Eka Santosa di Forum ‘Wartawan Ngaprak Desa’ HU Galamedia – Singgung Macan Kertas & Parahnya Kerusakan Lingkungan

DTN Wartawan Ngaprak Desa CopydestinasiaNews – Bertempat di Alam Santosa, Kawasan Ekowisata dan Budaya. Tepatnya, di Jl. Pasir Impun Atas No 5 A Desa Sekebalingbing Pasir Impun Kabupaten Bandung, Senin 27 Maret 2017 berlangsung pelatihan jurnalistik ‘Wartawan Ngaprak Desa’. Puluhan pegiat media yang biasanya jarang bertatap muka walaupun satu kantor, hari itu ngariung bareng – face to face alias adu amprok. “Kami jadi sering ber-swa foto disini karena suasananya adem. Waktu bertugas, mana sempat selfi-selfian”, tutur jurnalis Galamedia yang biasa disapa Kiki sambil tersipu-sipu.

Tampak wartawan senior Budiana dari PR Group, turut memberikan petuah dan kiat ampuh bagi adik-adiknya dalam mengolah reportase, khususnya tentang dinamika desa:”Data harus komplit, mendalam, serta berimbang, dan inspiratif, tentunya”, itu salah satu petuahnya yang diangguki para juniornya. 

“Ini rutin kami lakukan. Tujuannya demi mempertajam tilikan reportase crew kami. Hasilnya, lihatlah nanti dalam sajian yang mengupas dinamika pedesaan. Harus lebih baik dalam segala segi,” jelas Pemimpin Redaksi HU Galamedia, Enton Supriatna Sind. Enton berucap demikian pada petang itu, sesaat sebelum memandu acara yang menghadirkan tokoh Jabar Eka Santosa (58), di forum “Wartawan Ngaprak Desa”.

Alam Santosa - Pilot Project

Eka Santosa sendiri sebagai Ketua DPRD Jabar (1999 – 2004) dari fraksi PDIP dilanjut sebagai Ketua Komisi II DPR RI (2004-2009), dan sesaat menjabat Ketua DPW Partai NasDem Jabar (2013 – 2015), hingga kini bergiat di bidang lingkungan dan budaya di antaranya sebagai Sekjen/Duta  Sawala BOMA (Baresan Olot Masyarakat Adat) Jabar, Ketua Forum DAS Citarum (2013 – 2018), dan Ketua Umum Gerakan Hejo – yang berkiprah bersama Solihin GP (92) mantan Gubernur Jabar (1970 – 1974).

Di forum “Wartawan Ngaprak Desa” dari HU Galamedia, Eka mengupas banyak hal, termasuk keprihatinannya perihal kondisi lingkungan Jawa Barat dalam 10 tahun terakhir. Menurutnya, hutan buatan Alam Santosa seluas 4,5 ha tempat wartawan Galamedia hadir kala itu:”Ini pilot project saya. Saya berani lantang berbicara setelah 15 tahun menghutankan lagi daerah ini. Inginnya, Jabar yang luasnya 3,5 juta ha, 40%-nya harus hutan. Bukan seperti sekarang, kata Pemrov Jabar hutannya 38%, padahal hanya 20%. Itu pun 600 ribu ha dalam kondisi kritis. Biasalah, Pemprov Jabar hanya pakai citra satelit jaman kuda makan besi, yang kuno – itu akal-akalan mereka. Bersama DPKLTS dan Pak Sobirin Supardiono, bisa kita buktikan semua itu”.

Soal Desa …  

Dalam kaitan perdesaan, Eka menginginkan desa harus menjadi pusat kegiatan ekonomi masyarakat. Menurutnya, harus ada penguatan, pun anggaran yang dikucurkan pemerintah melalui APBD:”Harus sampai ke desa, karena 70% masyarakat tinggal di desa. Saya dan Pak Solihin sepakat, desa kuat, negara akan kuat.”

Dipaparka pula di Jabar ada sekitar 6.000-an desa, tersebar di 626 kecamatan, 27 kabupaten dan kota. “Konsep rakyat dan desa semesta itu harus dikembalikan. Urbanisasi, hanya bisa dicegah melalui pengguatan desa”. 

