Jelajah Kota Menjelang Seabad Gedong Cai Tjibadak 1921-2021

tjibadak4

DestinasiaNews - Masih tentang heritage di seputar Bandung yang tak pernah habis cerita. Satu lagi di antaranya adalah apa yang sekarang dinamai Gedong Cai Tjibadak atau dikerenin dengan nama Tjibadak Waterleiding. Dari penamaan bahasa Belanda inilah boleh jadi sebagai cikal bakal penamaan kawasan Lédeng hingga saat ini.

Dilihat dari pembangunannya di tahun 1921, usia instalasi penyadapan air tanah ini sudah mencapai usia 100 tahun dan masih berfungsi. Dalam rangka itulah kami merilis tulisan ini. Kita lihat, bagaimana warga Kota Bandung yang merasakan manfaatnya sehari-hari sampai sekarang memperingatinya.

Di bulan Agustus dan September 2020 tempat ini sempat dikunjungi oleh Wakil Wali Kota Kota Bandung Kang Yana Mulyana terkait rencana Pemkot Bandung membuka akses jalan menuju kawasan tersebut. Menurutnya, Kawasan Gedong Cai Tibadak dapat dimanfaatkan sebagai ruang publik, akan tetapi perlu ditunjang dengan akses jalannya yang baik.

tjibadak1

Bagi peminat wisata heritage memang untuk berkunjung ke lokasi ini tidak banyak menyita waktu. Dari terminal Ledeng kita bisa mengikuti jalan di sebelah terminal, Jalan Sersan Surip. Tidak sampai 45 menit berjalan kaki kita bisa mencapainya melalui jalan yang biasa dilalui warga sekitar. Di 500 meter terakhir kita baru menjumpai kawasan menghutan yang banyak terdapat dapuran pohon bambu dan kawung. Selebihnya pepohonan heterogin, alang-alang dan kebun sayuran.

Akses jalan setapak di situ memang mendatar hanya kita harus agak waspada terhadap rerumput liar yang menghalangi lintasan, salah-salah kaki bisa tersangkut dan membuat kita tersungkur. Utamanya setelah kita melewati Curug Ledeng yang mempunyai 7 curugan itu. Kawasan ini juga terdapat saung dan merupakan spot menarik untuk istirahat sejenak sambil melepas pandangan ke perbukitan hijau sampai ke Gunung Batu Lembang.

Perjalanan menuju Gedung Cai di awal Juni lalu itu memang mengasyikkan dengan pemandangan hijau dan kenyamanan termal yang bisa kita rasakan. Hanya di sekitar komplek Gedung Cai inilah terasa kebersihan lingkungan yang kurang terawat. Di beberapa sudut nampak sampah daun kering berserakan dan rerumput perdu yang terkesan liar, mengurangi “kharisma” ketangguhan gedung berusia seabad itu. Seperti juga di “gardu” yang tidak jauh dari gedung itu yang dikelilingi semak, sehingga kita tidak bisa memastikan di mana letak pintu masuknya.

Ada juga tampungan air yang jernih berupa bak keramik dan bisa kita manfaatkan untuk membersihkan diri atau keperluan toilet. Toiletnya sih masih terlihat darurat, hanya sekadarnya saja.

Jika udara cekungan Bandung sedang cerah, dari gedung itu kita bisa melepas pandangan hingga ke Gunung Malabar di selatan sana. Kerimbunan pepohonan di situ sangat memungkinkan adanya kehidupan fauna liar, seperti burung elang yang sempat kami lihat terbang rendah di sekita Gedung Cai. Dari sekelompok pemuda yang bernama CAI (Cinta Alam Indonesia), kami mendapat informasi bahwa di Sungai Cipaganti yang berada di lembah selain memiliki daya tarik curug tujuh juga adanya ikan sapu-sapu bule dan keuyeup beurum.

