Gunung Bohong Tebarkan Jiwa Semangat Kujang Papasangan

Gunung Bohong

DestinasiaNews- Gunung Bohong di Kota Cimahi, Jawa Barat akhir-akhir ini kerap menjadi bahan bincangan di tengah warga masyarkat Kota Cimahi dan daerah lainnya. Memang, di gunung itu sedang berlangsung progres pembangunan monumen Kujang Papasangan, seperti yang terlihat Senin 6 Juni lalu. Hari itu beberapa anggota TNI disertai warga masyarakat nampak tengah bergotong-royong mempercantik akses jalan ke puncak gunung yang berlokasi di Lapangan Tembak Brigif 15 Kujang II Cimahi ini.

Selama ini masyarakat umum yang sering berkunjung ke lokasi tersebut hanya mengenal Gunung Bohong sebagai tempat wisata yang sifatnya rekreatif saja. “Padahal gunung itu bernilai sangat sakral, terutama bagi para anggota Brigif 15 Kujang II. Di puncak gunung itulah tempat dilangsungkannya prosesi pembaretan berlambang Kujang. Dan Kujang itu adalah identik dengan budaya Sunda,” tutur Adhitiya Alam Syah, sesepuh Lingkar Alam, salah satu pemrakarsa pembangunan monumen tersebut.

kujang1

“Apa yang tengah berlangsung di gunung itu merupakan upaya konservasi yang tidak hanya menyangkut lingkungan hidup, tapi juga berkenaan dengan Kujang itu sendiri yang disakralkan oleh masyarakat Sunda,” lanjut pria yang akrab disapa Abah Alam ini. “Pembangunan monumen Kujang Papasangan itu merupakan bagian dari konservasi sebagai pelestarian dan pemuliaan nilai-nilai filosofis Kujang,” kata Abah Alam saat dijumpai di syukuran ulang tahunnya yang ke-79 tanggal 26 April lalu di kediamannya.

“Dari gunung inilah jiwa dan semangat Kujang sebagai identitas budaya Sunda akan terpancar ke seluruh Nusantara, seiring dengan medan tugas pasukan Kujang I dan Kujang II yang tidak bisa dilepaskan dari perjalanan sejarah Kodam 3 Siliwangi,” tegas Abah Alam.

Upaya Konservasi ini pun mendapat apresiasi dari Panglima Kodam 3 Siliwangi, salah satu Kodam di Indonesia yang akrab dengan semboyan “Siliwangi adalah rakyat Jawa Barat, rakyat Jawa Barat adalah Siliwangi.” “Monumen Kujang ini tidak hanya menginspirasi Siliwangi tapi juga menjadi inspirasi bagi rakyat,” sambut Mayjen TNI Nugroho Budi Wiryanto yang disampaikan oleh Danrem 062/Tn Kolonel Inf Muhamdad Muchidin, S.Sos, di Brigif 15, Cimahi (01/06/21).

Di tempat terpisah Kepala Dinas Sejarah Angkatan Darat (Disjarahad) Brigjend TNI DR Rachmat Setia Wibawa S.I.P, M.M, M.Tr (Han) jugamengapresiasi Abah Alam atas prakarsanya menggalang masyarakat dan komunitas lainnya untuk membangun konservasi ini. Berkenaan dengan monumen Kujang, menurutnya, memang dalam upaya meningkatkan jiwa semangat korsa nama kesatuan senantiasa diambil dari kekhasan tradisi setempat. Monumen ini membuat masyarakat Jawa Barat semakin bangga memiliki Brigif 15 dan Brigif 17 yang juga berasal dari Jawa Barat.

“Salah satu arti dari Kujang ini adalah lambang keadilan dan kebenaran dan para prajurit Kujang ini memang bisa meneladani nilai-nilai dari apa yang dijadikan lambang kesatuannya,” pungkas Rachmat Setia Wibawa.

