PHRI Jabar Menggelar Rakerda Ke 3 Di Karawang

PHRIdestinasiaNews - Perhelatan Rapat Kerja Daerah (rakerda)ke 3 PHRI JAWA BARAT diselenggarakan secara maraton pada tanggal 17 dan 18 Januari di Kabupaten Karawang diikuti oleh 25 Badan Pimpinan cabang diseluruh kota/kabupaten Jawa Barat dengan mengambil tema “Peluang dan Tantangan Industri Hotel dan Restauran Tahun 2017”.

Diawali kegiatan Welcome Dinner di Dewi Air Resto & Karaoke, Ketua BPD PHRI Jawa Barat, Herman Muchtar mengatakan PHRI mengapresiasi dan memberikan penghargaan tinggi adanya dukungan Dari Pemkab Karawang dalam acara Rakerda ke 3 PHRI Jawa Barat.

“Sebagai Ketua BPD PHRI Jawa Barat, sangat apresiasi kepada Ketua PHRI Kabupaten Karawang, Gabryel Alexander yang selama ini melakukan kemitraan dengan Pemkab Karawang secara intensif mengawal perda kepariwisatan No. 18 tahun 2016,”ujar Herman dalam kata sambutannya. Hal tersebut sangatlah diperlukan, lanjut Herman, agar para pelaku usaha akomodasi dan pariwisata dapat terlindungi dan nyaman berinvestasi.

Rakerda ke 3 PHRI Jawa Barat ini dihadiri oleh Ketua PHRI Pusat, Haryadi Sukamdani dan Ketua KADIN Jawa Barat, Agung Suryamal Sutisno Sekda Karawang, Drs Teddy Rusfendi Sutisna hadir dalam rangka mewakili Bupati Karawang, dr. Celica Nurachadiana yang berhalangan hadir, memberikan arahan sekaligus promosi beberapa destinasi wisata dan ajakan untuk berinvestasi di Kabupaten Karawang. Dalam kesempatan yang sama Sekda memberikan pengharagaan dan dukungan kepada PHRI Karawang yang telah memberikan kontribusi dalam peningkatan PAD di Pemkab Karawang

Rangkaian kegiatan di Hari Pertama Rakerda ke 3 PHRI Jawa Barat selanjutnya adalah penandatanganan MoU PHRI dengan LMKN tentang Tarif Royalti Hotel dan Fasilitas Hotel, penyerahan Sertifikat Laik Operasi (SLO) khusus pemakaian genset dan Penyerahan Sertifikat Usaha Hotel.

Hari kedua Rakerda ke 3 PHRI Jawa Barat digelar di Restoran Sindang Reret, Karawang menghasilkan beberapa keputusan yang strategis diantaranya pengesahan Tata Tertib Rakerda, penyampaian Laporan Pelaksanaan Program Kerja BPD PHRI Jabar 2016 dan pembahasan Rancangan Program Kerja BPD PHRI Jabar tahun 2017.

Beberapa keputusan startegis di dihasilkan dalam Rakerda diantaranya adalah mendorong Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat untuk mencari solusi terbaik dalam meguraikan kemacetan yang parah di daerah Puncak, Bogor maupun di daerah akses menuju Lembang. Begitupun dengan perlunya Moratorium Perijinan Hotel di daerah-daerah Kota/Kabupaten yang sudah berlebihan, misalnya keberadaan hotel yang ada di Kota Bandung. Selain itu, upaya pengawasan atas perubahan fungsi apartemen menjadi opersional seperti hotel yang di sewakan setiap hari.

Menjadi catatan penting dari hasil sidang pleno untuk mendorong peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara ke Jawa Barat, sehingga dibutuhkan peranan pemerintah pusat dengan adanya percepatan perbaikan pada infrakstruktur menuju destinasi wisata agar program kerja yang telah disepakati dalam Rakerda ke 3 PHRI Jabar berkesinambungan.

Rakerda ke 3 PHRI Jawa Barat diakhiri dengan mengajak peserta kegiatan city tour mengunjungi destinasi wisata Candi Jiwa & Candi Blandongan, dilanjutkan melihat Pantai Tanjung Pakis yang indah untuk menarik wisatawan domestik & mancanegara berkunjung ke Kabupaten Karawang.(FH)


Add a comment

Dr. Ir. Anton Leonard SP, MM, Sekjen HNSI – Dosa Besar Meninggalkan Maritim !