Menurut Eka yang melihat desa sebaiknya sebagai subyek dan bukan obyek:”Jangan seperti sekarang, kepentingan birokratis dan politis sangat kental dalam konteks perdesaan. Pemberdayaan ekonomi dan pembinaan kesadaran lingkungan, sangat minim. Tata kelola desa yang berciri tradisi yang positif untuk kemandirian, justru dihilangkan. Sekdes diangkat jadi PNS, ini merusak tata nilai desa”, ujarnya sambil memaparkan salah kelola perdesaan lainnya “Nilai kearifan lokal warga desa dalam memelihara, menjaga, dan mengembangkan keseimbangan alam serta manusia, diobrak-abrik oleh kepentingan investor yang berkolaborasi dengan para birokrat lokal, ya termasuk bupati dan walikotanya. Warga desa mendadak jadi serba materialis dan hedonis. Prihatin saya, ini banyak terjadi di pelosok Jabar, karena kepemimpinan yang ngawur!” 

Macan Kertas – Banjir Rancaekek

Soal tudingan “macan kertas” atas fenomena banjir yang kerap melanda kawasan jalan nasional di kawasan pabrik Kahatex dan Vonex di Rancaekek Kabupaten Sumedang, sempat muncul:”Itu Gubernur Jabar dan Wakilnya, menurut saya dalam kasus ini ibarat macan kertas. Keduanya tak mampu memecahkan soal rutin ini. Hanya menggantung masalah”, ujarnya dengan nada kesal.

Lebih mengecewakan tampaknya bagi Eka:“Masa warga diminta bersabar? Duh keterlaluan, itu kan urat nadi menghubungkan ibu kota DKI dan Bandung ke provinsi lain di pulau Jawa. Bukan hanya Bandung – Garut saja yang terhambat”.

Lebih lanjut masih menurut Eka dalam konteks banjir kala hujan sedikit pun di Rancaekek yang selalu menerpa pengguna jalan ini:”Ini hanya style kepemimpinan di Jabar yang sangat abai terhadap pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan. Partisipasi masyarakat tak dilibatkan, warga itu sebenarnya sangat manut alias paternalistik pada pimpinannya?”

Dalam kesempatan lain, para perusak lingkungan yang mayoritas para investor tak dikelola dengan baik –“Malah mereka diajak kompromi, demi menyelamatkan buruh. Kasihan tuh, buruh selalu dijadikan sebagai alat tawar-menawar. Sementara kepentingan lingkungan yang berjangka panjang, diabaikan”.

Yang lebih mengesalkan lagi kata Eka, ada beberapa bupati yang menghubunginya secara pribadi, memohon dirinya jangan galak-galak pada investor:”Sudahlah Kang, mereka para pemilik pabrik itu kan sedang dibina”, begitu ujarnya menirukan suara salah satu bupati itu.

Menimpal, ini Eka kembali menukas:”Sebaiknya perusak lingkungan itu, segera dibinasakan! Tokh, sejak Sang Bupati mau membina (era – 2014-an – red.) itu, hingga sekarang malah tak ada pembinaan. Ironinya, melalui PTUN malah pemerintah kala. Absurd memang…”

Rakyat Balangsak

Seusai paparan di hadapan “Wartawan Ngaprak Desa”, Eka dikonfirmasi, bukanlah penyebab banjir di sekitar 15 ribu-an hektar di kawasan Kahatex dan Vonex itu disebabkan Gunung Palasari dan Manglayang sudah gundul, dirambah hutannya? “Justru itulah, pimpinan di Jabar ini tak punya visi dalam hal penanganan air dan banjir. Hutan tempat air parkir, justru dibabat. Ini akan saya perangi terus melalui Gerakan Hejo,” jelasnya sambil mengingatkan –“Tadi saya jelaskan, bukan banyaknya waduk yang jadi prioritas di Jabar untuk irigasi dan pertanian pajale, umumnya. Justru hutan harus banyak lagi, leuweung ruksak caina beak, rakyat balangsak. Moal ngejo, lamun teu hejo!”