Tidak lama lagi, dari gunung legendaris sebagai ikon Kota Cimahi ini tersebar jiwa semangat Kujang Papasangan yang dikemas dalam balutan konservasi,edukasi dan juga destinasi wisata. dtn/ar.-

GB02

GB03

Add a comment

Tapak Komunitas Langkah di Destinasi Jelajahnya

KL02e

DestinasiaNews - Jelajah alam bebas dan bersepeda semakin menunjukkan peningkatan minat dan aktivitasnya di masyarakat, justru di saat terkondisikan protokol kesehatan karena adanya pendemi covid 19.

“Boleh jadi ada kesadaran di masyarakat bahwa di alam bebas kita bisa mendapatkan udara segar dan kenyamanan alami yang konon bisa menguatkan tubuh serta daya imun kita,” tutur Poedji Irawan, pupuhu Komunitas Langkah ketika dijumpai dalam satu jelajah langkanya di Sanghyang Heuleut, kawasan Citarum Purba, Rajamandala, Kabupaten Bandung Barat akhir Maret lalu.

Wisata alam memang tidak pernah kehilangan pesona dan peminatnya. “Dalam setiap penjelajahan kami juga malakukan edukasi kepada para peserta berkenaan dengan histori geologinya setiap tujuan penjelajahan,” sambung Poedji. Rupanya tidak hanya itu yang dilakukan oleh KL dalam setiap kegiatannya. Di Sanghyang Heuleut, misalnya. Komunitas Langkah yang lahir 28 April dua tahun lalu itu juga melakukan edukasi kepada para pemuda setempat untuk ikut berperan memanfaatkan potensi wisata alam dengan membentuk Kelompok Sadar Pariwisata (Pokdarwis) yang kini sudah bisa membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah tersebut.

KL04e

Selain itu pula, menurut Poedji Irawan yang juga pelukis dan desainer tas kulit itu, ada kalanya beberapa peserta Komunitas Langkah yang memiliki kepedulian terhadap kondisi masyarakat di tujuan penjelajahannya. Ke Sanghyang Heuleut waktu itu juga mereka membawa titipan beberapa anggotanya berupa bantuan untuk merehabilitasi bangunan yang biasa digunakan belajar mengaji anak-anak di salah satu perkampungan di sana. “Ada juga bantuan lain yang diserahkan seperti sarung, mukena dan buku-buku pelajaran mengaji,” lanjut Poedji.

Para peserta komunitas yang juga dimotori artis balada Ferry Curtis ini memang terdiri dari berbagai kalangan mulai dari pelajar, mahasiswa, professional, aparatur sipil sampai dengan para seniman yang tergabung dalam Institut Drawing Bandung.

“Yang dilakukan komunitas ini disadari atau tidak merupakan upaya mewujudkan apa yang sempat disampaikan oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Repiblik Indonesia di era Jero Wacik, ” kata Adi Raksanagara, seorang jurnalis yang kerap mengamati perkembangan kebudayaan dan kepariwisataan. “Waktu itu pemerintah sudah menyatakan bahwa bidang pariwisata itu bukan dunia ekslusif yang hanya dimiliki pemodal besar saja,” lanjut Adi ketika dijumpai di Festival Ramadan Kampoeng Tjibarani di Cibarani, pinggir Sungai Cikapundung Bandung akhir pekan lalu.

KL01

Masih di era orba itu saja sebetulnya sudah dicetuskan, bagaimana pariwisata, terutama wisata alam, dapat diandalkan menjadi bagaian dari upaya mengikis kemiskinan. “Pengembangannya dilandasi juga dengan konsep dasar pro poor, pro job dan pro growth,” tegas Adi Raksanagara.

Isu tentang pariwisata mengikis kemiskinan ini juga sempat muncul di Diskusi Ekowisata Citarum yang diselenggarakan oleh Forum Diskusi Ekowisata DAS Citarum 18 Maret lalu. Meski tak banyak terbahas namun muncul pendapat bahwa Wisata Alam itu sepantasnya digratiskan tapi hal-hal yang menyangkut amenity destinasinya memberikan keuntungan ekonomi kepada masyarakat lokal sekitarnya. dtn/H.Safiari.-

 

KL03

KL1

logo kl

 

Foto: Y. Harsono - Nugraha Mukti - Adiraksa.