HNSI 1 CopyDestinasiaNews Suasana berbeda, dan lebih hangat terpancar dari biasanya di Sekertariat DPD HNSI (Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia) Jawa Barat Jl. Dago Pakar Barat No. 9 b Bandung. Hari itu (27/12/2016) kedatangan tamu istimewa Dr. Ir. Anton Leonard SP, M.M, Sekretaris Jenderal DPP HNSI. Bertindak selaku tuan rumahnya H. Nandang Permana, Ketua DPD HNSI Jawa Barat beserta jajarannya. Hadir di antara jajaran pengurus DPD HNSI Jawa Barat: Hj. Liya Marahayu, Peranan Wanita; H. Idat Mustari, Urusan Kelembagaan; H. Agus Warsito, Bendahara; dan Dadan, Sekjen Koneli (Koperasi Nelayan Indonesia). “Kehadiran Pak Anton, semoga bisa memperluas wawasan demi implementasi sejumlah program,” kata Liya yang punya beberapa paket rencana untuk pemberdayaan keluarga nelayan.

 

Menerawang lebih jauh materi ujaran dari Anton Leonard, kembali Ia mengingatkan, kita hidup di negara maritim atau kepulauan.”Dua pertiga luas negara terdiri atas laut, yang terjadi masih berpikir seperti negara daratan. Ini fatal, dosa besar kita”.

 

Anton Leonard memaparkan hal di atas, sambil mengilustrasikan ada yang a historis dalam perjalanan sejarah bangsa:“Era pemerintahan Presiden Soekarno pada tahun 1966/67, kala itu konsep kemaritiman sempat tersenggal. Lalu era 32 tahun ada Orde Baru. Nasib kelautan kita dilupakan. Baru pada era Jokowi, diingatkan kembali soal poros maritim dunia”.

 

HNSI sebagai Jembatan

 

Lebih menarik, tatkala Anton Leonard memaparkan bahwa eksistensi HNSI sejak 1973 di negeri ini –“Boleh dikatakan sebagai jembatan bagi pembangunan kita yang harus berorientasi ke kelautan. Basisnya bottom up jangan top downseperti sekarang ini”.

 

Menimpali hal di atas, Nandang Permana seakan diingatkan tentang pentingnya HNSI berperan lebih membumi di Jawa Barat.”Budaya pesisir harus kita pertajam. Lainnya, program penyebaran nelayan Pantura dan Jabar Selatan untuk dikembangkan di Natuna dan Maluku, jangan sekedar wacana. Masalahnya, pemerintah harus menjamin keberlangsungan program ini secara serius”.    

HNSI 2 CopyPada pihak lain, ambisi Nadang Permana ini yang didukung jajarannya dalam konteks mengembangkan 157 ribu nelayannya yang 70% berada di Pantura Jabar: ”Ke depan ingin sekali nelayan ditingkatkan kualitasnya dalam banyak hal, mulai kelengkapan infrastruktur, alat dan teknik tangkap, sistem ekonomi dan perkoperasian, kepelabuhanan (TPI), termasuk penerapan teknologi budi daya dan tangkap ikan. Bila perlu mulai menggunakan fish finder”.

 

Tak kalah pentingnya dalam diskusi ringan ini kembali Anton Leonard, memungkas bahwa selama republik ini mengayomi rakyatnya yang sekitar 17 juta populasinya bergerak di kenelayanan: ”Belum pernah ada sensus nelayan dilakukan. Ini penting untuk pembuatan keputusan dalam pembangunan”.

 

Sementara itu Eka Santosa, Ketua Umum Gerakan Hejo yang selama ini banyak bersentuhan aktivitasnya di antara nelayan Pantura dan Selatan Jabar, mengetahui bahasan diskusi ini, menyatakan: ”Sesungguhnya, nelayan di Jabar masih perlu perkuatan dalam banyak segi. Peranan Dinas Perikanan dan Kelautan Jawa Barat, masih bisa ditingkatkan dari segi anggaran maupun keberpihakannya. Ini sejalan dengan visi dan misi Gerakan Hejo dalam hal memakmurkan penduduk melalui budaya dan perbaikan lingkungan hidup. Benar, kita berdosa bila melupakan peranan nelayan”. (HS/SA/dtn).  

