Menteri KLH Paparkan Pembangunan Kota Ramah Lingkungan untuk Kendalikan Perubahan Iklim pada Ministerial Meeting G20

G20M

destinasiaNews - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya hadir secara virtual bersama Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral RI Arifin Tasrif, pada pertemuan para Menteri G20 bertemakan Energy and Climate, Jumat (23/7). Pada sesi ini, Negara-negara G20 membahas mengenai pemulihan pandemi COVID-19 yang berkelanjutan, tentang pembangunan kota hijau untuk mengendalikan perubahan iklim global, percepatan transisi energi dan tentang pendanaan perubahan iklim.

Pernyataan resmi dari Pemerintah Indonesia, yang dibacakan oleh Menteri LHK menyatakan perspektif hijau telah banyak dipikirkan oleh komunitas di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Hal ini semakin berkembang dengan sangat cepat dengan dukungan kuat dari generasi muda.

"Masyarakat kita sudah mulai menghargai upaya penghijauan dengan cara sederhana, seperti penanaman pohon dan daur ulang sampah," ungkap Menteri Siti. Menurutnya, Industri hijau dengan penekanan pada efisiensi energi dan penggunaan sumber daya yang berkelanjutan serta peningkatan kualitas lingkungan juga tumbuh dengan pesat.

Ia menyatakan bahwa Indonesia sedang mengembangkan Program Pembangunan Kota Hijau, yang dirancang untuk mendorong partisipasi pemerintah pusat dan daerah untuk mencapai kota hijau yang berkelanjutan, termasuk bangunan, energi, dan transportasi yang ramah lingkungan. 

"Kami juga telah memasukkan Solusi Berbasis Alam atau Pendekatan Berbasis Ekosistem untuk memberikan manfaat ekosistem ke kota atau kawasan perkotaan," tambahnya.

G20M1

Menteri Siti kemudian menjelaskan, sebagai upaya untuk meningkatkan kesadaran dan aksi nyata iklim, Indonesia telah memberikan Green Leadership Awards atau yang dikenal dengan Nirwasita Tantra. Ini bertujuan untuk menghargai para pemimpin lokal, anggota parlemen, pemimpin bisnis dan pemuda yang telah mengaktualisasikan kepemimpinan berorientasi ramah lingkungan yang mendalam dalam kepemimpinannya di sektor masing-masing.

Indonesia akan bekerja sama dengan semua anggota untuk merancang solusi dan berkontribusi untuk mengatasi tantangan lingkungan dan iklim global. "Kami percaya bahwa manajemen hijau adalah jawaban strategis untuk masa depan. Bersama-sama, melalui sinergi di semua tingkatan, kita dapat berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan, meningkatkan kualitas lingkungan kita, dan mengatasi perubahan iklim," ungkap Menteri Siti.

Sejalan dengan pembangunan kota berkelanjutan, Indonesia berkomitmen untuk memimpin aksi pengendalian perubahan iklim berbekal pengalaman terbaiknya. Indonesia saat ini berada pada jalur untuk memenuhi Updated NDC dan akan memperkuat tindakan pengendalian perubahan iklim, terutama dalam energi terbarukan serta kehutanan, melalui "INDONESIA FoLU 2030". Dengan berbagai kebijakan yang ada,  Indonesia akan dapat mencapai carbon net sink sektor kehutanan pada tahun 2030. 

“Kami bertujuan untuk mencapai carbon net sink sektor kehutanan pada 7 tahun ke depan, berbekal pengalaman kami dalam beberapa hal yaitu: pengendalian kebakaran hutan, pengelolaan lahan gambut, moratorium izin baru di hutan primer dan lahan gambut, konservasi lahan, land degradation neutrality, penegakan hukum, serta partisipasi masyarakat”, jelas Menteri Siti.

Menteri Siti berharap negara anggota G20 harus memimpin dalam memperkuat kemitraan global. Indonesia akan berusaha mempertahankan momentum pertemuan hari ini menuju COP26 UNFCCC, dan meningkatkannya, bukan hanya ambisi tetapi juga tindakan nyata untuk mencapai rendah karbon dan masa depan yang berkelanjutan.

