Eka Santosa, Tempatkan JIM 2018 Pangandaran, Paduan Pengembangan Olahraga Prestasi dan Destinasi Wisata

weka2Varian multi facet sosok tokoh Jabar Eka Santosa (59), mantan Ketua KONI Jabar (2002 – 2006) yang juga Ketua Forum Penyelamat Olahraga (FPOR) Jabar,  bak mendadak (2/12/2018) muncul di ajang Jabar International Marathon (JIM) di Pangandaran. Inilah cuplikan perbincangan blak-blakan betapa ruwetnya (rudet) mengembalikan misi luhur olahraga, bila ditangani oleh pihak yang punya kepentingan lain. Inilah cuplikannya …

 

destinasiaNews (DN) : Maksud kehadiran Anda di ajang ini, adakah tujuan khusus?

 

Eka Santosa (ES) : Resminya, saya diundang sebagai mantan Ketua KONI Jabar itu saja. Sebagai pribadi kecintaan saya pada aktivitas dunia keolahragaan, tidak ada batasnya. Maknanya, ajang olahraga apa pun sejauh demi kemaslahatan dunia olahraga khususnya di Jabar, wajib saya hadiri bila waktunya memungkinkan. Kebetulan hari ini saya sedang mengarah ke Pangandaran. Masa kecil saya pun yang pernah lama tinggal di Pangandaran, bersahabat dengan Ibu Susi (Menteri KKP, Susi Pudjiastuti) sejak 1982, termasuk Pak Bupati Pangandaran sendiri (Jeje Wiradinata) adalah kawan saya sejak lama. Terakhir selaku perintis DOB (Daerah Otonomi Baru), saya bergembira hari ini kabupaten termuda di Jabar, merintis ajang olahraga bertaraf internasional. Ini saya impikan sejak lama bersama kawan-kawan. Apa pun yang terjadi wajib bagi saya hadir di ajang ini. Ingin melihat pelaksanaannya oleh mata sendiri. Tidak dari sekedar kabar orang lain (sambil tersenyum…).

 

DN : Makna wajib itu apa, bisakah dijelaskan?

 

ES : Ini cara yang benar pemerintah merintis ajang olahraga yang bernuansa nasional maupun internasional. Kebetulan pilihannya dunia atletik, ini bisa menjadi dasar pembinaan olahraga terukur di ajang nasional (PON), SEA Games, Asia Games, Olympiade, dan world competitions di berbagai pelosok dunia. misalnya. Kemasannya, mau ada unsur edutainment itu sah-sah saja.Ini kan sesuai dengan tuntutan zaman now, misalnya.

 

DN : Tadi Anda dengan jurnalis lain kami dengar, ajang JIM di Pangandaran bukan sekedar ajang olahraga biasa. Harus juga dikembangkan sebagai destinasi wisata internasional, penjabarannya?

 

ES : Semalam saya berbincang bersama Kadispora Jabar (Yudha M Saputra). Berdiskusi intensif, arahnya sudah benar. Ajang ini memang dibuat multiflier effect, untuk industri kepariwisataan, dan pengembangan ekonomi secara umum. Kebetulan Kang Emil (Ridwan Kamil, Gubernur Jabar) punya visi jauh ke depan dari ajang ini. Makanya, saya hadir di sini, hal seperti ini patut kita dorong. Salah satu jalannya, dari olahraga, lalu ke pengembangan pariwisata dan ke sektor-sektor lainnya, marilah kita dukung.

 

DN : Selama ‘terjun’ di ajang JIM Pangandaran yang dihadiri 1.200-an pelari dari dalam dan luar negeri, adakah pengamatan khusus lainnya?