Tatkala disinggung, apakah dirinya akan mencalonkan juga pada Pilgub Jabar 2018 mendatang, dan siapa pasangannya? Kontan, Eka menjelaskan, dirinya merasa terpanggil untuk memimpin Jabar karena kerusakan lingkungan dan pola kepemimpinan yang salah kaprah, tambahan banyak kalangan mendorongnya:“Bagi saya untuk apalah kalau hanya mencari kedudukan. Menjabat Ketua DPRD Jabar, sudah. Juga di DPR RI, mengurus Panja Daerah Otonomi Baru se Indonesia di antaranya, sudah dilakoni. Ini semata terpanggil oleh persoalan perlu pembenahan lingkungan. Tambahan Pak Solihin GP mendorongnya.”

“Pesan Mang Ihin (sapaan Solihin GP) yang saya ingat terus. Jangan biarkan perusak lingkungan merajalela, namun harus nyaah (sayang) pada rakyat. Lainnya harus clean and capable. Insya Allah, saya nanti bila dipasangkan siapa pun, siap jadi tukang beberes. Ya, posisi nomor 2 pun tak mengapa. Anggaplah saya ini gubernur non Gedung Sate-nya. Sehari-hari mau keliling antar kota dan kabupaten di Jabar”, ungkapnya yang digadang-gadang sejak awal Maret 2017 disandingkan oleh Solihin GP dengan Ridwan Kamil. 

“Jadi gubernur lapangan pun tak mengapa, khusus mengurus kerusakan lingkungan dan semacamnya”, pungkasnya yang juga menjelaskan melalui lingkungan yang baik- “Pastilah, kesejahteraan dan lapangan kerja pun bertambah. Saya punya strateginya, nanti kita bedah ya?”. (HS/SA/dtn)

Add a comment

Sidang Pleno I TKPSDA Citarum – Seriuslah Tangani Sungai Terkotor Sedunia !

DTN TKPSDAdestinasiaNews – Fakta berbicara, wilayah Sungai Citarum seluas 12.000 km2, cakupannya ada 13 wilayah administrasi Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Barat. Sungai ini punya ragam potensi, berperan penting bagi kehidupan sosial, budaya dan ekonomi masyarakat. Sedikitnya dimanfaatkan oleh 45 juta penduduk Jabar pada era 2015-an.

Airnya dimanfaatkan sebagai sumber air baku penduduk DKI Jakarta. Lainnya untuk irigasi pertanian, perikanan, pemasok kegiatan industri, dan sumber pembangkit listrik tenaga air untuk Pulau Jawa dan Bali.

Fakta lain, dalam kurun dua dekade, secara akut Sungai Citarum telah rusak berat dari hulu hingga hilir. Aktivitas demografi, dan kegiatan sosial ekonomi yang tidak dibarengi upaya pelestarian lingkungan - menambah beban persoalan lingkungan yang berat di Jabar. Sebutannya, sebagai sungai terkotor sedunia. Ini tak begitu dihiraukan oleh para penanggung-jawabnya.

“Semua kalangan hanya bisa saling menyalahkan”, papar Deni Riswandani, S.Sos, Ketua Komunitas Elingan (Elemen Lingkungan). Deni berujar demikian disela-sela hari terakhir Sidang Pleno I TKPSDA (Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Citarum) di Grand Tebu Hotel Bandung Jl. L.L.R.E Martadinata Bandung, 22 – 23 Maret 2017.

Kualitas Air 

Penurunan drastis kualitas lingkungan Sungai Citarum telah berpengaruh pada kondisi masyarakat yang tinggal di sepanjang bantaran sungai, baik di pedesaan maupun perkotaan. “Saat musim hujan, bencana banjir mengancam berbagai kawasan. Pencemaran air sungai akibat aktivitas industri dan pertanian, telah membahayakan. Ini mengancam kesehatan, juga budi daya ikan”, kata Ir, Muh. Husen, Ketua Biro Perikanan Budidaya DPD HNSI Jawa Barat, yang diamini D. Sunardhi Yogantara, Ketua Yayasan Warga Peduli Lingkungan (WPL).   