Add a comment

Senator DPD RI Eni Sumarni Terkait Kasus PT CSI, Rakyat Kecil Harus Dipriortaskan

DTN ENY CopyDestinasiaNews – Melanjut upaya Forkoma (Forum Komunikasi Anggota) KSPPS BMT CSI  (Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah - Baitul Maal Wat Tamwil - Cakrabuana Sukses Indonesia), yang sejak 20 dan 21 Desember di Bandung berkunjung ke DPRD Jabar, Kantor Regional 2 OJK Jabar, dan terakhir ke Kantor Dewan Perwakilan Daerah  (DPD) RI Sekda Prov. Jabar di Jl. Mundinglaya No. 12 Bandung. Mereka, puluhan orang yang tergabung pada Forkoma CSI,  korban dari sengkarut pembekuan rekening per 29 November 2016 milik KSPPS BMT CSI Syariah Sejahtera, oleh Bank Mandiri atas permintaan Bareskrim Mabes Polri, sejak beberapa hari lalu tinggal “mengungsi” di Alam Santosa Pasir Impun Bandung – kediaman Eka Santosa, tokoh Jabar yang konsen terhadap budaya dan lingkungan hidup.

 

“Bersyukur hari ini (22/12/2016) bisa bertemu Ibu Eni Sumarni secara langsung di Saung Perjuangan Rakyat Sumedang”, tutur Hari Suharso, koordinator Forkoma CSI, melalui saluran telepon yang sehari sebelumnya beserta rombongannya kala berkunjung ke kantor Eni Sumarni  di Bandung diterima staf ahlinya.

 

Secara terpisah Eni Sumarni melalui telepon kepada redaksi memaparkan hasil pertemuan dengan Forkoma CSI (22/12/2016). Intinya, Ia di Saung Perjuangan Rakyat Sumedang telah menampung keluh kesah korban kasus PT CSI:”Terlepas dari persoalan hukum yang sedang ditangani pihak berwenang, silahkan persoalan hukum ini dituntaskan. Nah, soal masyarakat korban kasus ini harus ditangani dengan paripurna. Mereka itu korban, kita patut menolongnya”.

 

Lebih lanjut menurut Eni Sumarni yang berjanji akan melakukan pendekatan khusus ke pihak terkait, menyangkut penahanan M Yahya dan Iman Santosa (25/11/2016) selaku direksi PT CSI:”Ke pihak Bareskrim pun akan saya lakukan upaya untuk kejelasan status hukum, juga ke pihak terkait lainnya”, kata Eni Sumarni yang seingatnya pada tahun 2013-an pernah diundang dan menghadiri sebuah acara Koperasi CSI di Cirebon – “Saat itu saya sempat mengapresiasi aktivitas koperasi yang tampak transparan, modern, dan berbasis on line. Mungkin saja mencuat kasus ini, ada unsur persaingan bisnis. Ini hanya perkiraan saya”

 

Eni Sumarni ditanya kembali bagaimana menyelesaikan kasus ini yang sedikitnya melibatkan anggota 15. 964 orang setara 60.000 jiwa beserta keluarganya, juga diduga sejak tahun 2000-an menghimpun dana anggotanya lebih dari Rp. 2 T, mereka diiming-imingi bunga 5% per bulan, di antaranya? Menurutnya, di samping langkah hukum teruslah berjalan, pesimisnya pun Ia ungkapkan:”Ingat saja kasus BLBI dan Bank Century, hingga kini apa kabar?”

 

Menutup pembicaraan ini dengan Eni Sumarni, Ia mewanti-wanti dengan penuh rasa keibuan:”Duh, kasihan sekali rakyat kecil selalu jadi korban dari modus operandi usaha seperti ini. Hikmahnya harus kita petik praktik perbank-an dan koperasi harus super cermat diawasi dan dibina pihak berwenang. Siapa pun mereka, penyelamatan rakyat kecil diprioritaskan”. (SA/HS/dtn)

Add a comment

Temu Wicara Gerakan Hejo dengan Dirjen Kebudayaan Kemendikbud – Ada Nafas yang Sama

DTN KEMENDIKBUD 1 CopyDestinasiaNews – Bertempat di Gedung E lantai 10 Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud Jl. Jenderal Sudirman, Jakarta, rombongan Gerakan Hejo mengadakan temu wicara dengan pihak tuan rumah (1/11/2016). Mewakili Dirjen Kebudayaan,  Hilmar Farid, rombongan Gerakan Hejo diterima oleh Sri Hartini, Direktur Direktorat Pembinaan Kepercayaan Terhadap Tuhan YME dan Tradisi. Mendampingi Sri Hartini, hadir di antaranya Mula Sinaga, Kasubdit Program, Evaluasi, dan Doumentasi; Sri Guritno, Kasubdit Komunitas Adat; dan Meta, Subdit Seni Pertunjukan. 