 

Add a comment

Wisata Pasir Pogor Desa Mekarwangi Yang Mempesona

IMG 20210320 093542
destinasianew - Sebagai kabupaten yang memiliki banyak industri, kabupaten Bandung juga merupakan sebuah kabupaten yang memiliki banyak wisata yang bisa digunakan untuk berlibur di akhir pekan dan salah satu tempat yang asik untuk menikmati keindahan lanscape alam desa wisata adalah Bukit Pasir Pogor yang terdapat di desa Mekarwangi kecamatan Ibun.
 
Bukit Pasir Pogor ini juga menjadi satu lokasi dengan Bukit yang memiliki pemandangan indah seluas 360 derajat sejauh mata memandang.
IMG 20210320 093555 
Kepala desa Mekarwangi Haji Ndut juga yang menggagas dibukanya potensi wisata Pasir Pogor ini terus melakukan pembangunan fasilitas wisata agar pengunjung dapat menikmati alam Bukit Pasir Pogor dengan nyaman.
 
Hanya saja jika untuk ke puncak bukit  kita musti berjalan kaki terlebih dahulu sejauh 800 meter, atau dengan kendaraan roda dua anda langsung tiba di tempat ini. Silahkan anda biktikan sendiri untuk menikmati keindahan pesona wisata bukit Pasir Pogor.[red]
Add a comment

Denyut Peradaban Ci Tarum dalam Kilasan , Jelang Memperingati Hari Air Sedunia 22 Maret,

New Picture 3

DestinasiaNews - Sungai Citarum mengalir dari hulu kehilir setiap detik masih menyapa kita semua, dibalik keprihatinan yang semakin besar tentang kelestarian sungai ini. Sampai hari ini sungai yang kini dikenal dengan nama Citarum masih tetap menebarkan kasih sayangnya memberikan kecukupan air bagi kebutuhan sehari hari masyarakat Jawa Barat dan sekitarnya. Dibalik fakta air sungai yang mengalami penurunan kualitas, sungai ini masih setia dengan cerita historis yang menginspirasi sebagai peran penting dalam membangun peradaban manusia.

Diyakini, saat Kerajaan Tarumanagara berkuasa (358-669 M), dibawah kekuasaan Raja Purnawarman tahun 419 M untuk memperdalam Sungai Citarum sebagai sungai terbesar diwilayah kerajaan Tarumanegara yang menjadi penunjang majunya masyarakat saat itu.

Menyusuri Sungai Citarum selalu menjadikan kita terhubung dengan masa lalu. Cerita tentang bagaimana sungai ini menyaksikan para manusia luhur yang menempatkan keberlanjutan sumber daya alamnya diatas segala galanya, selalu menggugah semangat kita membangun kembali keberlanjutan sungai ini. Jejak historis itu menjadi penuntun kita agar bersama sama memahami dan memberikan kontribusi bagi upaya untuk mengembalikan ekosistem sungai secara bertahap, membangun kesadaran kolektif tentang keberadaan sungai, membangun kesepahaman antar pemangku kepentingan yang tinggal di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum, dan menjadikan Citarum ini sebagai pusat inspirasi tentang keluruhan budaya bangsa.

Candi Jiwa TB

Mari kita bahu membahu mewujudkan ini semua. Kita bangun legacy terhadap sungai ini sehingga menjadi sejarah baru yang memperkaya perjalanan sejarah bagi generasi sekarang dan yang akan datang.

Keberadaannya sebagi pusat Kerajaan Tarumanagara terletak di tepi sungai. Meski, tak diketahui persis letaknya. Namun, berdasarkan temuan arkeologi, lokasi kerajaan berada di muara Citarum. dan menjadi pusat peradaban manusia, sebagai salah satu sumber air untuk memenuhi kebutuhan warga yang bermuara di muara gembong, sekarang sedang banyak dibenahi, maka berbagai upaya agar Sungai Citarum memberikan kontribusi kelestarian bagi Sungai Citarum. Sejarah menerangkan bahwa, sejak ratusan tahun keberadaan Sungai Citarum tidak dapat dilepaskan dari dinamika denyut nadi masyarakat Jawa Barat dan sekitarnya.

curug jompong TB

Sampai jumpa di Situ Cisanti, Kilometer 0 Ci Tarum 22 Maret 2021 Dtn/ar.-

foto: Titi Bactiar.

