“Tjutju Widjaja” Pamerkan Karya Instalasi, di Cemara Galeri Jakarta

Pameran Tjutju FSRD 1Destinasianews - Dalam rangka memeriahkan Tahun Baru Imlek 2567 di Bulan Februari 2016, untuk yang kesekian kalinya Seniman asal Kota Kembang Bandung ' Tjutju Widjaja' menggelar Pameran Tunggalnya yang kali ini bertemakan “HEAR NO EVIL SEE NO EVIL” di Cemara 6 Galeri Jakarta Sabtu 13 - 26 Februari 2016 mendatang , yang di buka secara lansung oleh Seniman Dr. Melani Setiawan M.S.C dan dikuratori oleh Rifky Effendy.

Tjutju Widjaja yang lahir pada 24 February 1941 adalah seorang pribadi yang unik. Keunikan pribadi Tjujtu Widjaja karena latar belakang identitasnya yang “kompleks”. Kompleks yang dimaksud dalam hal ini adalah luas, beragam, dan banyaknya hal yang membentuk identitas seorang Tjutju Widjaja.

Tjutju Widjaja adalah seorang seniman, jurnalis, dosen, pengusaha yang juga sangat aktif beraktivitas dalam bidang sosial melalui beberapa yayasan sosial yang diikutinya. Latar belakang pendidikan formal yang pernah diikutinya juga sangat beragam; Tjutju pernah mengenyam pendidikan Kedokteran, mendalami Seni Melukis Kaligrafi China hingga studi mengenai Manajemen Pemasaran.

Tjutju Widjaja lulus sebagai Sarjana Seni dari Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Maranatha dan melanjutkan studi di bidang Seni Rupa di Program Pascasarjana, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung (FSRD ITB).

Pada Pameran Tunggal-nya kali ini, Tjutju Widjaja memamerkan lebih dari 10 karya seni lukis dan 1 karya Instalasi, ujarnya, saat pembukaan pameran Sabtu(13/2)2016 di Galeri Cemara 6 Jakarta.

Ada yang menarik ketika membandingkan sosok Tjutju Widjaja dengan karya-karya yang ia pamerkan kali ini, keunikan ini sangat dominan terutama dalam hal pemilihan tehnik, medium dan bahasa estetika yang seolah kontradiktif dengan sosok seorang Tjutju Widjaja.

Sudah sejak lama Tjutju tertarik pada Pop Art, bahkan langgam seni rupa kontemporer itu sangat mempengaruhi proses materialisasi gagasan-gagasannya selama ini. Tjutju juga sangat takjub terhadap perkembangan teknologi dan media, terutama teknologi olah dijital pada gambar secara umum, dan fotografi pada khususnya. Tjujtu bahkan secara intens mengkhususkan waktu untuk mengambil les privat fotografi dan olah dijital.

Semua ketertarikan pada Pop Art, Fotografi dan Digital Imaging ini terjadi di usia Tjutju yang tidak lagi muda. Orang seusia Tjutju mungkin akan merasa ‘asing’ dengan perkembangan teknologi yang terjadi saat ini, namun rasa ‘asing’ ini justru memicu semangat Tjutju Widjaja untuk belajar dan beradaptasi bukan saja dalam hal teknologi semata, namun juga dalam hal ‘baru’ bagi Tjutju, termasuk dalam hal ini; Seni Rupa Kontemporer. Gagasan karyanya memang berangkat dari kekhawatiran dirinya terhadap anak-anak -melalui perilaku cucu-cucunya -kepada dampak dari kemajuan teknologi computer, gawai (gadget) dan sosial media, juga beban dari kompetisi sistim pendidikan sekarang ini . Pameran Tjutju FSRD2

Menurutnya; anak-anak sekarang lebih banyak belajar hidup dari interaksi mereka dengan dunia maya ketimbang belajar dari kehidupan nyata. Mereka tidak lagi punya waktu untuk bermain mengenal lingkungannya, sekarang anak-anak lebih suka berlama-lama dikamar dengan gadget-nya. Waktu bermain pun semakin pendek karena mereka setelah sekolah juga harus menjalani berbagai pelajaran tambahan. Mereka harus berkompetisi untuk mendapatkan nilai yang paling tinggi.