Eka Santosa, Ketua Umum Gerakan Hejo yang juga sebagi Duta Sawala (Sekertaris Jenderal) BOMA (Baresan Olot Masyarakat Adat) Jawa Barat, dalam kesempatan ini memaparkan kiprahnya selepas Ia tak lagi aktif sebagai Ketua Komisi ll DPR (2004 – 2009). Kini Ia lebih fokus bergerak di seputar pendampingan masyarakat adat dan lingkungan hidup:”Kecintaan saya ke warga adat yang termarginalisasi dalam hak-hak dasar mereka, juga kiprah di lingkungan hidup, sejatinya sudah lama saya lakukan. Usai tak di legislatif lagi, bersama sesepuh Jabar Solihin GP, lebih leluasa bergerak bersama komponen warga lainnya”, papar Eka dalam penjelasan sekilas kegiatannya yang mayoritas dilakukan secara swadaya. 

Menanggapi paparan Eka, Sri Hartini dan jajarannya mengapresiasi:”Peran Kang Eka di Gerakan Hejo dan BOMA Jabar, tak ada beda dengan yang telah kami lakukan. Ia telah menjadi drive yang significant bagi pembinaan bangsa, terutama masyarakat adat”,  ujar Sri Hartini yang menyatakan ke depan banyak hal yang dapat disinergikan. 

DTN KEMENDIKBUD 2 CopySecara terpisah Agus Warsito, Sekjen Gerakan Hejo mengemukakan optimisme di masa depan program Gerakan Hejo dan BOMA Jabar yang berintikan pada pemberdayaan masyarakat di bidang ekologi, ekonomi, dan edukasi:”Termasuk kerjasama di bidang seni pertunjukan untuk tahun 2017 ke depan, nanti dibahas lebih intens”. 

Pertemuan ini diprakarsai oleh “Astro” Rizki Ramdani, Hubungan Antar Lembaga Gerakan Hejo dengan inisiasi Agung dari Penabulu Alliance yang berbasis di Jakarta:”Anggaplah ini sebagai introduksi antar dua lembaga. Untuk masa depan tampaknya terbuka kemunginan kerjasama di bidang pengembangan hak ulayat masyarakat adat, pemberdayaan seni pertunjukan, termasuk pengembangan ekonomi rakyat”, ujar Agung yang didampingi rekannya Indah Arnaelis.

Reaksi dari Paris  

Menariknya Harri Safiari, Humas Gerakan Hejo sesaat pertemuan ini usai melaporkan hasil pertemuan ini ke rekannya “Ambassador Gerakan Hejo di Eropa”, Saladin Belhacel yang telah bertemu langsung dengan Wakil Delegasi Tetap RI untuk UNESCO, Tubagus Ahmad Fauzi Soelaeman pada tahun 2016, Ia menyambut gembira atas peristiwa ini.

Diketahui Saladin bersama Abah Sahari, Olot dari Kanekes Baduy sekitar  Februari 2016 telah diterima secara pribadi oleh Puun di Baduy Dalam  – Tujuannya Kawasan Baduy didaftarkan sebagai World Heritage ke UNESCO dari Indonesia. Setelahnya, Saladin bersama Gerakan Hejo melakukan seminar tersendiri dengan para antropolog dari UNPAD Bandung. “Kita teruskan lagi rintisan Saladin kawan kita di Eropa. Ia begitu peduli pada  warga Baduy. Gerakan Hejo sudah menyurati soal ini ke Gubernur Provinsi Banten dan Bupati Lebak, sayang ta berbalas …”, tambah Eka dengan wajah sedikit muram.  

