Eka Santosa di Forum ‘Wartawan Ngaprak Desa’ HU Galamedia – Singgung Macan Kertas & Parahnya Kerusakan Lingkungan

DTN Wartawan Ngaprak Desa CopydestinasiaNews – Bertempat di Alam Santosa, Kawasan Ekowisata dan Budaya. Tepatnya, di Jl. Pasir Impun Atas No 5 A Desa Sekebalingbing Pasir Impun Kabupaten Bandung, Senin 27 Maret 2017 berlangsung pelatihan jurnalistik ‘Wartawan Ngaprak Desa’. Puluhan pegiat media yang biasanya jarang bertatap muka walaupun satu kantor, hari itu ngariung bareng – face to face alias adu amprok. “Kami jadi sering ber-swa foto disini karena suasananya adem. Waktu bertugas, mana sempat selfi-selfian”, tutur jurnalis Galamedia yang biasa disapa Kiki sambil tersipu-sipu.

Tampak wartawan senior Budiana dari PR Group, turut memberikan petuah dan kiat ampuh bagi adik-adiknya dalam mengolah reportase, khususnya tentang dinamika desa:”Data harus komplit, mendalam, serta berimbang, dan inspiratif, tentunya”, itu salah satu petuahnya yang diangguki para juniornya. 

“Ini rutin kami lakukan. Tujuannya demi mempertajam tilikan reportase crew kami. Hasilnya, lihatlah nanti dalam sajian yang mengupas dinamika pedesaan. Harus lebih baik dalam segala segi,” jelas Pemimpin Redaksi HU Galamedia, Enton Supriatna Sind. Enton berucap demikian pada petang itu, sesaat sebelum memandu acara yang menghadirkan tokoh Jabar Eka Santosa (58), di forum “Wartawan Ngaprak Desa”.

Alam Santosa - Pilot Project

Eka Santosa sendiri sebagai Ketua DPRD Jabar (1999 – 2004) dari fraksi PDIP dilanjut sebagai Ketua Komisi II DPR RI (2004-2009), dan sesaat menjabat Ketua DPW Partai NasDem Jabar (2013 – 2015), hingga kini bergiat di bidang lingkungan dan budaya di antaranya sebagai Sekjen/Duta  Sawala BOMA (Baresan Olot Masyarakat Adat) Jabar, Ketua Forum DAS Citarum (2013 – 2018), dan Ketua Umum Gerakan Hejo – yang berkiprah bersama Solihin GP (92) mantan Gubernur Jabar (1970 – 1974).

Di forum “Wartawan Ngaprak Desa” dari HU Galamedia, Eka mengupas banyak hal, termasuk keprihatinannya perihal kondisi lingkungan Jawa Barat dalam 10 tahun terakhir. Menurutnya, hutan buatan Alam Santosa seluas 4,5 ha tempat wartawan Galamedia hadir kala itu:”Ini pilot project saya. Saya berani lantang berbicara setelah 15 tahun menghutankan lagi daerah ini. Inginnya, Jabar yang luasnya 3,5 juta ha, 40%-nya harus hutan. Bukan seperti sekarang, kata Pemrov Jabar hutannya 38%, padahal hanya 20%. Itu pun 600 ribu ha dalam kondisi kritis. Biasalah, Pemprov Jabar hanya pakai citra satelit jaman kuda makan besi, yang kuno – itu akal-akalan mereka. Bersama DPKLTS dan Pak Sobirin Supardiono, bisa kita buktikan semua itu”.

Soal Desa …  

Dalam kaitan perdesaan, Eka menginginkan desa harus menjadi pusat kegiatan ekonomi masyarakat. Menurutnya, harus ada penguatan, pun anggaran yang dikucurkan pemerintah melalui APBD:”Harus sampai ke desa, karena 70% masyarakat tinggal di desa. Saya dan Pak Solihin sepakat, desa kuat, negara akan kuat.”