Keberadan komunitas ini padahal bisa juga dimanfaatkan untuk menjaga kebersihan dan keasrian lingkungan sekitar Gedong Cai, bahkan bisa juga diajak memandu wisata seperti ketika menyertai kami ke kawan itu 5 Juni lalu. Selebihnya mereka dapat dibina dalam hal hospitality dan amenity yang kelak dapat memberi benefit bagi warga lokal baik secara sosial maupun ekonominya. Wawasan literasi mereka tentang keberadaan Gedung Cai itu memang sangat membantu untuk mendalami kesejarahan instalasi penyadapan air tanah tersebut.

tjibadak23

Kita tunggu saja, bagaimana penataannya, seperti yang disampaikan Kang Yana tahun lalu itu. Dan juga bagaimana cara warga Bandung utara ini memperingati seabad keberadaan penyadapan air Tjibadak 1921, tepatnya di bulan Desember nanti.

Konon di tahun 1918 di Bandung sempat terjadi adanya wabah yang menimbulkan penyakit kulit. Di saat itu pula Bandung yang dipimpin Bertus Coorps mulai melakukan upaya pencarian sumber air baru yang bisa dimanfaatkan. Setelah ditemukannya titik sumber air Tjibadak dan séké lainnya di tempat itu dibangunlah instalasi pendistribusian air tanah itu yang kemudian dikenal dengan nama Gedong Cai.

Seperti ada kesamaan kondisi dengan apa yang sedang kita hadapi sekarang ini, setelah seabad Gedong Cai itu dibangun. Kita juga sekarang sudah memasuk tahun kedua adanya wabah Corona yang dikenal dengan nama virus Covid 19.Apa boleh buat! dtn/adi raksanagara.-

tjibadak22

 

Add a comment

DHC BPK 45 Dukung Usulan DPRD Kota Bandung Bangun Jalur Sepeda Tematis Kesejarahan

budaya bersepesa2

DestinasiaNews - Pemerintah Kota Bandung memang sudah konsen terhadap upaya membangun budaya bersepeda. Hal ini diungkap Wakil Wali Kota Yana Mulyana pada acara Seminar Membangun Gerakan Budaya Bersepeda yang diselenggarakan Dishub Kota Bandung di Hotel Grandia Jalan Cihampelas Rabu 21 April lalu. Seminar tersebut menghadirkan pembicara Poetoet Soedarjanto (Ketua Bike to Work Indonesia) dan Asep Kurnia, S.Sos, M.Si(Kabid. Perencanaan dan Pembinaan Transportasi Dishub Kota Bandung).

Dalam sambutan pembukaanya Yana Mulyana menyatakan, “Kami akan buktikan hingga menghasilkan keuntungan, mengurangi kemacetan sampai polusi." Lebih lanjut pria yang kerap disapa Kang Yana ini berharap, “Semoga selain untuk hiburan bersepeda juga dapat menjadi moda transportasi untuk kegiatan sehari-hari.

budaya bersepesa3

Pada acara itu pula ada usulan dari Ketua DPRD Kota Bandung, Tedy Rusmawan. Tedy mengakui bahwa bersepeda itu menjadi solusi dari beberapa masalah di kota metropolitan seperti Kota Bandung, seperti polusi dan kemacetan bisa dikurangi dengan bersepeda. Di Bandung ada beberapa permasalahan sebagai kota urban seperti macet dan lingkungan. “Salah satu solusinya adalah membudayakan sepeda di tengah masyarakat," ujar Tedy.

Komunitas dan Pemkot Bandung bisa berkolaborasi untuk menyusun peraturan daerah agar pengguna sepeda bisa semakin baik. " Kita diskusikan juga jalur sepedanya yang punya nilai sejarah," usulnya.