Pada pertemuan ini, Menteri LHK didampingi oleh Wakil Menteri LHK Alue Dohong, Duta Besar dan Wakil Tetap RI Untuk PBB, Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim selaku NFP UNFCCC, Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Lingkungan dan Kehutanan, Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Lestari, Direktur Jenderal Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan, serta Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama KLHK terkait. (HRS/Rls/dtn)

Add a comment

Pemerintah Singapura Kembali Kirim Bantuan Medis Untuk Indonesia

Oxygen dr Sing1

destinasiaNews - Pemerintah Singapura melalui Kedubesnya di Indonesia kembali mengirimkan bantuan medis seberat 40 ton untuk Indonesia dalam hal ini ditujukan untuk Kemenkes RI, Kemenhan RI dan Mabes TNI yang diangkut dengan menggunakan Kapal Perang Singapura RSS Endeavour 210, bertempat di Dermaga 203 Tanjung Priok Jakarta Utara, Rabu (14/7/2021). 

Bantuan medis ini merupakan bantuan ke dua setelah sebelumnya Jumat (9/7), pemerintah Singapura mengirimkan bantuan melalui jalur udara menggunakan dua pesawat Hercules milik Angkatan Udara Singapura dan telah diserahterimakan di Pangkalan TNI Angkatan Udara Halim Perdanakusuma Jakarta.

Adapun jenis bantuan medis yang diangkut oleh RSS Endeavour 210 antara lain dua container filled 500 X 50L Oxygen Cylinders, dua container ISO Tanks, 57 pallet berisi 570 unit Oxygen Concentrators, dan satu pallet berisi Oxygen Concentrators Accessories berupa 600 Nasal Cannula dan 600 Bubble Humidifier.

Setibanya di perairan Indonesia, RSS Endeavour-210 disambut KRI Cucut-866 yang melaksanakan escort atau pengawalan di perairan Pulau Damar untuk kemudian dipandu masuk ke outter bay untuk proses sandar di Dermaga 203 Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Oxygen dr Sing

Selanjutnya penyerahan bantuan secara simbolis diserahkan oleh pemerintah Singapura yang diwakili oleh Dubes Singapura untuk Indonesia Anil Kumar Nayar kepada Penasehat Khusus Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi, Laksamana TNI (Purn) Prof Dr. Marsetio, S.I.P, M.M., dan Ibu Jona Widhagdo disaksikan oleh Panglima Komando Armada (Pangkoarmada I) Laksamana Muda TNI Abdul Rasyid K., S.E., M.M.

Menurut Kabidmatfaskes Puskes TNI Kolonel Laut (K) Asngari, Apt., dari keseluruhan 40 ton bantuan medis, 20 ton diperuntukkan untuk Kemenkes RI, dan 20 ton lainnya diperuntukkan untuk Kemenhan RI dan Mabes TNI yakni sebanyak 250 unit filled Oxygen Cylinders.

“Untuk Mabes TNI sendiri bantuan akan diserahkan kepada Pusat Kesehatan TNI Angkatan Darat (Puskesad), Dinas Kesehatan TNI Angkatan Laut (Diskesal) dan Dinas Kesehatan TNI Angkatan Udara (Diskes AU) untuk selanjutnya didistribusikan penggunaannya oleh masing-masing Angkatan guna membantu mengurangi kelangkaan oksigen menyusul tingginya permintaan oksigen saat ini,” ujarnya.

Turut hadir pada acara penyerahan bantuan Direktur Asia Tenggara Kemlu Mirza Nurhidayat, Kepala Badan Logistik Kemlu Sigit S. Widiyanto, Dirkes Ditjen Kuathan Kemhan Marsma TNI dr. Budi Satriyo Utomo, Sp.KFR, MARS, Danlantamal III Jakarta Brigjen TNI (Mar) Umar Farouq, S.A.P., Atase Angkatan Laut (Athal) Singapura, SLCT Tony Wong, Kasubdit Matfaskes Ditkes Ditjen Kuathan Kemhan Kolonel Kes Tri Indryanto dan Kabidmatfaskes Puskes TNI Kolonel Laut (K) Asngari, Apt. (HRS/Rls/dtn)