Add a comment

Curug Tenjong, Air Terjun Perawan yang Belum Terjamah

ciwidey3

DestinasiaNews – “Sorosooott…. Gurawil!” Seperti yang dikisahkan reporter Indriyo Morgen berikut ini.

Belum pernah sedeg-degan itu terperosok dari jalan setapak kecil dan menggurawil di pinggir jurang. Di bawah, sekira 30 meter Sungai Cileuleuy yang mengalir kearah Curug Tenjong siap ‘menangkap’ tubuh yang jatuh. Beruntung, teman-teman rengrengan Desa Ciharashas, Kec.Cipeundeuy, Kab.Bandung Barat, ketat mengawal, sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Itulah secuplik kisah perjalanan pulang dari Curug Tenjong, yang jalan baik dari sisi utara maupun selatannya untuk menuju lokasi, sama-sama riweuh. Karena fokus pada pijakan, sampai khawatir fokus akan terbagi antara dokumentasi dan tisoledat ke jurang. Ya sudah, saya memilih mengamankan kamera dan HP dengan tidak membuat dokumentasi, saat perjalanan menuju lokasi curug. Kalaupun harus kamera yang jadi korban, tetep mahal juga kan?

Curug Tenjong adalah air terjun ‘perawan’ di Desa Ciharashas, Kecamatan Cipeundeuy, KBB. Sama sekali belum ada sarana dan prasarana wisata. Saat musim hujan seperti saat ini, jalan setapak menuju lokasi dipenuhi rumput liar, malah di beberapa tempat ditumbuhi eurih. Lokasinya diapit lereng tebing bukit. Dua lereng ini, memiliki jalan setapak menuju lokasi. Dari arah selatan, rute mengambil jalur jalan lama menuju Cirata. Jalannya sekarang sudah menjadi sawah dan kebun. 300 meter dari ujung jalan kampung, tekuk kanan menuju lembah, jalan setapaknya lumayan licin saat musim hujan. Jalur ini akan bertemu dengan setapak dari jalur utara, setelah menyeberang sungai.

ciwidey1

Untuk jalur ke dua, dari arah utara, kita bisa tempuh dari pesawahan Kampung Santri Ciharashas di Kampung Tugu. Setelah dua petak sawah belok kiri menyusur galengan. Diujung pesawahan kita turuni lembah. Jalurnya lebih rumit karena jalan setapak kecil, Sebagian berair imbas limpasan mata air yang mengalir dari bebatuan dinding lembah. Dengan curah hujan yang tinggi, rumput liar cepat tumbuh sehingga beberapa puluh meter jalan setapak sudah tertutupi rumput. Pada perjalanan Jumat (12/2) lalu, guide kami membawa parang untuk sekedar membersihkan rumput yang sudah menghalangi jalan setapak. Kebayang yah, sudah lut lét kesang, karena setapak yang naik turun, harus fokus pula pada pijakan dan jeli mengikuti melihat arah jalan setapak, meski sudah dipenuhi rumput. Kalau tidak sehat mental dan badan, yakin da, sudah balik kanan di setengah perjalanan.