Kawasan hulu Sungai Citarum punya peranan penting terhadap kualitas lingkungan Sungai Citarum secara kesuluruhan. Berbagai studi perihal penurunan kualitas Sungai Citarum menegaskan, bahwa erosi, sedimentasi, banjir, penurunan kualitas air sungai serta berkurangnya ketersediaan air pada musim kemarau tidak lepas dari permasalahan yang terjadi di Kawasan Hulu Sungai Citarum. “Ini yang harus kita benahi segera,” ujar M. Taufan Suratno, Divisi Informasi dan Komunitas Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS).

Sebelumnya, Taufan sebagai moderator menemani paparan terakhir Sidang Pleno TKPSDA Citarum dari Muhamad Reza Sahib dari KRuHA (Koalisi Rakyat untuk Hak atas Air). Muhamad Reza secara tegas mengunmandangkan:"Laksanakan amanat konstitusi, dan penuhi hak atas air segera.”

Guliran pernyataan ini mengacu pada Undang-Undang No 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air yang disusun oleh pinjaman Bank Dunia (WATSAL) sudah dibatalkan Mahkamah Konstitusi. Lanjutannya, UU tersebut dibatalkan karena bertentangan dengan prinsip pengelolaan air yang diatur oleh UUD 1945 (Konstitusi). Saat ini pembuatan RUU yang mengatur Air di Indonesia sedang dalam proses.

Sepengetahuan Muhamad Reza pula, dalam proses legislasinya RUU ini dibawah inisiatif DPR. Pihak kementrian PUPR kabarnya sudah menyerahkan Naskah Akademik RUU SDA kepada Ketua Komisi V pada Kamis, 26 Januari 2017. “Namun, hingga saat naskah itu belum bisa diakses oleh masyarakat sipil.”

Terungkap dalam diskusi ini penerapan UU 7/2004 di lapangan telah memporakporandakan sistem pengelolaan air di Indonesia. Tidak hanya itu, pola pembuatan kebijakan dan cara masyarakat melihat air pun menjadi berubah”, urai Taufan menjelaskan tata guna air sudah dieksploitasi sedemikian rupa – “Rakyat sudah menjadi korban secara bertubi-tubi, hanya dari  esensi air saja. Belum yang lainnya.

DTN TKPSDA 2Secara terpisah Eka Santosa, Ketua Umum Gerakan Hejo yang bersama sesepuh Jabar Solihin GP (92) sejak November 2016 telah mencanangkan Jabar Darurat Ekologi, terkait kondisi Sungai Citarum yang sudah rusak dalam banyak hal:”Saya apresiasi nuansa keprihatinan dan pemikiran solutif dari para peserta Sidang Pleno ini. Lebih baik, melalui rekomendasinya langsung diterapkan di lapangan. Jangan lagi membuat seminar lanjutan – ini seperti seminar yang tiada habis-habisnya, seriuslah membenahinya,” pungkas Eka yang ditemui hari itu (24/3/2017) sedang menata hutan buatannya di Alam Santosa Pasir Impun Kabupaten Bandung. (HS/SA/dtn).

Add a comment

Partai Nasdem Deklarasikan Ridwan Kamil – Menuju Pilgub Jabar 2018

EDU DEKLARASI RK 2 2destinasiaNews– Ridwan Kamil Walikota Bandung (2013 – 2018) yang akrab disapa Emil, hadir di deklarasi Partai NasDem di Lapangan Tegalega Bandung (19/2/2017). Ini mengusung Emil maju ke Pilgub Jabar 2018.

“Hatur nuhun kepada Partai NasDem dan masyarakat, walau pilkada 15 bulan lagi ternyata ada cara agar bisa diperkenalkan lebih awal. Ini agar warga bisa memilah, dan tidak salah pilih,” papar Emil dalam sambutannya yang disambut tepuk tangan ribuan hadirin.