Usulan Ketua DPRD Kota Bandung tersebut rupanya disambut baik oleh Nana Suhana, SE.MM sebagai Ketua Dewan Harian Cabang Badan Penerus Kejuangan 45 (DHC BPPK45). “Itu usul yang bagus sekali,” ujarnya ketika dijumpai di sekretariat DHC BPK 45 Kota Bandung di Jalan Aceh No. 4. “Kita perlu dukung usulan Kang Tedy Rusmawan ini. DHC BPK 45 siap membantu mewujudkan usulan Ketua DPRD ini sesuai kapasatis yang dimiliki,” lanjutnya.

Menurut Nana, sosialisasi Jiwa Semangat Nilai-nila ’45 ini perlu diimplementasikan dalam berbagai kegiatan masyarakat. Di Kota Bandung ini banyak lokasi rangkaian pertempuran selama perjuangan revolusiyang kita sebut sebagai Palagan Bandung Lautan Api. Setidaknya di beberapa koasi yang dimaksud kini sudah ditandai dengan adanya sepuluh stilasi di berbagai sudut kota. “Beberapa di antaranya pun kurang terawat. Hal ini bisa terjadi karena masih ada sebagian warga Kota Bandung yang tidak mengetahui apa yang melatar-belakangi keberadaan stilasi-stilasi tersebut,” tutur Nana.

nana suhana2

Dengan adanya jalur sepeda tematis kesejarahan nilai-nilai juang ‘45, para pengguna sepeda bisa mendapatkan sosialisasi serta edukasi bahwa di beberapa titik kota ini terdapat “ruh” para pemuda pejuang Bandung yang selayaknya kita hormati dan juga kita lestarikan semangatnya. Bisa saja di beberapa titik transit lintasan jalur sepeda terdapat informasi singkat tentang peristiwa pertempuran tertentu berupa plakat atau stilasi baru. “Teknisnya bisa dilanjut oleh yang berwenang. Intinya kami sangat mendukung dan siap membantu terwujudnya usulan Ketua DPRD Kota Bandung tersebut,” pungkas Nana. dtn/ar.-

Foto: Humas Bandung, Gambar Doeloe.-

Add a comment

Indigo Suka Dengar "Takbir" di Jalan Lengkong

Cikawao3

DestinasiaNews Peristiwa ini teringat seketika, saat ada bincangan dengan seorang “indigo” beberapa waktu lalu. Dia bilang, setiap melewati Jalan Lengkong suka mendengar suara takbir bersahut-sahutan. “Seperti banyakan,” tegasnya. Ada apa gerangan? Ini bukan kisah klenik, tapi teringat juga apa yang terjadi di seputar jalan itu di masa-masa perjuangan mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan 1945. Adakah hubungannya?

Menurut beberapa artikel sejarah perjuangan di Bandung yang pernah saya baca, di seputar lokasi itu memang terdapat sebuah monumen perjuangan untuk mengenang pertempuran heroik yang sering disebut-sebut sebagai :Battle of Tjikawao.” Di bawah monument itu tertulis “Pengorbanan kami demi Nusa, Bangsa dan Agama.” Semakin jelas, di situ pernah terjadi pertempuran dahsyat yang mengakibatkan banyak korban baik dari para pemuda pejuang Bandung dan juga pihak lawan di awal Desember 1945.

Cikawao2

Kisah itu teringat kembali ketika ada juga ajakan sahabat saya Harris Fratello untuk mengheningkan cipta dengan mengirimkan foto kulunu ontelnya di sekitaran Monumen Cikawao, Bandung.

Awal pertempuran tersebut dipicu oleh banyaknya rakyat biasa yang diberondong senjata mesin di seputar Hotel Homann yang kala itu dijadikan “markas” serdadu sekutu. Peristiwa yang terjadi 25 November 1945 itu memang bukan suatu pertempuran. Rakyat ketikas itu tengah menyelamatkan diri dari serangan banjir bandang Sungai Cikapundung, namun tiba-tiba diberondong senjata mesin. Boleh jadi ini karena adanya provokasi NICA dan tidak bisa membedakan mana rakyat biasa dan pemuda pejuang kita kala itu.