Add a comment

Terkait Podcast ‘EKATANYA’, Perupa Umar Sumarta: 3 D, Pesta Demokrasi 2024 dan Seterusnya

Perupa Umar1

destinasiaNews - Rupanya, the ‘true story’ dari tokoh Jawa Barat, Eka Santosa, saat  ini (12/7/2021) di kediamannya di Kawasan Eko Wisata dan Budaya Alam Santosa, Desa Cikadut, Cimenyan Kabupaten Bandung, belum ada habisnya. Malahan, ada  eksplorasi khusus dikemas dalam bentuk podcast.  Judul podcastnya, apa?  ‘EKATANYA’, namanya sebut jurnalis Muhammad Irfan dan Shahadat Akbar, serta Sri Royani.  Ketiganya, selaku tim inti gagasan podcast ini.  Terpilih kontennya, mengupas seputar di balik pengambilan gambar dan audio podcast  ‘EKATANYA’ itu – yang awalnya rada-rada pabaliut, malah.

“Rekan-rekan ini ada-ada saja.  Biasa, saya suka ditanya ini itu oleh insan jurnalis, ya seputar politik, lingkungan, budaya, dan lainnya. Ini kali ini,  saya dibantu co-host Kang Harri Safiari, harus tanya ini- itu. Pilihan pertama  ke maestro perupa asal Desa Cijere, Rancakalong, Kabupaten Sumedang, Pak Umar Sumarta,” terang Eka sambil norolang lagi – “Sangat tertantang, dan pasti mengasyikkan.  Apalagi tempat kelahiran Pak Umar tahun 1948 itu di Cijere, Rancakalong  itu tempat amat kental dengan binaan BOMA (Baresan Olot Masyarakat Adat) Jabar yang saya rintis sejak 2010-an.  Salah satu tujuan BOMA Jabar itu, turut memperkokoh hak ulayat masyarakat adat.  Termasuk, melindungi, mempertahankan cipta karsa, dan seni budaya setempat.  Terdekat ya seni tradisi tarawangsa yang unik itu, perlu kita kembangkan.”

Selain Eka Santosa dan tamu khusus Umar Sumarta, hadir di belakang layar dalam podcast EKATANYA ini salah satu kolektor dalam 27 tahun terakhir, Djen Himawan yang biasa disapa Koko Odjen.   “Saya ini tak usah disebut-sebutlah.  Biar Pak Umar saja yang tampil dan Pak Eka Santosa,” papar Koko Odjen dengan nada low profile, tatkala dimintai komentarnya tentang gelaran podcast ‘EKATANYA’.  “Beginilah, saya dukung upaya Pak Umar untuk menjelaskan asal-usul, karyanya dari masa ke masa, juga keinginannya mewujudkan museum yang memamerkan karyanya di Pantai Pangandaran.  Kebetulan, niatan ini, sudah banyak diketahui orang, tak sedikit pula pendukungnya,” ujar Koko Odjen sambil menambahkan – “Semoga pandemi Covid-19 ini segera berlalu, dan kita sehat semua. Selekasnya impian bersama ini ter-realisasi.”

Khusus untuk gelaran ‘EKATANYA’ ini Koko Odjen, membopong koleksi pribadinya, yang semuanya berwujud oil on canvas, yaitu ‘Mencari Pemenang’ 2021 (140 X 294 cm); ’Wayang’ (125 X 148 cm); ‘Tarawangsa’ (140 X 90 cm); dan ‘Dewi Sri Menungang Kuda’ (150 X 200 cm).

Menanggapi, apa yang tersirat dan tersurat khusus untuk karyanya ‘Mencari Pemenang’, menurutnya ini dianggap sebagai sindiran atau sudah bukan rahasia umum, bila ingin menjadi pejabat di negeri ini, hanya ada 3 D.  Pesan moralnya, harus: ”Dekat, dukun, dan dulur.  Ini pesan untuk 2024, menyongsong pesta demokrasi.  Pemenangnya nanti ada yang bermuka bagong, domba, sapi, buaya, tikus dan lainnya.  Mereka bermain panco, adu kuat.  Tapi yang menang itu Dewi Sri.  Setelah mereka menang, mereka itu tetaplah bermuka buaya, bermuka babi, dan sebagainya.  Nah ini tuh masker, ya masker yang akan datang,” ujarnya sambil menjelaskan motif dan metafora hampir sejenis karyanya dulu yang diberi judul ’Adu Domba’ – “Artinya, mau jadi pejabat di negeri kita ini harus 3 D ajah !”     