Perihal jalan panjang menggapai Kursi Jabar 1, sesuai konstitusi sedikitnya ia dan pasangannya harus didukung 20 anggota DPRD Jabar. Kala diwawancara seusai deklarasi, secara tersirat menjelaskan sejumlah tantangan:”Komunikasi dengan semua partai, batas komunikasi itu tidak hitam di atas putih. Ini pun belum pasti maju ke maja pendaftaran, dari deklarasi ke pendaftaran masih lama.”

Tiga Kesepakatan Emil - NasDem

Dalam deklarasi ini, Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh dalam pidatonya mengungkapkan ada kesepakatan tiga syarat demi menempatkan Emil untuk Pilkada 2018: menjadikan Jabar sebagai benteng Pancasila; bila berhasil duduk memimpin Jabar, memintanya untuk tidak bergabung dengan partai apapun; dan ketiga konsolidasi roda pemerintahan di Jabar, demi mendukung Pemerintahan Presiden Jokowi sekaligus sebagai persiapan Pilpres 2019.

Perihal paling  awal Partai NasDem memberi dukungan ke Emil di Pilgub Jabar 2018, Surya dalam salah satu keterangannya:”Sengaja dilakukan sembari melakukan pemetaan permasalahan dan program terbaik demi masyarakat Jabar.”

Lebih lanjut alasan NasDem menurut Surya: ”Demi memudahkan untuk mengantisipasi hal-hal mana yang harus diperkuat dan dikoreksi. Pencalonan ini tak hanya berhenti pada deklarasi, melainkan membawa Ridwan Kamil memenangkan kompetisi”.

Secara terpisah Eka Santosa Ketua DPW Partai NasDem 2013 – 2015 yang kini bergiat di isyu lingkungan dan budaya “Gerakan Hejo” bersama sesepuh Jabar Solihin GP (92), kebetulan ramai dalam pemberitaan sehari sebelumnya (18/3/2017)  - bertemu dengan Emil di kediaman Solihin GP di Cisitu Indah Kota Bandung.

EDU DEKLARASI RK 2 1Terkait deklarasi ini, menurut Eka: “Ini sebuah langkah politik berparadigma baru dalam upaya pemunculan sosok pemimpin di Jawa Barat, yang menurut Solihin GP kini kondisinya sudah awut-awutan”.

Diakui Eka sebagai orang yang pernah membesarkan Partai NasDem, mengapresiasi deklarasi ini: ”Hal ini tidak terlepas dari sebuah kecerdasan Ketua Umum Partai NasDem dalam melakukan perubahan dan pembaharuan politik di Indonsia. Idealnya, langkah ini harus diikuti dengan topangan program kepada saudara Ridwan Kamil - demi memulihkan Jabar dari ketertinggalan, bahkan keterpurukan selama ini.”

Eka seakan mengingatkan pada garapan kinerjanya kala masih di NasDem:”Saya istilahkan waktu itu restorasi Jabar selatan-utara dan Jabar tengah. Sekedar mengingatkan, saya waktu itu gencar mengusung tag line NasDem untuk Jabar dan Jabar untuk Indonesia”, pungkasnya. (HS/SA)

Add a comment

Mendadak, Solihin GP Pertemukan Ridwan Kamil – Eka Santosa : Menuju Pilgub Jabar 2018?

DTN RK 1 EKA 1destinasiaNews – Pertemuan khusus yang terjadi sangat mendadak pada Sabtu pagi 18 Maret 2017 terjadi di kediaman sesepuh Jawa Barat Solihin GP (92) di kawasan Cisitu Indah kota Bandung. Saat itu hadir di pagi hari yang sebelumnya sempat dibasahi hujan, Ridwan Kamil Walikota Bandung (2013 -2018) sowan ke Mang Ihin panggilan akrab Solihin GP mantan Gubernur Jabar 1970 – 1974 dan 16 tahun menjabat sebagai Sesdalopbang era Orde baru.