 Para pejuang pun mengatur rencana pembalasan. Mereka terdiri dari pasukan Hizbullah, TKR (Tentara Keamanan Rakyat), Laskar Pejuang Republik dan pasukan dari Bataloyon II Soemarsono. Kekesalan para pejuang Bandung kala itu ditambah lagi dengan keputusan penguasa sekutu yang membagi wilayah Bandung jadi dua bagian,sehingga pasukan kita harus “menyingkir” ke selatan.

Dalam suasana “kekesalan” seperti itu tentara Ingris menyerbu kawasan Lengkong. Tentara sekutu yang diboncengi NICA itu menyerang dengan dalih untuk membebaskan bangsa Eropa yang ditawan Jepang di kawasan tersebut. Saat itulah perlawanan dahsyat terjadi. Sekutu mengerahkan pasukan tank dan “Gurkha” dibantu rentetan senjata dan bombardir pesawat tempurnya. Pasukan pejuang Bandung pun tak juga urung melawan dalam peretempuran yang berlangsung hinggap belasan jam itu dengan persenjataan seadanya, golok pun jadi. Korban berjatuhan dari kedua belah pihak tidak bisa dihindarkan.

Itulah sebebanya untuk mengenang peristiwa tersebut digambarkan pada monumen yang pertama dibangun di Cikawao, sebilah golok tertancap pada senjata mesin. Dan tak heran juga ketika seorang indigo itu mengisahkan pendengaran “ghaibnya tentang suara takbir bersahutan di sekitaran itu beberapa waktu lalu. Tulisan ini setidaknya mengingatkan kepada siapa pun, terutama warga Bandung, bahwa di kawasan Lengkong, Cikawao hingga Ciateul itu terdapat “ruh” kejuangan para pahlawan Bandung yang selayaknya kita kenang sampai kapan pun. dtn/ar.-

 

Cikawao1

Add a comment

Taman Maluku, Taman Kenyamanan Termal

taman maluku bw

 Catatan napak tilas Adi Raksanagara.

DestinasiaNews - Taman Maluku, taman yang dikitari Jalan Saparua, Ambon dan Jalan Aceh di Kota Bandung ini sejak dulu memang menyejukkan. Selain banyak pohon rindang, ada juga kolam dan parit menambah keasriannya. Ada juga jejak sejarah kolonial dengan adanya patung pastor. Tapi, kenyamanan termal yang bisa didapat dari taman itu terkontaminasi oleh konotasi buruk, terutama di kalangan warga kota ini yang mengenal taman itu sampai tahun 90-an.

Apa boleh buat Taman Maluku kala itu di malam hari pernah dipakai tempat mangkal para “waria,” setelah tempat mangkal terdahulunya di Kebon Raja (sekarang Taman Dewi Sartika/Balai Kota) diobrak-abrik.

Taman Maluku di dekade pertama tahun 2000 mulai terlihat “cantik.” Trauma waria di lokasi itu sedikit demi sedikit sirna karena diramaikan “sentra kuliner” yang banyak dikunjungi wisatawan dan juga warga lokal . Dan, para waria itu entah kemana.

Sebagian besar wrga Bandung pun hingga kini masih ada yang “alergi” apabila mendengar nama taman itu. Saya pernah berkantor di komplek Taman Maluku itu, tepatnya di komplek lapangan tennis Pelti, citra waria itu masih juga langgeng. Busyet dah!

taman maluku4

Padahal, bangsa Belanda pernah menjuluki taman ini sebagai “Taman Surga” dan di taman itu pula dibangun patung Henricus Christiaan Verbraak, seorang pastor berkebangsaan Belanda yang konon dia sendiri belum pernah menjalankan kepastorannya di Bandung. Namun bangsa Belanda memilih lokasi Taman Maluku untuk mengabadikan jasa-jasa kepastorannya di beberapa daerah di Indonesia. Keberadaan patung Verbraak di Taman Maluku merupakan upaya para tentara Belanda yang memang kediaman resmi komandan militernya (kini Markas Kodam 3 Siliwangi), terletak di seberang patung tersebut. Patung itu digarap seniman Belanda G.J.W. Rueb.