 

ES : Sangat menarik bagi saya, tadi berbincang sebentar dengan beberapa pelari marathon dari Afrika (Kenya dan Ethiopia). Saya kagum kepada mereka, karena ketekunannya mampu memaksimalkan bakat mereka. Kuncinya, untuk merajai ajang ini di kategori full marathon 42 km bukan karena bakat alam semata, melainkan tekun berlatih.Faktanya, mereka ini sudah merajai di dunia marathon sejak era 1970-an, utamanya. Bayangkan rata-rata di kampung halamannya di Afrika sana, hampir setiap hari 50 km lari sebagai latihan! Punyakah generasi muda kita ethos kerja seperti ini? Contoh nyata untuk generasi kita, ya masa hanya Zohri asal NTB saja yang sukses dari puluhan juta generasi muda kita? Zohri, kita tahu pada Kejuaraan Dunia Atletik Junior U-20 di Tampere , Finlandia (12/7/2018), mampu memecahkan rekor dengan waktu tempuh 10,18 detik. Ia menggunguli dua sprinter Amerika Serikat. Harusnya, bisa menjadi inspirasi generasi muda kita. Saya optimis sprinter asal Pangandaran dan Jabar bisa muncul dari ajang sejenis ini. Kang Emil, rasanya sedang memicu forum ‘Jabar Juara’ agar warga jabar mampu memunculkan keunggulan itu. Saya yakin!

weka1DN : Beralih dari pembibitan atlit tangguh di Jabar dari ajang marathon, peran Anda sebagai Ketua FPOR Jabar berkaitan dengan ‘kasus’ kepengurusan KONI Jabar yang kerap FPOR kritisi, progresnya hingga hari ini?

 

ES : Terima kasih atas pertanyaan ini, Anda kenapa sih selalu menggiring saya mengupas hal yang bikin saya dan kawan-kawan rudet memimirkannya sejak 2014 (ujarnya, dengan sengit sambil diakhiri senyum). Begini ya, progres itu hingga hari ini masih rudet, menurut saya. Titik akhirnya, tinggal Gubernur Jabar sesuai kewenangan menurut UU SKN, UU TNI, dan Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri), segeralah bertindak. Tahapnya sudah gawat darurat, korbannya pengembangan cabang-cabang olahraga dan ribuan anggotanya, mau dibawa kemana pada 2018 – 2022 mendatang?

 

DN : Seberapa gawatkah, perihal kepengurusan KONI Jabar 2018 – 2022 ini ?

 

ES : Duh Anda ini bagaimana, dalam berbagai kesempatan, pikiran dan tindakan saya rasa konsisten –  kembalikan KONI Jabar perannya sebagai lembaga yang mengayomi seluruh jenis aktivitas olahraga dengan benar, tanpa mewilah-wilah, apalagi dengan tricking tertentu. Ini sudah sering saya ungkapkan. Bila penanganan pembinaan olahraga di KONI Jabar, seperti saat ini, saya tak tahu akan seperti apa capaian Jabar Juara itu?

 

DN : Konkritnya, seperti apa untuk ‘rudetnya’ solusi di KONI Jabar itu?

 

ES : Singkatnya begini Bung, bola soal ‘keabsahan’ kepengurusan KONI Jabar 2018 – 2022, kini bola itu secara undang-undang ada di kewenngan Gubernur Jabar. Pelanggaran UU SKN, tepatnya di No. 3  Tahun 2005, berupa jabatan itu ternyata diisi oleh anggota TNI aktif, ini sebuah pelanggaran dan perlu diluruskan.Belum lagi dugaan tata guna keuangan atau dana hibah yang kini sudah masuk ranah hukum di Polda Jabar dan POMDAM III Siliwangi, mau dikemanakan? Tak ada unsur suka dan tidak suka secara pribadi. Segeralah lakukan Musorprovlub yang dilegitimasi oleh Gubernur Jabar dan pihak terkait. Setahu kami, legitimasi Gubernur Jabar dan pihal lainnya, amatlah penting.. Kajian hukum kita sudah transparan, terkadang saya sudah merasa lelah memperoalkan hal ini. Ini dilakukan, semata karena desakan berbagai elemen masyarakat Jabar. Mereka itu, cinta pada kedamaian dan tata aturan yang benar. Ini saja dorongan saya untuk penyelamatan KONI Jabar. Terbukti, pada periode gubernur Jabar sebelumnya, kurang bagaimana saya dan kawan-kawan berusaha membenahinya, namun selalu dijegal dengan berbagai cara. Kali ke dua ini, jangan lagi terulang kasus yang sama. Sudahlah, kini telah  gawat darurat namanya!