“Benar pagi ini Kang Emil (sapaan Ridwan Kamil) hadir di Cisitu Indah. Mang Ihin mengklarifikasi niatan Kang Emil yang ramai saat ini mau maju Pilgub Jabar 2018. Juga menanyakan pengganti dan program selanjutnya bagi kota Bandung. Pun dipertemukan dengan Kang Eka sebagai Ketua Umum Gerakan Hejo. Lainnya, ya silaturahimlah, layaknya anak ke bapak”, papar Prof. Dr. Mubiar Purwasasmita rekan dekat Mang Ihin di DPKLTS (Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda, tempat mereka bergiat dalam lingkungan sejak tahun 2001.

Sedikit bocoran dari Satria Kamal salah satu putra Mang Ihin, inti diskusi yang berbalut klarifikasi, di antaranya: Seberapa seriuskah niatan Ridwan Kamil maju ke Pilgub Jabar 2018? Bila ini benar, siapa pengganti Walikota Bandung mendatang? Program di kota Bandung yang belum selesai, bagaimana penanganan dan kelanjutannya? Termasuk, partai apa yang akan mengusungnya?

Lainnya pula menurut Mamay panggilan akrab Satria Kamal:”Tentu diklarifikasi soal pewarisan nilai-nilai kejuangan bangsa. Juga, soal NKRI, Pancasila dan UUD 45, serta penanganan intoleransi, pun masalah pentingnya menjaga dan mengembangkan harmonisasi hidup bernegara dalam konteks Jawa Barat”, tambahnya.

Ridwan Kamil sendiri usai pertemuan ini dengan rona wajah sumringah mengungkapkan:”Pesan atau nasihat Mang Ihin selaku sesepuh Jabar sangat bermakna bagi saya. Pun dari sesepuh Jabar lainnya, akan saya terima kelak. Semua ini kan demi harmonisasi di Jabar ke depan”.

Kala ditanya tentang dipertemukannya oleh Mang Ihin dengan tokoh Jabar Eka Santosa yang selama ini bergiat sebagai Ketua Umum Gerakan Hejo:”Nah, ini kan Kang Eka bukan siapa-siapa bagi saya. Tadi banyak kita bicarakan soal bagaimana Jabar ke depan. Intinya, banyak manfaat dari momentum ini”, paparnya yang juga mengapresiasi partai NasDem yang berinisiatif mendorong ke niatan Pilgub Jabar 2018 – “Dengan partai lain pun saya sudah banyak melakukan pertemuan. Tentu silaturahim dengan partai akan dibangun terus”.

Eka Siap Beberes

DTN RK 1 EKA 2Eka Santosa sendiri dalam kesempatan ini cukup singkat menanggapi pertemuan ini:”Namanya juga bersilaturahim, kita bicarakan hal-hal umum menyangkut Jabar ke depan. Tadi Pak Sobirin dan Pak Mubiar dari DPKLTS, banyak memperkaya perihal perbaikan kondisi lingkungan di Jabar, tentunya. Ini bermanfaat bagi kita. Pegangan saya, fatzoen saja ke nasihat Mang Ihin. Saya siap beberes …”.

Mang Ihin sendiri sekilas kala ditanya kemungkinan posisi dari Ridwan Kamil – Eka Santosa:”Dari dulu juga saya tekankan. Eka itu jadi tukang beberes di bidang lingkungan utamanya. Eka sudah banyak berdiskusi dengan saya, soal posisi tak masalah bagi dia mau nomor satu atau dua”, begitu ujarnya yang saat itu usai pertemuan mendadak ini - ia menerima tamu tokoh nasional lainnya. (HS/SA/dtn)

Add a comment

Rekomendasi Rakorda DPD HNSI Jabar – Mengangkat Harkat, Seberapa Ampuh?

DTN HNSI RekomendasidestinasiaNews – Lontaran pernyataan dari Ketua DPD HNSI (Himpunan Naelayan Seluruh Indonesia) Nandang A Permana dihadapan sejumlah awak media (16/3/2017) di Sekertariannya Jl. Dago Pakar Barat No. 9B Bandung, dalam kaitan menyampaikan butir-butir rekomendasi Rakorda (Rapat KoordinasiDaerah dan Konsultasi). Ini disampaikan setelah dua hari sebelumnya (14/3/2017) di Hotel Topaz Galeria Bandung dilangsungkan Rakorda yang diikuti utusan 11 DPC yang berada di pesisir Jabar serta 2 DPC yang memiliki potensi budi daya ikan.