Saya sendiri masih terlekat kenangan atas keberadaan taman itu. Selain selalu saja merasakan sensasi horror di sekitar taman itu, ada juga kenangan manis di masa anak-anak. Awal kenangan itu ketika di tahun awal 1960an saya dikenalkan kepada sebuah buku berjudul “Ekspedisi Kontiki.” Koleksi buku ayah saya memang sukup banyak satu di antaranya adalah buku ini. Waktu itu saya sendiri belum begitu bisa membaca, hanya mengamati gambar-gambarnya saja yang ada di buku itu.

Belakangan saya tahu bahwa buku itu mengisahkan petualangan Thor Heyerdahl, seorang antropolog berkebangsaan Norwegia yang ingin membuktikan teorinya sendiri bahwa bangsa Polynesia berasal dari benua Amerika; bukan dari Asia Tenggara yang disebut-sebut para antropolog lainnya. Heyerdahl bersama 5 anggota timnya menempuh jarak sekira 7.000 kilometer di Samudera Pasifik dari Peru ke Tahiti selama 3 bulan lebih di tahun 1947.

Yang membuat tertarik dari buku Kontiki itu adalah keberanian Heyerdahl yang menggunakan perahu (rakit) kuno untuk menjelajahi samudara itu. Bentuk perahunya serupa rakit dengan “saung” berdinding gedek. Rakitnya itu sendiri terbuat dari batangan pohon kayu yang diikat rapat. Hal itu yang saya kagumi. Rupanya salah seorang kakak saya juga tertarik, sampai-sampai dia membuat tiruan rakit Kontiki ini dari bambu dan layarnya dari kain seadanya. Jadilah mainan asyik ketika itu karena belum teralami jaman gawai. Tentu saja saya senang waktu itu.

Lebih menyenangkan lagi aya diajak untuk melayarkan perahu mainan itu di kolam yang ada di Taman Maluku. Taman Maluku dari rumah saya memang tidak begitu jauh. Jalan kaki pun tidak akan sampai memakan waktu 30 menit, apalagi waktu itu belum begitu banyak kendaraan yang lalu lalang di sepanjang perjalanan.

Setiba di kolam Taman Maluku ada juga beberapa anak dan pemuda yang tengah bermain perahu-perahuan. Semua gembira. Kami saling puji hasil hasta karya perahu-perahuan itu. Tidak saling ejek. Jadilah petemanan. Ada yang datang dari Cihaurgeulis, Sekeloa dan yang dari Cicadas pun ada. Saya sendiri dari Ciliwung. Kelihatannya juga semua perahu mainan saat itu buatan sendiri. Sederhana saja. Tapi kami merasa bebas bermain dan gembira di pinggir kolam itu. Kegembiraan tanpa lelah di taman itu bisa jadi timbul karena produksi oksigen di tempat itu memang tinggi. Suasana di tengah kenyamanan termal seperti ini yang bisa membangun otak kita bekerja positif dan kreatif.

Kenangan itu tetiba muncul ketika sahabat onthel saya mengirimkan foto-foto Taman Maluku yang dia kunjungi, masih menggunakan sepeda Raleigh kesayangannya, beberapa hari lalu. Sayang, dari foto kiriman Pak Harris Fratello ini kelihatannya pinggir kolam itu dipagari dengan kokoh. Maksudnya apa ya? Pagar itu dihilangkan boleh ga ya? Kalau perlu ada juga binatang yang senang di air seperti angsa atau bebek di situ.