Kembali, dari pertemuan ini menurut Agus Warsito:”Tadi ada nafas yang sama. Ini sambil dirintis kerjasamanya dengan Kemendikbud, sekaligus untuk pendaftaran ke UNESCO. Bisa kita mulai lagi …”, tutupnya. (HS/SA/dtn)

DTN KEMENDIKBID 3 Copy

Add a comment

Eksistensi Alumni Menwa Mahawarman Yon XI UPI Dirundung Galau – Alumni Jangan di Kotak-Kotakkan

 

Markas Komando Batalyon XI UPI

DestinasiaNews - Keluarga besar Menwa Batalyon XI UPI menghadiri Silaturahmi Anggota dan Temu Alumni yang diselenggarakan oleh Komandan Menwa Yon XI UPI, Urai Ramadhani, di Markas  Komandonya,  Sabtu (10/9/2016).

Selain anggota aktif, tentu hadir para alumni yang sudah bertahun-tahun terbilang jarang bertemu muka. Alumni yang hadir itu di antaranya Sukendi, Asep Muso, Harisman, Herman Eka Permana, Dadang SM,  Moh. Huzainal, Dadang Jumara, M. Umar Djani Martasuta, M. Hatta, Nurshanda Rizki, Harri Safiari dan beberapa lainnya.  Sayangnya, hari itu Ketua Korps Menwa Yon XI UPI (alumni - red), Enjang Mulyana yang kini menjabat sebagai Camat Batununggal Kota Bandung tidak bisa hadir, sehubungan harus mendampingi Walikota Bandung dalam kegiatan Performance Art dan Art Perform di Jalan Terusan Martanegara Bandung. "Salam untuk semuanya, semoga silaturahmi di antara kita tetap terjalin ke depannya".

Selain silaturahmi, kegiatan ini menjadi ajang konsolidasi bagi seluruh anggota organik (anggota aktif) dengan para alumni. Banyak hal yang dibincangkan dalam pertemuan langka ini.  “Saya baru ngeuh, ternyata Menwa dulu sangat menarik riwayatnya”, kata Evi Yuliany anggota angkatan 43 tahun 2014.

Materi penting yang dibicarakan salah satunya tentang eksistensi organisatoris alumni Menwa Batalyon XI UPI.  Diketahui dewasa ini sejak reformasi 1998 ada berbagai organisasi ke-alumni-an, seperti IARMI, KMI, KONAS, KOCADNAS, dan lain sebagainya. “Kita harus kembali membentuk tim penyusun sejarah Menwa Batalyon XI, nantinya akan diterbitkan dalam majalah MILITAN edisi selanjutnya.  Maksudnya biar keluarga besar kita paham,” ujar Umar Djani Martasuta (Komandan Menwa Yon XI UPI era 1977-1979) dengan penuh kepenasaran.

Secara terpisah salah satu alumni yang tak sempat hadir, Popo Sumpena yang kini bertugas di kota Serang Provinsi Banten, ketika dimintai komentarnya tentang “kondisi galau” atas banyaknya wadah alumni Menwa saat ini, menyatakan : ”Yah, kita mah, jangan ikut-ikutan galau lah. Benar seperti kata rekan alumni lainnya, benahilah alumni kita secara internal di lingkungan UPI saja”.

Urai Ramadhani Komandan Batalyon 1975 1977

Komandan Menwa Batalyon XI UPI, Urai Ramadhani, dalam kesempatan ini sempat berujar :  ” Tugas yang harus saya selesaikan sekarang sebagai pimpinan di ksatrian Menwa Batalyon XI UPI Periode 2016-2017, cukup banyak.  Antara lain perencanaan Diksar (Pendidikan Dasar – red.).  Selain itu, legalitas tempat yang kita duduki atau Mako (Markas Komando – red.).  Bersama Wakil Komandan, Hendriano Meggy, tengah memproses surat hak guna pakai bangunan ini ke Rektor UPI ”.

Bahasan lain yang tak kalah menarik mengenai atribut Menwa, induk Menwa mengarah kemana, fungsi dan peran dari induk Menwa, pelurusan sejarah Menwa, dan kedudukan serta isi Surat Keputusan Bersama 3 Menteri (Menteri Pertahanan, Menteri Pendidikan Nasional dan Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah Republik Indonesia) Nomor : KB/14/M/X/2000, 6/U/KB/2000, 39 A Tahun 2000, Tentang pemberdayaan dan pembinaan Resimen Mahasiswa dalam Bela Negara.