Dipaparka pula di Jabar ada sekitar 6.000-an desa, tersebar di 626 kecamatan, 27 kabupaten dan kota. “Konsep rakyat dan desa semesta itu harus dikembalikan. Urbanisasi, hanya bisa dicegah melalui pengguatan desa”. 

Menurut Eka yang melihat desa sebaiknya sebagai subyek dan bukan obyek:”Jangan seperti sekarang, kepentingan birokratis dan politis sangat kental dalam konteks perdesaan. Pemberdayaan ekonomi dan pembinaan kesadaran lingkungan, sangat minim. Tata kelola desa yang berciri tradisi yang positif untuk kemandirian, justru dihilangkan. Sekdes diangkat jadi PNS, ini merusak tata nilai desa”, ujarnya sambil memaparkan salah kelola perdesaan lainnya “Nilai kearifan lokal warga desa dalam memelihara, menjaga, dan mengembangkan keseimbangan alam serta manusia, diobrak-abrik oleh kepentingan investor yang berkolaborasi dengan para birokrat lokal, ya termasuk bupati dan walikotanya. Warga desa mendadak jadi serba materialis dan hedonis. Prihatin saya, ini banyak terjadi di pelosok Jabar, karena kepemimpinan yang ngawur!” 

Macan Kertas – Banjir Rancaekek

Soal tudingan “macan kertas” atas fenomena banjir yang kerap melanda kawasan jalan nasional di kawasan pabrik Kahatex dan Vonex di Rancaekek Kabupaten Sumedang, sempat muncul:”Itu Gubernur Jabar dan Wakilnya, menurut saya dalam kasus ini ibarat macan kertas. Keduanya tak mampu memecahkan soal rutin ini. Hanya menggantung masalah”, ujarnya dengan nada kesal.

Lebih mengecewakan tampaknya bagi Eka:“Masa warga diminta bersabar? Duh keterlaluan, itu kan urat nadi menghubungkan ibu kota DKI dan Bandung ke provinsi lain di pulau Jawa. Bukan hanya Bandung – Garut saja yang terhambat”.

Lebih lanjut masih menurut Eka dalam konteks banjir kala hujan sedikit pun di Rancaekek yang selalu menerpa pengguna jalan ini:”Ini hanya style kepemimpinan di Jabar yang sangat abai terhadap pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan. Partisipasi masyarakat tak dilibatkan, warga itu sebenarnya sangat manut alias paternalistik pada pimpinannya?”

Dalam kesempatan lain, para perusak lingkungan yang mayoritas para investor tak dikelola dengan baik –“Malah mereka diajak kompromi, demi menyelamatkan buruh. Kasihan tuh, buruh selalu dijadikan sebagai alat tawar-menawar. Sementara kepentingan lingkungan yang berjangka panjang, diabaikan”.

Yang lebih mengesalkan lagi kata Eka, ada beberapa bupati yang menghubunginya secara pribadi, memohon dirinya jangan galak-galak pada investor:”Sudahlah Kang, mereka para pemilik pabrik itu kan sedang dibina”, begitu ujarnya menirukan suara salah satu bupati itu.

Menimpal, ini Eka kembali menukas:”Sebaiknya perusak lingkungan itu, segera dibinasakan! Tokh, sejak Sang Bupati mau membina (era – 2014-an – red.) itu, hingga sekarang malah tak ada pembinaan. Ironinya, melalui PTUN malah pemerintah kala. Absurd memang…”

Rakyat Balangsak

Seusai paparan di hadapan “Wartawan Ngaprak Desa”, Eka dikonfirmasi, bukanlah penyebab banjir di sekitar 15 ribu-an hektar di kawasan Kahatex dan Vonex itu disebabkan Gunung Palasari dan Manglayang sudah gundul, dirambah hutannya? “Justru itulah, pimpinan di Jabar ini tak punya visi dalam hal penanganan air dan banjir. Hutan tempat air parkir, justru dibabat. Ini akan saya perangi terus melalui Gerakan Hejo,” jelasnya sambil mengingatkan –“Tadi saya jelaskan, bukan banyaknya waduk yang jadi prioritas di Jabar untuk irigasi dan pertanian pajale, umumnya. Justru hutan harus banyak lagi, leuweung ruksak caina beak, rakyat balangsak. Moal ngejo, lamun teu hejo!”

