi sosial bagi penyalahguna dan pecandu’.
 
Secara teknis, penggunaan senjata rehabilitasi, diatur oleh Undang-Undang Narkotika Indonesia, yaitu:
 
1. Bagi keluarga atau orang tua penyalahguna yang ingin sembuh secara mandiri atas biaya sendiri, dapat memilih tempat rehabilitasi sesuai keinginan masing-masing. Hal ini karena undang-undang narkotika kita memposisikan penyalahguna sebagai orang sakit, dan menjadi kewajiban orang tua untuk penyembuhannya.
 
2. Apabila tidak, ada pilihan lain yaitu mengikuti rehabilitasi yang dipaksa oleh undang-undang dan dibiayai pemerintah. Dalam konteks ini, penyalahguna dapat mengikuti jalur wajib lapor yang disediakan undang-undang, yaitu secara sukarela, atau dilaporkan keluarganya ke rumah sakit yang telah ditunjuk pemerintah.
 
Rumah sakit itu dikenal juga sebagai IPWL (Institusi Penerima Wajib Lapor). Ia berkewajiban mendapatkan atau penyembuhan,  serta diberi bonus oleh undang-undang,  tidak dituntut pidana. Hal ini karena undang-undang narkotika kita berperspektif hukum dan kesehatan.
 
3. Apabila karakter penyalahguna itu enggan dan tidak mau direhabilitasi meskipun dipaksa, berdasarkan undang-undang juga, penyalahguna dilakukan upaya paksa untuk direhabilitasi melalui rehabilitation justice system (RJS). RJS ini merupakan proses peradilan yang bermuara pada penghukuman rehabilitasi.
 
Dalam prosesnya, penyalahguna ditangkap, disidik dan dituntut di pengadilan. Artinya, selama proses penyidikan dan penuntutan, tersangka atau terdakwa ditempatkan di lembaga rehabilitasi.  Hakim pun menurut undang-undang narkotika wajib memvonis hukuman rehabilitasi, baik terbukti atau tidak terbukti bersalah.
 
Penempatan penyalahguna ke lembaga rehabilitasi selama proses penyidikan, penuntutan dan peradilan menurut undang-undang telah dihitung sebagai hukuman kurungan atau pemenjaraan. Inilah esensi dari proses modern yang mewarnai undang-undang narkotika kita yang memiliki perspektif penegakan hukum dan kesehatan.
 
Lalu terhadap para pengedar. Mulai dari pengecer, pengedar sampai produsen narkotika, Undang Undang Narkotika Indonesia, sejatinua telah membuktikan keampuhannya.
 
Pembuktian itu diimplementasikan berupa law enforcement melalui penangkapan, penyidikan, dan penuntutan lewat mekanisme criminal justice system. Ancamannya berat: mereka diancam hukuman berat bahkan hukuman mati.
 
Dipahami, pengedar adalah penjahat narkotika sesungguhnya. Merekalah, justru mendapatkan keuntungan dari bisnis narkotika. Mereka inilah, sosok sebenarnya sebagai perusak bangsa. Melalui racun yang mereka sebar, begitu banyak korban yang mengkonsumsi narkoba, akibatnya jiwa penyalahguna pun terganggu.  Bahkan, menderita sakit jiwa alias gila. Ini sebenarnya yang seharusnya memperoleh hukuman berat oleh hakim. Bukan, penyalahgunanya.
 
Sementara bagi mereka yang belum terlibat sama sekali, undang-undang narkotika, sudah menegaskan perlindungan dengan senjata pencegahan. Tujuannya, jelas dan tegas yaitu agar tidak masuk ke pusaran bisnis narkotika. Pencegahan ini menjadi penting, agar munculnya penyalahguna baru tidak terjadi. Rantai penyalahguna, diputus !
 
Sejatinua, perang terhadap narkoba, sepatutnya mengunakan tiga senjata di atas secara seimbang dan berkelanjutan.
 