 

DN : Kesimpulan singkat atas perbincangan kita kali ini, apa kira-kira?

 

ES : Satu, kembalikan peran olahraga sebagai salah satu pembentuk nation and character building bangsa. Melihat rudetnya di KONI Jabar, FPOR terpanggil untuk menyelamatkannya. Dua, rintisan JIM di Pangandaran adalah cara yang benar menggapai Jabar Juara, lanjutkan! Multi efek dari gelaran JIM, yakin akan memicu dunia kepariwisataan di sini, serta sektor-sektor lainnya. Tiga, contoh nyata, dari beberapa atlet asal Afrika yang berjuang ulet, latihan lari sedikitnya 50 km per hari, patut jadi trigger bagi pembinaan atlet-atlet kita. Persoalannya, generasi muda dan pemerintah kita mau dan mampu tidak? Kompetisi atletik mulai dari tingkat SD harus digalakkan seperti dulu era 1970-an. Tidak ada yang instan untuk meraih prestasi dunia. Empat, kembali ke rudetnya KONI Jabar, saya hanya ingin mendengar langsung dari Pak Gubernur. Lima, Jabar Juara itu jangan hanya sekedar slogan kosong, makanya mari kita isi dengan program nyata, jangan seperti yang sudah-sudah, selalu rudet. Idealnya,  padukan saja untuk pengembangan  olahraga prestasi, dengan pengembanga destinasi wisata kelas dunia. (HS/SF)  

 

Catatan : Artikel ini telah tayang di aksi.co (3/12/2018) dengan judul : Eka Santosa Muncul di JIM Pangandaran, Singgung 'Rudetnya' KONI Jabar


emgz2

Artikel lain...

Subsektor 10-21 Pelihara Bantaran Sungai Dengan Membabat Tanaman Liar

Subsektor 10-21 Pelihara Bantaran Sungai Dengan Membabat Tanaman Liar

destinasiaNews - Para prajurit satgas Citarum Harum dalam mengemban tugasnya untuk mengembalikan ekosistem DAS Sungai Citarum, mereka juga melakukan beberapa...

Berani Beda? Rasakan Kejutan Bukber Ramadhan di THE 1O1 Bogor Suryakancana

Berani Beda? Rasakan Kejutan Bukber  Ramadhan di THE 1O1 Bogor Suryakancana

destinasiaNews - Tidak terasa bulan Ramadhan hanya tinggal beberapa minggu saja. Saat bulan Ramadhan, tentu saja momen yang paling dinantikan...

Rohim, Koeliling Bandoeng Pikoel Kerorpoek Djadoel – Ta’ Lengket di Lidah

Rohim, Koeliling Bandoeng Pikoel Kerorpoek Djadoel – Ta’ Lengket di Lidah

DestinasiaNews – Selakoe djournalist pinggiran jang ta’ mampoe hatsilkeun reportage ‘kekinian’ jang bernas, sekali tempo sewaktoe penoelis mengaso di seboewah...

Aksi Simpatik Pramuka Jabar Dalam Pengawasan Partisipatif Pemilu 2019

Aksi Simpatik Pramuka Jabar Dalam Pengawasan Partisipatif Pemilu 2019

DestinasiaNews – Di tengah pelaksanaan Pemilu 2019 di seluruh Indonesia, Pramuka Jabar diterjunkan sesuai fungsinya dalam Pengawasan Partisipatif Pemilu 2019....

Kelompok ‘Tujuh Ruang’ Aries Budi H - Wujudkan Wisata Kreatif, Komunitas Bandung, Bersatulah

Kelompok ‘Tujuh Ruang’ Aries Budi H - Wujudkan Wisata Kreatif, Komunitas Bandung, Bersatulah

destinasiaNews – Adalah Aries Budi Hartanto, Ketua Kelompok ‘Tujuh Ruang’, ditemani Donny Armando Rozalie, Penasihat Kelompok ‘Tujuh Ruang’, serta Indra...

Pengunjung

03197642
Hari ini
Kemarin
3338
4485