Menjenguk Saksi Bisu Pertempuran di Waringin Bandung

harrisfratello2

DestinasiaNews - Bertepatan dengan Hari Jadi Ke-75 Kodam 3 Siliwangi 20 Mei lalu Harris Fratelo dan Edi, keduanya pegiat Paguyuban Sapedah Baheula Bandung, menggowés ontelnya ke seputar Jalan Kelenteng, Kota Bandung. Mau apa mereka ke Kelenteng?

Harris yang juga aktif di DHC BPK 45 (Dewan Harian Cabang Badan Pembudayaan Kejuangan 45) Kota Bandung itu ingin memastikan bahwa di Jalan Kelenteng tersebut masih terdapat sisa-sisa pertempuran para pejuang Bandung sebagai cikal bakal Pasukan Siliwangi. “Kita jenguk. Apakah masih ada atau bagaimana nasibnya?” tutur Harris. Memang, hingga saat ini belum nampak ada tanda-tanda atau monument/stilasi yang mengingatkan masyarakat adanya “saksi bisu” pertempuran sengit di Jalan Kelenteng yang pernah terjadi.

Harris dan Edi memilih hari di tanggal 20 Mei dalam rangka turut memperingati Hari Ulang Tahun Ke-75 Kodam 3 Siliwangi. Peristiwa Pertempuran Waringin itu sendiri terjadi di bulan Januari 1946, beberapa bulan sebelum terjadinya Bandung Lautan Api dan lahirnya Kodam 3 Siliwangi. Para pejuang Bandung itu juga masih sebagai anggota TKR (Tentara Keamanan Rakyat) sebelum berubah menjadi TNI. Pertempuran Waringin ini tercatat dalam Sejarah Perjuangan Batalyon I Resimen VIII.

Baca juga “Saksi Bisu” Pertempuran Waringin 1946

Saksi bisu yang dimaksud itu berupa tiang listrik yang sudah puluhan tahun berdiri di tempat itu. Sedikitnya ada 2 tiang listrik yang sampai sekarang masih nampak berdiri meski berlubang-lubang, bekas tumbukan peluru nyasar, berondongan senjata mesin dari tank tentara sekutu. Letaknya di sisi timur jalan, sebrang sebuah toko swalayan. Ada juga rumah bergaya kuno yang masih utuh dan apabila ditilik-tilik terdapat beberapa lubang yang sepertinya bekas tumbukan peluru.

harrisfratello5

Harris dan Edi menyenderkan ontelnya ke tiang listrik itu, lalu merapatkan bendera merah putih ke tiang tersebut, seolah menyampaikan kabar kepada para pejuang itu bahwa perjuangan dan pengorbanan mereka tidak sia-sia. Sang Saka merah putih sudah berkibar bebas tidak hanya di Bandung tapi juga di seluruh Indonesia. Tidak lupa Harris dan Edi sejenak mengheningkan cipta dan berdoa untuk para arwah pahlawan, cikal bakal Pasukan Siliwangi itu.

“Setidaknya di bawah tiang listrik ini kami bisa mengheningkan cipta dan mendoakan arwah para pejuang yang dulu berperang di kawasan ini,” ujar Harris. Selain itu, mereka juga mengingatkan para pedagang kaki lima di sekitarnya agar ikut menjaga keutuhan tiang listrik yang bernilai sejarah tersebut, karena di lokasi itu belum nampak adanya monumen atau stilasi yang berkaitan dengan peristiwa pertempuran di Waringin antara pejuang Bandung dengan Pasukan Inggris yang dibantu tentara Gurkha (Sikh) saat itu.