Pengalaman Menang Perang
tercatat di antaranya, proyek Mayfahluang Foundation Thailand.Ia  berhasil memenangi perang melawan narkotika. Yayasan ini fokus pada rehabilitasi dan pencegahan tanpa ada penegakan hukum. Dampaknya, dalam waktu tidak terlalu lama, berhasil merehabilitasi seluruh wilayah proyek. Kini, sudah tidak ada lagi peredaran di daerah proyek karena tidak ada konsumen atau permintaan.
 
Di seluruh wilayah Uni Eropa, khususnya Belanda, justru tidak pernah menghukum penjara meskipun penyalahguna narkotika dilarang dan dibatasi. Para penyalahguna justru dihukum secara non-kriminal. Belanda pun banyak membangun tempat rehabilitasi, sehingga banyak penyalahguna berangsur sembuh. Inilah, salah satu sebab banyak penjara di Belanda “gulung tikar”, karena tidak ada penghuninya. Coba, bandingkan dengan kondisi di Indonesia?
 
Di sisi lain, ada beberapa negara di dunia yang gagal dalam perang melawan narkotika. Hasil penelitian menegaskan, kegagalan itu karena berpatokan hanya pada Konvensi Tunggal Narkotika 1961.
 
Sebut saja Amerika Serikat. Negara ini juga pernah gagal dalam perang melawan narkotika di tahun 1970-an. Saat itu, pelopornya justru Presiden Nixon sendiri dengan menggunakan senjata law enforcement. Baik terhadap pengedar maupun penyalahgunanya. Dua pihak ini, dihukumn kondisi ini serupa dengan di Indonesia saat ini.
 
Berangkat dari pengalaman negara yang gagal dalam perang melawan narkotika itu,  ini mengilhami masyarakat dunia untuk mengamandemen Konvensi Tunggal Narkotika 1961.
 
Melalui Protokol 1972, arah perang melawan narkotika berganti wajah. Penyalahguna narkotika diberikan alternatif penghukuman rehabilitasi. Konvensi ini kemudian diadopsi oleh negara-negara anggota PBB dan dijadikan dasar pembuatan undang-undang narkotika di masing negara peserta.
 
Berdasarkan konvensi itu, Indonesia mengadopsinya, muncullah UU No. 8 Tahun 1976. Undang Undang ini menjadi dasar dibentuknya Undang Undang Narkotika No. 9 Tahun 1976, sebagai Undang Undang narkotika pertama di Indonesia.
 
Berdasarkan rentetan sejarahnya, UU 1976 mengalami pergantian menjadi UU Narkotika 1997. Terakhir menjadi UU No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika.
 
Terkini, undang-undang narkotika, sudah berlaku dan telah berperspektif pada penegakan hukum, serta kesehatan. Khususnya untuk menangani masalah narkotika. Itulah sebabnya dalam regulasi ini, penyalahguna diberikan penghukuman berupa rehabilitasi sebagai pengganti hukuman penjara dan bersifat wajib.
 
Dengan demikian rehabilitasi atau hukuman rehabilitasi bagi penyalahguna, telah menjadi ketetapan bagi seluruh bangsa di dunia. Ini termasuk Indonesia, sebagai salah satu cara mematikan bisnis narkotika ilegal. Perlakuan hukuman berat yaitu penjara atau mati, khusus ditujukan bagi para kelompok pengedar.
 
Kenyataanya,  kini penerapan hukumnya justru menyimpang dari arah dan tujuan undang- undang. Semua, karena selama penyidikan, penuntutan dan peradilan, para penyalahguna banyak “digoreng”, untuk mengikuti proses criminal justice system yang bermuara di penjara.
 
Di titik inilah, permasalahan pemenjaraan harus diluruskan. Tujuannya,  agar bangsa ini tidak berjalan ke arah yang salah. Tokh, tujuan UU Narkotika Indonesia untuk melindungi dan menyelamatkan bangsa Indonesia dari penyalahgunaan narkotika.
 