Sedih juga, belakangan ini kita tidak bisa sebebas dulu bermain dan bergembira di taman ini. Kalau saja kegembiraan ini bisa dimunculkan kembali, tanpa perlu trauma dengan konotasi waria itu, tentunya kita bisa menikmati kenyamanan termal dari rindangnya pepohonan di taman ini. Unsur alami yang menyehatkan di taman itu pun cukup komplet, ada tanah, rumput pepohonan, satwa dan juga air. Oksigennya banyak.

taman maluku7

Sesekali silakan coba, berkunjung ke Taman Maluku untuk menikmati kesegaran bioklimatik di taman ini. Jika sedang santai, bisa ameluang waktu sambil melupakan gawai, bisa juga membaca buku dengan santai. Kalau saja masih ada di antara kita yang “alergi” di taman itu lantaran ingat bancinya, boleh jadi “kerusakan bukan pada pesawat televisi anda.” dtn.-

Add a comment

“Saksi Bisu” Pertempuran Waringin 1946

Pertempuran Waringin2

DestinasiaNews- Tak banyak diketahui, memang. Konon di satu titik tiang listri di Jalan Kelenténg, Bandung, kita masih dapat melihat sisa-sisa Battle of Waringin. Pertempuran di Waringin merupakan salah satu rangkaian heroik Palagan Bandung yang juga turut menentukan kemenangan Perjuangan Revolusi ’45 Republik Indonesia.

Beberapa bulan sebelum meletupnya peristiwa Bandung Lautan Api, para pejuang Bandung dari berbagai satuan seperti Polisi Tentara, TKR, Laskar Wanita (Laswi) dan juga pasukan republik lainnya tak henti “mengganggu” tentara sekutu dan juga pendomplengnya, NICA.

Pasukan Inggris yang diperkuat tentara asal India (Sikh), pasukan ini suka disebut Gurkha, dengan bantuan tank pula berhasil menerobos Ciroyom melalui Jalan Arjuna. Mereka merangsek ke Waringin, lokasi dimana pos Polisi Tentara berada di sekitar Kebon Jati. Mereka tidak tinggal dan melakukan perlawanan. Terjadilah pertempuran sengit yang dicatat dalam Sejarah Perjuangan Batalyon I Resimen VIII sebagai Peretempuran Waringin.

Pertempuran Waringin3

Unit-unit kecil dari batalyon itu tersebar dan menghadang gerak maju tentara sekutu di beberapa titik perlawanan di kawasan tersebut. Serbuan dari utara Jalan Kelenténg dihadang oleh sekelompok kecil dari Kompi I pimpinan Kopral Soma dibantu Laswi. Serbuan dari Pasar Andir dihadapi oleh Kompi III yang dipimpin Kapten Sukanda.

Aih, ada juga tentara sekutu yang merangsek ke Saritem, namun mendapat perlawanan dari 1 regu pimpinan Sersan Nandang dan Sersa Salikin. Sementara Laswi siaga di Gang Sukamanah. Pertempuran ini pun mencatat sejarah amarah Laswi sampai-sampai ada “Gurkha” sial yang terpenggal kepalanya oleh seorang anggota Laswi bernama Willy.

Pertempuran semakin merebak. Sebagian pasukan Kompi IV yang dipimpin Letnan Burhan dan Letnan Sujono lewat Jalan Industri bergerak sampai ke dekat Kali Citepus. Sementara Letnan Maripto bersama pasukannya yang bertahan di Ciroyom rupanya mampu menyerbu musuh dari belakang. Kegigihan pasukannya pun berhasil melumpuhkan tank.

Serangan balik para Pasukan Republik dari berbagai penjuru ini berhasil mendesak mundur tentara sekutu sampai terkepung di Waringin. Dalam kondisi terkepung tersebut tentara sekutu lalu dibantu serangan dari Angkatan Udara Inggris, Royal Air Force. Dengan bantuan serangan udara itu mereka bisa meloloskan diri, mundur sambil membawa korban-korbannya.