Harris dan Edi juga berharap agar segera adanya perhatian dari dinas terkait di pemerintahan Kota Bandung yang berkenan membuat monumen atau stilasi di bawah tiang listrik itu. “Warga Kota Bandung harus tahu dan menghormati lokasi itu, bahwa di sekitar itu ada aura ruh para pejuang Bandung yang sudah rela berkorban jiwa raganya untuk apa yang sudah kita nikmati di zaman merdeka ini,” pungkas Harris. (ar/dtn).-

harrisfratello4

rumah kelenteng

Add a comment

Kawargian ABAH Alam Membangun Keunggulan Budaya di Pentas Global

HUT AA3Kawargian ABAH Alam tengah mematangkan gagasan Festival Konservasi Gunung Bohong, selaras dengan upaya mengukuhkan Kota Cimahi Saluyu Ngawangun Jati Mandiri. Hal ini diungkapkan Abah Alam di sela helatan meperingati ulang tahunnya yang ke-79 26 April lalu. Helatan sederhana di kediamannya itu hanya dihadiri oleh sebagian pegiat dan sejawat Kawargian ABAH Alam, dikarenakan kehendak Abah sendiri untuk menyikapi adanya protokol kesehatan berkaitan dengan suasana di Bandung yang masih terkondisikan pandemi covid 19.

Dalam kesempatan itu Abah Alam mengungkapkan, helatan ini bukan saja berkaitan dengan ulang tahunnya, namun sebagai wujud tasyakur bini’mat dan doa di bulan Ramadan jelang Nuzulul Qur’an, Lalilatul Qodar. Selain itu sebagai doa bersama demi kelancaran berbagai kegiatan Kawargian ABAH Alam yang sedang dihadapi seperti Festival Konservasi Gunung Bohong, Deklarasi Pemuda Asia Afrika dan New York International Fashion Week bulan September mendatang.

Yang terdekat waktunya ini adalah Festival Konservasi Gunung Bohong yang akan diawali tanggal 1 Juni nanti. Cakupan festival konservasi tersebut mulai dari menjaga dan meningkatkan kelestarian lingkungan di sekitar Gunung Bohong juga menempatkan Monumen Kujang di area Yon Brigif 15 Kujang II di puncak gunung berupa bukit tersebut.

Baca juga: Gunung Bohong Sebagai Titik Percik Jiwa Semangat Kujang ke Suluruh Nusantara

HUT AA4

Menurut Abah Alam, ada kekhawatiran mengenai paradigma masyarakat tentang keberadaan gunung ini kurang baik. “Kita bangun kesadaran bahwa Gunung Bohong ini memerlukan penangan yang khusus, demi kelestariannya,” jelasnya. Konservasi di Gunung Bohong merupakan upaya pelestarian lingkungan dengan tetap mempertahankan keberadaan setiap komponen-konponen lingkungan untuk pemanfaatan di masa yang akan datang.

“Diharapkan melalui Festival Konservasi ini kita bisa melindungi tempat atau beda-benda remover alam di lokasi tersebut yang dianggap bernilai,” lanjut Abah. Kelak kawasan konservasi itu bermanfaat dalam melindungi keseimbangan ekosistem secara berkelanjutan.

Abah Alam juga menyinggung apresiasinya terhadap apa yang dinamakan Declaration of Asian-African Capital of Youth and Entrepreneurship pada tanggal 18 – 21 Agustus 2021. “Ini merupakan langkah besar kita bagaimana pemuda kita yang dilandasi Pancasila dapat berperan aktif secara global dengan melanjut misi lahirnya Dasa Sila Bandung 1955,” tegas Abah.

Di usianya yang ke-79 itu Abah Alam masih nampak energik mengungkap pemikirannya demi kemajuan pemuda bangsa ini, terutama dalam membangun keunggulan komparatif bangsa dengan pengutamaan budaya. “Di tahun ini juga insya Allah kita akan memenuhi undangan New York International Fashion Week September mendatang. Kita siapkan hasil kolaborasi karya fashion bernilai kearifan lokal, seni dan budaya yang satu di antaranya adalah Trawangsa,” ujar Abah diiring senyum.

“Para nayaga Tarawangsa adalah para pemuda yang muncul minat dan bakatnya dari komunitas masyaratak kretaif Kampoeng TjibaraniBandung. Melalui upaya Kawargian ABAH Alam ini pula kita akan tampilkan seni buhun ini di pentas dunia.”