Moh. Huzainal, salah satu alumni Menwa Yon XI UPI (Komandan Menwa Batalyon XI UPI era 1975-1977) ikut berkomentar :  “Alumni Menwa itu intinya bebas memilih mau memakai atribut seperti apa ? Namun bagi anggota Menwa itu sendiri, harus punya pendirian kuat ! Anggota Menwa berhak melakukan apa pun, selama tidak melanggar isi dari SK.”

Galau...

Poto bersama di depan Markas Komando UPI

Yang jelas, sekarang ini tugas para alumni, mendukung anggota organik dalam segi sarana dan prasarana.  Nah, bagi anggota aktif (organik) itu silahkan fokus pada kekuatannya.  Kumpulkan personil sebanyak-banyaknya guna mempertahankan eksistensi Menwa di dalam maupun di luar kampus,” sahut Herman Eka Permana (Komandan Menwa Yon XI UPI era 1990-1991) yang sengaja hadir dari Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.

Perihal galaunya, mana ? Nah, ini dia yang dimaksud galau itu tak lain begitu banyaknya organisasi kealumnian di lingkungan Menwa sejak bergulir reformasi di negeri ini tahun 1998.  “Nampaknya, ada kekuatan tertentu yang ingin mengkotak-kotakkan kealumnian Menwa dari seluruh perguruan  tinggi.  Saran kami, fokuslah kita ke kealumnian di lingkungan Batalyon Xl ”,  tutup Harri Safiari,  Wadan Menwa Yon XI UPI era 1981 – 1982.

Yang unik, usai pertemuan para alumni ini ada di antara beberapa anggota aktif  berseloroh :  “Menwa jangan dibingungkan oleh alumni”. Silahkan ditafsirkan ujaran dari anggota Menwa aktif ini. Tampaknya kegalauan itu sudah mereka rasakan.  “Mau dibawa kemana alumni Menwa ? ” (‘Azmi/dtn)

Add a comment


emgz2

Artikel lain...

Horison Hotels Group Gelar GM's Conference, Menangkap Perubahan Pasar

Horison Hotels Group Gelar GM's Conference, Menangkap Perubahan Pasar

destinasiaNews - Sebuah pertemuan yang dihadiri para GM (General Manager) yang datang dari pelosok Nusantara di lingkungan Horison Hotel group...

IKA SPGN 1 Bandung Bantu Sosialisasikan Mitigasi Bencana ke Sekolah-sekolah

IKA SPGN 1 Bandung Bantu Sosialisasikan Mitigasi Bencana ke Sekolah-sekolah

DestinasiaNews - Sosialisasi Mitigasi Bencana sejak dini dipandang sangat perlu dilakukan di lingkungan sekolah, terutama Sekolah Dasar. Apa lagi akhir-akhir...

Wow, Rektor Unpad & Produsen Aquatec Petik Hasil Maksimal Panen Budidaya Kerapu di Pangandaran

Wow,  Rektor Unpad & Produsen Aquatec Petik Hasil Maksimal Panen Budidaya Kerapu di Pangandaran

destinasiaNews - Boleh dibilang kegiatan produktif ini nyaris tak banyak orang tahu, padahal ini merupakan 'giant step for Indonesian's development'....

Jadi Juri Unjuk Kabisa Wanoja Jajaka Budaya Jabar, Eka Santosa - Kembangkan Budaya Kita

Jadi Juri Unjuk Kabisa Wanoja Jajaka Budaya Jabar, Eka Santosa - Kembangkan Budaya Kita

destinasiaNews - Boleh dikata ini penampilan tokoh Jabar Eka Santosa yang sedikit tak 'lazim' akhir-akhir ini? Gerangannya kali ini penuh dengan...

Gerai GORO DAYUNG di Bandung Munculkan Antusiasme Peserta Munas ISMI ke-2

Gerai GORO DAYUNG di Bandung Munculkan Antusiasme Peserta Munas ISMI ke-2

destinasiaNews - Sejumlah peserta Musyawarah Nasional (Munas), Ikatan Saudagar Muslim se-Indonesia (ISMI) ke-2 di Hotel Grand Asrilia Bandung, pada Sabtu,...

Pengunjung

02668963
Hari ini
Kemarin
878
5032