Berdasarkan catatan sejarah ini Dewan Harian Cabang Badan Penerus Kejuangan 45 (DHC BPPK45) Kota Bandung bersama Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Pertanahan dan Pertamanan (DPKP3) dan juga Legiun Veteran RI (LVRI) Kota Bandung berencana mengabadikan peristiwa Pertempuran Waringin ini dengan membangun stilasi di kawasan itu, dengan titik stilasi di tiang listrik Jalan Kelenténg sebagai “saksi bisu” pertempuran tersebut.

“Kami juga akan mengajukan permohonan kepada PLN agar mengamankan tiang listrik yang bersejarah itu,” kata Ketua DHC BPPK45 Kota Bandung, Nana Suhana, SE.MM, ketika jumpa di kantor Legiun Veteran RI Kota Bandung, Jalan Aceh, Rabu (15/07/20). “Jangan sampai tiang listrik itu diganti oleh tiang beton,” lanjutnya. Memang, tiang listrik itu kini masih terlihat kokoh dan berfungsi meski sedikitnya ada 9 lubang yang diduga bekas peluru nyasar di Pertempura Waringin 74 tahun lalu.

“Selain di Jalan Kelenténg, masih ada lokasi yang juga memiliki catatan sejarah Palagan Bandung dan perlu dibangun stilasinya,” kata Nana. Sementara menunggu realisasi rencana tersebut, DHC BPPK45 Kota Bandung senantiasa melakukan sosialisasi pemeliharaan stilasi yang sudah ada dan tentang tiang listrik di Jalan Kelenténg tersebut akan dilakukan survey yang lebih akurat berkenaan dengan perannya senagai “saksi bisu” Battle of Waringin. (dt/ar)

Pertempuran Waringin4

Add a comment


emgz2

Artikel lain...

Menteri KLH Paparkan Pembangunan Kota Ramah Lingkungan untuk Kendalikan Perubahan Iklim pada Ministerial Meeting G20

Menteri KLH Paparkan Pembangunan Kota Ramah Lingkungan untuk Kendalikan Perubahan Iklim pada Ministerial Meeting G20

destinasiaNews - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya hadir secara virtual bersama Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral...

Pertumbuhan Harga Properti Australia Melampaui Prediksi Awal

Pertumbuhan Harga Properti Australia Melampaui Prediksi Awal

  Secara Nasional Selama 18 Bulan Terakhir Harga Rumah Tapak 4 – 12% Lebih Tinggi Dibandingkan Prediksi Awal, Sementara Harga...

Gebrakan Selama Masa PPKM : THE 1O1 Flash Sale ! Pay 1 Night, Get 1 Night Free

Gebrakan Selama Masa PPKM :  THE 1O1 Flash Sale ! Pay 1 Night, Get 1 Night Free

destinasiaNews– Hotel THE 1O1 Bogor Suryakancana menghadirkan promo THE 1O1 Flash Sale!! Pay 1 Night, Get 1 Night Free dengan penawaran...

Pemerintah Singapura Kembali Kirim Bantuan Medis Untuk Indonesia

Pemerintah Singapura Kembali Kirim Bantuan Medis Untuk Indonesia

destinasiaNews - Pemerintah Singapura melalui Kedubesnya di Indonesia kembali mengirimkan bantuan medis seberat 40 ton untuk Indonesia dalam hal ini...

Terkait Podcast ‘EKATANYA’, Perupa Umar Sumarta: 3 D, Pesta Demokrasi 2024 dan Seterusnya

Terkait Podcast ‘EKATANYA’, Perupa Umar Sumarta: 3 D, Pesta Demokrasi 2024 dan Seterusnya

destinasiaNews - Rupanya, the ‘true story’ dari tokoh Jawa Barat, Eka Santosa, saat  ini (12/7/2021) di kediamannya di Kawasan Eko...

Pengunjung

07172102
Hari ini
Kemarin
1923
5254