Tatkala disinggung, apakah dirinya akan mencalonkan juga pada Pilgub Jabar 2018 mendatang, dan siapa pasangannya? Kontan, Eka menjelaskan, dirinya merasa terpanggil untuk memimpin Jabar karena kerusakan lingkungan dan pola kepemimpinan yang salah kaprah, tambahan banyak kalangan mendorongnya:“Bagi saya untuk apalah kalau hanya mencari kedudukan. Menjabat Ketua DPRD Jabar, sudah. Juga di DPR RI, mengurus Panja Daerah Otonomi Baru se Indonesia di antaranya, sudah dilakoni. Ini semata terpanggil oleh persoalan perlu pembenahan lingkungan. Tambahan Pak Solihin GP mendorongnya.”

“Pesan Mang Ihin (sapaan Solihin GP) yang saya ingat terus. Jangan biarkan perusak lingkungan merajalela, namun harus nyaah (sayang) pada rakyat. Lainnya harus clean and capable. Insya Allah, saya nanti bila dipasangkan siapa pun, siap jadi tukang beberes. Ya, posisi nomor 2 pun tak mengapa. Anggaplah saya ini gubernur non Gedung Sate-nya. Sehari-hari mau keliling antar kota dan kabupaten di Jabar”, ungkapnya yang digadang-gadang sejak awal Maret 2017 disandingkan oleh Solihin GP dengan Ridwan Kamil. 

“Jadi gubernur lapangan pun tak mengapa, khusus mengurus kerusakan lingkungan dan semacamnya”, pungkasnya yang juga menjelaskan melalui lingkungan yang baik- “Pastilah, kesejahteraan dan lapangan kerja pun bertambah. Saya punya strateginya, nanti kita bedah ya?”. (HS/SA/dtn)


emgz2

Artikel lain...

Puluhan Artis Bandung Save Lombok – From Bandung With Love

Puluhan Artis Bandung Save Lombok – From Bandung With Love

destinasiaNews -Elemen warga yang tergabung pada “Musisi Bandung”, berencana membikin dompet khusus terkait bencana gempa bumi yang melanda Lombok pada...

Forum Penyelamat Olahraga (FPOR) Jawa Barat Tegaskan KONI Jabar untuk Kembali pada Konstitusi

Forum Penyelamat Olahraga (FPOR) Jawa Barat Tegaskan KONI Jabar untuk Kembali pada Konstitusi

Destinasianews – Forum Penyelamat Olahraga (FPOR) Jawa Barat gelar konferensi pers di Kawasan Ekowisata Alam Santosa, Pasir Impun, Kabupaten Bandung,...

Lagi, Pemilik Grand Asia Afrika Residence ‘Keukeuh’ Menolak Pailit - Ini Pertimbangannya …

Lagi, Pemilik Grand Asia Afrika Residence ‘Keukeuh’ Menolak Pailit  - Ini Pertimbangannya …

destinasiaNews – Kabar teranyar dari kesepakatan di antara konsumen Grand Asia Afrika Residence(GAAR) Bandung yang tergabung dalam wadah Paguyuban Konsumen...

Semarak Clients Gathering Jakarta Bersama ibis Bandung Trans Studio

Semarak Clients Gathering Jakarta Bersama ibis Bandung Trans Studio

destinasiaNews– Dalam upaya memberikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada para kliennya, ibis Bandung Trans Studio, menggelar acara Clients Gathering...

Pengunjung

02335651
Hari ini
Kemarin
156
3196