“Yang bikin kami bangga, Rakorda ini dihadiri petinggi kami mulai dari pusat (Jakarta) hingga pihak terkait di provinsi Jabar”, papar Chevi Epi Sutisna selaku Sekertaris DPD HNSI Jabar yang diamini rekannya selaku Ketua Presidium 1 dan Sekertaris Presidium Rakorda, yakni Ujang SB dan D Syarifudin. “Ketum DPP HNSI Yusuf Solichien dan Sekda Provinsi Jabar selaku Dewan Penasehat dan Pembina Iwa Karniwa, serta dari kementerian dan dinas terkait, semua hadir. Ini kejutan besar pisan bagi kami”, ungkap Sutisna yang akrab disapa Kang Entis dari Jl. Wiranta Cicadas kota Bandung, sehari-hari ia berurusan di bagian pengembangan IT di DPD HNSI Jabar.

Nasib Nelayan  

 “Dari 157 ribu nelayan di Jabar, taruhlah ada sebuah perahu katir berisi 3 nelayan tangkap kelas one day fishing. Total uang didapat dari tangkapan hari itu Rp. 600 ribu. Uang ini cukup besar, kan ?”, lontar Nandang memancing keingin-tahuan para pegiat media massa. Selanjutnya ia uraikan, biaya sewa perahu, bahan bakar, dan konsumsi selama melaut terkuras Rp. 450 ribu. “Berarti sisa Rp. 150 ribu, namun ini harus dibagi 3 orang. Hasil jumlah-jamleh, hanya kebagian Rp 50 ribu per orang”, jelasnya dengan mimik nelangsa.

“Apa mau dikata, tahunan nasib mayoritas nelayan kita seperti ini. Tanpa akses bank, kerap dibelit hutang ke tengkulak, rentenir, atau para boss maupun investor mereka biasa sebut. Belum masa paceklik selama beberapa bulan, resiko kecelakaan dan rawan asuransi pun terjadi, kondisi inftastruktur pelabuhan rata-rata buruk, posisi tawar tangkapannya amat rendah” lagi jelas Nandang yang berterus terang – “Hanya Pak Sekda yang pernah mencucurkan air mata, ketika saya berkeluh kesah soal nasib nelayan. Bukan apa-apa ya? Pejabat yang lain, biasanya cuman datar saja meresponnya.”   

Masih berkutat di nasib nelayan Jabar yang rata-rata terpuruk kata Nandang:”KUR, Kredit Usaha Rakyat yang ramai digulirkan pemerintah buat nelayan. Faktanya, tersendat. Mereka diminta serahkan jaminan tanah. Nelayan miskin, mana punya tanah?.”

“Solusi paling jitu, dirikanlah koperasi nelayan. Diurus dan dikomandoi oleh manajemen yang mengerti seluk-beluk nelayan. Sudah berjalan di beberapa daerah. Pemerintah sekarang tertarik menolongnya”, papar Nandang yang langsung berubah rona wajahnya tatkala membahas koperasi –“Ini harapan nelayan, keluar dari keterpurukan. Beberapa bank mau menolong kami, bekerjasama dengan koperasi nelayan”.

Tak kurang pentingnya, dibahas Nandang yang dicermati rekan seiring aktivis DPD HNSI Jabar Agus Warsito selaku Bendahara, meliputi materi: Sejumlah regulasi dari KKP (kementerian Kelautan dan Perikanan) pada periode kepemimpinan Susi Pudjiastuti berupa regulasi di bidang alat tangkap dan obyek tangkapan yang di lapangan kerap menimbulkan salah tafsir dan salah paham; jenis perahu nelayan yang terbatas daya jelajah, hanya sekitar 2 mil laut rata-rata; kondisi lingkungan  di sekitar pesisir yang tercemar aneka limbah; rendahnya posisi dan akses hukum para nelayan, termasuk rendahnya posisi tawar hasil tangkatan; dan keterbatasan tingkat pendidikan serta penguasaan teknologi kenelayanan juga kelautan. “Makin lengkaplah, profesi nelayan identik dengan kemandekan kemiskinan yang bersifat struktural”. 