 Sangeunahna, Umar Sumarta

Perupa Umar

Umar Sumarta sendiri dalam pantauan redaksi selama dikepung, dan diberondong  oleh berbagai pertanyaan dari duo host di ‘EKATANYA’ , tampak begitu exiting sepintas seperti berapi-api menjelaskan ‘duduk pekara’ sejumlah karyanya yang sejak era 1970-an hingga kini telah dikoleksi oleh pecinta seni terutama di Eropa, Amerika Serikat, Jepang, Singapura, dan beberaa negara lainnya.

“Saya tak peduli lukisan saya masuk aliran apa. Pokoknya, dulu kata Almarhum pelukis Popo Iskandar dosen saya waktu di IKIP Bandung (sekarang UPI) tahun 1980-an, saya ini disebut pelukis sangeunahna (seenaknya!).  Beterima kasih atas bimbingan Pak Popo Iskandar kala itu, hingga saya sampai sekarang ini,” terang Umar Sumarta sambil ‘memikul’ kumis sisa kumis baplangnya.

Masih kata Umar Sumarta dalam cuplikan ‘EKATANYA’ yang berlangsung sekitar 30 menit lebih. Berkisah dalam rona sendu, saat kuliah di IKIP Bandung.  Dirinya malah mondok di kantor.  Ia istilahkan fenomena ini sebagai mahasiswa ‘doktor alias mondok di kantor’ demi menghemat biaya indekost.   “Malam hari tidur di ruang kuliah, bangunnya paling pagi sekali, agar tak diketahui orang,” aku Umar.

Apesnya, tatkala malam hari sebelum tidur diruang kelas, dirinya sempat bereksperimen membakar bahan plastik untuk cat.  Namun apa lacur, aksinya diketahui Pak Popo Iskandar dari balik jendela ruang kuliah.  Semalaman, dirinya tak bisa tidur, takut esok habis-habisan dimarahi.

“Yang terjadi, Pak Popo malah memanggil saya ke rumahnya.  Umar, ini bawa cat dan kanvas buat kamu.  Kalau saya nakal waktu itu, di setiap kanvas bekas itu sudah ada tanda tangan Pak Popo Iskandar.  Tindakan pertama saya, tentu menghapusnya.  Saat itu pula saya disuruh berhenti membuat potret (menggambar orang) yang sudah dilakoni sejak kecil di desa.  Kata Pak Popo, hentikan itu semua, biar Umar bebas jadi pelukis,” terangnya dalam cuplikan ‘EKATANYA’ yang katanya, sejak itu jalan semakin lapang untuk menjadi pelukis yang bebas dan merdeka (pelukis sakahayang) – “Terpenting, dalam setiap gerak lukisan kita mampu memunculkan karakter, bisa dipertanggungjawabkan lahir-bathin, dan penuh kejujuran.”

Perkara Kurator

Perupa Umar 3

Di luar dari konten ‘EKATANYA’ kali ini, ditanya redaksi perihal kurator di Indonesia ini, “tentu sangat-sangat penting sekali.  Hanya sayangnya, kurator kita rata-rata masih terbatas pengetahuan dan pengalamnnya.”  Diakui dirinya sangat respek terhadap penulis senior Agus Dermawan T,  “beliau itu original penulis.”

Diilustrasikan, oleh Umar Sumarta secuil kebebasan atau kemerdekaan pelukis yang dirinya sudah ‘meraba’ ke berbagai museum maestro karya lukis tingkat dunia seperti Pablo Picasso, Leonardo Da Vinci, Salvador Dali, Michelangelo, Vincent Van Gogh, Raden Saleh di museum di Belanda, dan banyak-banyak lagi.

Dicontohkan oleh dirinya bedasarkan pengalaman pada kunjungan ke Eropa di tahun 2000-an yang kala itu disponsori seseorang tak kurang dari Rp. 2 M sebagai biaya hidup.  ”Tatkala berkunjung ke Museum Louvre di Paris, Prancis. Saya melihat dan berdiskusi dengan dosen dari jepang yang membawa banyak mahasiswanya, memperbincangkan tentang karya yang ada di museum ini.”