Caranya pun diatur mengikuti perkembangan dunia. Walau kenyataannya, penyalahguna bukan direhabilitasi atau dihukum rehabilitasi, namun ditahan dan dihukum penjara.
 
Dampak ketidakpatuhan atas regulasi UU No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika itu, Indonesia menjadi sulit memenangkan peperangan melawan narkotika. Bahkan segelintir pihak, malah menyalahkan undang-undangnya. Mereka kerap menyatakan bahwa ‘undang-undangnya tidak jelas, ambigu, tidak baik,  segera diganti'.
 
Di titik itu, sebenarnya telah menampakkan adanya arah yang salah dalam perang melawan narkotika. Meskipun demikian, masih berhasratkah kita berperang,  melawan narkoba, dan memenangkannya? Saya yakin, kita siap melawan penyalahguna narkotika. Semoga kita memenangkan peperangan ini. (Anang Iskandar/HS/dtn)
Add a comment

Sarah Tsunami Mungkin Bisa Norolong Baca Al Qur’an

sarah3

destinasianews, Pasir Impun – Terpercik harapan dari 'bayi ajaib' Sarah Tsunami (11) yang terselamatkan oleh mukzizat Tuhan kala bencana tsunami menerpa pantai Pangandaran pada Senin sore 17 Juli 2006, dengan korban lebih dari 500 orang.

Ketika Sarah muncul di ruangan pemeriksaan refraksi mata di lantai 4 RS Mata Cicendo Bandung, dia mendapat keterangan menyenangkan.: ”Bila anak manis ini dioperasi Insya Alloh penglihatannya sekitar 60 persen pulih. Tentu, masih dibantu kacamata. Namun tak setebal sekarang,” kata dr. Irawati Irfani, Sp. M (K), M.Kes. Rabu, 13 Desember lalu.

sarah2

Sejenak para pendampingnya yang diutus Ketua Umum DPP Gerakan Hejo, Eka Santosa, yang membawa Sarah siswa kelas 5 SDN 2 Bojong di Kecamatan Parigi Kabupaten Pangandaran ini agak terhenyak. ”Bukankah selama ini Sarah menyandang low vision?”        

“Hasil pemeriksaan hari ini, bila sekedar kacamatanya akan diganti, nanti akan semakin tebal. Sarannya, Sarah dioperasi untuk menempatkan semacam lensa. Tentu, harus persetujuan orang tuanya. Silahkan dipertimbangkan,” tambah dr. Irawati dengan bijak yang sebelumnya tampak cermat menyerap hasil pemeriksaan dari lima rekan sejawatnya.

Pertimbangan Orang Tua Sarah

Para pendamping Sarah hari itu di antaranya Joggie Natadisastra, Shahadat Akbar, dan kebetulan ada Olot (pemuka adat) Sahari dari Baduy Provinsi Banten. Dan untuk kesekian-kalinya kelancarannya dibantu oleh staf Humas rumah sakit ini, Ria Darmasari beserta jajarannya.

Sorenya, para pendamping ini setiba di kediaman Eka Santosa di Alam Santosa, Pasir Impun Kabupaten Bandung, tempat Sarah menginap ersama ibunya Juju Juariah (45) yang tuna netra sejak kelas 3 SD, melaporkan ihwal pemeriksaan mata Sarah.

“Ahamdulillah hasil pemeriksaan mata Sarah hari ini sangat menggembirakan. Tentang saran operasi mata ini, kita kembalikan sepenuhnya kepada orang tua dan keluarganya,” papar Eka yang hari itu tampak bungah.

Bagi Eka sendiri yang pada era 2006 itu masih berkiprah sebagai anggota DPR RI, kembali mengingatkan dirinya akan kebesaran Tuhan. Telah terselamatkan ‘bayi ajaib’ Sarah, ia lahir beberapa jam sebelum bencana tsunami Pangandaran terjadi. Selanjutnya, orok Sarah sempat terhempas dari dekapan ibunya yang tuna netra, lalu ditemukan beberap jam kemudian di antara tumpukan sampah.