Rekomendasi itu 

Godokan Rakorda HNSI Jabar yang ditelah oleh 3 bidang masing-masing Komisi Bidang Internal – Eksternal, Komisi Bidang Bina Program, dan Komisi Bidang Hukum dan Hak Asasi Manusia, menghasilkan19 butir rekomendasi. “Langsung keesokan harinya (15/3/2017) kami susun menjadi Surat Keputusan HNSI Jabar 2017.

Bila dirangkum ke-19 butir rekomendasi yang terbagi pada 3 Bidang Komisi, diringkas sebagai berikut: 1. Penguatan struktur & kinerja organisasi DPD HNSI Jabar 2015 – 2020. 2. Peningkatan kualitas dan kuantitas di segala lini, melalui pelatihan dan kaderisasi secara terprogram. 3 Membentuk koperasi dan membenahi kesekretariatan berbasis IT, safety fishing berbasis UHF atau WIFI (GPS, VMS, dan Fish Finder), dan marketing online berbasis android – memutus alur pemasaran, langsung ke konsumen. 4. Membangun biro hukum untuk mengkaji aneka regulasi, judicial review dijalankan bila ditemukan permasalahan mendasar yang merugikan nelayan.

“Yakinlah, rekomendasi ini sebagian saja dijalankan konsisten, bisa memuculkan paradigm baru. Ampuh mengangkat harkat dan derajat nelayan”, tutup Nandang yang bergiat di organisasi profesi ini tanpa punya tujuan selain memberdayakan nelayan:”Catat ya, saya tak mau nantinya ini sebagai jembatan untuk promosi anggota dewan atau semacamnya. Bila pun ada desakan itu, dipastikan keluarga saya tak menyetujuinya”. (HS/SA)

Add a comment


emgz2

Artikel lain...

Maman Cawabup KBB no 1, Bersilaturahmi Dengan Para Ustadz

Maman Cawabup KBB no 1, Bersilaturahmi Dengan Para Ustadz

destinasiaNews - Dalam mempererat silaturahmi dengan kalangan ustadz dan ulama, calon Wakil Bupati Kabupaten Bandung Barat (KBB) nomor 1 yang...

Ihwal Blekok Bandung (2): Kang Emil Belum Menengok

Ihwal Blekok Bandung (2): Kang Emil Belum Menengok

DestinasiaNews - Nah, perkiraan pertanyaan “iseng” lainnya masih ala Diego ke Ujang Safaat, Ketua RW setempat Ujang Safaat yang sehari-hari...

Ihwal Blekok Bandung (1): Kang Emil Belum Menengok

Ihwal Blekok Bandung (1): Kang Emil Belum Menengok

destinasiaNews – Terinsipirasi serial film travelling yang mendunia bertajuk Don’t Tell My Mother (Ulah bebeja ka Indung kuring). Film ini...

RTH Kota Bandung Intentensif Dibahas Eka Santosa & Oded di Pasir Impun - Benahi, Tata Ruang !

RTH Kota Bandung Intentensif Dibahas Eka Santosa & Oded di Pasir Impun - Benahi, Tata Ruang !

destinasiaNews -  Oded M Danial, Wakil Walikota Bandung disela-sela cuti sehubungan pencalonan Pilwalkot  pada Pilwalkot 2018 - 2023 yang berpasangan...

Maman Cawabup KBB no 1 Bertemu Jamaah Pengajian, Ini Keluhan jamaah Kepada Paslon EMAS

Maman Cawabup KBB no 1 Bertemu Jamaah Pengajian, Ini Keluhan jamaah Kepada Paslon EMAS

destinasiaNews - Sudah dua pekan berlalu Calon Wakil Bupati Kabupaten Bandung Barat (KBB) paket Paslon EMAS (Elin - Maman) blusukan,...

Pengunjung

01844810
Hari ini
Kemarin
78
1453