HUT AA

Insya Allah, Wilujeng Tepang Taun, Abah Alam, Mugiya aya dina panangtayungan Gusti Allah salanggengna. Amin. dtn/ar.-

 

Add a comment

Gunung Bohong Sebagai Titik Percik Jiwa Semangat Kujang ke Suluruh Nusantara

gunung bohong1

DestinasiaNewsLangit di belakang Gunung Bohong berwarna merah keemasan. Rerumputan berbulu halus berwarna ungu dalam kilauannya. Dataran sawah yang luas dan luas. rumpun bambu, taman yang indah dan kampung-kampung kecil, terbentang begitu tenang di antara perbukitan rendah dan pegunungan biru di kejauhan. – Sevenhuysen-Verhoeff, 1935.

 

Seketika teringat sebuah bana gunung yang dinamai Gunung Bohong, terletak di kawasan hijau Kota Cimahi yang berbatas Kabupaten Bandung Barat. Sekilas juga menemukan catatan di atas tentang Gunung Bohong yang ditulis oleh seorang warga asing di tahun 1935. Seindah itukah gambaran gunung dengan nama yang “janggal” ini?

gunung bohong2

Menurut sejarahnya, gunung ini merupakan daratan yang muncul di permukaan air danau Bandung purba. Daratan yang membentuk galengan inilah yang membagi danau purba itu menjadi dua bagian. Ketika danau purba itu surut, muncullah Gunung Bohong sebagai “gunung” yang penampakannya di seputar Lapang Tembak, Kompleks Brigif 15 Kujang di Kota Cimahi. Cimahi memang “kaya” akan heritage sisa-sisa garnizun dan berbagai pusat pendidikan militer jaman Belanda.

Sejak jaman itu juga Gunung Bohong jadi lokasi bermain anak-anak kolong bangsa Belanda. Dari ketinggian puncak gunung yang wujudanya seperti bukit ini kita bisa memandang lepas ke Cimahi maupun ke arah Bandung. Tak heran hingga saat ini puncak Gunung Bohong sering didaki untuk rekreasi menikmati pemandangan sunrise maupun sunset, atau menikmati hawa segar di rimbun pepohonan untuk jogging dan kegiatan rekreatif lainnya..

Trek pendakiannya pun tidak begitu sulit karena kawasan ini senantiasa dalam perawatan Brigif 15 Kujang II . Bagi mereka Gunung Bohong juga merukan gunung yang “sakral” karena di puncak gunung itulah lokasi Pembaretan Kujang dilakukan setelah menghadapi gemblengan lahir batin berbulan-bulan, agar tertanam di jiwa raganya semangat Kujang yang disimbolkan di baret hijaunya.

“Kujang itu memang bukan merupakan senjata, tapi sudah mewujud pusaka,” ujar Abah Alam (Adhitiya Alam Syah), dari Kawargian ABAH Alam, ketika dijumpai di kediamannya awal April lalu. “Dan Kujang itu selalu berpasangan. Di dunia kemiliteran kita juga ada pasangan Kujang, satu di Brigif 15 Kujang II satu lagi di Kostrad Kujang I,” lanjut pria yang akrab disapa Abah Alam ini. “Inilah yang jadi inti simbol kekuatan pertahanan kita!” tegas Abah.

gunung bohong3

Menurutnya, keharuman dan jiwa semangat Kujang yang ditempa di Cimahi ini menyebar ke suluruh Nusantara, yang sudah terbukti sebagai medan tugas dan jelajah baktinya. “Dari sinilah saya ingin mengingatkan bahwa Gunung Bohong itu sebagai titik percikan (Het Bogen, Belanda) jiwa dan semangat Kujang ke seluruh Nusanatara,” kata Abah Alam.

Di Cimahi ini pula banyak berbagai pusat pendidikan dan latihan baik militer maupun sipil. Begitu juga lembaga pendidikan lainnya yang ada di kaki Gunung Bohong ini.“Insan-insan tempaan Cimahi ini kini sudah tersebar ke seluruh Indonesia,” kata Abah Alam. Itulah sebabnya Abah Alam ini mengajak berbagai komponen untuk berkolaborasi mewujudkan simbolisasi Gunung Bohong sebagai konservasi titik percik jiwa semangat Kujang ke seluruh Nusantara. “Doakan saja,” pungkasnya. dtn/ar.-

Add a comment

Ketika Bandung Disibuki Akomodasi dan Transportasi KAA 1955

kaa 1955

DestinasiaNews - Memasuki April 1955 Bandung memang dibikin sibuk luar biasa. Topik Konperensi Asia Afrika (KAA) jadi “viral’ di zamannya. Hampir di setiap tongkrongan ada saja bincangan tentang KAA. Panitia lokal pun masih kuatir bagaimana Bandung yang masih nampak sisa-sisa “Lautan Api” harus sukses menyelenggarakan helatan kelas dunia ini.