Masih kata Umar Sumarta, sebaiknya bila pengetahuan dan pengalamannya tak begitu banyak dan mendalam, ”sebaiknya tak usahlah jadi kurator.   Yang dosen Jepang di Paris itu, mungkin negaranya sudah begitu kaya dan maju, ya? Study tour mahasiswanya saja, ke pusat seni dunia,” jelas  Umar.

Keluhan Umar lainnya, dirinya merasa menyesalkan sewaktu berpameran di dalam negeri.  Kala itu ia mengundang sang penulis atau kurator dari salah satu Perguruan Tinggi (PT)  ternama di dalam negeri: “Sayangnya, kurator ini tak mau hadir.  Karena, selama ini kurator ini katanya diduga kuat, hanya mengulas karya dari PT-nya saja.  Katanya pula, kalau mengulas karya saya yang hanya lulusan PT tertentu, Namanya akan jatuh.  Tetapi saya tak mengapalah, tokh karya saya masih bisa berkibar hingga usia 70  lebih di dalam dan luar negeri.”

Masih di belakang layar ‘EKATANYA’, Umar Sumarta yang juga hari itu di Alam Satosa, dihadiri oleh istri dan dua anaknya  Asep dan Hayati Umar yang masing-masing lulusan dari Universitas Kristen Maranatha di Bandung, mengatakan:

”Hari ini saya seakan kembali bergairah, bertemu rekan-rekan terutama Pak Eka Santosa yang ternyata paham betul, bagaimana mempertahankan seni Sunda Tarawangsa yang saat ini, perlu perhatian khusus untuk pelestariannya.  Lalu rencana pedirian museum di Pangandaran, alhamdulillah sudah ada dukungan dari sana-sini.  Semua ini, amatlah bermakna bagi saya dan keluarga, biar kita tak jadi jago kandang !” (HS/HRS/dtn)       

Add a comment

Kunjungi Djen Himawan, Kolektor Maestro Perupa Umar Sumarta: Mau Bangun Museum di Pangandaran

   Lukisan Odjo

destinasiaNews– Syahdan kunjungan kali ini ke kediaman Djen Himawan (61) yang biasa  disapa Koko Odjen, mengungkap hal yang tak terkira. Koko Odjen, yang tinggal di daerah yang termasuk pemukiman padat di Bandung Utara yang berhawa sejuk, tepatnya di Jl. Islamic Center No. 6, Cimenyan Kabupaten  Bandung, sudah lebih dari seperempat abad mengkoleksi dan bergumul dengan kara maestro perupa Umar Sumarta (73).

Let’s go mari kita intip sejenak dalam kunjungan redaksi  destinasiaNews pada Rabu, 7 Juli 2021 ke rumah Koko Odjen. Kabarnya, kediaman ini  ‘merangkap’ juga sebagai galeri dari ratusan karya Umar Sumarta yang sejak tahun 1980-an karyanya sudah dikoleksi oleh kolekktor manncanegara. Tengoklah, apa yang tersisa dari pendapat pengamat lukisan mumpuni Samuel T. Pees dari Amerika Serikat pada era 1980-an,  yang ia masukkan karya Umar Sumarta ke dalam Collection of Ethnographic Art, lebih jauh malah ke sub ‘Mystic Artist of the Sundanese Lands’.

Cuplikannya, kata Samuel T.Pees bahwa karya Umar Sumarta itu ‘often translates these colorful dramas in a surreal fashion’ – kira-kira terjemahan bebasnya karyanya mampu mengangkat drama kehidupan yang dinamis, selain itu  penuh warna-warni, dan tentunya penuh dengan tampilan surealis yang memukau.      

“Boleh lah, rumah saya disebut galeri kecil-kecilan dan tak formal. Sejak lama saya simpan karya Pak Umar Sumarta. Tentu ini,  galeri yang terbatas.  Biasa rekan-rekan, sering hadir menikmati koleksi saya. Kebetulan, karya Pak Umar semua pula. Inginnya, makin banyak orang bisa menikmati karya ini,” ujar Koko Djen dengan wajah sumringah sambil menunjukkan satu dari ratusan koleksi kesayangannya berjudul Kiss karya era 1980 (200 Cm  X 42 Cm, oil on canvas).

