Sidang Pleno I TKPSDA Citarum – Seriuslah Tangani Sungai Terkotor Sedunia !

DTN TKPSDAdestinasiaNews – Fakta berbicara, wilayah Sungai Citarum seluas 12.000 km2, cakupannya ada 13 wilayah administrasi Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Barat. Sungai ini punya ragam potensi, berperan penting bagi kehidupan sosial, budaya dan ekonomi masyarakat. Sedikitnya dimanfaatkan oleh 45 juta penduduk Jabar pada era 2015-an.

Airnya dimanfaatkan sebagai sumber air baku penduduk DKI Jakarta. Lainnya untuk irigasi pertanian, perikanan, pemasok kegiatan industri, dan sumber pembangkit listrik tenaga air untuk Pulau Jawa dan Bali.

Fakta lain, dalam kurun dua dekade, secara akut Sungai Citarum telah rusak berat dari hulu hingga hilir. Aktivitas demografi, dan kegiatan sosial ekonomi yang tidak dibarengi upaya pelestarian lingkungan - menambah beban persoalan lingkungan yang berat di Jabar. Sebutannya, sebagai sungai terkotor sedunia. Ini tak begitu dihiraukan oleh para penanggung-jawabnya.

“Semua kalangan hanya bisa saling menyalahkan”, papar Deni Riswandani, S.Sos, Ketua Komunitas Elingan (Elemen Lingkungan). Deni berujar demikian disela-sela hari terakhir Sidang Pleno I TKPSDA (Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Citarum) di Grand Tebu Hotel Bandung Jl. L.L.R.E Martadinata Bandung, 22 – 23 Maret 2017.

Kualitas Air 

Penurunan drastis kualitas lingkungan Sungai Citarum telah berpengaruh pada kondisi masyarakat yang tinggal di sepanjang bantaran sungai, baik di pedesaan maupun perkotaan. “Saat musim hujan, bencana banjir mengancam berbagai kawasan. Pencemaran air sungai akibat aktivitas industri dan pertanian, telah membahayakan. Ini mengancam kesehatan, juga budi daya ikan”, kata Ir, Muh. Husen, Ketua Biro Perikanan Budidaya DPD HNSI Jawa Barat, yang diamini D. Sunardhi Yogantara, Ketua Yayasan Warga Peduli Lingkungan (WPL).   

Kawasan hulu Sungai Citarum punya peranan penting terhadap kualitas lingkungan Sungai Citarum secara kesuluruhan. Berbagai studi perihal penurunan kualitas Sungai Citarum menegaskan, bahwa erosi, sedimentasi, banjir, penurunan kualitas air sungai serta berkurangnya ketersediaan air pada musim kemarau tidak lepas dari permasalahan yang terjadi di Kawasan Hulu Sungai Citarum. “Ini yang harus kita benahi segera,” ujar M. Taufan Suratno, Divisi Informasi dan Komunitas Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS).

Sebelumnya, Taufan sebagai moderator menemani paparan terakhir Sidang Pleno TKPSDA Citarum dari Muhamad Reza Sahib dari KRuHA (Koalisi Rakyat untuk Hak atas Air). Muhamad Reza secara tegas mengunmandangkan:"Laksanakan amanat konstitusi, dan penuhi hak atas air segera.”

Guliran pernyataan ini mengacu pada Undang-Undang No 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air yang disusun oleh pinjaman Bank Dunia (WATSAL) sudah dibatalkan Mahkamah Konstitusi. Lanjutannya, UU tersebut dibatalkan karena bertentangan dengan prinsip pengelolaan air yang diatur oleh UUD 1945 (Konstitusi). Saat ini pembuatan RUU yang mengatur Air di Indonesia sedang dalam proses.

Sepengetahuan Muhamad Reza pula, dalam proses legislasinya RUU ini dibawah inisiatif DPR. Pihak kementrian PUPR kabarnya sudah menyerahkan Naskah Akademik RUU SDA kepada Ketua Komisi V pada Kamis, 26 Januari 2017. “Namun, hingga saat naskah itu belum bisa diakses oleh masyarakat sipil.”

Terungkap dalam diskusi ini penerapan UU 7/2004 di lapangan telah memporakporandakan sistem pengelolaan air di Indonesia. Tidak hanya itu, pola pembuatan kebijakan dan cara masyarakat melihat air pun menjadi berubah”, urai Taufan menjelaskan tata guna air sudah dieksploitasi sedemikian rupa – “Rakyat sudah menjadi korban secara bertubi-tubi, hanya dari  esensi air saja. Belum yang lainnya.

DTN TKPSDA 2Secara terpisah Eka Santosa, Ketua Umum Gerakan Hejo yang bersama sesepuh Jabar Solihin GP (92) sejak November 2016 telah mencanangkan Jabar Darurat Ekologi, terkait kondisi Sungai Citarum yang sudah rusak dalam banyak hal:”Saya apresiasi nuansa keprihatinan dan pemikiran solutif dari para peserta Sidang Pleno ini. Lebih baik, melalui rekomendasinya langsung diterapkan di lapangan. Jangan lagi membuat seminar lanjutan – ini seperti seminar yang tiada habis-habisnya, seriuslah membenahinya,” pungkas Eka yang ditemui hari itu (24/3/2017) sedang menata hutan buatannya di Alam Santosa Pasir Impun Kabupaten Bandung. (HS/SA/dtn).


emgz2

Artikel lain...

Puluhan Artis Bandung Save Lombok – From Bandung With Love

Puluhan Artis Bandung Save Lombok – From Bandung With Love

destinasiaNews -Elemen warga yang tergabung pada “Musisi Bandung”, berencana membikin dompet khusus terkait bencana gempa bumi yang melanda Lombok pada...

Forum Penyelamat Olahraga (FPOR) Jawa Barat Tegaskan KONI Jabar untuk Kembali pada Konstitusi

Forum Penyelamat Olahraga (FPOR) Jawa Barat Tegaskan KONI Jabar untuk Kembali pada Konstitusi

Destinasianews – Forum Penyelamat Olahraga (FPOR) Jawa Barat gelar konferensi pers di Kawasan Ekowisata Alam Santosa, Pasir Impun, Kabupaten Bandung,...

Lagi, Pemilik Grand Asia Afrika Residence ‘Keukeuh’ Menolak Pailit - Ini Pertimbangannya …

Lagi, Pemilik Grand Asia Afrika Residence ‘Keukeuh’ Menolak Pailit  - Ini Pertimbangannya …

destinasiaNews – Kabar teranyar dari kesepakatan di antara konsumen Grand Asia Afrika Residence(GAAR) Bandung yang tergabung dalam wadah Paguyuban Konsumen...

Semarak Clients Gathering Jakarta Bersama ibis Bandung Trans Studio

Semarak Clients Gathering Jakarta Bersama ibis Bandung Trans Studio

destinasiaNews– Dalam upaya memberikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada para kliennya, ibis Bandung Trans Studio, menggelar acara Clients Gathering...

Pengunjung

02335648
Hari ini
Kemarin
153
3196