“Nama Sarah diambil dari kata sarah dalam bahasa Sunda, yang menurut orang setempat berarti sampah. Tapi, dipikir-pikir nama sarah ini jadi indah ya?” serunya dengan wajah berbinar-binar  - “Sekali lagi kepada RS Mata Cicendo dan banyak pihak yang membantu ananda Sarah tanpa pamrih, saya ucapkan terima kasih.”

sarah1

Juju, ibunya Sarah di Pasir Impun, dalam pertemuan sore itu, masih mempertimbangkan kemungkinan mengiijinkan operesi mata anak semata wayangnya dari suaminya Utan (65). “Besok akan pulang dulu ke Parigi, berunding dengan bapaknya Sarah. Bila setuju, langsung mengurus surat-surat BPJS dari Puskesmas.  Tetapi, semua ini terpulang pada pada kesiapan Sarah sendiri”.

Kepada Sarah, Eka sempat bertanya dihadapan ibunya maukah dioperasi matanya seperti tadi ibu dokter sarankan di rumah sakit agar penglihatan lebih baik, dan kacamata Sarah tidak semakin tebal?

“Kayaknya, mau saja-lah,” jawab Sarah dengan nada suara pelan. Tatkala ada yang mengejar  kira-kira bila penglihatan Sarah semakin baik apa yang akan Sarah lakukan nanti? “Sarah mau ke kebun binatang seperti dulu, waktu punya kacamata pertama. Mau naik gajah, lihat jerapah, singa, harimau, sama ular. Juga Sarah mau jalan-jalan ke mal (toserba), terus mau baca buku biar lancar norolang, juga mengaji Al Qur’an …” tuturnya dengan lugu. (HS/SA/AR/dtn).-

Add a comment


emgz2

Artikel lain...

Bersatu, Demi Sungai Citarum Jernih – Jurnalis Peduli Citarum Harum Merintis Berbadan Hukum

Bersatu, Demi Sungai Citarum Jernih – Jurnalis Peduli Citarum Harum Merintis Berbadan Hukum

destinasiaNews –Bertempat di Sekertariat “lokasi nongkrong” Jl. Situ Cileunca No 17 Cijagra Kota Bandung, puluhan aktivis yang tergabung pada Jurnalis...

Fox Harris Hotels Rayakan Hari Kolase Dunia

Fox Harris Hotels Rayakan Hari Kolase Dunia

destinasiaNews – Salah satu hotel besutan Tauziah Hotel management yaitu Fox Harris Hotels Bandung, dalam upaya mewujudkan pengenalan lebih mendalam...

Kasus Pembongkaran SPBU Kebon Kawung oleh PT KAI Daop 2 Bandung, Masuk ke Pengadilan & Ombudsman

Kasus Pembongkaran SPBU Kebon Kawung oleh PT KAI Daop 2 Bandung, Masuk ke Pengadilan & Ombudsman

destinasiaNews – Kasus “alot” pembongkaran SPBU No. 34 – 40109 (Kebon Kawung) di lahan “panas” PT KAI Daop 2 Bandung,...

Gebyar Hotel Lodaya Bandung, Menggelar Khitanan Masal Gratis

Gebyar Hotel Lodaya Bandung, Menggelar Khitanan Masal Gratis

destinasiaNews  –  Pelataran Hotel Lodaya di Jl. Lodaya No 83 Lingkar Selatan Kota Bandung, pada Minggu pagi 13 Mei 2018, ada...

Rayakan 45 Tahun Bandung Independent School – Digelar Drama Musik Sangkuriang, Keren Abiz!  

Rayakan 45 Tahun Bandung Independent School – Digelar Drama Musik Sangkuriang, Keren Abiz!  

DestinasiaNews – Perlu diksi yang pas benar, memposisikan kesuksesan pagelaran drama musik Sangkuriang di Bandung Independent School (BIS),  pada Sabtu...

Pengunjung

02083002
Hari ini
Kemarin
772
4893