“Entah kenapa, saya kalau menatap lukisan ini, hati itu terasa tenang. Subyektif kalau saya ceritakan tentang lukisan ini. Intinya, dari pertemuan antar manusia dua sejoli ini, lahirlah anak dan cucu, lalu muncullah daur kehidupan yang penuh dengan romantikan dan suka duka yang khas. Lukisan Pak umar inilah tergambar hal yang sangat mendalam penuh makna, ini  menarik. Ini memotivasi kita untuk terus hidup bersama Sang Pencipta, lebih berkualitas dan bermanfaat bagi sesama, juga lingkungan,” terang Koko Djen yang tanpa disadarinya ia seperti sedang berfilosofi tentang pola hidupnya. 

Diakui oleh Koko Djen yang sejak lama dalam kesehariannya menggeluti bisnis berlian dan batu mulia, perkenalannya dengan perupa maestro Umar Sumarta seperti misterius, namun berlangsung secara alamiah, dan mencair apa adanya, tentu sangatlah menyenangkan.

“Seperti sudah berjodoh dengan keluarga Pak Umar, begitu juga katanya Pak Umar sendiri. Namun, masing-masing punya lingkar hidup tersendiri. Kami tak pernah saling intervensi,” terang Koko Djen dengan menambahkan –“Saya tentu tak bisa, dan tak pernah memesan lukisan kepada Pak Umur dengan warna, dan goresan seperti ini, dan itu misalnya. Itu tak pernah. Pak Umar pun dalam melukis, sesuai kata hatinya. Saya ini kan, mengapresiasi semua karyanya, bersama beberapa kolektor lainnya.”

Koko Djen tatkala ditanya suka duka selama berkontak-ria dengan maestro Umar Sumarta yang karyanya sejak era 1980-an sudah dikoleksi oleh puluhan kolektor ternama di dalam dan luar negeri terutama di Eropa, Amerika Serikat, Timur Tengah, juga Singapura, dan Malaysia, tak sungkan ia mengemukakan hal yang lucu, di antaranya:

“Pak Umar itu kalau sehabis berkarya,  tentu saya amati benar karyanya, dan terkadang menawar  harganya. Anehnya, ia akan balik bertanya. Kalau Anda berminat? Harus dengar dulu cerita lukisan ini ya? Kalau tak mau beli, saya tak mau cerita. Tentu saja saya sangat tertarik akan cerita di balik karyanya. Justru cerita seperti itu yang menarik, untuk mengkoleksinya, selain ya goresan dan saupun warna yang unik. Rata-rata kisahnya seputar pesta rakyat, kritik sosial, hal mistis, keunikan kehidupan tempo dulu di desanya (Rancakalong Sumedang – red.), kegalauan dan dinamika hidup, serta seribu satu hal menarik lannya.”  

Angan Dirikan Museum    

Lukisan Odjo2

Dikonfirmasi perihal ‘hawar-hawar’, kabar rencana baru-baru ini  yang dicetuskan oleh Koko Odjen dan Umar Sumarta di hadapan pegiat lingkungan dan budaya masyarakat adat Sunda, Eka Santosa, tatkala mereka bertiga bertemu (27/6/2021, Red) di Kawasan Eko Wisata dan Budaya Alam Santosa di Desa Cikadut, Kecmatan Cimenyan Kabupaten Bandung?

“Ya, ada benarnya itu kami bertiga kala itu berencana membuka atau membangun museum lukisan Umar Sumarta di destinasi wisata pantai Pangandaran. Teknisnya, sedang kami bahas termasuk kemungkinan menghubungi mantan mentri KKP Ibu Susi Pudjiastuti, dan Pak Jeje Bupati Pangagandaran, serta tokoh-tokoh setempat lainnya. Terakhir kata Kang Eka Santosa, ada lampu hijau katanya,” jelas Koko Odjen dengan wajah bungah sambil menambahkan –“Seperti di Bali, kehadiran museum di destinasi wisata merupakan sebuh keharusan. Di Pangandaran harus ada tuh.”  