Jumlah delegasi yang sudah terdaftar mencapai angka 1.500 sementara tetamu lainnya seperti wartawan dari luar dan dalam negeri ada 500 orang yang tercatat. Akomodasi harus sudah siap mencakup 14 hotel yang besar maupun seadanya berikut 31 vila yang ada di sepanjang Jalan Cipaganti, Ciumbuleuit dan Setabudi (waktu itu masih disebut Jalan Lembang). Para staf delegasi akan ditempatkan di Hotel Homann, Preanger dan Astoria sementara para pemimpin delegasi, Presiden atau Perdana Menteri ditempatkan di vila-vila di jalan-jalan tersebut. Sementara para wartawan diinapkan di Hotel Swarha.

Sarana transportasi yang sudah disiapkan dengan susah payah meliputi 143 sedan, 30 taksi dan 20 bus. Semuanya sudah dikarantina di pool yang salah satu tempat tampungannya di Gedung Dwiwarna, Jalan Diponegoro. Masalah baru, bagaimana menyiapkan sopir-sopirnya? Di masa-masa itu belum banyak orang yang berkemampuan sebagai sopir. Rekrutan sopir pun diambil dari tentara dan relawan lainnya.

kaa2

Beres? “Lha, bensinnya pigimana?” Canangan bensin diperkirakan membutuhkan 30 ton sehari, bisa dimaklumi era otomotif kala itu masih dikenal istilah kebutuhan bensin satu mobil saja bisa mencapai “sagerung sabatok,” artinya, sekali injak gas bisa menghabiskan bensin setempurung. Masih boros. Dicadangkannyalah sebanyak 175 ton bensin. Ternyata ada laporan dari Stanvac bahwa untuk menyediakan bensin sebanyak itu tidak mungkin, banyak kendala teknisnya. Stanvac adalah maskapai bahan bakar kala itu, sebelum adanya Pertamina.

Penyelesaian instalasi bensin di Cirebon pun digebér habis-habisan. Di Bandung sendiri sedikitnya 4 SPBU dibangun secepatnya. Plong! Beres juga. Sebanyak 800.000 liter bensin bisa dicadangkan di Cirebon dan bisa ditampung di 4 pom bensin baru di Bandung.

Dari kisah pakepuk akomodasi dan transportasi KAA 66 tahun yang lalu itu ada hikmah besar bagi warga Bandung. Di antaranya tersedianya 4 pom bensin bagi warga kota yang memudahkan pergerakan kendaraan bermotor di Bandung. dtn/ar.-

Dari "The Bandung Connection", Dr.H. Roeslan Abdilgani.

 

Add a comment

Sebanyak 99 Kélé Menandai Prosesi Pengutamaan Budaya di Festival Konservasi I

kele5

DestinasiaNews - Festival Konservasi yang pertama baru saja diselenggarakan di Situ Cisanti, Kilometer Nol Sungai Citarum bertepatan dengan Peringatan Hari Air Sedunia 22 Maret lalu. Festival ini merupakan wujud dukungan masyarakat kepada apa yang telah dan tengah diupayakan pemerintah dalam revitalisasi Sungai Citarum melalui program Citarum Harum. Festival dengan pengutamaan aspek budaya ini ternyata diapresiasi oleh berbagai komponen dan juga dari unsur pemerintahan.

Yang menarik, festival ini akan dilangsungkan rutin setiap tahun di berbagai lokasi yang terkait dengan ekosistem Citarum secara bergiliran. Dari Festival Konservasi I ini ada gaung untuk meningkatkan kepedulian dan kecintaan masyarakat terhadap konservasi yang menjaga keberlanjutan Sungai Citarum berdasarkan budaya kasundaan.

Salah satu segmen acara yang dilangsungkan di festival tersebut adalah prosesi pengucuran air yang berasal dari 99 séké (Sunda, mata air) di berbagai pelosok daerah bahkan terdapat juga air zam zam. Prosesi seperti ini ada juga yang menyebutnya dengan istilah “Kawin Cai.”