Pada lukisannya yang dipamerkan tergambarkan berbagai persoalan ini secara lugas. Tjutju membayangkan bagaimana kemudian membayangkan mereka ketika dewasa ? Nilai-nilai kehidupan apa dan bagaimana yang akan mereka yakini kemudian ? Tentunya persoalan ini bukan hanya dialami oleh Tjutju Widjaja. Banyak orang tua menghadapi persoalan ini , sebuah dilema terutama dalam kehidupan masyarakat urban , baik di kota besar maupun pinggiran. Satu sisi kemajuan teknologi memberikan pengaruh kebaikan , tetapi disisi lain mendatangkan masalah ancaman dan kerusakan.

Hal ini bukan lagi menyangkut persoalan generation gap tetapi memang sesuatu yang harus dipertimbangkan kembali oleh banyak orang tua terhadap perilaku anak-anak mereka. Karya-karya Tjutju Widjaja memperlihatkan pendekatan persoalan dengan narasi yang lebih lugas dan dinamis kepada suatu problematika budaya kita sekarang. (BS/dtn)

Add a comment


emgz2

Artikel lain...

Mayjen (Purn) Tatang Zaenudin & Eka Santosa, Kuda hitam Pilgub Jabar – Blusukan …

Mayjen (Purn) Tatang Zaenudin & Eka Santosa, Kuda hitam Pilgub Jabar – Blusukan …

destinasianews  - Jreng-jreng, mungkin demikian laporan ini dibuka. Pasalnya, tanpa ba bi bu, dua tokoh pasangan Pilgub Jabar 2018 yang...

Pemimpin Dari Birokrat Untuk Bandung Barat Masih Ideal

Pemimpin Dari Birokrat Untuk Bandung Barat Masih Ideal

DestinasiaNews.com, Bandung Barat – Pertarungan politik merebut kursi Bandung Barat satu semakin menggeliat, Kali ini organisasi  DPC Taruna Merah Putih...

Manusia Pohon Aiptu Nunuh & Kapolsek Ibun Asep Dedi – Kembali, Tanam 2.500 Pohon

Manusia Pohon Aiptu Nunuh & Kapolsek Ibun Asep Dedi – Kembali, Tanam 2.500 Pohon

destinasiaNews – Menyongsong pengingatan hari pohon se dunia, kembali “Manusia Pohon” Aiptu Nunuh  dan kapolsek Ibun Iptu Asep Dedi menghijaukan...

Gerakan Hejo Garut & ‘Barudak’ XTC,  Plus Angin Metal Head, Tanam 1000 Pohon -  Biar, Air Terkendali …

Gerakan Hejo Garut & ‘Barudak’ XTC,  Plus Angin Metal Head, Tanam 1000 Pohon -  Biar, Air Terkendali …

destinasiaNews – Katakanlah ini ‘goup’ atau resminya DPD Gerakan Hejo Kabupaten Garut, seakan-akan ‘gak ada abiznya’ – Terus menghijaukan tatar...

Demiz Ditanya Wakilnya, Kala Berkunjung ke Partai Berkarya Jabar: Akan Diselesaikan Secara Adat

Demiz Ditanya Wakilnya, Kala Berkunjung ke Partai Berkarya Jabar: Akan Diselesaikan Secara Adat

destinasiaNews – Ujung dari acara kunjungan Dedy Mizwar Wakil Gubernur Jabar ke Kawasan Ekowisata dan Budaya Alam Santosa, Pasir Impun...

Pengunjung

01698331
Hari ini
Kemarin
1120
1582