Lebih jauh,  mengapa museum perupa maestro Umar Sumarta ini sangat ngebet mendirikan museum di Pangandaran? Kata Koko Odjen, memang  Pak Umar itu sangat menyenangi hiruk-pikuk kehidupan di pedesaan, pantai serta dunia nelayan. Apalagi dunia mistis di Pantai Selatan Jawa yakni Nyi Roro kidul, menurutnya sering dijadikan sebagai sumber inspirasi maupun latar karya dari Pak Umar:

“Intinya, cukup lama Pak Umar ingin mendirikan museum di Pangandaran ini. Bagusnya, saat ini, para kolektor Pak Umar, yang ada di dalam maupun di luar negeri sudah mulai mengeluarkan dukungannya,”ujar Koko Odjen yang memungkas dengan memohon doa demi terwujudnya gagasan ini, sambil membetulkan frame karya umar pada tahun 2021 berjudul ‘Adu Panco’ (oil on canvas 150cm  X 298 cm) dengan berkata  – “Kita doakan bersama semoga  pandemi Covid-19 segera berlalu.” (HS/HRS/dtn)    

Add a comment

Pendiri Jurnalis Bela Negara Seca Berbudhy Laksono “Mas Don” Tutup Usia

MDa

destinasiaNews - Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, Keluarga Besar Jurnalis Bela Negara (JBN) kehilangan salah satu pendirinya Seca Berbudhy Laksono atau biasa disapa Mas Don, Almarhum tutup usia pada Selasa, (29/6/2021), di Bandung.


Almarhum Mas Don disemayamkan di kediamannya di jalan Kebon Jati No.1 Bandung, dan dimakamkan di TPU Sirnaraga Blok C jalan Pajajaran Bandung.


Saat pemakaman di TPU Sirnaraga terlihat orang-orang terdekat Mas Don mendampingi keluarga besar Mas Don dan mengikuti proses pemakaman dari awal hingga akhir, di antaranya yang hadir yakni Abah Alam Aditya dari Kawargian Abah Alam, Notaris Victory atau biasa disapa Bang Victor,  para sahabat Mas Don di antaranya Ari Mulia Subagja, Peter, Wawan, Nyoman, Rudi, Kasi Penerangan Media Elektronik (Penmedelek) Kodam III/Siliwangi Mayor Kav Susanto, serta keluarga besar Jurnalis Bela Negara (JBN).


Seca Berbudhy Laksono atau biasa disapa Mas Don diketahui mendirikan Organisasi profesi Wartawan Jurnalis Bela Negara (JBN) pada tahun 2017, Pria kelahiran 23 Januari 1982 ini merupakan Putra dari Soedibyo Boedhilaksono.


Mas Don sendiri merupakan pendiri beberapa media online, di antaranya Seputar Jabar, SJOnews, Kabar Militer, Top Militer, Mitra Polisi, Mata Brata, Inohong, Asyikaja, Koran Bandung, dan Warta Kimjakpol.


Mas Don memulai karir kewartawanannya sejak akhir tahun 90an hingga akhir hayatnya, Mas Don sendiri lebih banyak memberitakan kegiatan kemiliteran, dan telah meliput di daerah-daerah konflik seperti di Papua, Poso, dan beberapa daerah lainnya.


Nama Mas Don sendiri sudah tidak asing ditelinga para Jenderal TNI Angkatan Darat, Angkatan Udara, Angkatan Laut, baik bintang satu, dua, tiga, hingga empat, namun Mas Don lebih senang di balik layar dan tidak mau memperlihatkan kedekatannya dengan para Jenderal secara berlebihan, namun Mas Don juga mempunyai banyak kawan dari kalangan TNI dan Kepolisian mulai dari pangkat Kapten, Mayor, Letkol hingga Kolonel.

MDc
Mas Don juga sangat dekat dengan beberapa Pejabat dari kalangan sipil dan para pengusaha, pastinya Mas Don tidak pernah memilih-milih dalam hal perkawanan dan selalu membantu siapa saja yang sedang membutuhkan pertolongan.