Kesemua air itu ditampung dalam sebuah wadah dari bambu yang disebut kélé. Ukuran kélé lebih kecil dari lodong.. Kélé hanya sepanjang satu buku bambu dengan diameter 5 – 10 sentimeter. Konon, kélé digunakan manusia di tatar Sunda jauh sebelum ditemukannya teknologi ember. Karena ukurannya yang kecil dan ringkas, kélé bisa dabawa oleh anak-anak mengambil air bersih dari pancuran untuk persediaan di rumah. Ada utas tali di ujung atas kélé sehingga dapat dibawa-bawa dengan cara dijinjing atau diselempangkan ke pundak.

Sebanyak 99 kélé yang baru-baru ini dipintonkan di Festival Konservasi I itu dibuat oleh komunitas lingkungan hidup yanga manamakan dirinya C.A.I (Cinta Alam Indonesia) dari kawasan Ledeng, utara Bandung. Tak ayal pula prosesi ini pun diikuti oleh perwakilan beberapa unsur yang hadir sambil meapresiasi keluhuran budaya yang masih terjaga. Meski dilakukan sesuai protokol kesehatan mengingat masih masa pandemi covid 19, antusias masyarakat yang hadir sangat responsif. Mereka menuangkan air dari kélé itu ka Situ Cisanti diiring rentak kendang penca. Doa dan harapan dari 99 séké mengalir ke hilir Sungai Citarum, sebagai perlambang penyatuan pandang kasundaan dalam keberlanjutan memulasara Sungai Citarum agar benar-benar bermanfaat bagi kehidupan manusia.

Dengan pengutamaan budaya kasundaan yang mendasari Festival Konservasi ini diharapkan agar Citarum jangan sampai “Ilang Dangiang.” Seperti yang terucap dari salah seorang pegiat lingkungan dari Tatar Sunda. dtn/ar.-

kele9kele2

kele4

kele6

 

Add a comment


emgz2

Artikel lain...

Menteri KLH Paparkan Pembangunan Kota Ramah Lingkungan untuk Kendalikan Perubahan Iklim pada Ministerial Meeting G20

Menteri KLH Paparkan Pembangunan Kota Ramah Lingkungan untuk Kendalikan Perubahan Iklim pada Ministerial Meeting G20

destinasiaNews - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya hadir secara virtual bersama Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral...

Pertumbuhan Harga Properti Australia Melampaui Prediksi Awal

Pertumbuhan Harga Properti Australia Melampaui Prediksi Awal

  Secara Nasional Selama 18 Bulan Terakhir Harga Rumah Tapak 4 – 12% Lebih Tinggi Dibandingkan Prediksi Awal, Sementara Harga...

Gebrakan Selama Masa PPKM : THE 1O1 Flash Sale ! Pay 1 Night, Get 1 Night Free

Gebrakan Selama Masa PPKM :  THE 1O1 Flash Sale ! Pay 1 Night, Get 1 Night Free

destinasiaNews– Hotel THE 1O1 Bogor Suryakancana menghadirkan promo THE 1O1 Flash Sale!! Pay 1 Night, Get 1 Night Free dengan penawaran...

Pemerintah Singapura Kembali Kirim Bantuan Medis Untuk Indonesia

Pemerintah Singapura Kembali Kirim Bantuan Medis Untuk Indonesia

destinasiaNews - Pemerintah Singapura melalui Kedubesnya di Indonesia kembali mengirimkan bantuan medis seberat 40 ton untuk Indonesia dalam hal ini...

Terkait Podcast ‘EKATANYA’, Perupa Umar Sumarta: 3 D, Pesta Demokrasi 2024 dan Seterusnya

Terkait Podcast ‘EKATANYA’, Perupa Umar Sumarta: 3 D, Pesta Demokrasi 2024 dan Seterusnya

destinasiaNews - Rupanya, the ‘true story’ dari tokoh Jawa Barat, Eka Santosa, saat  ini (12/7/2021) di kediamannya di Kawasan Eko...

Pengunjung

07172047
Hari ini
Kemarin
1868
5254