Begitu sampai di lokasi, kita akan berdecak kagum, air mengalir di tebing batu kokoh, menjulang sekira 60 sampai 70 meter. Lebar sekira 15 meter. Dan ini sangat menantang para pelancong adventure. Untuk wall climbing danlLatihan rescue sangat mumpuni dan cukup berat medannya, sehingga dipastikan perlu alat-alat pendakian tebing yang standar untuk menaikinya. Cuma jangan dikira bisa duduk nyaman berada di lokasi. Kanan kiri, tanaman keras rimbun di kemiringan 70 derajat. Untuk turun ke landasan air terjun, belum ada tétécéan. Jadi lumayan sorodot gubrak mah wajar yah. Tetep asyik kok. Malah seru euy. Yang hebat, Kades Ciharashas, Japar Sidik. Dengan tangan kosong, ia menunjukan kepiawaianya merayap di tebing air terjun sampai ke puncak. Itu pula yang membuat semua orang tercengang dan deg-degan. Saat bertemu kembali di jalan setapak jalur pulang, komen saya cuma dua kata, “Edaaannn, Pak!” Beliau hanya tertawa saja melihat ekspresi wajah saya yang kagum, reuwas dan pasti khawatir.

“Kalau ada apa-apa abdi janten saksi utama kang. Pan yang ngajak ke sini he he,” kata saya berbisik pada Pimpinan Pontren Al Mutaqien, Iman Saepulloh, yang turut mendampingi rombongan ke lokasi.

Kades Ciharashas, Japar Sidik menuturkan, pihaknya tengah merancang Curug Tenjong menjadi salah satu destinasi wisata melengkapi status wisata relijius Kampung Santri. Di Kampung Santri sendiri, ada spot yang instagramable, yaitu pesawahan sekitar Kampung Tugu yang cukup luas bisa jadi tempat trekking dengan suasana desa yang bikin nyaman. Terlebih view di belakang pesawahan sangat indah dengan pegunungan dan lembah, serta hijaunya hutan serta pesawahan di bukit dan sawah bersengked di desa tetangga.

Rencana ini sudah dimusyawarahkan dengan pihak Pontren Al Mutaqien, warga dan Bumdes, serta stake holder lainnya, yang menyambut baik upaya membangun desa wisata di Ciharashas ini.dtn/indriyo.m.-

ciwidey4+ciwidey5

Add a comment


emgz2

Artikel lain...

Menteri KLH Paparkan Pembangunan Kota Ramah Lingkungan untuk Kendalikan Perubahan Iklim pada Ministerial Meeting G20

Menteri KLH Paparkan Pembangunan Kota Ramah Lingkungan untuk Kendalikan Perubahan Iklim pada Ministerial Meeting G20

destinasiaNews - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya hadir secara virtual bersama Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral...

Pertumbuhan Harga Properti Australia Melampaui Prediksi Awal

Pertumbuhan Harga Properti Australia Melampaui Prediksi Awal

  Secara Nasional Selama 18 Bulan Terakhir Harga Rumah Tapak 4 – 12% Lebih Tinggi Dibandingkan Prediksi Awal, Sementara Harga...

Gebrakan Selama Masa PPKM : THE 1O1 Flash Sale ! Pay 1 Night, Get 1 Night Free

Gebrakan Selama Masa PPKM :  THE 1O1 Flash Sale ! Pay 1 Night, Get 1 Night Free

destinasiaNews– Hotel THE 1O1 Bogor Suryakancana menghadirkan promo THE 1O1 Flash Sale!! Pay 1 Night, Get 1 Night Free dengan penawaran...

Pemerintah Singapura Kembali Kirim Bantuan Medis Untuk Indonesia

Pemerintah Singapura Kembali Kirim Bantuan Medis Untuk Indonesia

destinasiaNews - Pemerintah Singapura melalui Kedubesnya di Indonesia kembali mengirimkan bantuan medis seberat 40 ton untuk Indonesia dalam hal ini...

Terkait Podcast ‘EKATANYA’, Perupa Umar Sumarta: 3 D, Pesta Demokrasi 2024 dan Seterusnya

Terkait Podcast ‘EKATANYA’, Perupa Umar Sumarta: 3 D, Pesta Demokrasi 2024 dan Seterusnya

destinasiaNews - Rupanya, the ‘true story’ dari tokoh Jawa Barat, Eka Santosa, saat  ini (12/7/2021) di kediamannya di Kawasan Eko...

Pengunjung

07172081
Hari ini
Kemarin
1902
5254