Salah satu kawan Mas Don bernama Iwan Lumintang mengatakan, dirinya sangat kehilangan sosok Mas Don, "Saya sudah tidak bisa lagi tertawa terbahak bahak bersama Mas Don, tidak ada lagi makan sate bersama, bersenda gurau, investigasi malam malam, dan kebut-kebutan mengejar berita," ujarnya.


"Mas Don orang baik semoga Mas Don husnul khotimah, diterima iman Islamnya, diampuni seluruh dosanya oleh Allah SWT dan keluarga diberi ketabahan serta kekuatan,” kata Iwan Lumintang atau biasa disapa Abah Iwan.


Ucapan bela sungkawa juga langsung membanjiri sejumlah grup WhatsApp, terutama Grup WhatsApp Newsroom Bandung dan Forum JBN.


Menurut salah satu Anggota JBN bernama Fajar Ariffulloh, dirinya bersama Tedi, Bagoes, dan Nyoman, sempat mengantar Almarhum Mas Don berobat ke Jaya Abadi Klinik dan menemui dr Azril Hasan pada Kamis sore, (24/6/2021), dan Mas Don seperti biasa didiagnosa Asma.


Fajar Ariffulloh mengatakan, sejak Mas Don sakit dan berobat, dirinya bersama Tedi rutin menengok Mas Don di Awiligar, namun takdir berkata lain, pada Kamis sore, (29/6/2021), saat Fajar dan Tedi menengok Mas Don di Awiligar, termyata Mas Don sudah meninggal di kamarnya dalam posisi bersujud.


Salah satu sahabat Mas Don bernama Hasan Zaelani atau biasa disapa Jay mengatakan secara singkat, Mas Don merupakan orang baik dan selalu membantu siapa saja yang membutuhkan pertolongan,  "Selamat jalan kawan, sampai jumpa di kehidupan yang lain," ujar Jay yang khusus datang langsung dari Cirebon untuk menghadiri pemakaman Mas Don, bahkan Jay sempat membonceng ibu Kandung Mas Don ke pemakaman. (HRS/BRH/dtn)

Add a comment


emgz2

Artikel lain...

Menteri KLH Paparkan Pembangunan Kota Ramah Lingkungan untuk Kendalikan Perubahan Iklim pada Ministerial Meeting G20

Menteri KLH Paparkan Pembangunan Kota Ramah Lingkungan untuk Kendalikan Perubahan Iklim pada Ministerial Meeting G20

destinasiaNews - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya hadir secara virtual bersama Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral...

Pertumbuhan Harga Properti Australia Melampaui Prediksi Awal

Pertumbuhan Harga Properti Australia Melampaui Prediksi Awal

  Secara Nasional Selama 18 Bulan Terakhir Harga Rumah Tapak 4 – 12% Lebih Tinggi Dibandingkan Prediksi Awal, Sementara Harga...

Gebrakan Selama Masa PPKM : THE 1O1 Flash Sale ! Pay 1 Night, Get 1 Night Free

Gebrakan Selama Masa PPKM :  THE 1O1 Flash Sale ! Pay 1 Night, Get 1 Night Free

destinasiaNews– Hotel THE 1O1 Bogor Suryakancana menghadirkan promo THE 1O1 Flash Sale!! Pay 1 Night, Get 1 Night Free dengan penawaran...

Pemerintah Singapura Kembali Kirim Bantuan Medis Untuk Indonesia

Pemerintah Singapura Kembali Kirim Bantuan Medis Untuk Indonesia

destinasiaNews - Pemerintah Singapura melalui Kedubesnya di Indonesia kembali mengirimkan bantuan medis seberat 40 ton untuk Indonesia dalam hal ini...

Terkait Podcast ‘EKATANYA’, Perupa Umar Sumarta: 3 D, Pesta Demokrasi 2024 dan Seterusnya

Terkait Podcast ‘EKATANYA’, Perupa Umar Sumarta: 3 D, Pesta Demokrasi 2024 dan Seterusnya

destinasiaNews - Rupanya, the ‘true story’ dari tokoh Jawa Barat, Eka Santosa, saat  ini (12/7/2021) di kediamannya di Kawasan Eko...

Pengunjung

07171750
Hari ini
Kemarin
1571
5254